Penyebab Anak Mencret? Kenali & Cara Mengatasinya!

DAFTAR ISI
- Rekomendasi Obat Diare Anak yang Aman
- Berbagai Macam Penyebab Anak Diare
- Cara Perawatan Rumahan untuk Anak Diare
- Studi Terkait Penanganan Diare Anak
- FAQ
Melihat sang buah hati tiba-tiba buang air besar lebih sering dari biasanya dengan tekstur tinja yang cair tentu membuat orang tua merasa cemas. Diare pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang sangat umum terjadi di Indonesia. Kondisi ini didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi buang air besar menjadi tiga kali atau lebih dalam sehari, disertai dengan perubahan konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau cair.
Meskipun sering terjadi, diare tidak boleh dianggap remeh. Ancaman terbesar dari diare bukanlah pada frekuensi buang air besarnya itu sendiri, melainkan pada risiko dehidrasi. Tubuh anak-anak, terutama bayi dan balita, terdiri dari persentase air yang lebih besar dibandingkan orang dewasa. Saat mereka mengalami diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit penting seperti natrium, kalium, dan klorida dalam jumlah yang sangat cepat dan masif. Jika cairan yang hilang ini tidak segera diganti, anak bisa jatuh ke dalam kondisi dehidrasi berat yang mengancam jiwa.
Penting bagi orang tua untuk mengetahui secara pasti apa saja penyebab anak diare agar penanganan yang diberikan bisa tepat sasaran. Terkadang diare bisa sembuh dengan sendirinya seiring dengan membaiknya sistem imun anak melawan virus, namun di banyak kasus, intervensi dengan menggunakan oralit, suplemen zinc, maupun probiotik sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihan jonjot usus yang rusak.
Nah, jika anak sedang mengalami diare dan kamu butuh pertolongan pertama yang aman untuk diberikan di rumah, ada beberapa pilihan produk kesehatan yang bisa kamu andalkan. Mau tahu apa saja rekomendasi obat dan suplemen untuk mengatasi diare pada anak? Berikut ulasan lengkapnya!
Rekomendasi Obat Diare Anak yang Aman
Sebagai apoteker, saya selalu menyarankan orang tua untuk fokus pada rehidrasi dan pemulihan flora normal usus saat anak diare, dibandingkan langsung memberikan obat penghenti diare yang justru bisa berbahaya. Berikut adalah rekomendasi produk golongan obat bebas, obat bebas terbatas, dan suplemen yang aman untuk dikonsumsi mandiri sebagai pertolongan pertama:
1. Lacto-B 10 Sachet
Lacto-B adalah suplemen probiotik yang berbentuk bubuk dan sangat umum direkomendasikan untuk anak-anak yang mengalami masalah pencernaan, termasuk diare. Produk ini mengandung bakteri baik yang viabel atau hidup, seperti Lactobacillus acidophilus, Bifidobacterium longum, dan Streptococcus thermophilus. Selain itu, Lacto-B juga diperkaya dengan vitamin C, vitamin B kompleks, dan zinc yang sangat baik untuk masa pemulihan.
Cara kerja bakteri baik dalam Lacto-B adalah dengan menyeimbangkan kembali mikrobioma atau flora normal di dalam saluran cerna anak yang biasanya terganggu akibat infeksi virus, bakteri, maupun penggunaan antibiotik. Probiotik ini memproduksi asam laktat yang membuat lingkungan usus tidak ramah bagi bakteri patogen penyebab diare.
Dosis dan aturan pakai:
- Anak usia 1-12 tahun: 3 sachet per hari.
- Bayi di bawah 1 tahun: Sesuai anjuran dokter (biasanya 1-2 sachet per hari).
- Cara penyajiannya sangat mudah, serbuk dapat dicampurkan langsung ke dalam susu formula, makanan bayi, atau air putih. Pastikan tidak mencampurnya dengan air panas agar bakteri baiknya tidak mati.
Produk ini termasuk dalam kategori suplemen dan vitamin yang aman digunakan tanpa resep.
Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Lacto-B 10 Sachet di Toko Kesehatan Halodoc
2. Oralit 200 ml 1 Sachet
Oralit adalah lini pertahanan pertama dan yang paling esensial dalam tata laksana diare anak menurut standar World Health Organization (WHO). Bubuk Oralit mengandung kombinasi elektrolit esensial yaitu Natrium klorida, Kalium klorida, Glukosa anhidrat, dan Natrium bikarbonat/sitrat.
