Ad Placeholder Image

Adenoid Hipertrofi Anak: Kenali Gejala dan Solusinya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Anak Sering Ngorok? Bisa Jadi Adenoid Hipertrofi

Adenoid Hipertrofi Anak: Kenali Gejala dan SolusinyaAdenoid Hipertrofi Anak: Kenali Gejala dan Solusinya

DAFTAR ISI


Hipertrofi adenoid adalah kondisi medis di mana kelenjar adenoid mengalami pembengkakan atau pembesaran yang tidak normal. Kelenjar adenoid sendiri merupakan kumpulan jaringan limfoid yang terletak tinggi di bagian belakang tenggorokan, tepat di belakang rongga hidung. Bersama dengan amandel (tonsil), jaringan ini bertugas sebagai garis pertahanan pertama tubuh dengan cara menjebak bakteri dan virus yang masuk melalui hidung maupun mulut.

Kondisi pembesaran adenoid ini sangat umum terjadi pada anak-anak, terutama mereka yang berusia antara 3 hingga 7 tahun. Meskipun adenoid akan secara alami menyusut seiring bertambahnya usia anak dan hampir menghilang pada saat mereka mencapai usia remaja, pembengkakan yang terjadi di usia dini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Adenoid yang terlalu besar dapat menyumbat jalan napas dan saluran Eustachius, yang menghubungkan hidung bagian belakang dengan telinga tengah.

Penting bagi orang tua untuk menyadari tanda-tanda hipertrofi adenoid sejak dini. Keterlambatan dalam mendeteksi dan menangani kondisi ini dapat berujung pada komplikasi jangka panjang, seperti gangguan tidur yang parah (obstructive sleep apnea), infeksi telinga berulang yang dapat memengaruhi pendengaran, hingga perubahan struktur wajah anak akibat kebiasaan bernapas melalui mulut yang terus-menerus.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai penyebab, gejala, serta berbagai pilihan penanganan untuk hipertrofi adenoid? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu Hipertrofi Adenoid?

Kelenjar adenoid, yang juga dikenal sebagai tonsil faringeal, adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh yang dikenal sebagai cincin Waldeyer. Fungsi utama dari cincin limfoid ini adalah untuk memproduksi antibodi dan sel darah putih guna melawan infeksi yang mencoba memasuki tubuh melalui saluran pernapasan atas. Pada anak-anak, sistem kekebalan tubuh sedang belajar mengenali berbagai patogen, sehingga kelenjar adenoid bekerja sangat keras dan sering kali membesar sebagai respons alami terhadap infeksi tersebut.

Namun, dalam kasus hipertrofi adenoid, kelenjar ini membesar secara berlebihan dan tidak kunjung mengecil bahkan setelah infeksi mereda. Pembesaran yang masif ini akan mengambil ruang di nasofaring (bagian atas tenggorokan di belakang hidung). Karena ruang nasofaring pada anak-anak relatif kecil, sedikit saja pembesaran pada adenoid dapat menyebabkan penyumbatan (obstruksi) aliran udara parsial maupun total.

Berbeda dengan amandel yang dapat dilihat dengan mudah saat anak membuka mulut lebar-lebar, kelenjar adenoid tersembunyi di balik langit-langit lunak (soft palate). Oleh karena itu, hipertrofi adenoid tidak dapat didiagnosis hanya dengan melihat ke dalam mulut menggunakan senter biasa. Diperlukan instrumen medis khusus yang digunakan oleh dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) untuk mengevaluasi ukuran adenoid secara akurat.

Gejala Hipertrofi Adenoid pada Anak

Karena adenoid yang membesar menyumbat jalan napas bagian belakang hidung, gejala yang muncul sangat berkaitan erat dengan kesulitan bernapas dan sirkulasi udara. Orang tua harus waspada jika anak menunjukkan beberapa gejala berikut ini secara berkelanjutan:

1. Bernapas Melalui Mulut

Ini adalah salah satu tanda paling khas dari hipertrofi adenoid. Karena saluran hidungnya tersumbat oleh jaringan adenoid yang membesar, anak akan kesulitan menghirup udara melalui hidung. Akibatnya, mereka akan secara refleks membuka mulut untuk bernapas, baik saat sedang beraktivitas di siang hari maupun saat tidur. Bibir anak sering kali terlihat kering dan pecah-pecah akibat paparan udara yang terus-menerus.

