
Ahli Ungkap Nyamuk Kini "Belajar" Menyukai Aroma Obat Nyamuk
Meski studi laboratorium mengungkap nyamuk bisa "belajar" menyukai aroma DEET, para ahli menegaskan obat nyamuk ini tetap ampuh melindungi Anda dari penyakit selama diaplikasikan ulang secara berkala.

DAFTAR ISI
- Memahami Fenomena “Pembelajaran” pada Nyamuk
- Bagaimana Eksperimen Ini Dilakukan?
- Apakah Harus Berhenti Menggunakan DEET?
- Kunci Utama: Re-aplikasi adalah Keharusan
- Bingung Harus Konsul ke Dokter Apa? Tanya HILDA, Gratis!
- Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Selama puluhan tahun, produk berbahan dasar DEET (N,N-diethyl-meta-toluamide) telah menjadi standar emas dunia dalam melindungi manusia dari gigitan nyamuk. Berbagai badan kesehatan, termasuk otoritas kesehatan di Inggris, merekomendasikan produk dengan kandungan 50 persen DEET sebagai pilihan utama untuk mencegah penyakit mematikan seperti demam berdarah, malaria, Zika, hingga ensefalitis Jepang.
Namun, baru-baru ini muncul sebuah studi yang cukup mengejutkan. Penelitian tersebut menyarankan bahwa nyamuk ternyata memiliki kemampuan “belajar” untuk mengasosiasikan aroma DEET dengan sumber makanan. Apakah ini berarti obat nyamuk yang selama ini kamu gunakan sudah tidak ampuh lagi? Mari bedah faktanya!
Memahami Fenomena “Pembelajaran” pada Nyamuk
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Biology ini mengungkapkan perilaku nyamuk yang mirip dengan eksperimen psikologi klasik “Anjing Pavlov”. Jika kamu ingat, Pavlov menemukan bahwa anjing bisa belajar mengasosiasikan suara bel dengan waktu makan. Ternyata, nyamuk pun memiliki mekanisme serupa.
Profesor Claudio Lazzari dari Universitas Tours, Prancis, menjelaskan bahwa selama ini para ilmuwan percaya repelan bekerja murni karena sifat kimiany, —entah karena beracun, tidak disukai nyamuk, atau memblokir kemampuan nyamuk mendeteksi keberadaan manusia. Namun, temuan timnya menunjukkan bahwa reaksi nyamuk terhadap DEET bisa berubah berdasarkan pengalaman sebelumnya.
Bagaimana Eksperimen Ini Dilakukan?
Dalam studi tersebut, peneliti mengamati nyamuk yang ditempatkan di ruangan tertutup bersama dengan sumber darah hangat yang tidak bisa mereka jangkau sepenuhnya. Para peneliti kemudian memaparkan DEET kepada nyamuk-nyamuk tersebut saat mereka sedang berusaha mencari makan.
Hasilnya cukup mencengangkan: sekitar 60 persen nyamuk yang terpapar DEET saat sedang mencari makan, di kemudian hari mencoba menggigit ketika hanya mencium aroma DEET saja. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang tidak diberikan “pelatihan” serupa.
Dalam uji coba lain, nyamuk yang telah memiliki pengalaman terpapar DEET saat makan, lebih berani mencoba mendekati dan menggigit tangan peneliti yang sudah diolesi DEET. Sebaliknya, nyamuk yang “polos” (belum pernah terpapar DEET saat makan) secara universal menghindari tangan yang diberi perlindungan tersebut.
Ada Juga Nyamuk Wolbachia: Ampuhkah Melawan Demam Berdarah? Baca Selengkapnya
Apakah Harus Berhenti Menggunakan DEET?
Jawabannya adalah tidak. Para ahli menegaskan bahwa hasil studi ini tidak berarti DEET kehilangan efektivitasnya untuk penggunaan sehari-hari oleh manusia.
“Masyarakat perlu memahami bahwa DEET tidak kehilangan efektivitasnya dalam penggunaan normal. Temuan ini hanya terjadi di bawah kondisi laboratorium yang sangat spesifik, dirancang untuk mengungkap mekanisme bagaimana nyamuk bereaksi terhadap zat tersebut,” ujar Prof. Lazzari.
Selain itu, Profesor Francesca Romana Dani, seorang entomolog dari Universitas Florence yang tidak terlibat dalam studi ini, menambahkan bahwa di alam liar, skenario “belajar” seperti ini sangat jarang terjadi. Nyamuk biasanya tidak terus-menerus bertemu dengan satu jenis repelan yang sama saat mereka mencoba mencari darah setiap beberapa hari sekali. Mereka cenderung berinteraksi dengan berbagai faktor lingkungan yang berbeda.
Baca Selengkapnya Nyamuk Menggigit atau Menusuk? Simak Fakta Menarik Ini
Kunci Utama: Re-aplikasi adalah Keharusan
Dr. Nina Stanczyk dari ETH Zürich, yang juga merupakan pakar dalam efektivitas DEET, menyambut baik penelitian ini. Menurutnya, kemampuan nyamuk untuk belajar memang mengesankan, tetapi ini bukan alasan bagi wisatawan atau masyarakat umum untuk membuang produk anti-nyamuk mereka.
Stanczyk menyoroti bahwa risiko asosiasi (nyamuk terbiasa dengan DEET) justru terjadi ketika repelan mulai memudar atau kehilangan kekuatannya di kulit.
Oleh karena itu, poin paling penting bagi masyarakat adalah kedisiplinan dalam menggunakan kembali (re-aplikasi) repelan. Jangan menunggu sampai produk benar-benar hilang dari kulit kamu. Ikuti petunjuk pada label produk mengenai durasi perlindungan, dan oleskan kembali sesuai jadwal.
Bingung Harus Konsul ke Dokter Apa? Tanya HILDA, Gratis!
Pernah merasakan gangguan kesehatan yang bikin nggak nyaman tapi malah makin stres karena bingung harus konsul ke mana? Berhenti scrolling gejala di internet yang cuma bikin panik, ya!
Kenalin HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant), asisten AI pintar yang siap jadi “pintu pertama” perjalanan sehatmu di Halodoc. HILDA bukan cuma asisten biasa; dia bakal bantu kamu:
- Kasih Gambaran Awal: Jawab pertanyaan kesehatan umum kamu dalam sekejap.
- Navigasi Spesialis: Bingung mau ke dokter apa? HILDA bakal arahkan ke dokter spesialis yang paling pas.
- Solusi Cepat: Mulai dari cari obat sampai layanan kesehatan yang tepat, semua dibantu HILDA.
Gak perlu bingung lagi, ada HILDA yang selalu siaga. Download Halodoc sekarang!

Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Keluhan kesehatan bisa datang kapan saja. Daripada bingung mencari informasi sendiri, konsultasikan langsung dengan dokter umum dan spesialis di Halodoc:
✅ Dokter tersedia 24 jam.
✅ Dokter memiliki lisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP).
✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
✅ Bisa dicover asuransi.
✅ Privasi terjaga: Data kesehatan terlindungi dengan aman.
✅ Bisa dapat resep resmi. Kamu bisa dapat resep obat online dan menebusnya setelah chat.
✅ Bisa juga beli obat langsung lewat WhatsApp Halodoc, tanpa download aplikasi, tanpa log in, dan produk yang diterima dijamin asli 100%.
Tunggu apa lagi? Yuk hubungi dokter di Halodoc sekarang!


