Ad Placeholder Image

Anak Alami Epilepsi, Lakukan 8 Langkah yang Tepat Ini

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   10 Juni 2026

“Epilepsi merupakan kondisi medis serius yang memerlukan perhatian medis dan dukungan yang tepat dari keluarga, teman-teman, dan orang terdekat.”

Anak Alami Epilepsi, Lakukan 8 Langkah yang Tepat IniAnak Alami Epilepsi, Lakukan 8 Langkah yang Tepat Ini

DAFTAR ISI


Melihat anak mengalami kejang tentu menjadi momen yang sangat mengkhawatirkan bagi setiap orang tua. Salah satu kondisi kesehatan kronis yang sering dikaitkan dengan kejang berulang pada masa kanak-kanak adalah epilepsi. Epilepsi bukanlah sebuah penyakit menular atau gangguan jiwa, melainkan sebuah kondisi neurologis yang terjadi akibat adanya gangguan aktivitas listrik di dalam otak.

Kondisi ini memerlukan perhatian khusus karena otak anak masih dalam tahap perkembangan yang sangat pesat. Kejang yang tidak terkontrol dengan baik berisiko memengaruhi fungsi kognitif, perkembangan motorik, serta kualitas hidup anak secara keseluruhan. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat krusial untuk memastikan si kecil tetap bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.

Sebagai orang tua, memahami apa itu epilepsi, bagaimana gejalanya, serta langkah apa yang harus diambil saat kejang terjadi adalah kunci utama dalam manajemen kondisi ini. Penanganan epilepsi pada anak melibatkan pendekatan komprehensif mulai dari diagnosis yang akurat oleh spesialis saraf anak hingga kedisiplinan dalam menjalani terapi yang diberikan.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai kondisi ini dan bagaimana langkah penanganan medis yang tepat? Berikut ulasannya!

Mengenal Epilepsi pada Anak

Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) di mana aktivitas otak menjadi tidak normal, menyebabkan kejang atau periode perilaku yang tidak biasa, sensasi, dan terkadang kehilangan kesadaran. Pada anak-anak, sistem saraf masih sangat sensitif terhadap perubahan listrik, sehingga manifestasi epilepsi bisa sangat beragam dibandingkan orang dewasa.

Seseorang didiagnosis menderita epilepsi jika mereka mengalami setidaknya dua kali kejang tanpa penyebab yang jelas (seperti demam tinggi atau putus obat) yang dipisahkan oleh waktu setidaknya 24 jam. Penting untuk diingat bahwa tidak semua kejang adalah epilepsi, misalnya kejang demam (febrile seizures) yang umum terjadi pada balita biasanya tidak dikategorikan sebagai epilepsi kecuali jika memenuhi kriteria tertentu.

Gejala dan Jenis Kejang

Gejala epilepsi pada anak sangat bergantung pada bagian otak mana yang terkena gangguan listrik. Berikut adalah beberapa jenis kejang yang umum ditemukan pada anak:

1. Kejang Umum (Generalized Seizures)

Kejang ini melibatkan seluruh area otak sejak awal serangan. Jenisnya meliputi:

  • Kejang Tonik-Klonik (Grand Mal): Jenis yang paling dramatis, ditandai dengan anak kehilangan kesadaran, tubuh kaku (tonik), diikuti oleh gerakan menyentak-nyentak pada lengan dan kaki (klonik).
  • Kejang Absans (Petit Mal): Sering terabaikan karena gejalanya halus. Anak mungkin tampak seperti sedang melamun, menatap kosong selama beberapa detik, atau melakukan gerakan kecil seperti mengedipkan mata dengan cepat.
  • Kejang Atanik: Menyebabkan hilangnya tonus otot secara mendadak, sehingga anak bisa tiba-tiba jatuh atau kepalanya terkulai.

2. Kejang Parsial (Focal Seizures)

Terjadi hanya di satu bagian otak. Gejalanya bisa berupa gerakan menyentak pada satu anggota tubuh, perubahan emosi mendadak, atau gangguan pada panca indra (seperti mencium bau aneh yang sebenarnya tidak ada).

Tanda Peringatan (Aura)

Beberapa anak mungkin merasakan “aura” atau tanda sebelum kejang dimulai, seperti:

  1. Rasa takut atau cemas yang tiba-tiba.
  2. Mual atau perasaan aneh di perut.
  3. Pandangan menjadi kabur atau melihat kilatan cahaya.

Penyebab Epilepsi pada Anak

Penyebab epilepsi pada anak sangat bervariasi. Pada sekitar 50 persen kasus, penyebab pastinya tidak dapat ditemukan (idiopatik). Namun, beberapa faktor yang umum diketahui meliputi:

  • Faktor Genetik: Beberapa jenis epilepsi diturunkan dalam keluarga atau terkait dengan mutasi gen tertentu.
  • Cedera Kepala: Trauma fisik pada otak akibat kecelakaan atau jatuh yang parah.
  • Kondisi Otak: Adanya tumor otak atau malformasi pembuluh darah.
  • Infeksi: Penyakit seperti meningitis, ensefalitis, atau abses otak dapat memicu epilepsi.
  • Cedera Prenatal: Kerusakan otak yang terjadi sebelum bayi lahir, misalnya akibat kekurangan oksigen (hipoksia) atau infeksi pada ibu saat hamil.
  • Gangguan Perkembangan: Epilepsi kadang dikaitkan dengan kondisi seperti autisme atau neurofibromatosis.

