Ad Placeholder Image

Apa Itu Plasenta Bayi? Ketahui Fungsi dan Gangguan yang Bisa Terjadi

7 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Mei 2026

Ada beberapa kondisi yang bisa memengaruhi kesehatan plasenta, seperti hamil di usia tua, hipertensi, dan lain-lain.

Apa Itu Plasenta Bayi? Ketahui Fungsi dan Gangguan yang Bisa TerjadiApa Itu Plasenta Bayi? Ketahui Fungsi dan Gangguan yang Bisa Terjadi

Apa Itu Plasenta?

Plasenta adalah organ sementara yang terbentuk di dalam rahim selama masa kehamilan untuk mendukung pertumbuhan janin. Organ ini berfungsi sebagai sistem pendukung kehidupan yang menghubungkan ibu dan janin melalui tali pusat. Plasenta biasanya menempel pada bagian atas, samping, depan, atau belakang rahim untuk menyalurkan nutrisi.

Pembentukan plasenta dimulai saat sel telur yang telah dibuahi berimplantasi (menempel) pada dinding rahim. Seiring bertambahnya usia kehamilan, plasenta akan terus tumbuh untuk memenuhi kebutuhan metabolisme janin yang semakin kompleks. Organ ini mengandung jaringan pembuluh darah yang sangat banyak untuk memfasilitasi pertukaran oksigen.

Dalam istilah awam, plasenta sering disebut sebagai ari-ari. Peran organ ini sangat vital karena janin tidak dapat bernapas atau makan secara mandiri di dalam kantung ketuban. Setelah proses persalinan bayi selesai, plasenta biasanya akan dikeluarkan dari rahim dalam waktu sekitar 5 hingga 30 menit.

“Plasenta merupakan organ unik yang berfungsi sebagai paru-paru, ginjal, dan sistem pencernaan bagi janin selama berada di dalam rahim.” — World Health Organization, 2023

Fungsi Plasenta bagi Janin

Fungsi plasenta yang utama adalah menyediakan oksigen dan nutrisi dari aliran darah ibu ke janin yang sedang berkembang. Selain transfer nutrisi, plasenta berperan dalam membuang produk limbah seperti karbon dioksida dan urea dari darah janin. Hal ini memastikan lingkungan di dalam rahim tetap bersih bagi pertumbuhan bayi.

1. Transfer Nutrisi dan Oksigen

Glukosa, asam amino, dan vitamin mengalir melalui membran plasenta untuk memberi energi bagi janin. Oksigen dari sel darah merah ibu juga berpindah ke janin guna mendukung perkembangan organ vital seperti otak dan jantung.

2. Produksi Hormon Kehamilan

Plasenta bertindak sebagai kelenjar endokrin yang memproduksi hormon penting seperti hCG (human chorionic gonadotropin), estrogen, dan progesteron. Hormon-hormon ini berfungsi untuk menjaga ketebalan dinding rahim dan mencegah terjadinya keguguran.

3. Perlindungan Imunitas

Selama trimester terakhir, plasenta mentransfer antibodi (immunoglobulin G) dari ibu ke janin. Mekanisme ini memberikan perlindungan awal bagi bayi terhadap infeksi bakteri dan virus tertentu setelah lahir ke dunia.

Gejala Gangguan Plasenta

Gejala gangguan plasenta yang paling umum adalah perdarahan melalui vagina, baik yang disertai nyeri maupun tidak. Perdarahan ini dapat bervariasi dari bercak ringan hingga aliran darah yang deras dan berwarna merah segar. Kondisi ini harus segera diwaspadai karena dapat mengancam keselamatan ibu dan janin.

Berikut adalah beberapa gejala gangguan plasenta yang sering dilaporkan:

  • Nyeri perut yang hebat atau kram rahim yang terus-menerus.
  • Nyeri punggung bagian bawah yang muncul secara mendadak.
  • Rahim terasa kaku, tegang, atau keras saat disentuh.
  • Kontraksi rahim yang terjadi sangat cepat atau tidak berhenti.
  • Penurunan gerakan janin di dalam kandungan secara signifikan.

Pada kasus plasenta previa, perdarahan sering terjadi tanpa rasa nyeri pada trimester kedua atau ketiga. Sebaliknya, pada solusio plasenta (lepasnya plasenta dari dinding rahim), perdarahan biasanya disertai dengan nyeri perut yang sangat tajam dan mendalam.

Apa Penyebab Gangguan Plasenta?

Penyebab gangguan plasenta belum diketahui secara pasti pada setiap kasus, namun faktor genetik dan gangguan vaskular sering berperan. Kondisi kesehatan ibu sebelum hamil sangat memengaruhi bagaimana plasenta terbentuk dan berfungsi. Penurunan aliran darah ke rahim dapat memicu kerusakan pada jaringan plasenta yang sedang berkembang.

