
7 Jenis Penyakit Hernia yang Dikenal sebagai Turun Berok
“Hernia atau turun berok adalah penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani. Ada berbagai jenis hernia di antaranya hernia inguinal, umbilikalis, femoralis, dan hernia hiatal.”

DAFTAR ISI
- Mengenal Penyakit Hernia Secara Umum
- Berbagai Bentuk Hernia yang Sering Terjadi
- Faktor Risiko dan Penyebab Terjadinya Hernia
- Langkah Penanganan dan Kapan Harus ke Dokter
- Studi Terkait Penanganan Hernia
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Hernia, atau yang oleh masyarakat awam sering dikenal dengan istilah “turun berok”, merupakan suatu kondisi medis yang terjadi ketika organ atau jaringan lemak di dalam tubuh menonjol melalui titik lemah atau celah pada otot maupun jaringan ikat (fascia) yang menahannya. Dinding otot perut bagian bawah biasanya menjadi area yang paling sering mengalami pelemahan, sehingga organ di dalamnya, seperti usus, dapat mendesak keluar dan membentuk benjolan yang terlihat pada permukaan kulit.
Penting untuk dipahami bahwa hernia bukanlah suatu kondisi yang bisa sembuh dengan sendirinya. Pada awalnya, benjolan yang muncul mungkin tidak menimbulkan rasa sakit yang berarti dan bisa didorong masuk kembali dengan jari atau akan menghilang saat kamu berbaring. Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat, ukuran benjolan tersebut bisa semakin membesar dan berisiko menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa, seperti hernia inkarserata (terjepit) hingga strangulasi yang menghentikan aliran darah ke organ tersebut.
Meskipun hernia bisa terjadi pada siapa saja, baik pria maupun wanita, dari anak-anak hingga lanjut usia, bentuk hernia yang dialami setiap orang bisa berbeda-beda tergantung pada lokasi titik lemah otot tempat keluarnya organ tersebut. Oleh karena itu, mengenali berbagai jenis hernia sangatlah penting agar kamu bisa mengambil langkah pencegahan maupun tindakan medis yang sesuai sejak dini.
Nah, ingin tahu lebih dalam mengenai apa saja bentuk hernia yang bisa terjadi pada tubuh, beserta penyebab dan cara penanganannya? Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
Mengenal Penyakit Hernia Secara Umum
Dinding perut kita layaknya sebuah korset alami yang berfungsi untuk menahan organ-organ internal, seperti usus dan organ pencernaan lainnya, agar tetap berada pada tempat yang semestinya. Sayangnya, karena beberapa faktor seperti kelainan bawaan sejak lahir, penuaan, operasi, atau tekanan berlebih pada rongga perut, dinding otot ini bisa melemah atau bahkan robek.
Ketika organ tubuh, umumnya usus, mendorong dan keluar melalui kelemahan otot tersebut, terjadilah hernia. Hernia bisa asimtomatik (tidak bergejala) dalam waktu yang lama. Banyak orang baru menyadari bahwa mereka memiliki hernia ketika melihat adanya benjolan saat mereka batuk, mengangkat benda berat, atau mengejan saat buang air besar.
Karena hernia adalah masalah mekanis dan anatomis (adanya lubang atau kelemahan pada otot), kondisi ini umumnya tidak bisa diatasi hanya dengan mengonsumsi obat-obatan. Operasi sering kali menjadi satu-satunya jalan keluar untuk memperbaiki dinding otot yang robek agar organ yang menonjol dapat dikembalikan ke posisi asalnya. Namun, obat-obatan bisa digunakan sebagai terapi suportif untuk meredakan gejala penyerta, seperti nyeri atau gangguan pencernaan.
Berbagai Bentuk Hernia yang Sering Terjadi
Secara medis, bentuk hernia diklasifikasikan berdasarkan bagian tubuh atau letak anatomi tempat tonjolan tersebut muncul. Berikut adalah beberapa jenis hernia yang paling sering didiagnosis oleh tenaga medis profesional:
1. Hernia Inguinalis (Selangkangan Bagian Dalam)
Hernia inguinalis adalah bentuk hernia yang paling umum, mewakili sekitar 70 hingga 75 persen dari semua kasus hernia. Kondisi ini terjadi ketika sebagian usus atau jaringan lemak mendesak masuk ke kanalis inguinalis, yaitu saluran yang berada di pangkal paha. Pada pria, saluran ini merupakan tempat turunnya testis dari perut ke skrotum saat janin berkembang. Pada wanita, saluran ini berisi ligamen yang membantu menahan rahim pada tempatnya.
Pria memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami hernia inguinalis dibandingkan wanita. Hal ini disebabkan karena saluran inguinalis pada pria terkadang tidak menutup sempurna setelah lahir, sehingga menyisakan titik lemah yang rentan robek di kemudian hari.
