• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Berbuat Jahat, Benarkah karena Kesalahan Pola Asuh?

Anak Berbuat Jahat, Benarkah karena Kesalahan Pola Asuh?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa berbuat jahat. Kamu tentu pernah melihat anak yang merundung teman seusianya, bukan? Contoh lain yang baru-baru ini terjadi adalah kasus pengakuan remaja 15 tahun yang membunuh anak berusia 5 tahun. Dari contoh kasus itu, banyak yang bingung, bagaimana bisa seorang anak berbuat jahat seperti itu. Apakah ada kesalahan pola asuh dari orangtua, sehingga anak bisa berbuat jahat?

Kemungkinan besar, ada. Sebab, orangtua merupakan sekolah pertama bagi anak. Sebelum mengenal dunia luar, anak akan belajar banyak dari orangtua dan itu akan membentuk karakternya secara langsung. Jadi, jika ada kesalahan dalam pola asuh dari orangtua, bukan hal yang tidak mungkin jika anak tumbuh menjadi pribadi yang buruk. 

Baca juga: Awas, 7 Perilaku Anak yang Tak Boleh Diabaikan

Perilaku Buruk Anak Bisa Terbentuk dari Usia Balita

Tahukah kamu, bahwa perilaku buruk anak bisa terbentuk dari usia balita? Hal ini dibuktikan oleh para peneliti dari University of Minnesota, Amerika Serikat, yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development pada 2011. Dari hasil pengamatan terhadap 267 ibu dan anak, diketahui bahwa bayi usia 3 bulan ternyata sudah bisa meniru perilaku orangtuanya.

Jika sejak bayi sang ibu kerap menunjukkan sikap kurang sabar atau suka mengomel, anak memiliki kemungkinan untuk berperilaku buruk di kemudian hari. Hal itu karena ia meniru sikap yang ditunjukkan oleh ibu atau orangtuanya. Itulah sebabnya perilaku agresif dan kasar kerap sudah bisa terlihat pada masa balita, yaitu usia 2,5 - 6 tahun.

Lebih lanjut, Michael F. Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, mengatakan bahwa pengasuhan pada masa bayi adalah yang paling penting. Ketika orangtua mengekspresikan emosi negatif terhadap anak-anaknya dan menanganinya dengan kasar, dapat memengaruhi pembentukan karakter pada anak kelak. 

Baca juga: Perilaku Si Kecil Adalah Cerminan Orang Tua, Mitos atau Fakta?

Kemudian, perilaku buruk anak yang terbentuk dari balita itu bisa berlanjut hingga usia sekolah nanti. Lorber juga menemukan bahwa sebagian anak tetap berperilaku agresif di usia TK atau kelas 1 sekolah dasar, dan berpotensi besar membawa sikap itu hingga ia dewasa. Itulah yang kemungkinan besar menjadi penyebab mengapa anak bisa berbuat jahat, sehingga berani merundung atau bahkan membunuh temannya.

Lingkungan juga Mengambil Peran

Meski pola asuh orangtua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak, itu bukanlah faktor tunggal. Masih dari studi yang sama, Lorber menjelaskan bahwa pembentukan perilaku anak bisa dipengaruhi oleh banyak faktor lain, termasuk genetik dan lingkungan. Dalam hal ini, lingkungan berarti dapat berupa masyarakat tempat tinggal dan hal-hal lain yang ada di sekitar anak dalam tahap tumbuh kembangnya. Termasuk film yang ditonton anak di televisi atau gadget.

Perlu diketahui bahwa dalam proses perkembangan anak, lingkungan merupakan faktor yang sangat penting, setelah pola asuh dan karakter bawaan anak. Dalam lingkungan masyarakat misalnya, anak yang tumbuh di tempat tinggal asrama polisi atau tentara akan cenderung tumbuh menjadi anak yang berani, agresif, dan superior, karena merasa punya “label” dari orangtuanya. 

Baca juga: Melatih Sopan Santun Pada Anak

Contoh lain, jika anak tumbuh di tengah kota besar, di mana sesama tetangga tak saling kenal. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat individualisme dan tidak peka terhadap orang lain. Namun, itu hanya contoh saja, karena kembali lagi pada masing-masing anak dan cara orangtua menyikapinya. Kalau melihat hasil penelitian Lorber, dapat diketahui bahwa ternyata pembentukan karakter anak telah dimulai dari bayi.

Oleh karena itu, orangtua perlu benar-benar memulai pendidikan karakter anak sedini mungkin. Sejak usianya bayi, cobalah untuk selalu memberi contoh perilaku yang baik pada anak, agar anak bisa menirunya. Jadilah orangtua yang sensitif dan merespons kebutuhan sosial dan emosional anak. 

Ajarkan juga tentang kasih sayang antar sesama manusia, agar anak tidak tumbuh sebagai pribadi yang jahat. Jika membutuhkan saran dari psikolog tentang pengasuhan anak, kamu bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk berdiskusi dengan psikolog anak lewat chat, atau buat janji dengan psikolog anak di rumah sakit lewat aplikasi, agar tidak perlu lama mengantri.

Referensi:
Michael F. Lorber, Journal of Child Development - NYUCD. Diakses pada 2020. The Development of Individual Physically Aggressive Behaviors From Infancy to Toddlerhood.