Manfaat utama oralit bukanlah untuk menghentikan mencretnya, melainkan mencegah dan mengatasi dehidrasi. Kandungan glukosa dan natrium dalam oralit diformulasikan secara khusus untuk mempercepat penyerapan air di usus halus yang sedang meradang, sehingga cairan tubuh yang hilang akibat feses cair dan muntah bisa segera tergantikan.
Dosis dan aturan pakai (dilarutkan dalam 200 ml air matang per sachet):
- Bayi di bawah 1 tahun: 50-100 ml cairan oralit setiap kali habis buang air besar cair.
- Anak usia 1-5 tahun: 100-200 ml cairan oralit setiap kali habis buang air besar cair.
- Anak di atas 5 tahun: 200-300 ml cairan oralit setiap kali buang air besar cair.
Oralit tergolong obat bebas bersimbol hijau sehingga sangat aman dijadikan persediaan di kotak P3K rumah.
Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Oralit 200 ml 1 Sachet di Toko Kesehatan Halodoc
Tanda Bahaya Dehidrasi pada Anak: Kapan Harus Segera ke IGD?
- Anak tampak sangat lemas, letargi, atau kesadaran menurun.
- Mata terlihat sangat cekung dan tidak ada air mata saat menangis.
- Popok tetap kering selama 6 jam atau lebih (frekuensi buang air kecil menurun drastis).
- Bibir dan lidah tampak sangat kering, serta anak menolak untuk minum sama sekali.
3. Zinkids 10 mg/5 ml Sirup 100 ml
Zinkids Sirup mengandung Zinc Sulfate, sebuah mikronutrien esensial yang sangat penting diberikan bersamaan dengan Oralit saat anak mengalami diare. Zinc bekerja dengan cara mensintesis protein untuk meregenerasi sel-sel mukosa (jonjot) usus yang rusak akibat infeksi, meningkatkan penyerapan air dan elektrolit, serta mendongkrak respons imunitas lokal di saluran cerna.
Berdasarkan pedoman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian Zinc terbukti efektif mengurangi durasi dan tingkat keparahan diare, serta yang paling penting, mampu mencegah kembalinya episode diare selama 2 hingga 3 bulan ke depan.
Dosis dan aturan pakai:
- Bayi usia di bawah 6 bulan: 1 sendok takar (10 mg) diminum 1 kali sehari.
- Anak usia di atas 6 bulan: 2 sendok takar (20 mg) diminum 1 kali sehari.
- Sangat penting: Zinc harus diberikan berturut-turut selama 10 hari, meskipun diare sudah berhenti di hari ke-3 atau ke-4.
Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.
Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Zinkids 10 mg/5 ml Sirup 100 ml di Toko Kesehatan Halodoc
4. Entrostop Anak Sirup 10 ml 3 Sachet
Entrostop Anak adalah sirup herbal yang dirancang khusus untuk meredakan diare dan gejala sakit perut yang menyertainya. Produk ini diformulasikan dengan ekstrak bahan-bahan alami yang teruji klinis, seperti ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava), ekstrak kunyit (Curcuma domestica), ekstrak daun teh (Camellia sinensis), dan ekstrak jahe (Zingiber officinale).
Daun jambu biji memiliki efek spasmolitik yang dapat mengurangi kontraksi usus berlebih sehingga menurunkan frekuensi buang air besar. Sementara itu, kandungan kunyit dan jahe berperan penting dalam memberikan sensasi hangat di perut, meredakan mual, kembung, dan rasa melilit yang sering membuat anak rewel selama diare.
Dosis dan aturan pakai:
- Anak usia 6-12 tahun: 1 sachet (10 ml), diberikan 3 kali sehari.
- Dewasa: 2 sachet (20 ml), diberikan 3 kali sehari.
- Kocok dahulu sebelum diminum. Disarankan untuk dikonsumsi setelah buang air besar.
Obat ini tergolong produk herbal terstandar atau jamu yang bebas dibeli secara umum.
Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Entrostop Anak Sirup 10 ml 3 Sachet di Toko Kesehatan Halodoc
5. Interlac Probiotics Oral Drops 5 ml
Interlac Probiotics Oral Drops adalah suplemen probiotik premium dalam bentuk tetes yang sangat ideal diberikan pada bayi baru lahir maupun anak-anak. Produk ini mengandung bakteri paten Lactobacillus reuteri Protectis (DSM 17938), salah satu strain probiotik yang paling banyak diteliti di dunia untuk kesehatan pencernaan bayi.
Kandungan L. reuteri di dalam Interlac bekerja efektif menempel pada dinding usus, memproduksi zat antimikroba alami yang disebut reuterin untuk melawan bakteri dan virus jahat, serta meredakan peradangan di saluran pencernaan. Selain mempercepat penyembuhan diare, Interlac juga sangat populer untuk mengatasi kolik pada bayi, gumoh, dan konstipasi.
Dosis dan aturan pakai:
- Bayi dan anak-anak: 5 tetes per hari.
- Kocok botol dengan baik sebelum digunakan. Teteskan menggunakan sendok lalu suapkan kepada anak, atau campurkan ke dalam susu/makanan bersuhu ruangan. Hindari mencampur dengan minuman panas.
Produk ini termasuk golongan suplemen yang aman digunakan setiap hari untuk menjaga kesehatan pencernaan.
Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc
Dapatkan Interlac Probiotics Oral Drops 5 ml di Toko Kesehatan Halodoc
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Berbagai Macam Penyebab Anak Diare
Untuk bisa mencegah episode diare berulang di masa depan, sangat penting bagi orang tua memahami apa sebenarnya pemicu dari kondisi ini. Sistem pencernaan anak, terutama yang masih berusia balita, masih dalam tahap perkembangan sehingga sangat sensitif terhadap berbagai patogen asing maupun perubahan pola makan. Berikut adalah beberapa penyebab utama mengapa anak sering mengalami diare:
1. Infeksi Virus (Gastroenteritis Viral)
Ini adalah penyebab paling dominan dari diare pada anak-anak secara global. Rotavirus adalah “biang kerok” utama yang menyebabkan diare cair hebat yang sering disertai dengan demam, mual, dan muntah. Virus lain seperti Norovirus dan Adenovirus juga kerap menginfeksi. Virus ini sangat menular dan biasanya menyebar melalui fecal-oral, yakni dari tangan atau mainan yang terkontaminasi tinja penderita lalu masuk ke mulut anak yang sehat.
2. Infeksi Bakteri dan Parasit
Diare akibat bakteri sering kali berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan sanitasi makanan yang buruk. Bakteri seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), Campylobacter, dan Shigella bisa masuk ke tubuh anak melalui makanan yang tidak matang (seperti daging atau telur), susu mentah, atau air minum yang tidak direbus dengan benar. Diare karena bakteri seringkali menghasilkan tinja yang berlendir dan terkadang disertai darah. Parasit seperti Giardia lamblia juga bisa menyebabkan diare persisten (berkepanjangan) pada anak.
3. Intoleransi Laktosa dan Alergi Makanan
Intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh anak tidak memproduksi enzim laktase yang cukup untuk mencerna gula alami (laktosa) dalam susu sapi dan produk olahannya. Akibatnya, laktosa yang tidak tercerna akan difermentasi oleh bakteri di usus besar, menghasilkan gas, perut kembung, dan diare asam. Hal ini berbeda dengan alergi susu sapi, di mana sistem imun anak bereaksi secara berlebihan terhadap protein dalam susu, yang selain memicu diare juga bisa memicu ruam merah pada kulit dan gangguan pernapasan.
4. Efek Samping Penggunaan Antibiotik
Antibiotik bertugas membunuh bakteri penyebab penyakit, namun sayangnya, obat ini tidak bisa membedakan antara bakteri jahat dan bakteri baik. Saat anak mengonsumsi antibiotik untuk mengobati infeksi telinga atau radang tenggorokan, populasi flora normal di ususnya akan ikut hancur. Ketidakseimbangan mikrobioma ini akan menurunkan fungsi pencernaan usus dan memicu apa yang secara medis disebut sebagai Antibiotic-Associated Diarrhea (AAD). Inilah mengapa probiotik sangat disarankan untuk diminum di sela-sela konsumsi antibiotik.
