• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Pembekuan Darah Terjadi?

Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Pembekuan Darah Terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Pembekuan Darah Terjadi?

Halodoc, Jakarta – Tahukah kamu, saat terluka, tubuh memiliki mekanisme alami untuk menghentikan perdarahan akibat pembuluh darah yang robek. Mekanisme tersebut dinamakan hemostasis.

Nah, salah satu bagian terpenting dalam hemostasis adalah pembekuan darah (koagulasi). Koagulasi terjadi dalam beberapa proses. Ketika seluruh proses koagulasi bekerja dengan baik, darah akan menempel dengan kuat di lokasi cedera, sehingga perdarahan pun berhenti. Ketahui proses pembekuan darah lebih lanjut di sini.

Baca juga: Sering Mimisan, Apakah Berbahaya?

Memahami Pembekuan Darah

Dikenal juga sebagai koagulasi, pembekuan darah penting dalam perbaikan pembuluh darah. Darah mengalir melalui pembuluh darah untuk mengirimkan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan ke sel-sel yang berbeda di dalam tubuh. Saat pembuluh darah mengalami cedera, hal itu memicu proses pembekuan darah. Dengan cara ini, tubuh akan memperbaiki kerusakan untuk menghentikan terjadinya perdarahan.

Misalnya, ketika kerusakan terjadi pada lapisan pembuluh darah, trombosit akan membentuk sumbatan pada daerah yang terkena. Kemudian, mereka akan memulai proses pembekuan darah dengan bantuan faktor pembekuan tertentu yang diproduksi di dalam tubuh.

Bagaimana Proses Pembekuan Darah Terjadi?

Darah terdiri dari banyak sel yang berbeda, kebanyakan adalah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit, serta faktor pembekuan. Sel-sel ini dan unsur-unsur lainnya melayang melalui pembuluh darah dalam cairan yang disebut plasma.

Proses pembekuan darah adalah proses kimia kompleks yang menggunakan sebanyak 10 protein berbeda (disebut faktor pembekuan darah atau faktor koagulasi) yang ditemukan dalam plasma. Secara sederhana, proses pembekuan darah mengubah darah dari cairan menjadi padat di lokasi cedera.

Berikut prosesnya:

  • Cedera 

Luka pada kulit atau luka dalam menyebabkan robekan kecil di dinding pembuluh darah yang mengakibatkan perdarahan.

  • Penyempitan Pembuluh Darah

Tubuh akan menyempitkan pembuluh darah untuk mengendalikan perdarahan yang terjadi. Proses ini akan membatasi aliran darah ke area yang terkena.

  • Sumbatan Trombosit

Sebagai respons terhadap cedera, tubuh mengaktifkan trombosit. Pada saat yang sama, sinyal kimiawi dilepaskan dari kantung kecil di dalam trombosit untuk menarik sel lain ke area tersebut. Mereka kemudian membuat sumbatan trombosit dengan membentuk gumpalan bersama-sama. Protein yang disebut faktor von Wilebrand (VWF) membantu trombosit untuk saling menempel.

  • Bekuan Fibrin

Ketika pembuluh darah terluka, faktor koagulasi atau faktor pembekuan dalam darah diaktifkan. Protein faktor pembekuan merangsang produksi fibrin, yang merupakan zat kuat seperti untaian yang membentuk gumpalan fibrin.

Selama berhari-hari atau berminggu-minggu, bekuan fibrin ini menguat dan kemudian larut saat dinding pembuluh darah yang terluka sudah menutup dan sembuh.

Pembekuan darah adalah proses penting yang dapat membantu mencegah kehilangan darah akibat cedera. Bila ada masalah pada bagian mana pun dari proses tersebut, hal itu dapat menyebabkan komplikasi berbahaya seperti kehilangan darah yang parah. Biasanya, orang dengan gangguan pembekuan darah perlu diawasi secara ketat untuk mencegah cedera dan pendarahan.

Baca juga: Mengapa Gangguan Pembekuan Darah Terjadi?

Selain itu, tubuh juga memiliki mekanisme kendali untuk membatasi pembekuan dan melarutkan gumpalan yang tidak lagi dibutuhkan. Ini juga merupakan mekanisme yang penting untuk mencegah perdarahan berlebihan atau pembekuan berlebihan, karena kedua kondisi tersebut bisa berbahaya. 

Ketika proses pembekuan darah tidak berjalan dengan baik, bahkan cedera ringan pada pembuluh darah bisa menyebabkan perdarahan yang parah. Sebaliknya, bila pembekuan darah terjadi secara berlebihan, gumpalan bisa terbentuk dan menyumbat pembuluh darah kecil di tempat kritis. 

Pembuluh darah di otak yang tersumbat bisa menyebabkan stroke, sedangkan sumbatan pada pembuluh yang menuju ke jantung bisa menyebabkan serangan jantung. Potongan gumpalan dari vena di kaki, panggul atau perut juga bisa berpindah melalui aliran darah ke paru-paru dan menyumbat arteri utama di sana. Kondisi ini disebut emboli paru.

Baca juga: Seberapa Berbahayakah Pembekuan Darah di Otak?

Itulah penjelasan mengenai proses pembekuan darah. Bila kamu mengalami gejala-gejala yang dicurigai sebagai masalah pembekuan darah, seperti perdarahan yang tidak kunjung berhenti saat terluka, sebaiknya periksakan diri ke dokter. 

Sekarang, kamu bisa berobat ke dokter lebih mudah dengan aplikasi Halodoc. Caranya, tinggal buat janji di rumah sakit pilihanmu lewat aplikasi dan kamu bisa berobat tanpa perlu antre. Yuk, download aplikasinya sekarang juga.

Referensi:
HEM Aware. Diakses pada 2021. The Blood Clotting Process: What Happens if You Have a Bleeding Disorder.
News Medical Life Sciences. Diakses pada 2021. Blood Clotting Process
MSD Manuals. Diakses pada 2021. How Blood Clots