2. Mendengkur dan Gangguan Tidur

Sumbatan pada jalan napas atas menyebabkan turbulensi udara saat anak tidur, yang menghasilkan suara dengkuran yang keras. Lebih parahnya, hipertrofi adenoid adalah penyebab paling umum dari Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada anak. OSA adalah kondisi di mana anak berhenti bernapas selama beberapa detik saat tidur, lalu tersentak bangun atau terengah-engah mencari udara. Ini membuat kualitas tidur anak menjadi sangat buruk.

3. Suara Sengau (Hyponasal Speech)

Anak dengan hipertrofi adenoid sering kali berbicara dengan suara sengau, mirip dengan orang yang sedang menderita pilek berat. Hal ini terjadi karena udara tidak dapat beresonansi dengan baik di dalam rongga hidung akibat terhalang oleh adenoid yang bengkak. Pengucapan huruf-huruf tertentu seperti “m”, “n”, dan “ng” mungkin akan terdengar kurang jelas.

4. Infeksi Telinga Tengah Berulang (Otitis Media)

Adenoid terletak sangat dekat dengan muara tuba Eustachius, yaitu saluran yang menyeimbangkan tekanan udara dan mengalirkan cairan dari telinga tengah ke bagian belakang tenggorokan. Jika adenoid membesar, saluran ini dapat tersumbat. Cairan akan menumpuk di telinga tengah dan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri, menyebabkan infeksi telinga berulang yang terasa sangat nyeri. Jika tidak tertangani, kondisi ini bisa memicu penurunan fungsi pendengaran pada anak.

Waspada Tanda Adenoid Facies
  1. Wajah terlihat memanjang dan datar.
  2. Gigi seri atas tampak lebih menonjol ke depan (tonggos).
  3. Langit-langit mulut melengkung lebih tinggi dari biasanya.
  4. Anak selalu terlihat lesu atau mengantuk di siang hari karena kurang tidur.

Penyebab dan Faktor Risiko Hipertrofi Adenoid

Meskipun kelenjar adenoid secara alami memang akan membesar selama masa kanak-kanak untuk melawan infeksi, ada beberapa kondisi spesifik yang dapat memicu pembengkakan yang lebih ekstrem dan persisten, di antaranya:

1. Infeksi Berulang

Anak-anak yang sering mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), seperti pilek, radang tenggorokan, atau flu, lebih berisiko mengalami hipertrofi adenoid. Saat melawan virus atau bakteri, jaringan limfoid pada adenoid akan memproduksi lebih banyak sel imun sehingga ukurannya membengkak. Jika infeksi terjadi silih berganti dalam waktu singkat, adenoid tidak memiliki kesempatan untuk menyusut kembali ke ukuran normalnya.

2. Alergi Pernapasan (Rhinitis Alergi)

Paparan terhadap alergen seperti debu, serbuk sari, tungau, atau bulu hewan peliharaan dapat memicu reaksi inflamasi kronis pada saluran pernapasan anak. Peradangan kronis ini merangsang kelenjar adenoid untuk terus berada dalam kondisi reaktif dan membesar secara permanen, terutama jika pemicu alergi tidak dihindari.

3. Faktor Genetik

Beberapa anak mungkin memiliki kecenderungan bawaan untuk memiliki jaringan limfoid yang lebih reaktif dan mudah membesar dibandingkan anak lain. Jika ada riwayat orang tua atau saudara kandung yang pernah menjalani operasi pengangkatan adenoid di masa kecil, risiko anak untuk mengalami kondisi yang sama cenderung lebih tinggi.

Komplikasi Medis Jika Dibiarkan

Mengabaikan gejala hipertrofi adenoid dapat membawa dampak negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas hidup anak secara keseluruhan. Beberapa komplikasi yang perlu diwaspadai meliputi:

1. Gangguan Tumbuh Kembang dan Kognitif

Kualitas tidur yang buruk akibat sleep apnea membuat anak tidak mendapatkan fase tidur nyenyak (deep sleep) yang cukup. Padahal, hormon pertumbuhan paling banyak diproduksi saat anak berada pada fase ini. Selain itu, kurang tidur akan membuat anak sulit berkonsentrasi di sekolah, mudah marah, hiperaktif, dan sering kali disalahartikan sebagai gangguan pemusatan perhatian (ADHD).

