Ad Placeholder Image

Anak 14 Bulan Belum Bisa Jalan? Santai, Cek Faktanya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Anak 14 Bulan Belum Jalan? Wajar, Yuk Stimulasi!

Anak 14 Bulan Belum Bisa Jalan? Santai, Cek FaktanyaAnak 14 Bulan Belum Bisa Jalan? Santai, Cek Faktanya

DAFTAR ISI


Melihat anak tetangga atau kerabat yang sudah berlarian di usia satu tahun sering kali membuat para orang tua, khususnya ibu baru, merasa cemas. Pertanyaan seperti “Kenapa bayi 14 bulan belum bisa jalan?” sangat umum muncul dalam benak orang tua ketika melihat buah hatinya masih nyaman merangkak atau sekadar merambat di perabotan rumah. Perasaan khawatir ini sangat wajar, mengingat berjalan adalah salah satu pencapaian motorik kasar (milestone) yang paling dinantikan.

Namun, sebelum kamu panik berlebihan, penting untuk memahami bahwa rentang normal bagi seorang anak untuk mulai berjalan mandiri sebenarnya cukup lebar. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan berbagai institusi kesehatan global sepakat bahwa batas waktu maksimal (red flag) bagi anak untuk bisa berjalan sendiri adalah usia 18 bulan. Artinya, jika bayi kamu saat ini berusia 14 bulan dan belum bisa berjalan tanpa pegangan, ia secara medis masih berada di dalam spektrum perkembangan yang wajar dan belum tentu mengalami gangguan kesehatan.

Meski demikian, kondisi ini tetap membutuhkan pemantauan dan stimulasi yang tepat. Kemampuan berjalan tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah hasil dari serangkaian proses penguatan otot, keseimbangan, dan koordinasi saraf yang telah dibangun sejak bayi baru lahir. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui faktor apa saja yang memengaruhi kecepatan anak berjalan, serta langkah-langkah apa yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu mempercepat proses tersebut tanpa memberikan paksaan yang berisiko.

Nah, mau tahu apa saja fakta, penyebab, serta cara tepat menstimulasi bayi 14 bulan yang belum bisa jalan? Berikut ulasan lengkapnya yang perlu kamu ketahui!

Tahapan Perkembangan Berjalan pada Bayi

1. Fase Mengontrol Kepala dan Duduk (Usia 4-7 Bulan)

Sebelum bisa berdiri tegak, bayi harus terlebih dahulu memiliki otot leher dan punggung yang kuat. Pada usia ini, bayi umumnya mulai bisa menegakkan kepala dengan stabil dan belajar duduk sendiri tanpa penyangga. Proses ini sangat krusial karena merupakan fondasi awal keseimbangan tubuh.

2. Fase Merangkak dan Mengesot (Usia 7-10 Bulan)

Sebagian besar bayi akan mulai merangkak, mengesot, atau merayap dengan perutnya. Fase ini melatih koordinasi antara otak kanan dan kiri, serta menguatkan otot lengan, perut, dan tungkai. Menariknya, tidak semua bayi melewati fase merangkak; ada sebagian kecil yang langsung melompat ke fase berdiri, dan hal ini masih dianggap normal.

3. Fase Pull-to-Stand dan Merambat (Usia 9-12 Bulan)

Pada rentang usia ini, anak mulai menggunakan benda-benda di sekitarnya, seperti meja, sofa, atau kaki orang tuanya, untuk menarik tubuhnya ke posisi berdiri (pull-to-stand). Setelah berhasil berdiri tegak dengan pegangan, mereka akan mulai melangkah ke samping sambil berpegangan pada furnitur, yang dikenal dengan istilah cruising atau merambat.

4. Fase Berdiri Tanpa Pegangan dan Langkah Pertama (Usia 11-15 Bulan)

Bayi akan mulai melepaskan pegangannya selama beberapa detik untuk menemukan keseimbangannya. Setelah merasa yakin, mereka akan mencoba mengambil satu atau dua langkah pertama. Di fase inilah banyak anak usia 14 bulan sedang berjuang membangun keberanian mereka untuk benar-benar lepas dari pegangan orang tua.

Penyebab Bayi 14 Bulan Belum Bisa Jalan

1. Faktor Temperamen dan Kepribadian Bayi

Setiap anak lahir dengan kepribadian dan temperamen yang berbeda-beda. Ada bayi yang memiliki sifat pengambil risiko (risk-taker), sehingga mereka tidak takut jatuh dan lebih cepat mencoba berjalan. Di sisi lain, banyak anak di usia 14 bulan yang memiliki sifat sangat berhati-hati (cautious). Mereka mungkin sebenarnya sudah memiliki kekuatan otot yang cukup, namun lebih memilih merangkak karena merasa itu adalah cara berpindah tempat yang paling aman dan efisien bagi mereka saat ini.

