• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Sindrom Kaki Gelisah Bisa Sebabkan Gangguan Tidur

Alasan Sindrom Kaki Gelisah Bisa Sebabkan Gangguan Tidur

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Sindrom kaki gelisah (Restless legs syndrome/RLS) adalah penyakit yang terjadi karena ada gangguan pada saraf. Kondisi ini ditandai dengan tidak nyaman pada kaki yang kemudian menimbulkan keinginan untuk mendorong atau menghentakkan kaki. Kondisi ini bisa mengganggu istirahat, terutama pada malam hari. 

Gangguan ini disebut bisa memicu terjadinya gangguan tidur. Jika sebelumnya seseorang sudah memiliki riwayat gangguan tidur, sindrom kaki gelisah bisa memperparahnya. Pasalnya, gejala dari penyakit ini paling sering muncul pada malam hari, terutama saat waktu tidur. Kaki gelisah membuat pengidapnya memiliki keinginan untuk menggerakkan atau mendorong kaki, sehingga bisa mengganggu kualitas tidur. 

Baca juga: Pentingnya Jam Tidur Ideal bagi Kesehatan

Gejala dan Cara Mengatasi Sindrom Kaki Gelisah

Sindrom kaki gelisah bisa memicu gangguan tidur. Bukan tanpa alasan, gejala dari penyakit ini nyatanya paling sering muncul pada malam hari. Meski sedang terlelap, pengidapnya bisa saja merasa tidak nyaman pada area kaki, sehingga merasa ingin menggerakkan kaki untuk mengusir rasa tidak nyaman tersebut. 

Gejala penyakit ini biasanya akan semakin memburuk saat tubuh beristirahat. Sindrom kaki gelisah ditandai dengan munculnya rasa tidak nyaman, sakit, gatal, kram, setruman, atau sensasi menyerupai serangga yang berjalan di kaki. Padahal, tidak ada apa-apa. Dalam jangka panjang, sindrom kaki gelisah bisa memicu penurunan kualitas tidur serta kesulitan untuk duduk diam dalam waktu lama. 

Sindrom kaki gelisah bisa dialami oleh siapa saja, baik orang dewasa, anak-anak, hingga lansia. Sayangnya, hingga kini masih belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebabnya. Namun, faktor genetika diduga berpengaruh. Selain itu, ada beberapa kondisi yang bisa memperparah gejala sindrom kaki gelisah, di antaranya:  

1.Kehamilan 

Ibu hamil rentan mengalami sindrom kaki gelisah, terutama pada trimester ketiga. Meski begitu, RLS pada ibu hamil biasanya akan menghilang beberapa saat setelah melahirkan. 

2.Riwayat Penyakit 

Sindrom kaki gelisah juga sering dikaitkan dengan beberapa penyakit. Gangguan ini disebut bisa menyerang pengidap gagal ginjal, diabetes, neuropati perifer, penyakit parkinson, serta kelainan saraf tulang belakang. Jika ini penyebabnya, sindrom kaki gelisah biasanya akan hilang jika penyakit tersebut diobati atau dikontrol. 

Baca juga: Bukan Diganggu Makhluk Halus, Ini Penyebab Gangguan Tidur Berjalan

3.Efek Samping Obat 

Mengonsumsi obat-obatan tertentu juga bisa menjadi pemicu sindrom kaki gelisah. Cari tahu apa jenis obat yang menjadi penyebabnya, lalu hentikan pengobatan. 

Jika obat yang memicu gangguan ini adalah resep dari dokter, coba tanyakan kemungkinan untuk mengganti dengan jenis obat lain. Jika ragu, kamu bisa coba untuk berbicara dan menanyakan seputar obat pada dokter di aplikasi Halodoc. Sampaikan riwayat penyakit dan obat yang dikonsumsi, terutama obat yang diduga memicu sindrom kaki gelisah. Download Halodoc untuk menghubungi dokter melalui Video/Voice Call atau Chat

4.Gaya Hidup Tidak Sehat

Menerapkan gaya hidup yang tidak sehat juga bisa memicu RLS. Gangguan ini rentan menyerang orang yang sering mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebih, aktif merokok, dan sering begadang. 

Maka dari itu, perubahan gaya hidup bisa menjadi salah satu cara mengatasi sindrom kaki gelisah. Terapkan gaya hidup sehat seperti konsumsi makanan sehat, kurangi kafein dan alkohol, rutin berolahraga, dan berhenti merokok. Untuk meredakan gejala, kamu bisa mengompres kaki dengan air dingin dan air hangat secara bergantian atau berendam air hangat.  

Baca juga: Jangan Anggap Sepele, Gangguan Tidur Membahayakan Kesehatan

Rutin berolahraga juga bisa meredakan gejala sindrom kaki gelisah. Selain itu, aktivitas fisik juga bisa membantu tubuh lebih mudah tidur di malam hari sehingga kualitas tidur bisa diperbaiki. Namun, sebaiknya ketahui batas diri dan tidak memaksakan saat berolahraga, ya!

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. Restless Legs Syndrome (RLS).
Verywell Health. Diakses pada 2020. What Is Restless Legs Syndrome (RLS)?