2. Penurunan Pendengaran dan Keterlambatan Bicara

Sumbatan kronis pada tuba Eustachius dapat memicu Otitis Media Efusi (OME), di mana cairan kental terperangkap di telinga tengah tanpa adanya infeksi akut. Kondisi ini membuat telinga terasa penuh dan meredam suara dari luar, seolah-olah anak sedang memakai penyumbat telinga. Pendengaran yang menurun di masa emas (golden age) sangat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar berbicara dan berbahasa.

3. Kelainan Bentuk Rahang dan Gigi

Kebiasaan bernapas lewat mulut dalam jangka panjang (bertahun-tahun) akan memengaruhi perkembangan struktur kraniofasial (tulang wajah dan rahang) anak. Tarikan otot-otot wajah yang salah secara konstan akan menyebabkan rahang atas menyempit, langit-langit mulut menjadi tinggi, dan gigi tumbuh berantakan. Sering kali, anak akan membutuhkan perawatan ortodonti (kawat gigi) yang ekstensif di kemudian hari.

Diagnosis oleh Dokter

Untuk mendiagnosis hipertrofi adenoid, dokter akan terlebih dahulu menanyakan riwayat kesehatan anak secara detail kepada orang tua, termasuk pola tidur, dengkuran, riwayat infeksi telinga, dan apakah anak sering bernapas melalui mulut.

Jika kamu melihat anak menunjukkan gejala-gejala yang mengkhawatirkan seperti berhenti bernapas sejenak saat tidur, jangan tunda lagi. Segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan medis lebih lanjut. Dokter mungkin akan menyarankan beberapa pemeriksaan fisik dan penunjang, antara lain:

1. Endoskopi Nasal (Nasoendoskopi)

Ini adalah standar emas (gold standard) untuk mendiagnosis ukuran adenoid. Dokter akan memasukkan selang kecil yang lentur dan dilengkapi kamera kecil (endoskop) ke dalam lubang hidung anak. Alat ini akan memberikan gambaran visual secara langsung (real-time) seberapa besar pembengkakan jaringan adenoid dan seberapa parah jalan napas tersumbat.

2. Foto Rontgen Leher Lateral

Pemeriksaan sinar-X pada leher bagian samping dapat digunakan untuk melihat ukuran adenoid dan mengukur rasio antara jaringan adenoid dengan ukuran jalan napas nasofaring. Pemeriksaan ini relatif tidak menakutkan bagi anak-anak karena prosesnya sangat cepat dan tidak invasif.

3. Polisomnografi (Sleep Study)

Jika dicurigai adanya obstructive sleep apnea yang parah, dokter mungkin akan merekomendasikan anak untuk menginap semalam di klinik gangguan tidur. Mesin akan merekam gelombang otak, kadar oksigen dalam darah, detak jantung, dan pola pernapasan anak selama mereka tertidur pulas.

Penanganan dan Pengobatan Hipertrofi Adenoid

Pilihan pengobatan sangat bergantung pada tingkat keparahan gejala yang dialami anak. Pada kasus pembesaran yang ringan dan tidak menyebabkan gangguan pernapasan atau infeksi telinga, dokter umumnya akan merekomendasikan observasi (watchful waiting) karena adenoid secara alami akan mengecil seiring bertambahnya usia.

Namun, jika diperlukan intervensi medis, berikut adalah beberapa penanganan yang dapat dilakukan:

1. Pengobatan Konservatif (Obat-obatan)

Langkah pertama yang sering diambil dokter adalah mencoba mengecilkan pembengkakan adenoid menggunakan obat-obatan. Dokter mungkin akan meresepkan kortikosteroid semprot hidung (intranasal corticosteroids) untuk mengurangi peradangan lokal pada jaringan limfoid. Selain itu, antibiotik dapat diberikan jika dokter mendeteksi adanya infeksi bakteri akut yang sedang berlangsung. Antihistamin juga bisa diberikan jika alergi diidentifikasi sebagai pemicu utamanya.

Untuk menunjang perawatan di rumah, kamu bisa beli obat online di Halodoc sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter, produk 100% asli dan diantar dengan aman langsung ke rumah kamu.

2. Tindakan Operasi (Adenoidektomi)

Jika pengobatan dengan obat-obatan tidak membuahkan hasil, atau jika anak mengalami komplikasi serius seperti sleep apnea yang mengancam nyawa, infeksi telinga kronis yang merusak pendengaran, dan kelainan bentuk wajah, maka operasi pengangkatan adenoid (adenoidektomi) adalah pilihan terbaik.