Cara Perawatan Rumahan untuk Anak Diare
1. Teruskan Pemberian ASI dan Cairan
Bagi bayi yang masih menyusui, ASI adalah “obat” terbaik. Terus berikan ASI lebih sering dari biasanya karena ASI mudah dicerna, mengandung antibodi yang membantu melawan infeksi, dan efektif mencegah dehidrasi. Untuk anak yang lebih besar, tawarkan air putih, kuah sup bening, atau air kelapa muda sedikit demi sedikit namun sering.
2. Terapkan Pola Makan BRAT
Selama masa pemulihan, sistem pencernaan anak butuh istirahat dari makanan berat. Terapkan diet BRAT (Banana, Rice, Applesauce, Toast) yakni pisang, nasi putih, saus/bubur apel murni, dan roti panggang putih. Makanan-makanan ini bersifat hambar (bland), rendah serat, dan memiliki sifat mengikat yang bisa membantu memadatkan feses.
Studi Terkait Penanganan Diare Anak
Journal of Global Health menerbitkan studi di tahun 2011 yang mereview pedoman dari WHO dan UNICEF terkait tata laksana klinis diare akut pada anak. Studi ini menegaskan kembali bahwa terapi kombinasi menggunakan Oral Rehydration Salts (ORS/Oralit) dan suplemen Zinc secara signifikan mampu menurunkan angka kematian akibat dehidrasi serta mengurangi morbiditas balita di negara-negara berkembang.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa edukasi kepada orang tua terkait cara melarutkan oralit yang benar dan kepatuhan dalam memberikan zinc selama 10 hari penuh adalah kunci suksesnya pengobatan diare berbasis rumah (home-based treatment).
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Jika gejala buang air cair pada anak tak kunjung membaik setelah 2-3 hari perawatan di rumah, atau anak menunjukkan tanda dehidrasi ringan hingga sedang, jangan panik. Kamu bisa beli obat dan suplemen untuk pertolongan pertama di rumah. Dapatkan obat-obatan di atas dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc.
Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis anak terkait masalah kesehatan dan gejala yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc kapan saja dan di mana saja.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Diarrhoeal disease.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Penanganan Diare pada Anak.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Diarrhea in children: What to do.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Lima Langkah Tuntaskan Diare (LINTAS DIARE).
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Pediatric Diarrhea: Causes, Symptoms, and Treatment.
FAQ
1. Apa saja penyebab anak diare yang paling sering terjadi?
Penyebab paling umum adalah infeksi virus, terutama Rotavirus. Penyebab lainnya meliputi infeksi bakteri dari makanan atau air yang terkontaminasi, parasit, intoleransi terhadap laktosa (gula susu), alergi makanan, serta efek samping dari penggunaan obat antibiotik yang mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus.
2. Apakah boleh memberikan obat antimotilitas (penghenti diare) pada anak?
Tidak disarankan. Obat-obatan yang menghentikan motilitas atau gerak usus (seperti loperamide) sangat tidak dianjurkan untuk anak-anak, terutama bayi, tanpa resep dokter spesialis. Obat jenis ini menahan racun dan bakteri tetap berada di dalam usus, yang justru dapat memperparah infeksi dan membahayakan kondisi anak.
3. Bagaimana cara membedakan diare biasa dengan disentri?
Diare akut pada umumnya menghasilkan tinja yang cair dan encer. Namun, jika tinja anak berlendir tebal, mengeluarkan bau yang sangat busuk tidak seperti biasanya, dan terutama jika disertai dengan darah segar (disentri), itu menandakan adanya infeksi bakteri agresif atau parasit. Kondisi ini memerlukan pemeriksaan laboratorium dan pengobatan antibiotik dari dokter.
4. Kapan waktu yang tepat untuk membawa anak yang diare ke rumah sakit?
Segera bawa anak ke IGD jika ia menunjukkan tanda-tanda dehidrasi berat: menolak minum, mata sangat cekung, tidak keluar air mata saat menangis, popok kering lebih dari 6 jam, dan anak tampak terus mengantuk atau letargis. Selain itu, jika diare disertai demam tinggi, muntah proyektil terus-menerus yang membuat oralit tidak bisa masuk, atau adanya darah pada tinja, intervensi medis segera di rumah sakit mutlak diperlukan.