2. Hernia Femoralis (Selangkangan Bagian Luar)
Bentuk hernia yang satu ini terjadi ketika jaringan lemak atau sebagian usus menonjol melalui dinding kanalis femoralis yang berada di area paha atas (tepat di bawah lipatan selangkangan), yang juga merupakan jalur pembuluh darah arteri dan vena femoralis. Hernia femoralis jauh lebih jarang terjadi dibandingkan hernia inguinalis, dan ironisnya, kondisi ini lebih sering menimpa wanita, terutama mereka yang sedang hamil atau mengalami obesitas.
Hernia femoralis perlu sangat diwaspadai karena memiliki risiko tinggi untuk terjepit (strangulasi) yang dapat mematikan jaringan usus secara cepat.
3. Hernia Umbilikalis (Pusar)
Hernia umbilikalis adalah penonjolan jaringan yang terjadi melalui dinding perut yang lemah di sekitar pusar (umbilikus). Kondisi ini sangat sering ditemui pada bayi yang baru lahir atau anak-anak balita. Biasanya, orang tua akan menyadari adanya benjolan di pusar anak ketika anak menangis, batuk, atau mengejan.
Meskipun sebagian besar hernia umbilikalis pada bayi dapat menutup dengan sendirinya sebelum mereka mencapai usia 1 atau 2 tahun, hernia jenis ini juga dapat terjadi pada orang dewasa. Pada orang dewasa, hernia umbilikalis sering kali dipicu oleh tekanan berlebih pada perut akibat obesitas, penumpukan cairan di perut (asites), atau kehamilan berkali-kali.
4. Hernia Hiatus (Bentuk Hernia Perut Atas)
Berbeda dengan bentuk hernia lainnya yang terjadi di area perut bawah atau selangkangan, hernia hiatus terjadi di bagian atas perut. Hernia ini muncul ketika bagian atas lambung mendorong ke atas dan masuk ke rongga dada melalui celah pada diafragma (otot pemisah rongga dada dan rongga perut).
Hernia hiatus sering kali tidak menimbulkan benjolan yang bisa dilihat atau diraba dari luar tubuh. Namun, kondisi ini hampir selalu disertai dengan gejala GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Otot sfingter yang melemah akibat hernia membuat asam lambung mudah naik ke kerongkongan, menyebabkan sensasi dada terbakar (heartburn), sering bersendawa, hingga kesulitan menelan.
5. Hernia Insisional (Bekas Sayatan Operasi)
Jika kamu pernah menjalani operasi di area perut, misalnya operasi usus buntu, operasi caesar, atau operasi pengangkatan kandung empedu, kamu memiliki risiko untuk mengalami hernia insisional. Hernia ini terjadi ketika usus mendorong keluar melalui jaringan parut atau bekas sayatan operasi yang belum sembuh sempurna atau telah melemah.
Kondisi ini bisa terjadi beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun setelah operasi dilakukan, terutama jika pasien melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat sebelum luka bedah internal benar-benar menyatu dengan kuat.
6. Hernia Epigastrika
Hernia epigastrika adalah benjolan jaringan lemak yang menonjol keluar melalui dinding perut yang lemah di antara pusar dan tulang dada bagian bawah (sternum). Pada sebagian besar kasus, benjolan pada hernia epigastrika berukuran cukup kecil dan hanya berisi lemak dari dalam rongga perut, bukan organ usus. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa nyeri saat beraktivitas berat atau saat bersin.
Faktor Pemicu Risiko Terjadinya Hernia
- Mengejan Terlalu Keras: Sembelit kronis yang membuat kamu harus selalu mengejan saat buang air besar akan meningkatkan tekanan rongga perut secara signifikan.
- Mengangkat Beban Berat: Sering mengangkat benda berat dengan posisi bertumpu pada otot perut, alih-alih otot kaki, dapat membuat dinding perut robek.
- Batuk Kronis: Kondisi batuk kronis akibat asma, PPOK, atau kebiasaan merokok secara terus-menerus memberikan tekanan repetitif pada dinding perut bawah.
- Obesitas: Berat badan berlebih menambah beban tekanan yang harus ditahan oleh dinding perut dan ligamen setiap saat.
Faktor Risiko dan Penyebab Terjadinya Hernia
Pada dasarnya, kombinasi antara melemahnya otot (muscle weakness) dan peningkatan tekanan rongga perut (abdominal strain) adalah penyebab utama di balik berkembangnya benjolan hernia. Kelemahan otot ini bisa jadi sudah ada sejak lahir (kongenital) karena kegagalan jaringan untuk menutup secara sempurna selama fase perkembangan janin di dalam rahim.
Seiring bertambahnya usia, otot-otot secara alami akan mengalami penurunan kekuatan dan elastisitas. Bila dipicu dengan gaya hidup yang buruk, kemunculan bentuk hernia apapun akan sulit dihindari. Selain itu, gaya hidup seperti pola makan yang rendah serat sangat berkaitan erat dengan hernia. Kurangnya asupan serat akan memicu sembelit kronis, yang ujung-ujungnya membuat kamu mengejan sangat keras. Oleh karena itu, penting untuk selalu menjaga pencernaan agar tidak membebani otot perut. Jika kamu kesulitan memenuhi kebutuhan serat harian, kamu bisa beli vitamin, suplemen serat, maupun produk kesehatan lainnya dengan mudah di Halodoc.