Operasi ini merupakan prosedur rawat jalan yang umum, aman, dan memakan waktu cukup singkat di bawah pengaruh anestesi umum. Dokter bedah THT akan mengangkat jaringan adenoid melalui mulut anak tanpa perlu membuat sayatan di luar kulit. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan, mulai dari kuretase (pengerokan), elektrokauter (menggunakan panas untuk menghancurkan jaringan), hingga metode koblasi (menggunakan energi frekuensi radio suhu rendah).

3. Perawatan Pasca Operasi

Setelah menjalani operasi adenoidektomi, anak mungkin akan mengeluhkan sakit tenggorokan ringan, hidung tersumbat, bau mulut, atau sakit telinga selama beberapa hari. Hal ini sangat wajar terjadi dalam masa pemulihan. Dokter akan memberikan obat pereda nyeri yang aman untuk anak. Sangat penting bagi anak untuk banyak beristirahat dan mengonsumsi makanan yang lembut, dingin, atau cair (seperti es krim, puding, atau sup hangat) untuk menghindari iritasi pada area bekas operasi.

Studi Terkait

International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology menerbitkan studi di tahun 2021 yang mengeksplorasi hubungan erat antara hipertrofi adenoid dan kejadian gangguan tidur pada pasien pediatrik. Penelitian tersebut memvalidasi bahwa pembesaran kelenjar adenoid menyumbang lebih dari 70% kasus obstructive sleep apnea (OSA) pada balita dan anak prasekolah.

Studi ini juga menyoroti bahwa pengangkatan adenoid (adenoidektomi) secara signifikan meningkatkan kualitas tidur anak hanya dalam kurun waktu satu bulan pasca operasi. Peningkatan kualitas tidur ini secara langsung berdampak pada perbaikan suasana hati anak, peningkatan konsentrasi belajar, dan penurunan tingkat agresivitas. Temuan ini menegaskan betapa pentingnya deteksi dan penanganan medis dini terhadap hipertrofi adenoid untuk menjaga tumbuh kembang kognitif anak agar tetap optimal.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis THT via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis THT terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Enlarged adenoids.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Adenoid Hypertrophy.
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2024. Adenoid Hypertrophy in Children.
American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery. Diakses pada 2024. Tonsils and Adenoids.
National Library of Medicine (PubMed). Diakses pada 2024. Adenoid Hypertrophy.

FAQ

1. Apakah hipertrofi adenoid bisa menyusut dengan sendirinya tanpa operasi?

Ya, kelenjar adenoid secara alami akan mulai menyusut ketika anak memasuki usia 7 atau 8 tahun, dan hampir menghilang sepenuhnya di usia remaja hingga dewasa. Jika pembesaran tidak menimbulkan gangguan tidur, napas, atau telinga yang parah, dokter biasanya hanya akan menyarankan pemantauan rutin dan pengobatan konservatif hingga adenoid mengecil dengan sendirinya.

2. Apakah daya tahan tubuh anak akan menurun jika adenoid diangkat?

Tidak. Meskipun adenoid merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh, sistem imun anak secara keseluruhan tidak akan melemah jika adenoid diangkat. Masih banyak kelenjar getah bening dan jaringan limfoid lain di area kepala dan leher (serta di seluruh tubuh) yang akan segera mengambil alih fungsi pertahanan adenoid dalam melawan bakteri dan virus.

3. Berapa lama proses pemulihan setelah operasi adenoidektomi?

Pemulihan pasca operasi adenoidektomi umumnya berlangsung cukup cepat, sekitar satu hingga dua minggu. Anak-anak biasanya sudah bisa kembali bersekolah dan beraktivitas normal dalam 3 hingga 5 hari. Namun, mereka harus menghindari olahraga berat, berenang, dan aktivitas fisik yang terlalu menguras tenaga setidaknya selama 14 hari untuk mencegah risiko perdarahan pada bekas luka operasi.

4. Bagaimana cara mencegah hipertrofi adenoid pada anak?

Karena adenoid membesar sebagai respons terhadap infeksi dan alergi, cara terbaik untuk mencegah komplikasinya adalah dengan menjaga daya tahan tubuh dan kebersihan lingkungan. Pastikan anak mengonsumsi makanan bergizi, mencuci tangan secara rutin agar terhindar dari virus pilek, memastikan sirkulasi udara di rumah baik, dan meminimalkan paparan debu, asap rokok, serta alergen lainnya yang bisa mengiritasi saluran pernapasan anak.