Beberapa faktor risiko utama yang meningkatkan kemungkinan terjadinya masalah plasenta meliputi:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi) kronis atau preeklamsia.
  • Riwayat trauma pada perut akibat kecelakaan atau jatuh.
  • Usia ibu yang sudah menginjak di atas 35 atau 40 tahun.
  • Riwayat masalah plasenta pada kehamilan sebelumnya.
  • Kebiasaan merokok atau penggunaan zat berbahaya selama kehamilan.
  • Ketuban pecah dini sebelum waktunya persalinan dimulai.

Gangguan pembekuan darah pada ibu juga dapat menyebabkan terbentuknya gumpalan kecil yang menghambat aliran nutrisi di plasenta. Kelainan struktur rahim atau adanya miom (fibroid) terkadang memengaruhi tempat menempelnya plasenta, sehingga memicu posisi plasenta rendah.

Diagnosis Masalah Plasenta

Diagnosis gangguan plasenta biasanya ditegakkan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) perut maupun transvaginal. Dokter spesialis kandungan akan melihat letak plasenta, ketebalan, serta tingkat pelekatannya pada dinding rahim. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mengecek adanya ketegangan rahim atau tanda-tanda perdarahan aktif.

Metode diagnosis yang umum digunakan meliputi:

  • USG Doppler: Untuk mengukur kekuatan aliran darah antara plasenta dan janin melalui pembuluh darah tali pusat.
  • Cardiotocography (CTG): Untuk memantau detak jantung janin dan mendeteksi adanya gawat janin akibat kekurangan oksigen.
  • Tes Darah: Untuk memeriksa kadar hemoglobin dan memastikan fungsi pembekuan darah ibu masih normal.
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging): Digunakan pada kasus langka seperti plasenta akreta guna melihat kedalaman penetrasi plasenta ke otot rahim.

Bagaimana Cara Mengobati Gangguan Plasenta?

Cara mengobati gangguan plasenta bergantung pada jenis gangguan, usia kehamilan, dan kondisi kesehatan janin saat itu. Tujuan utama pengobatan adalah meminimalkan perdarahan dan memastikan janin tetap mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Jika usia kehamilan masih sangat muda, dokter akan berusaha mempertahankan kehamilan selama mungkin.

Beberapa opsi penanganan medis yang mungkin dilakukan antara lain:

  • Tirah baring (bed rest): Membatasi aktivitas fisik total untuk mengurangi risiko perdarahan pada kasus plasenta previa ringan.
  • Rawat inap: Pemantauan ketat di rumah sakit untuk memastikan akses cepat jika terjadi perdarahan hebat secara mendadak.
  • Pemberian kortikosteroid: Suntikan untuk mempercepat pematangan paru-paru janin jika persalinan prematur harus segera dilakukan.
  • Persalinan darurat: Operasi caesar (C-section) sering kali menjadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa jika terjadi solusio plasenta atau plasenta akreta.

“Penanganan gangguan plasenta difokuskan pada manajemen perdarahan maternal dan optimalisasi kesejahteraan janin untuk mencegah komplikasi permanen.” — Kementerian Kesehatan RI, 2022

Pencegahan Komplikasi Plasenta

Pencegahan komplikasi plasenta dilakukan dengan mengelola faktor risiko yang dapat dikontrol sejak dini. Pemeriksaan kehamilan secara rutin (antenatal care) sangat penting untuk memantau posisi dan fungsi plasenta secara berkala. Deteksi dini terhadap kenaikan tekanan darah dapat mencegah terjadinya solusio plasenta yang berbahaya.

Langkah pencegahan yang direkomendasikan meliputi:

  • Menghindari paparan asap rokok dan konsumsi alkohol selama masa kehamilan.
  • Mengontrol kadar gula darah dan tekanan darah di bawah pengawasan medis.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang untuk mendukung kesehatan pembuluh darah rahim.
  • Menghindari aktivitas fisik yang berisiko menyebabkan benturan pada area perut.
  • Konsultasi sebelum hamil untuk mengevaluasi riwayat medis kehamilan sebelumnya.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi bantuan medis jika muncul perdarahan vagina pada trimester keberapa pun di masa kehamilan. Kondisi ini sering kali merupakan tanda awal dari gangguan plasenta yang memerlukan penanganan darurat. Jangan menunggu hingga muncul rasa sakit karena perdarahan tanpa nyeri juga bisa menjadi indikasi serius.

Gejala lain yang memerlukan pemeriksaan segera mencakup kram perut yang tidak hilang dengan istirahat atau kontraksi yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu. Jika janin terasa tidak bergerak atau gerakannya sangat berkurang dibandingkan pola biasanya, segera lakukan evaluasi medis. Penanganan yang cepat dapat meningkatkan peluang keselamatan bagi ibu dan bayi.

Untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat, segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja.

Kesimpulan

Plasenta merupakan organ vital yang menjamin kelangsungan hidup janin melalui transfer nutrisi, oksigen, dan perlindungan imun. Gangguan pada plasenta seperti plasenta previa atau solusio plasenta memerlukan perhatian medis segera untuk mencegah komplikasi berat. Pemeriksaan rutin dan gaya hidup sehat adalah kunci utama dalam menjaga fungsi plasenta yang optimal hingga proses persalinan. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.