Langkah Penanganan dan Kapan Harus ke Dokter
Banyak orang menunda pemeriksaan karena merasa benjolan hernia yang dialaminya tidak menyebabkan nyeri. Padahal, penanganan dini sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi berbahaya. Jika usus yang keluar dari rongga perut terperangkap atau terjepit (inkarserata), peredaran darah ke organ tersebut akan terputus.
Kondisi ini disebut dengan hernia strangulata yang ditandai dengan perubahan warna benjolan menjadi merah, keunguan, atau gelap, disertai nyeri perut yang tak tertahankan, mual, muntah, hingga demam tinggi. Jika gejala darurat medis tersebut terjadi, jaringan usus bisa membusuk dan mati dalam hitungan jam.
1. Pemeriksaan Fisik dan Diagnostik
Dokter biasanya bisa mendiagnosis sebagian besar bentuk hernia hanya dengan melakukan pemeriksaan fisik. Kamu mungkin akan diminta untuk berdiri, kemudian batuk atau mengejan agar dokter bisa melihat dan merasakan penonjolan yang terjadi. Untuk kasus tertentu seperti hernia hiatus, dokter mungkin memerlukan pemeriksaan tambahan seperti USG perut, CT Scan, atau Endoskopi.
2. Tindakan Operasi (Hernioraphy / Hernioplasty)
Satu-satunya cara efektif untuk memperbaiki titik kelemahan atau robekan pada otot perut adalah melalui operasi hernia. Saat ini ada dua pilihan tindakan operasi utama yang umum digunakan, yaitu operasi terbuka (open surgery) atau operasi laparoskopi (minim sayatan). Dalam prosedur ini, dokter bedah akan mengembalikan organ yang keluar ke posisi asalnya, kemudian menjahit jaringan otot yang robek, dan sering kali menambahkan jaring sintetis (mesh) untuk memperkuat dinding perut agar hernia tidak kembali berulang.
Oleh karena itu, jika kamu memiliki keluhan kesehatan seperti adanya benjolan abnormal di sekitar perut atau lipat paha, apalagi bila disertai rasa nyeri, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter Halodoc untuk mendapatkan arahan dan penanganan medis yang paling sesuai dengan kondisimu.
Studi Terkait Penanganan Hernia
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa kejadian hernia inguinalis secara global terus meningkat, dengan prevalensi mencapai 27% pada pria dan 3% pada wanita sepanjang hidup mereka. Studi ini juga menyoroti pentingnya intervensi bedah menggunakan metode ‘mesh repair’ sebagai standar emas pengobatan.
Berdasarkan studi tersebut, tingkat kekambuhan pada pasien yang ditangani dengan penggunaan jaring sintetis (mesh) menurun drastis hingga di bawah 2% dibandingkan dengan operasi jahitan tradisional. Selain itu, masa pemulihan pasca operasi menjadi jauh lebih cepat sehingga pasien bisa segera kembali beraktivitas normal.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Inguinal hernia – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Hernia: Types, Treatments, Symptoms, Causes & Prevention.
World Health Organization. Diakses pada 2024. General Guidelines for Abdominal Wall Hernia Repair.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Waspadai Turun Berok (Hernia) Pada Laki-Laki.
National Health Service (NHS UK). Diakses pada 2024. Overview – Hernia.
FAQ
1. Apakah bentuk hernia inguinalis dapat sembuh tanpa dioperasi?
Tidak, hernia inguinalis adalah kelainan struktural pada otot yang tidak bisa pulih atau tertutup kembali secara otomatis. Meskipun obat-obatan atau korset penyangga (truss) dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan, satu-satunya cara untuk mengobatinya secara tuntas adalah melalui tindakan pembedahan medis.
2. Apa tanda-tanda bentuk hernia yang sudah mencapai tahap berbahaya?
Bentuk hernia apapun akan menjadi sangat berbahaya (strangulata) apabila benjolan yang awalnya bisa dimasukkan kembali menjadi kaku, berubah warna menjadi kemerahan atau ungu gelap, serta memunculkan gejala sistemik seperti nyeri hebat, demam tinggi, denyut jantung cepat, serta tidak bisa buang angin atau buang air besar.
3. Mengapa anak bayi bisa memiliki bentuk hernia umbilikalis?
Selama perkembangan janin dalam kandungan, tali pusar melewati lubang kecil di dalam otot perut. Normalnya, lubang ini akan menutup sesaat setelah bayi lahir. Namun, jika otot tidak menyatu dengan sempurna di area tengah perut, terbentuklah ruang kosong yang memicu organ di dalamnya menonjol dan menjadi hernia umbilikalis.
4. Bagaimana cara yang tepat untuk mencegah penyakit hernia?
Beberapa langkah pencegahan hernia yang bisa dilakukan meliputi menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga untuk menguatkan otot perut, selalu mengonsumsi makanan berserat untuk mencegah konstipasi kronis, tidak merokok agar terhindar dari batuk parah, serta menggunakan teknik yang benar dan melibatkan otot kaki saat mengangkat benda berat.