Pertolongan Pertama saat Anak Kejang

Saat melihat anak kejang, orang tua harus tetap tenang. Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan:

  1. Jangan Panik: Tetaplah bersama anak dan catat berapa lama kejang berlangsung.
  2. Amankan Lingkungan: Jauhkan benda tajam atau keras dari sekitar anak untuk mencegah cedera.
  3. Posisikan dengan Benar: Baringkan anak di lantai dan miringkan tubuhnya ke satu sisi untuk mencegah tersedak air liur atau muntah.
  4. Jangan Memasukkan Apapun ke Mulut: Ini adalah mitos berbahaya. Memasukkan sendok atau jari bisa merusak gigi anak atau menyebabkan lidah terluka. Anak tidak akan menelan lidahnya sendiri.
  5. Jangan Menahan Gerakan Anak: Memaksa menahan gerakan menyentak anak bisa menyebabkan patah tulang atau cedera sendi.

Penanganan Medis dan Diagnosis

Jika anak kamu mengalami kejang untuk pertama kalinya, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan awal. Diagnosis epilepsi biasanya melibatkan serangkaian tes seperti EEG (elektroensefalogram) untuk merekam aktivitas listrik otak, serta MRI atau CT scan untuk melihat struktur otak.

Pengobatan utama untuk epilepsi adalah pemberian Obat Anti-Epilepsi (OAE). Tujuan pengobatan adalah untuk menghentikan kejang dengan efek samping minimal. Sangat penting bagi orang tua untuk memberikan obat sesuai jadwal dan dosis yang ditentukan. Jika dokter memberikan resep, kamu bisa menebus atau beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan praktis.

Selain obat-obatan, pada kasus yang sulit dikendalikan (epilepsi resisten obat), dokter mungkin menyarankan diet ketogenik khusus medis atau prosedur stimulasi saraf vagus (VNS).

Studi Mengenai Epilepsi pada Anak

The Lancet Neurology menerbitkan studi di tahun 2020 yang menjelaskan bahwa manajemen dini epilepsi pada anak secara signifikan meningkatkan luaran neurokognitif jangka panjang. Studi tersebut menekankan bahwa keterlambatan dalam mengontrol kejang dapat menghambat plastisitas otak anak yang sedang berkembang.

Penelitian lain menunjukkan bahwa sekitar 70-80 persen anak dengan epilepsi dapat terkontrol sepenuhnya dengan satu jenis obat saja, dan banyak di antaranya yang bisa lepas obat setelah beberapa tahun tanpa kejang (remisi).

Kapan Harus Segera ke Rumah Sakit?

Meskipun sebagian besar kejang berhenti dengan sendirinya, kondisi berikut dianggap sebagai darurat medis:

1. Status Epileptikus

Kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit tanpa henti atau kejang berulang di mana anak tidak sadar di antara dua serangan.

2. Kesulitan Bernapas

Jika setelah kejang berhenti anak tampak membiru atau mengalami kesulitan bernapas yang signifikan.

3. Cedera Akibat Kejang

Anak mengalami luka robek, perdarahan, atau benturan keras pada kepala saat terjatuh karena kejang.

Epilepsi memang tantangan besar bagi anak dan keluarga, namun dengan dukungan medis yang tepat dan pengawasan rutin, sebagian besar anak dengan epilepsi tetap dapat bersekolah, bermain, dan beraktivitas normal layaknya anak-anak lainnya. Jangan ragu untuk mendiskusikan setiap perubahan perilaku atau pola kejang anak kepada ahli saraf.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan terkait kondisi kesehatan si kecil, tapi bingung harus berkonsultasi ke spesialis mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

FAQ

1. Apakah anak dengan epilepsi bisa sembuh?

Banyak anak yang “sembuh” dalam arti mereka tidak lagi mengalami kejang dan tidak perlu obat saat beranjak dewasa. Hal ini sering disebut sebagai masa remisi spontan atau epilepsi yang sudah tidak aktif.

2. Apakah epilepsi menular melalui air liur?

Sama sekali tidak. Epilepsi adalah gangguan kelistrikan di otak dan bukan penyakit infeksi yang bisa menular melalui kontak fisik atau cairan tubuh.

3. Bolehkah anak dengan epilepsi berolahraga?

Boleh dan sangat dianjurkan. Namun, olahraga air seperti berenang harus selalu diawasi secara ketat oleh orang dewasa yang tahu cara menangani kejang.

4. Apakah gadget memicu kejang?

Pada sebagian kecil anak dengan “photosensitive epilepsy”, cahaya yang berkedip dari layar gadget atau televisi dapat memicu kejang. Namun, ini tidak terjadi pada semua penderita epilepsi.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Epilepsy: Key Facts.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Epilepsy in Children: Symptoms and Causes.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2026. Epilepsy Fast Facts.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Mengenal Epilepsi pada Anak dan Remaja.