Yuk Kenali Apa Gejala Darah Rendah, Pusing Kliyengan!

Apa Gejala Darah Rendah? Penjelasan Lengkap Hipotensi
Darah rendah atau hipotensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di bawah rentang normal. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai gejala karena pasokan darah dan oksigen ke organ vital, terutama otak, menjadi tidak optimal. Mengenali tanda-tanda hipotensi sangat penting untuk penanganan yang tepat.
Gejala darah rendah yang paling umum meliputi pusing atau kliyengan, terutama saat perubahan posisi secara tiba-tiba dari duduk ke berdiri. Selain itu, badan terasa lemas, pandangan kabur, hingga mual juga sering dialami.
Definisi Darah Rendah (Hipotensi)
Hipotensi merujuk pada tekanan darah yang angkanya lebih rendah dari 90/60 mmHg (sistolik di bawah 90 dan diastolik di bawah 60). Tekanan darah normal umumnya berkisar antara 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg.
Tekanan darah rendah tidak selalu berbahaya, tetapi dapat menjadi masalah jika menyebabkan gejala yang mengganggu atau menandakan adanya kondisi medis serius.
Apa Gejala Darah Rendah yang Perlu Diwaspadai?
Gejala darah rendah muncul ketika otak dan organ lain tidak mendapatkan cukup aliran darah dan oksigen. Beberapa ciri-ciri darah rendah yang perlu diperhatikan, meliputi:
- Pusing dan Kliyengan
- Badan Lemas dan Lelah
- Pandangan Kabur atau Berkunang-kunang
- Mual atau Muntah
- Kulit Pucat dan Dingin
- Sesak Napas
- Jantung Berdebar (Palpitasi)
- Sulit Konsentrasi atau Linglung
Pusing atau sensasi kliyengan merupakan gejala paling khas dari hipotensi. Hal ini sering terjadi saat seseorang mengubah posisi dari duduk atau berbaring ke berdiri secara tiba-tiba, yang dikenal sebagai hipotensi ortostatik. Otak kekurangan suplai darah sesaat karena gravitasi menarik darah ke kaki.
Kekurangan oksigen yang dibawa oleh darah ke seluruh tubuh menyebabkan otot tidak dapat berfungsi optimal. Akibatnya, penderita darah rendah sering merasa lemas, tidak bertenaga, dan mudah lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
Saat tekanan darah turun drastis, aliran darah ke mata juga berkurang. Kondisi ini dapat menyebabkan pandangan menjadi kabur, berbayang, atau seperti melihat kunang-kunang di depan mata.
Penurunan aliran darah ke saluran pencernaan bisa memicu gangguan. Akibatnya, penderita hipotensi dapat merasakan mual, bahkan hingga muntah.
Tubuh akan mengarahkan aliran darah ke organ vital seperti otak dan jantung, mengurangi suplai ke kulit. Hal ini menyebabkan kulit tampak pucat dan terasa dingin saat disentuh.
Darah membawa oksigen ke paru-paru dan seluruh tubuh. Apabila aliran darah berkurang, tubuh bisa mengalami kekurangan oksigen. Kondisi ini memicu respons tubuh untuk bernapas lebih cepat dan dangkal, sehingga terasa sesak napas.
Jantung akan bekerja lebih keras untuk mencoba memompa darah yang cukup ke seluruh tubuh saat tekanan darah rendah. Ini menyebabkan detak jantung menjadi lebih cepat dan terasa berdebar-debar.
Otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen. Aliran darah yang tidak memadai ke otak dapat menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, berpikir lambat, atau bahkan kebingungan (linglung).
Penyebab Darah Rendah
Hipotensi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari yang ringan hingga kondisi medis serius. Beberapa penyebab umum meliputi:
- Dehidrasi
- Kondisi Jantung
- Masalah Endokrin
- Infeksi Berat (Sepsis)
- Reaksi Alergi Berat (Anafilaksis)
- Kehilangan Darah
- Obat-obatan Tertentu
- Kehamilan
Kekurangan cairan dalam tubuh mengurangi volume darah, yang secara langsung menurunkan tekanan darah.
Penyakit jantung seperti gagal jantung atau bradikardia (detak jantung lambat) dapat mengurangi kemampuan jantung memompa darah secara efektif.
Gangguan pada kelenjar tiroid, kelenjar adrenal (penyakit Addison), atau gula darah rendah (hipoglikemia) bisa memengaruhi tekanan darah.
Infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya.
Reaksi alergi ekstrem dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah secara tiba-tiba, mengakibatkan tekanan darah turun drastis.
Cedera atau pendarahan internal yang signifikan akan mengurangi volume darah dan tekanan darah.
Beberapa obat, seperti diuretik, obat tekanan darah tinggi (hipertensi), antidepresan, atau obat disfungsi ereksi, dapat menyebabkan hipotensi sebagai efek samping.
Perubahan hormon dan peningkatan volume darah selama kehamilan dapat menyebabkan tekanan darah sedikit menurun pada beberapa wanita.
Penanganan dan Pencegahan Darah Rendah
Penanganan hipotensi sangat tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika gejala darah rendah sering muncul dan mengganggu aktivitas, penting untuk berkonsultasi dengan dokter. Beberapa langkah pencegahan dan penanganan awal meliputi:
- Cukupi Cairan Tubuh
- Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang
- Perubahan Posisi Secara Perlahan
- Mengenakan Stoking Kompresi
- Hindari Alkohol
Minum air yang cukup sepanjang hari untuk mencegah dehidrasi.
Pilih makanan kaya vitamin dan mineral, serta hindari melewatkan waktu makan.
Bangun dari duduk atau tidur secara perlahan untuk memberi waktu tubuh menyesuaikan diri dengan perubahan tekanan darah.
Stoking ini dapat membantu meningkatkan aliran darah dari kaki ke jantung.
Alkohol dapat menyebabkan dehidrasi dan memperburuk hipotensi.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun darah rendah tidak selalu berbahaya, gejala yang persisten dan mengganggu perlu diperiksakan. Apabila mengalami pusing berat, pingsan, nyeri dada, sesak napas parah, atau tanda-tanda syok, segera cari bantuan medis.
Dokter dapat membantu menentukan penyebab pasti hipotensi dan merekomendasikan penanganan yang sesuai. Melalui aplikasi Halodoc, dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk mendapatkan diagnosis dan rencana perawatan yang akurat dan berbasis ilmiah.