2. Kurangnya Kesempatan dan Stimulasi (Tummy Time)

Perkembangan motorik sangat bergantung pada stimulasi. Bayi yang terlalu sering digendong, diletakkan di dalam baby bouncer, atau selalu berada di dalam playpen yang sempit mungkin tidak mendapatkan cukup kesempatan untuk melatih otot-otot kaki dan panggulnya. Kurangnya tummy time (waktu tengkurap) sejak bayi juga bisa berdampak pada lambatnya penguatan otot inti (core muscles) yang dibutuhkan untuk berjalan.

3. Penggunaan Baby Walker

Paradigma lama menganggap baby walker dapat membantu anak cepat berjalan. Faktanya, penelitian medis modern justru melarang penggunaannya. Baby walker mengubah cara bayi menggunakan otot kakinya. Bayi cenderung menggunakan ujung jari kaki (berjinjit) untuk mendorong alat tersebut, bukan menggunakan seluruh telapak kaki untuk menopang berat badan. Hal ini bisa menunda kemampuan anak untuk berjalan mandiri dan meningkatkan risiko kecelakaan di rumah.

4. Kelahiran Prematur

Jika buah hati kamu terlahir prematur, sangat penting untuk menghitung usia koreksinya, bukan sekadar usia kronologisnya. Misalnya, jika bayi berusia 14 bulan tetapi lahir 2 bulan lebih awal dari HPL (Hari Perkiraan Lahir), maka usia perkembangannya (usia koreksi) sebenarnya baru 12 bulan. Terlambatnya pencapaian motorik pada bayi prematur adalah hal yang sangat umum terjadi dan biasanya akan mengejar ketertinggalannya seiring waktu.

5. Kondisi Medis atau Masalah Fisik

Meski jarang, ada beberapa kondisi medis yang bisa menyebabkan keterlambatan berjalan. Salah satunya adalah hipotonia, yaitu kondisi di mana tonus (ketegangan) otot bayi lebih rendah dari normal, sehingga bayi terasa “lemas”. Kondisi lain meliputi gangguan saraf seperti cerebral palsy, masalah ortopedi seperti displasia panggul bawaan, hingga kekurangan nutrisi ekstrem yang memengaruhi kepadatan tulang dan otot anak.

Faktor Pemicu Keterlambatan Motorik yang Sering Diabaikan
  1. Faktor Genetik: Jika salah satu orang tua memiliki riwayat terlambat berjalan saat bayi, ada kemungkinan anak akan mengikuti pola perkembangan yang sama.
  2. Pakaian dan Sepatu Terlalu Sempit: Memakaikan sepatu beralas keras terlalu dini di dalam rumah dapat menghambat telapak kaki bayi merasakan tekstur lantai, yang penting untuk keseimbangan.
  3. Lingkungan Lantai yang Licin: Lantai keramik yang terlalu licin bisa membuat bayi trauma karena sering terpeleset saat mencoba merambat atau berdiri.

Cara Menstimulasi Anak agar Cepat Berjalan

1. Biarkan Anak Bertelanjang Kaki di Dalam Rumah

Saat berada di dalam rumah yang aman, biarkan bayi belajar berjalan tanpa alas kaki. Bertelanjang kaki memungkinkan saraf-saraf di telapak kaki dan jari-jari kaki mencengkeram lantai dengan lebih baik. Ini akan mengirimkan sinyal sensorik yang penting ke otak anak untuk membangun keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan postur tubuh.

2. Gunakan Mainan Dorong (Push Toys)

Alih-alih menggunakan baby walker, berikan anak mainan dorong (push toys) yang kokoh, seperti kereta dorong mainan, troli belanja mini, atau kursi plastik kecil. Mainan ini mengharuskan anak untuk berdiri tegak dengan kakinya sendiri sambil tangannya mendorong, yang mana sangat efektif melatih keseimbangan dan memindahkan tumpuan berat badan ke kaki.

3. Pancing dengan Mainan atau Makanan Favorit

Cobalah untuk duduk di lantai dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari anak, sekitar 1 atau 2 langkah. Pegang mainan favoritnya atau camilan yang ia sukai. Berikan semangat dan panggil namanya agar ia mau melangkah ke arah kamu. Jika ia berhasil meraihnya, berikan pujian dan pelukan sebagai bentuk validasi positif. Dukungan emosional dari orang tua sangat penting untuk membangun kepercayaan dirinya.

4. Latih Anak untuk Berdiri dari Posisi Duduk

Bantu anak melatih otot lutut dan pinggulnya. Saat anak sedang duduk di lantai, letakkan mainan di atas kursi yang pendek. Ini akan memaksa anak untuk berusaha berdiri untuk mengambil mainan tersebut. Proses jongkok-berdiri ini ibarat olahraga squat bagi bayi, yang sangat ampuh menguatkan otot tungkai dan paha.

