Ad Placeholder Image

Apa Bedanya Burung Beo dan Kakak Tua? Yuk Cek!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Mei 2026

Apa Bedanya Burung Beo dan Burung Kakak Tua? Ini Dia!

Apa Bedanya Burung Beo dan Kakak Tua? Yuk Cek!Apa Bedanya Burung Beo dan Kakak Tua? Yuk Cek!

Ringkasan: Psittacosis adalah infeksi bakteri zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia psittaci yang menular dari burung ke manusia. Kondisi ini sering disebut sebagai demam burung beo karena gejalanya menyerupai flu berat hingga pneumonia atipikal yang memerlukan penanganan medis segera.

Apa Itu Psittacosis?

Psittacosis adalah penyakit infeksi bakteri yang ditularkan dari unggas, terutama kelompok burung paruh bengkok seperti beo, kakatua, dan parkit. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri Chlamydia psittaci yang dapat menyerang sistem pernapasan manusia dan menyebabkan peradangan paru-paru. Dalam klasifikasi medis internasional (ICD-10), kondisi ini dikategorikan sebagai kode A70.

Penyakit ini bersifat zoonosis, yang berarti penularan terjadi dari hewan ke manusia namun jarang menular antarmanusia. Meskipun sering disebut demam burung beo, bakteri ini juga dapat ditemukan pada lebih dari 450 spesies burung lainnya, termasuk burung merpati, ayam, dan bebek. Infeksi pada manusia dapat berkisar dari penyakit ringan yang mirip dengan flu hingga pneumonia yang mengancam jiwa.

Bakteri Chlamydia psittaci masuk ke dalam tubuh manusia melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi. Begitu berada di dalam paru-paru, bakteri akan bereplikasi dan dapat menyebar ke organ lain melalui aliran darah. Identifikasi awal sangat krusial agar komplikasi serius pada organ hati atau jantung dapat dihindari.

Apa Saja Gejala Psittacosis?

Gejala psittacosis biasanya muncul setelah masa inkubasi sekitar 5 hingga 19 hari setelah terpapar bakteri. Gejala awal sering kali menyerupai influenza (flu) yang muncul secara tiba-tiba dengan intensitas yang meningkat seiring waktu. Keluhan yang paling sering dilaporkan meliputi demam tinggi, menggigil, dan sakit kepala hebat yang bersifat menyeluruh.

Gejala pernapasan meliputi batuk kering yang persisten serta sesak napas yang dapat berkembang menjadi nyeri dada saat menarik napas. Selain itu, penderita mungkin mengalami nyeri otot (mialgia) dan kelelahan ekstrem yang berlangsung selama beberapa minggu. Pada beberapa kasus, muncul ruam merah samar pada kulit yang dikenal sebagai bintik Horder (Horder’s spots).

Manifestasi klinis lainnya meliputi sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia), mual, muntah, hingga pembesaran limpa (splenomegali). Jika tidak segera diobati, gejala dapat memburuk menjadi radang paru-paru atau pneumonia atipikal. Penurunan kesadaran atau disorientasi juga dapat terjadi jika infeksi memengaruhi sistem saraf pusat.

Apa Penyebab Psittacosis?

Penyebab utama psittacosis adalah paparan bakteri Chlamydia psittaci yang berasal dari burung yang terinfeksi. Burung yang membawa bakteri ini mungkin tidak menunjukkan gejala sakit, namun mereka mengeluarkan bakteri secara berkala melalui kotoran, sekret hidung, dan cairan mata. Bakteri ini sangat tangguh dan dapat bertahan hidup di lingkungan kering dalam waktu yang lama.

Penularan pada manusia paling sering terjadi melalui hirupan debu dari kotoran burung yang sudah kering atau partikel bulu yang terkontaminasi. Kontak langsung saat memberi makan atau memegang burung juga meningkatkan risiko masuknya bakteri melalui mulut atau hidung. Dalam kasus yang jarang terjadi, gigitan burung yang terinfeksi dapat menjadi jalur masuk kuman ke dalam jaringan tubuh.

“Psittacosis ditularkan terutama melalui inhalasi partikel udara dari kotoran atau sekresi burung yang terinfeksi bakteri Chlamydia psittaci.” — Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 2024

Faktor Risiko Penularan

Risiko penularan psittacosis meningkat secara signifikan pada individu yang memiliki interaksi rutin dengan burung. Pekerja di toko hewan peliharaan, peternak burung, dokter hewan, dan pemilik burung beo rumahan menempati urutan tertinggi dalam daftar risiko. Selain itu, petugas di laboratorium yang menangani sampel unggas juga memerlukan protokol keamanan yang ketat untuk mencegah paparan.

Faktor risiko lain mencakup lingkungan dengan sirkulasi udara yang buruk di area pemeliharaan burung yang padat. Individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (immunocompromised) memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala yang berat saat terinfeksi. Paparan di tempat umum seperti taman burung atau pasar unggas juga patut diwaspadai jika prosedur sanitasi tidak dijalankan dengan baik.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Psittacosis?

Diagnosis psittacosis dimulai dengan evaluasi riwayat kesehatan pasien, terutama mengenai kontak dengan burung dalam tiga minggu terakhir. Karena gejalanya menyerupai pneumonia bakteri lainnya, dokter memerlukan tes spesifik untuk mengonfirmasi keberadaan Chlamydia psittaci. Pemeriksaan fisik biasanya difokuskan pada suara paru-paru dan pemeriksaan tanda-tanda vital seperti saturasi oksigen.

Tes laboratorium melibatkan pemeriksaan darah untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri melalui uji serologi (mikroimunofluoresensi). Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) juga digunakan untuk mendeteksi DNA bakteri dari sampel dahak (sputum) atau usap tenggorokan. Metode PCR dianggap lebih akurat dan cepat dibandingkan dengan kultur bakteri tradisional yang memerlukan fasilitas laboratorium khusus.

Pencitraan medis seperti rontgen dada (X-ray) atau CT scan paru dilakukan untuk melihat sejauh mana peradangan paru-paru terjadi. Hasil pencitraan biasanya menunjukkan gambaran infiltrat yang konsisten dengan pneumonia atipikal. Pemeriksaan fungsi hati terkadang diperlukan jika terdapat indikasi penyebaran sistemik yang memengaruhi organ dalam.

Bagaimana Cara Mengobati Psittacosis?

Pengobatan utama untuk psittacosis adalah pemberian antibiotik yang ditargetkan untuk mematikan bakteri Chlamydia psittaci. Golongan tetrasiklin, seperti doksisiklin, merupakan pilihan pertama yang sangat efektif bagi pasien dewasa. Antibiotik ini biasanya diberikan selama 10 hingga 14 hari, dan sangat penting bagi pasien untuk menyelesaikan seluruh dosis meskipun gejala sudah mulai membaik.

Bagi anak-anak atau individu yang memiliki kontraindikasi terhadap tetrasiklin, dokter dapat meresepkan golongan makrolida seperti azitromisin atau eritromisin. Respons terhadap pengobatan antibiotik biasanya terlihat cukup cepat, di mana demam sering kali turun dalam waktu 24 hingga 48 jam setelah dosis pertama. Namun, pemulihan total fungsi paru mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama tergantung pada tingkat keparahan awal.

“Terapi antibiotik lini pertama yang direkomendasikan untuk psittacosis adalah doksisiklin guna mencegah kekambuhan dan komplikasi sistemik.” — World Health Organization (WHO), 2023

Selain antibiotik, perawatan suportif sangat diperlukan untuk meredakan gejala penyerta. Pasien disarankan untuk beristirahat total, mencukupi asupan cairan, dan mengonsumsi obat pereda nyeri atau penurun demam sesuai anjuran medis. Pada kasus pneumonia berat, perawatan di rumah sakit dengan tambahan terapi oksigen mungkin diperlukan untuk menjaga stabilitas pernapasan.

Cara Mencegah Penularan Psittacosis

Pencegahan psittacosis difokuskan pada menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal burung peliharaan dan meminimalkan debu kontaminan. Pemilik burung harus membersihkan kandang secara rutin setiap hari dengan cara membasahi kotoran terlebih dahulu agar tidak beterbangan saat disapu. Penggunaan masker medis dan sarung tangan sangat dianjurkan saat melakukan aktivitas sanitasi di area kandang burung.

Burung yang baru dibeli harus dikarantina selama minimal 30 hari dan diperiksa kesehatannya sebelum dicampur dengan burung lain. Hindari memelihara burung dalam jumlah yang terlalu padat dalam satu ruangan guna menjaga sirkulasi udara tetap optimal. Pastikan burung mendapatkan pakan yang bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh mereka terhadap infeksi bakteri.

Jika ditemukan burung yang menunjukkan gejala lemas, nafsu makan turun, atau mata berair, segera pisahkan dan konsultasikan dengan dokter hewan. Pembersihan kandang menggunakan desinfektan yang mengandung pemutih encer atau alkohol 70% efektif untuk membunuh bakteri di permukaan benda. Edukasi mengenai risiko zoonosis bagi anggota keluarga juga menjadi langkah preventif yang penting dilakukan di rumah.

Kapan Harus ke Dokter?

Konsultasi medis segera diperlukan jika seseorang mengalami demam tinggi yang disertai batuk menetap setelah melakukan kontak dengan burung. Gejala yang tidak membaik dalam 3 hari atau justru memburuk menjadi sesak napas merupakan indikasi adanya infeksi saluran pernapasan bawah yang serius. Penanganan dini dapat mencegah terjadinya komplikasi pada organ vital seperti gagal napas atau miokarditis.

Segera hubungi layanan kesehatan jika muncul gejala neurologis seperti kebingungan, leher kaku, atau sakit kepala yang tidak tertahankan. Informasi mengenai riwayat paparan burung peliharaan sangat membantu dokter dalam mempercepat diagnosis tanpa perlu melakukan tes yang tidak relevan. Anda dapat melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan arahan penanganan awal yang tepat.

Kesimpulan

Psittacosis merupakan ancaman kesehatan zoonosis yang serius namun dapat diobati secara efektif dengan antibiotik jika terdeteksi sejak dini. Menjaga standar kebersihan pemeliharaan unggas dan mewaspadai gejala mirip flu setelah kontak dengan burung adalah kunci utama perlindungan diri. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat jika mengalami gejala pernapasan yang mencurigakan.