• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Alasan COVID-19 Lebih Menular Daripada SARS

Ini Alasan COVID-19 Lebih Menular Daripada SARS

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Jumlah korban virus corona (korona) Wuhan kini telah melampaui severe acute respiratory syndrome (SARS). Kecepatan penularan virus corona jenis baru ini, COVID-19, tidak main-main. Hal inilah yang membuat virus ini sangat ditakuti. 

Epidemi SARS yang muncul November 2002 hingga Juli 2003 itu menjangkiti 8.098 orang di berbagai negara. Bagaimana dengan jumlah korbannya? Setidaknya 774 orang mesti kehilangan nyawa akibat penyakit infeksi saluran pernapasan berat tersebut. 

Bagaimana bila SARS disandingkan dengan virus corona yang kini tengah mewabah? SARS membutuhkan waktu sekitar 9 bulan untuk menyerang 8.000-an orang. Sementara itu, COVID-19 hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk menyerang 8.000-an orang. Sungguh cepat, bukan? 

Nah, pertanyaannya apa alasannya COVID-19 lebih cepat dan mudah menular ketimbang SARS? Virus korona jenis baru ini memang masih menjadi misteri. Namun, satu per satu muncul kejelasan mengenai COVID-19 yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

Mengikat 20 Kali Lebih Cepat

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada satu studi menarik yang bisa kita simak. Risetnya datang dari University of Texas at Austin, Amerika Serikat, dan dipublikasikan di bioRxiv. Studi tersebut menyelidiki alasan COVID-19 lebih cepat menular ketimbang SARS. 

Meski kedua virus ini satu keluarga, sama-sama virus korona, faktanya penularan COVID-19 jauh lebih pesat. Lantas, apa alasannya? 

Menurut ahli dalam studi tersebut, virus korona jenis COVID-19 lebih mungkin untuk mengingat reseptor sel manusia. Hal inilah yang memudahkan COVID-19 lebih mudah menginfeksi manusia dibandingkan dengan SARS-CoV (coronavirus). Kok bisa?

Pertama-tama, pahami dulu mengenai sifat virus. Untuk dapat berkembang biak, virus harus menumpang pada makhluk hidup yang disebut inang, termasuk manusia. Nah, reseptor sel inang fungsional SARS dan COVID-19 memiliki kesamaan yang disebut dengan angiotensin-converting enzyme (ACE2).

Menurut para peneliti, virus corona Wuhan memiliki sekitar 10-20 lipat afinitas yang lebih tinggi pada zat ACE2. Afinitas ini merupakan kecenderungan suatu unsur atau senyawa, untuk membentuk ikatan kimia dengan unsur atau senyawa lain. 

Dengan kata lain, dibandingkan dengan SARS-CoV, COVID-19 Lebih mudah menular dari manusia ke manusia. Sebab afinitas virus ini sangat tinggi pada ACE2 manusia. 

Baca juga: Korban Virus Corona Terus Bertambah, Ini 5 Fakta Baru Virus Corona

Di samping itu, para ahli juga menduga hal ini disebabkan karena COVID-19 tak memiliki ikatan yang cukup besar dengan tiga antibodi yang sebelumnya berperan dalam mengatasi SARS. 

Meski begitu, mereka mengatakan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Tujuannya untuk mengeksplorasi lebih jauh peran reseptor sel inang manusia, dalam membantu virus baru menyebar dari orang ke orang.

Update Fakta Terbaru Virus Corona COVID-19

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Republik Rakyat China, telah  merilis data epidemiologi mengenai COVID-19. Data ini meneliti lebih dari 44 ribu kasus COVID-19 di China. Berikut penjelasannya: 

  1. Infeksi pada Kelompok Usia

Mau tahu kelompok usia yang paling rentan terhadap serangan virus korona Wuhan? Menurut riset dari total 44.672 kasus, 73 persen pasiennya berusia di atas 40 tahun. Hanya 2 persen saja yang usianya di bawah 20 tahun. Dengan kata lain, semakin tinggi usia seseorang, maka risiko terjangkit infeksi virus ini pun semakin besar. 

2. Lebih Fatal pada Lansia

Tingkat kematian COVID-19 berkaitan erat dengan usia di atas. Angka kematian paling tinggi terjadi pada kelompok lansia (80 tahun ke atas), sekitar 14,8 persen. Sedangkan usia 70-79 tahun sekitar 8 persen dan 60-69 tahun sebesar 3,6 persen. Lalu, bagaimana dengan usia produktif? Total kematian pada kelompok usia 10-39 tahun sekitar 0,2 persen. 

Baca juga: COVID-19, SARS, atau MERS, Mana yang Paling Berbahaya?

3. Gejala Ringan hingga Kritis

Sebagian besar infeksi COVID-19 atau sekitar 81 persen, menimbulkan gejala ringan seperti flu. Namun, 14 persen korbannya mengalami gejala yang lebih serius, seperti sesak napas dan pneumonia. Sebagian kecil lainnya (5 persen) harus masuk ICU dengan kondisi kritis. 

4. Komorbiditas Lebih Berisiko 

Seseorang yang terinfeksi virus corona dan memiliki penyakit kronis lebih berisiko mengalami kematian. Dalam dunia medis hal ini disebut dengan komorbiditas, penyakit yang terjadi secara simultan (pada waktu yang bersamaan). 

Pasien infeksi virus COVID-19 dengan penyakit kardiovaskular memiliki tingkat kematian sekitar 10. Sementara itu, diabetes sebesar 7,3 persen, penyakit saluran pernapasan 6,3 persen, tekanan darah tinggi 6 persen, dan kanker 5,6 persen.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah COVID-19 dan cara mencegahnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah kapan dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Chinese journal of Epidemiology. Diakses pada 2020. The epidemiological characteristics of an outbreak of 2019 novel coronavirus diseases (COVID-19) in China.
CNN. Diakses pada 2020. Chinese CDC study finds Covid-19 virus to be more contagious than SARS or MERS.
South China Morning Post. Diakses pada 2020. Coronavirus up to 20 times more likely than Sars to bind to human cells, study suggests.
WHO. Diakses pada Januari 2020. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome).