Ad Placeholder Image

Apakah Ibu Hamil Boleh Makan Pare? Ini Kata Dokter

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

Apakah Ibu Hamil Boleh Makan Pare? Cek Aturan Amannya!

Apakah Ibu Hamil Boleh Makan Pare? Ini Kata DokterApakah Ibu Hamil Boleh Makan Pare? Ini Kata Dokter

DAFTAR ISI


Kehamilan adalah masa keemasan yang menuntut setiap calon ibu untuk memberikan perhatian ekstra terhadap segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Nutrisi yang dikonsumsi oleh sang ibu secara langsung akan disalurkan melalui plasenta untuk mendukung tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, memilih asupan makanan yang aman, bergizi, dan bebas dari senyawa beracun menjadi prioritas utama selama sembilan bulan masa kehamilan.

Secara umum, sayur-sayuran sangat direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, serta serat harian ibu hamil. Sayuran hijau dikenal kaya akan asam folat, kalsium, dan zat besi yang esensial untuk mencegah cacat tabung saraf pada bayi dan anemia pada ibu. Namun, tahukah kamu bahwa tidak semua jenis sayur aman dikonsumsi selama masa kehamilan? Ada beberapa pengecualian yang sangat penting untuk diperhatikan, salah satunya adalah sayur pare.

Pare, atau yang memiliki nama ilmiah Momordica charantia, adalah sayuran dengan cita rasa pahit yang sangat populer di Indonesia. Bagi masyarakat umum, pare sering diolah menjadi tumisan, hidangan siomay, atau bahkan diekstrak menjadi minuman herbal yang dipercaya dapat menurunkan kadar gula darah. Sayuran ini memang memiliki segudang manfaat kesehatan berkat kandungan antioksidan dan senyawa antidiabetiknya yang kuat.

Namun, di balik manfaatnya yang luar biasa untuk orang biasa, pare menyimpan potensi bahaya yang sangat serius jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Rasa pahit pada pare sebenarnya berasal dari kumpulan senyawa kimia aktif yang secara farmakologis dapat memicu reaksi negatif pada sistem reproduksi wanita, khususnya rahim yang sedang mengandung. Pertanyaannya, kenapa ibu hamil tidak boleh makan pare dan apa saja risiko medis yang mengintainya?

Nah, buat kamu yang sedang menanti kelahiran si buah hati atau sekadar mencari informasi penting terkait larangan makanan saat hamil, penting sekali untuk memahami penjelasan medis di balik larangan ini. Mari kita bahas secara tuntas dan mendalam mengenai kandungan berbahaya dalam pare, dampak buruknya bagi kehamilan, serta sayuran sehat apa saja yang bisa dijadikan alternatif pengganti!

Kandungan Pare yang Berbahaya bagi Ibu Hamil

Alasan utama kenapa ibu hamil dilarang mengonsumsi pare terletak pada senyawa kimia alami yang terkandung di dalam daging, daun, hingga bijinya. Pare mengandung zat-zat aktif yang bekerja sangat kuat di dalam tubuh. Berikut adalah beberapa kandungan pare yang harus dihindari oleh ibu hamil:

1. Protein Momorcharin

Momorcharin (khususnya alpha dan beta-momorcharin) adalah jenis protein penginaktivasi ribosom yang secara alami terdapat dalam tanaman pare. Senyawa ini merupakan salah satu alasan medis terkuat mengapa pare dilarang keras bagi wanita hamil. Dalam dunia medis dan penelitian farmakologi, momorcharin dikenal memiliki efek abortifacient, yaitu zat yang dapat memicu atau menyebabkan terjadinya aborsi (keguguran) secara spontan.

Saat masuk ke dalam tubuh ibu hamil, senyawa ini dapat mengganggu proses implantasi (penempelan) embrio pada dinding rahim di awal kehamilan. Selain itu, protein ini dapat merangsang otot-otot polos rahim untuk berkontraksi secara tidak wajar, yang pada akhirnya dapat merusak plasenta dan memaksa janin keluar sebelum waktunya.

2. Senyawa Saponin dan Glikosida

Rasa pahit yang sangat pekat pada pare dihasilkan oleh senyawa saponin dan glikosida, khususnya yang dikenal dengan nama cucurbitacin. Meskipun senyawa ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alami tanaman dari serangan hama, bagi ibu hamil, zat ini bersifat toksik (beracun) jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu.

Saponin dan glikosida dapat menyebabkan iritasi parah pada saluran pencernaan. Selain itu, senyawa ini bersifat emenagog (emmenagogue), yaitu stimulan yang merangsang aliran darah ke area panggul dan rahim. Efek ini sebenarnya digunakan dalam pengobatan tradisional masa lampau untuk melancarkan siklus menstruasi yang terlambat. Namun, jika terjadi pada ibu hamil, aliran darah yang dipaksakan ini dapat merangsang pelepasan lapisan rahim yang berujung pada perdarahan hebat.

3. Charantin dan Polipeptida-P

Pare sering dijuluki sebagai “insulin nabati” karena memiliki kandungan charantin dan polipeptida-p (p-insulin). Senyawa ini terbukti secara klinis mampu menurunkan kadar gula darah dengan sangat cepat dan efektif. Sayangnya, pada ibu hamil yang sehat dan tidak memiliki riwayat diabetes, konsumsi senyawa ini sangat berbahaya.

Ibu hamil membutuhkan suplai glukosa yang stabil dan memadai karena glukosa adalah sumber energi utama bagi perkembangan otak dan organ penting janin. Masuknya charantin secara tiba-tiba dapat memicu kondisi hipoglikemia (gula darah drop). Kondisi ini akan membuat ibu merasa pusing, lemas, pandangan kabur, pingsan, hingga menghambat penyaluran nutrisi penting ke plasenta.

4. Vicine pada Biji Pare

Bagian biji pare dan jaring berwarna merah di sekitarnya (aril) mengandung senyawa beracun yang disebut vicine. Senyawa ini sangat berbahaya bagi individu yang memiliki mutasi genetik defisiensi enzim G6PD (Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase). Jika ibu hamil atau janin di dalam kandungannya memiliki kondisi bawaan ini, vicine dapat memicu reaksi yang disebut favism.

Favism adalah kondisi di mana sel-sel darah merah hancur lebih cepat daripada waktu pembentukannya (anemia hemolitik akut). Hancurnya sel darah merah berarti berkurangnya kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke janin. Kurangnya pasokan oksigen di dalam rahim (hipoksia) dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan janin hingga kematian janin di dalam kandungan (stillbirth).

Dampak dan Risiko Makan Pare Saat Hamil

Setelah mengetahui senyawa aktif apa saja yang bersembunyi di balik sayur bertekstur keriput ini, penting bagi ibu hamil untuk memahami risiko fatal yang bisa terjadi. Berikut adalah komplikasi medis yang mengintai jika tetap bersikeras mengonsumsi pare saat hamil:

1. Risiko Keguguran di Trimester Pertama

Trimester pertama adalah masa yang paling krusial sekaligus paling rentan dalam kehamilan. Pada fase ini, janin baru mulai membentuk organ-organ dasarnya, dan perlekatan plasenta ke dinding rahim masih dalam tahap penyempurnaan. Efek emenagog dari pare yang memicu aliran darah ke panggul dapat merusak perlekatan ini. Ditambah dengan sifat abortifasien dari momorcharin, konsumsi pare dapat memicu kram rahim hebat yang berujung pada luruhnya janin (keguguran).

2. Persalinan Prematur di Trimester Ketiga

Memasuki trimester ketiga, ukuran janin sudah membesar dan rahim meregang secara maksimal. Otot-otot rahim (miometrium) menjadi jauh lebih sensitif terhadap berbagai jenis stimulan. Mengonsumsi pare yang mengandung senyawa perangsang kontraksi bisa menjadi malapetaka. Kontraksi rahim yang dipicu oleh pare bukanlah kontraksi palsu (Braxton Hicks), melainkan kontraksi kuat yang bisa membuka serviks sebelum waktunya. Akibatnya, bayi bisa terlahir prematur dengan sistem organ, terutama paru-paru, yang belum matang sepenuhnya.

3. Gangguan Pencernaan dan Dehidrasi Parah

Ibu hamil secara alami sudah sering mengalami masalah pencernaan seperti mual dan muntah (morning sickness) akibat fluktuasi hormon hCG (human chorionic gonadotropin). Toksisitas dari senyawa cucurbitacin dalam pare dapat memperparah kondisi ini dengan menyebabkan iritasi lambung akut, kram usus, diare hebat, hingga muntah proyektil.

Diare dan muntah yang terus-menerus akan menguras cairan tubuh dan elektrolit ibu hamil, menyebabkan dehidrasi berat. Dehidrasi saat hamil sangat berbahaya karena dapat menurunkan volume cairan ketuban, mengganggu aliran darah ke plasenta, dan memicu ketidakseimbangan elektrolit yang fatal bagi fungsi jantung ibu maupun janin.

Tips Aman Memilih Sayuran Saat Hamil
  1. Selalu cuci bersih sayuran di bawah air mengalir untuk menghilangkan sisa pestisida dan bakteri seperti Listeria, Toxoplasma, dan E. coli.
  2. Hindari sayuran yang bergetah pekat atau memiliki rasa pahit ekstrem karena biasanya mengandung senyawa alkaloid yang kuat.
  3. Masak sayuran hingga benar-benar matang. Menghindari sayuran mentah (lalapan) akan meminimalkan risiko infeksi parasit yang berbahaya bagi janin.

Sayuran Alternatif Pengganti Pare

Jika kamu sebelumnya sangat menyukai pare, tidak perlu bersedih. Ada banyak sekali alternatif sayuran hijau lainnya yang jauh lebih aman, lezat, dan pastinya memberikan limpahan nutrisi yang mendukung kecerdasan dan pertumbuhan fisik janin. Berikut ini adalah beberapa sayuran pengganti pare yang sangat direkomendasikan:

1. Bayam

Bayam adalah primadona bagi ibu hamil. Sayuran berdaun hijau gelap ini kaya akan zat besi yang sangat penting untuk memproduksi hemoglobin. Volume darah ibu hamil meningkat hingga 50%, sehingga kebutuhan zat besi juga melonjak tajam untuk mencegah anemia. Selain itu, bayam mengandung vitamin A, kalsium, dan vitamin K yang mendukung pembentukan tulang janin.

2. Brokoli

Brokoli adalah sumber asam folat (vitamin B9) alami yang sangat luar biasa. Asam folat merupakan nutrisi paling esensial di awal kehamilan karena berfungsi untuk mencegah cacat tabung saraf seperti spina bifida dan anensefali pada bayi. Brokoli juga sarat akan vitamin C yang tidak hanya meningkatkan daya tahan tubuh ibu, tetapi juga membantu penyerapan zat besi dari makanan lain secara lebih optimal.

3. Kangkung

Kangkung sangat mudah ditemukan dan harganya terjangkau. Kangkung mengandung vitamin C, vitamin A, serta berbagai mineral penting seperti potasium dan fosfor. Sayuran ini juga memiliki kandungan serat yang tinggi, yang sangat ampuh untuk mencegah sembelit, salah satu keluhan paling umum yang sering menyiksa ibu hamil di trimester kedua dan ketiga.

4. Asparagus

Meski tidak sepopuler kangkung atau bayam, asparagus adalah superfood untuk kehamilan. Asparagus kaya akan folat, vitamin K, tembaga, serta vitamin B kompleks. Teksturnya yang renyah dan rasanya yang unik bisa mengobati kerinduanmu pada variasi masakan sayur. Pastikan kamu memasaknya dengan cara dipanggang, direbus, atau ditumis hingga matang sempurna.

Langkah Jika Terlanjur Mengonsumsi Pare

Terkadang, ibu hamil mungkin tidak sengaja mengonsumsi pare, misalnya karena tidak menyadari campurannya di dalam sebuah hidangan di restoran atau acara keluarga. Jika hal ini terjadi, usahakan untuk tidak langsung panik. Stres dan kecemasan yang berlebihan justru dapat berdampak negatif pada detak jantung janin dan memicu hormon kortisol yang tidak baik untuk kehamilan.

Perhatikan jumlah yang kamu konsumsi. Jika hanya memakan satu atau dua gigitan kecil saja, kemungkinan besar tubuh dapat menoleransinya, dan risiko racunnya belum mencapai batas ambang yang membahayakan. Segera hentikan konsumsi dan perbanyak minum air putih hangat untuk membantu sistem pencernaan membilas dan menetralkan senyawa yang masuk ke lambung.

Namun, jika porsi yang dimakan cukup banyak atau jika kamu mulai merasakan gejala tidak wajar seperti kram perut bagian bawah yang intens, keluarnya bercak darah (flek) dari jalan lahir, pusing ekstrem, hingga diare dan muntah, jangan menunda waktu. Jika gejala berlanjut, segera jadwalkan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis pasti dan penanganan darurat guna menyelamatkan kehamilanmu.

Selain mengandalkan makanan, terkadang ibu hamil kesulitan memenuhi nutrisi harian karena kendala mual muntah yang berlebihan. Untuk menjaga asupan nutrisimu tetap stabil tanpa risiko membahayakan janin, kamu bisa beli vitamin, suplemen kehamilan online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah secara instan. Pastikan kamu memilih suplemen yang mengandung asam folat, zat besi, kalsium, dan DHA sesuai anjuran medis.

Studi Terkait

Journal of Ethnopharmacology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa ekstrak Momordica charantia menunjukkan sifat abortifasien, menginduksi perdarahan rahim, serta menyebabkan gangguan implantasi plasenta pada hewan uji.

Dalam penelitian medis tersebut, pemberian ekstrak pare pada tikus hamil memicu persentase keguguran yang sangat signifikan. Hal ini membuktikan kebenaran empiris dari pengobatan tradisional yang sering menggunakan jus pare mentah sebagai alat kontrasepsi alami atau peluruh kandungan. Temuan ini menjadi landasan medis utama mengapa para dokter kandungan di seluruh dunia secara tegas melarang konsumsi pare dalam bentuk apa pun selama masa kehamilan pada manusia.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
National Institutes of Health (NIH) – PubMed. Diakses pada 2026. Antifertility and abortifacient activities of Momordica charantia.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Nutrition during pregnancy: Healthy eating and avoiding harmful substances.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Pregnancy diet: Focus on these essential nutrients.
Journal of Ethnopharmacology. Diakses pada 2026. Toxicity and emmenagogue effects of cucurbitane-type triterpenoids from bitter melon.

FAQ

1. Apakah makan pare sedikit saja bisa menyebabkan keguguran?

Risikonya bergantung pada seberapa sensitif rahim ibu hamil dan kekuatan kandungan senyawa dalam pare tersebut. Walaupun satu gigitan kecil mungkin tidak langsung memicu keguguran bagi sebagian wanita, dokter sangat menyarankan untuk menghindarinya 100% karena toleransi tubuh setiap ibu hamil terhadap senyawa abortifasien sangat berbeda-beda.

2. Bolehkah ibu menyusui makan pare?

Berbeda dengan masa kehamilan, ibu menyusui umumnya diperbolehkan mengonsumsi pare asalkan dalam porsi yang wajar. Bahkan, di beberapa tradisi pengobatan Asia, pare diklaim dapat membantu memulihkan rahim pasca melahirkan dan merangsang produksi ASI, meskipun studi klinis yang mendukung klaim produksi ASI ini masih terbatas.

3. Apakah pare bisa menyebabkan cacat bawaan pada janin?

Penelitian pada manusia belum dapat memastikan apakah pare menyebabkan mutasi genetik (teratogenik). Namun, sifat abortifacient dan risikonya dalam memicu kontraksi prematur yang menyebabkan bayi lahir dengan organ belum matang jauh lebih nyata dan terbukti dibandingkan risiko cacat fisik bawaan.

4. Apakah merebus pare dengan garam bisa menghilangkan racunnya?

Merebus pare dengan garam dapat mengurangi kadar senyawa yang menghasilkan rasa pahit, tetapi tidak bisa menghilangkan sepenuhnya kandungan protein momorcharin dan vicine yang menjadi biang kerok kontraksi rahim. Oleh karena itu, cara pengolahan apa pun (direbus, ditumis, diperas) tetap tidak membuat pare menjadi aman untuk ibu hamil.