
Apa Itu Fomo? Ini Pengertian, Gejala, dan Dampaknya
FOMO ternyata bisa berdampak pada kondisi mental seseorang yang mengalaminya.

DAFTAR ISI
- Apa itu Fear of Missing Out (FOMO)?
- Gejala dan Tanda-Tanda FOMO
- Penyebab Psikologis di Balik FOMO
- Dampak FOMO pada Kesehatan Mental dan Fisik
- Cara Efektif Mengatasi FOMO
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu merasa cemas atau gelisah saat melihat teman-temanmu berkumpul di media sosial tanpa kehadiranmu? Atau mungkin kamu merasa harus selalu membeli barang terbaru yang sedang tren agar tidak merasa tertinggal? Jika iya, besar kemungkinan kamu sedang mengalami fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO.
FOMO bukan sekadar istilah tren di kalangan anak muda, melainkan sebuah kondisi psikologis nyata yang berkaitan dengan kecemasan sosial. Di era digital yang serba cepat ini, paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain melalui layar ponsel membuat banyak orang terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat, yang akhirnya memicu stres berkepanjangan.
Penting bagi kita untuk memahami bahwa perasaan tertinggal ini jika dibiarkan dapat mengganggu kesehatan mental, kualitas tidur, hingga produktivitas kerja. Menangani FOMO membutuhkan kesadaran diri dan strategi yang tepat agar kita kembali bisa menikmati momen saat ini tanpa rasa tertekan oleh ekspektasi lingkungan sosial.
Nah, mau tahu apa saja informasi lengkap mengenai gejala, dampak, dan cara mengatasi FOMO? Berikut ulasannya!
Apa itu Fear of Missing Out (FOMO)?
Fear of Missing Out atau FOMO secara harfiah berarti rasa takut merasa tertinggal. Kondisi ini didefinisikan sebagai perasaan cemas yang muncul ketika seseorang merasa orang lain sedang mengalami pengalaman yang menyenangkan, berharga, atau menarik, sementara dirinya tidak terlibat di dalamnya. Istilah ini pertama kali diidentifikasi oleh Dr. Dan Herman pada akhir 1990-an dan mulai populer secara luas seiring dengan ledakan media sosial.
FOMO sering kali dipicu oleh rasa tidak puas terhadap kehidupan sendiri yang kemudian diperburuk oleh distorsi realitas di media sosial. Ketika kamu melihat unggahan teman yang sedang berlibur atau sukses dalam karier, otak secara tidak sadar melakukan perbandingan. Hal ini menciptakan persepsi bahwa “hidup orang lain lebih baik dari hidupku”, yang memicu rasa rendah diri dan kecemasan.
Gejala dan Tanda-Tanda FOMO
Mengenali gejala FOMO sejak dini sangat penting agar tidak berkembang menjadi gangguan kecemasan yang lebih berat. Berikut adalah beberapa tanda umum yang sering muncul:
- Terobsesi Mengecek Media Sosial: Kamu merasa harus selalu membuka Instagram, TikTok, atau Twitter setiap beberapa menit hanya untuk memastikan tidak ada berita atau tren yang terlewat.
- Kesulitan Berhenti dari Gadget: Merasa gelisah jika tidak memegang ponsel dalam waktu singkat, bahkan saat sedang makan atau berkumpul dengan keluarga.
- Memaksakan Diri Ikut Tren: Membeli barang atau mengikuti kegiatan yang sebenarnya tidak kamu sukai atau butuhkan hanya karena “semua orang melakukannya”.
- Prioritas yang Berantakan: Kamu lebih mementingkan interaksi di dunia maya daripada hubungan nyata di sekitarmu.
- Perasaan Rendah Diri: Merasa hidupmu membosankan dibandingkan dengan gaya hidup yang ditampilkan orang lain di internet.
Penyebab Psikologis di Balik FOMO
Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok (belongingness). Sejak zaman prasejarah, dikucilkan dari kelompok berarti ancaman terhadap keselamatan. Inilah alasan mengapa merasa “tertinggal” bisa terasa sangat menyakitkan secara emosional.
Selain itu, algoritma media sosial dirancang untuk memicu pelepasan dopamin di otak. Setiap kali kita mendapatkan notifikasi atau melihat hal menarik, otak merasa senang. Namun, sisi negatifnya adalah munculnya ketergantungan. Ketika stimulan tersebut hilang, yang tersisa adalah perasaan hampa dan ketakutan akan kehilangan informasi penting.
Dampak FOMO pada Kesehatan Mental dan Fisik
FOMO bukan hanya masalah perasaan, tapi juga memiliki dampak nyata pada kesehatan tubuh dan jiwa:
1. Gangguan Tidur (Insomnia)
Kebiasaan mengecek ponsel sebelum tidur akibat rasa takut ketinggalan informasi dapat menghambat produksi hormon melatonin. Akibatnya, kamu sulit tidur nyenyak, yang pada jangka panjang memicu kelelahan kronis.
2. Peningkatan Kadar Stres dan Kecemasan
Terus-menerus membandingkan diri sendiri dengan standar kesuksesan orang lain dapat meningkatkan hormon kortisol (hormon stres). Hal ini membuat seseorang mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan merasa selalu tegang.