5. Perhatikan Asupan Nutrisi Anak

Perkembangan motorik sangat erat kaitannya dengan asupan gizi. Pastikan anak mendapatkan asupan kalsium, protein, dan vitamin D yang cukup untuk menunjang kekuatan tulang dan ototnya. Berikan variasi makanan seperti telur, ikan, keju, dan susu. Jika kebutuhan nutrisi dari makanan harian dirasa masih kurang, kamu bisa beli vitamin dan suplemen anak secara praktis melalui layanan apotek terpercaya.

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?

Meskipun sebagian besar bayi usia 14 bulan yang belum bisa jalan masih berada dalam tahap normal, orang tua tetap perlu waspada (red flags). Kamu harus segera melakukan evaluasi medis jika anak menunjukkan satu atau lebih gejala berikut ini:

  • Anak sama sekali belum bisa berdiri meskipun sudah dibantu atau dipegangi.
  • Kakinya terlihat sangat kaku atau justru sangat lemas seperti boneka kain.
  • Anak tampak tidak bisa menopang berat badannya pada kedua kakinya saat kamu mencoba mendirikannya.
  • Anak hanya menggunakan satu sisi tubuhnya untuk bergerak, misalnya merangkak dengan menyeret satu kaki atau satu tangan.
  • Anak kehilangan kemampuan motorik yang sebelumnya sudah dikuasai (regresi). Misalnya, bulan lalu ia bisa merambat, tapi bulan ini ia bahkan tidak bisa duduk mandiri.

Jika menemukan tanda-tanda tersebut, jangan tunda lagi. Segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan pemeriksaan fisik menyeluruh dan penanganan lebih dini.

Studi Terkait Perkembangan Motorik Anak

World Health Organization (WHO) pernah menerbitkan sebuah studi ekstensif yang melibatkan ribuan anak dari berbagai negara terkait pencapaian motorik kasar (Multicentre Growth Reference Study). Studi tersebut menyimpulkan bahwa rentang normal bagi seorang anak untuk mampu berjalan secara mandiri berada di antara usia 8,2 bulan hingga 17,6 bulan.

Studi ini menegaskan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kecerdasan atau kemampuan kognitif di masa depan antara anak yang mulai berjalan di usia 10 bulan dengan anak yang baru berjalan di usia 16 bulan. Keterlambatan berjalan ringan murni merupakan variasi perkembangan fisik, selama anak tidak menunjukkan masalah neurologis atau kelainan otot bawaan.

Kunci dari mengatasi kecemasan ini adalah kesabaran, observasi yang cermat, dan stimulasi tiada henti. Nikmatilah setiap proses perkembangan buah hatimu, karena fase merangkak dan belajar berjalan ini adalah momen berharga yang akan berlalu dengan sangat cepat.

Selain memberikan asupan nutrisi yang sehat, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan anak melalui platform layanan kesehatan online.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. WHO Motor Development Milestones.
American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org). Diakses pada 2024. Movement and Coordination Milestones: 1 to 2 Years.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Infant development: Milestones from 10 to 12 months.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Why Is My Baby Walking Late? What to Look for and How to Help.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Mengenal Keterlambatan Perkembangan Umum pada Anak.

FAQ

1. Apakah normal bayi 14 bulan belum bisa jalan sama sekali?

Ya, hal tersebut masih dianggap normal. Batas maksimal (red flag) bagi seorang anak untuk bisa berjalan secara mandiri tanpa bantuan medis adalah pada usia 18 bulan. Asalkan anak sudah bisa merangkak, duduk mandiri, dan menarik tubuhnya untuk berdiri (pull-to-stand), ia berada di jalur perkembangan yang tepat.

2. Apakah baby walker aman digunakan untuk melatih anak berjalan?

Tidak. Para ahli dari American Academy of Pediatrics (AAP) dan dokter anak di seluruh dunia sangat melarang penggunaan baby walker. Alat ini dapat menunda kemampuan anak untuk berjalan karena melatih otot yang salah (membuat anak berjinjit) dan memiliki risiko kecelakaan yang sangat tinggi, seperti terjatuh dari tangga atau meraih benda berbahaya di atas meja.

3. Makanan apa yang bagus untuk mendukung tulang dan otot bayi agar cepat berjalan?

Fokuskan pada makanan yang kaya akan kalsium, protein, dan vitamin D. Contohnya adalah telur, ikan berlemak (seperti salmon), susu pertumbuhan, keju, yoghurt, serta tahu dan tempe. Protein berfungsi untuk membangun massa otot, sedangkan kalsium dan vitamin D sangat esensial untuk memadatkan dan menguatkan tulang kaki.

4. Haruskah anak memakai sepatu saat belajar berjalan di rumah?

Sebaiknya hindari penggunaan sepatu saat anak berada di dalam rumah. Biarkan anak berlatih dengan bertelanjang kaki. Hal ini membantu otot dan saraf pada telapak kaki anak untuk berinteraksi langsung dengan lantai, yang mana sangat krusial dalam membentuk keseimbangan dan koordinasi tubuh secara alami.