• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Aneurisma Dapat Sebabkan Serangan Jantung, Ini Alasannya

Aneurisma Dapat Sebabkan Serangan Jantung, Ini Alasannya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Arteri adalah pembuluh darah yang berfungsi membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Ketika pembuluh ini mengalami gangguan, tentu fungsi peredaran darah dalam tubuh akan terganggu. Aneurisma adalah salah satu kondisi yang mampu memengaruhi fungsi arteri. Ini terjadi ketika bagian dari dinding arteri melemah, sehingga arteri menjadi bengkak atau melebar secara tidak normal.

Penyebab aneurisma terkadang tidak diketahui. Beberapa di antaranya muncul sebagai bawaan atau muncul sedari lahir. Aorta, pembuluh darah terbesar di tubuh juga bisa menyebabkan aneurisma apabila mengalami pembengkakan. Bukan itu saja, seseorang yang mengidap hipertensi, kolesterol tinggi dan kebiasaan merokok juga rentan mengalami aneurisma. 

Baca juga: Bisakah Anak-Anak Mengidap Aneurisma Otak?

Benarkah Bisa Sebabkan Serangan Jantung?

Aneurisma dapat terjadi di mana saja, tetapi umumnya terjadi di aorta, otak, tungkai belakang lutut, usus, sampai limpa. Lantas, apakah kondisi ini bisa sebabkan serangan jantung. Jawabannya adalah bisa. Alasannya, aneurisma bisa menyebabkan kebocoran sehingga darah tumpah ke bagian tubuh lain, terutama jika memengaruhi jantung. Aneurisma juga rentan pecah yang bisa menyebabkan kondisi lebih fatal lagi. 

Bukan itu saja, kondisi ini dapat memaksa aliran darah menjauhi organ dan jaringan. Akibatnya, masalah ini dapat menimbulkan serangan jantung, kerusakan ginjal, stroke, dan bahkan kematian. Karena dapat menimbulkan kondisi yang cukup fatal, sebaiknya kenali gejala aneurisma berikut.

Gejala Aneurisma yang Harus Diwaspadai

Aneurisma dapat berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan sering kali tidak memiliki gejala. Apabila terjadi di dekat permukaan kulit, aneurisma bisa terasa menyakitkan dan menyebabkan pembengkakan yang ditandai dengan pembuluh berdenyut-denyut. Ketika aneurisma membesar dengan cepat atau pecah, gejala berikut dapat berkembang secara tiba-tiba:

  • Rasa sakit.
  • Kulit berkeringat.
  • Pusing.
  • Mual dan muntah.
  • Denyut jantung cepat.
  • Syok.
  • Tekanan darah rendah.

Mengalami salah satu gejala di atas? Belum tentu kamu mengalami aneurisma. Oleh sebab itu, pastikan dengan bertanya ke dokter lewat aplikasi Halodoc. Kamu dapat menghubungi dokter kapan dan di mana saja via Chat dan Voice/Video Call.

Baca juga: Bukan Cuma Nyeri Dada, Ini 13 Gejala Serangan Jantung Lainnya

Diagnosis dan Perawatan Aneurisma

Dokter dapat menggunakan angiogram, CT scan, atau tes ultrasound untuk mendiagnosis aneurisma. Seperti halnya aneurisma aorta toraks, dokter terkadang dapat mendeteksi aneurisma aorta perut selama pemeriksaan rutin. Ultrasonografi biasanya sangat disarankan untuk pria berusia 65 hingga 75 tahun yang pernah merokok atau mengidap gejala-gejala aneurisma aorta.

Apabila dokter menemukan tonjolan dan ukurannya kecil, dokter biasanya akan mengawasinya terlebih dahulu untuk memastikan benjolan tidak membesar dan menjadi masalah di kemudian hari. Jika aneurisma besar, doktor umumnya akan langsung menyarankan operasi. 

Apabila kamu telah didiagnosis mengidap aneurisma tapi tidak pecah, sebaiknya rutin memeriksakan diri ke dokter agar setiap perubahan pada aneurisma dapat dipantau dengan baik. Pemeriksaan rutin dilakukan tergantung pada ukuran dan lokasi aneurisma.

Baca juga: Adakah Komplikasi yang Diakibatkan Aneurisma Otak?

Beberapa aneurisma mungkin memerlukan pembedahan untuk memperkuat dinding arteri dengan stent. Dalam kasus aneurisma yang membengkak hingga keluar dari sisi pembuluh darah, prosedur melingkar dapat dilakukan untuk menutup area tersebut. Untuk menurunkan risiko aneurisma, pastikan kamu rutin mengontrol tekanan darah, konsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, kelola stres dengan baik dan berhenti merokok. 

Referensi:
American Heart Association. Diakses pada 2020. What is an Aneurysm?
WebMD. Diakses pada 2020. What is an Aortic Aneurysm?