3. Masalah Finansial
Keinginan untuk selalu mengikuti gaya hidup yang sedang tren (lifestyle inflation) sering kali membuat seseorang menjadi boros dan terjebak dalam masalah keuangan karena memaksakan diri membeli sesuatu di luar kemampuan.
Tips Mengurangi Dampak Buruk FOMO
- Lakukan Digital Detox setidaknya 1-2 jam sebelum tidur.
- Hapus atau mute akun-akun yang membuatmu merasa tidak percaya diri.
- Fokus pada hobi yang dilakukan secara offline.
Cara Efektif Mengatasi FOMO
Mengatasi FOMO memerlukan perubahan pola pikir dan kebiasaan harian. Salah satu konsep yang mulai populer adalah JOMO (Joy of Missing Out), yaitu seni menikmati momen saat ini tanpa peduli dengan apa yang dilakukan orang lain. Berikut langkah-langkahnya:
Pertama, berlatihlah untuk bersyukur (gratitude). Menuliskan 3 hal yang kamu syukuri setiap hari dapat membantu otak fokus pada apa yang kamu miliki, bukan pada apa yang orang lain miliki. Kedua, batasi waktu penggunaan media sosial dengan aplikasi pengatur waktu. Ketiga, ubah perspektifmu bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah cuplikan terbaik (highlight reel), bukan realitas kehidupan sehari-hari yang seutuhnya.
Kapan Harus Menghubungi Tenaga Profesional?
Jika perasaan cemas, sedih, atau tidak berdaya akibat FOMO sudah mulai mengganggu fungsi harianmu, jangan ragu untuk mencari bantuan. Gejala seperti serangan panik, depresi yang menetap, atau ketidakmampuan untuk fokus bekerja adalah tanda bahwa kamu memerlukan dukungan ahli.
Jika kamu merasa kecemasan akibat FOMO sudah mengganggu aktivitas harian, sebaiknya segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan pendampingan profesional dari psikolog atau psikiater.
Selain menjaga kesehatan mental, pastikan asupan nutrisi terjaga. Terkadang kelelahan fisik dapat memperburuk kondisi mental. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk memenuhi kebutuhan vitamin harian atau suplemen pendukung daya tahan tubuh agar tetap fit selama proses pemulihan mental.
Studi Mengenai Fear of Missing Out
Computers in Human Behavior menerbitkan studi di tahun 2013 yang menjelaskan bahwa FOMO merupakan prediktor kuat terhadap rendahnya tingkat kepuasan hidup. Studi ini menemukan bahwa individu dengan tingkat FOMO yang tinggi cenderung lebih sering menggunakan media sosial segera setelah bangun tidur dan sebelum tidur, yang berkorelasi negatif dengan kesehatan emosional mereka.
Penelitian lebih lanjut dalam jurnal tersebut menegaskan bahwa ketergantungan pada pengakuan sosial di dunia maya sering kali menjadi kompensasi atas kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi di dunia nyata. Oleh karena itu, membangun koneksi sosial yang berkualitas secara langsung tetap menjadi kunci utama kebahagiaan manusia.
Menghadapi FOMO adalah perjalanan panjang untuk lebih mencintai diri sendiri. Jangan biarkan layar ponsel menentukan standar kebahagiaanmu. Fokuslah pada perkembangan dirimu sendiri dan nikmati setiap prosesnya.
Kamu bisa mendapatkan produk kesehatan pendukung di atas dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.
Referensi:
Przybylski, A. K., et al. (2013). Computers in Human Behavior. Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Stress management: How to cope with digital anxiety.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. The Psychology of FOMO and Social Media Addiction.
Psychology Today. Diakses pada 2026. From FOMO to JOMO: The Joy of Missing Out.
FAQ
1. Apakah FOMO termasuk gangguan jiwa?
FOMO sendiri bukan merupakan diagnosis gangguan jiwa dalam DSM-5, namun ia dikategorikan sebagai fenomena psikologis yang bisa menjadi pemicu atau gejala dari gangguan kecemasan dan depresi jika tidak ditangani dengan benar.
2. Siapa yang paling rentan terkena FOMO?
Remaja dan dewasa muda (Gen Z dan Millennial) cenderung lebih rentan karena mereka tumbuh besar dengan teknologi digital dan memiliki kebutuhan yang tinggi akan penerimaan sosial dari teman sebaya.
3. Bagaimana cara membedakan FOMO dan keinginan sosial biasa?
Keinginan sosial biasa bersifat positif dan memotivasi untuk berinteraksi, sedangkan FOMO bersifat negatif dan disertai dengan rasa cemas, tekanan, dan ketidakpuasan terhadap kondisi diri saat ini.
4. Bisakah JOMO benar-benar menghilangkan FOMO?
JOMO (Joy of Missing Out) adalah pola pikir yang membantu menyeimbangkan perspektif. Meskipun mungkin tidak menghilangkan rasa ingin tahu sepenuhnya, JOMO memberikan kedamaian untuk memilih mana yang benar-benar penting bagi diri kita sendiri.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


