Ad Placeholder Image

Apakah kadal bisa dimakan? Cek jenis dan fakta menariknya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   16 April 2026

Apakah Kadal Bisa Dimakan? Simak Fakta Keamanan dan Jenisnya

Apakah kadal bisa dimakan? Cek jenis dan fakta menariknyaApakah kadal bisa dimakan? Cek jenis dan fakta menariknya

Apakah Kadal Bisa Dimakan dan Bagaimana Dampaknya bagi Kesehatan

Pertanyaan mengenai apakah kadal bisa dimakan sering muncul karena adanya keragaman tradisi kuliner dan pengobatan alternatif di berbagai belahan dunia. Secara umum, beberapa jenis kadal memang dapat dikonsumsi oleh manusia dan bahkan dianggap sebagai sumber protein atau bahan obat tradisional. Namun, keamanan konsumsi daging reptil ini sangat bergantung pada jenis spesies, cara pengolahan, serta risiko kontaminasi patogen yang mungkin terbawa oleh hewan tersebut.

Mengonsumsi kadal bukan tanpa risiko karena hewan reptil dikenal sebagai pembawa alami berbagai bakteri dan parasit yang dapat membahayakan sistem pencernaan manusia. Selain faktor kesehatan, aspek budaya dan aturan agama juga menjadi pertimbangan penting sebelum seseorang memutuskan untuk mengonsumsi daging kadal. Penting untuk memahami perbedaan antara jenis kadal yang aman dikonsumsi dan jenis yang mengandung racun atau parasit berbahaya.

Jenis Kadal yang Umum Dikonsumsi dan Perbedaannya

Tidak semua jenis kadal aman untuk dimakan karena beberapa spesies memiliki kelenjar racun atau mengandung zat berbahaya dalam tubuhnya. Salah satu jenis yang paling dikenal aman dan umum dikonsumsi adalah dhab atau kadal gurun (Uromastyx) yang banyak ditemukan di wilayah Timur Tengah. Dhab merupakan hewan herbivora yang hanya memakan tumbuhan, sehingga risiko akumulasi racun dari mangsa lain cenderung lebih rendah dibandingkan reptil karnivora.

Selain dhab, di beberapa wilayah Amerika Tengah dan Selatan, iguana hijau sering dijuluki sebagai ayam pohon karena tekstur dagingnya yang dianggap mirip dengan daging ayam. Namun, masyarakat harus sangat waspada terhadap jenis kadal seperti kadal Gila (Gila Monster) dan kadal manik-manik Meksiko yang memiliki racun saraf kuat. Biawak tertentu juga sering dikonsumsi di beberapa daerah, namun risiko infeksi bakteri pada biawak jauh lebih tinggi karena pola makannya yang sering mengonsumsi bangkai.

Risiko Kesehatan dan Ancaman Bakteri pada Daging Kadal

Salah satu ancaman utama dari konsumsi daging kadal adalah infeksi bakteri Salmonella yang sangat umum ditemukan pada kulit dan saluran pencernaan reptil. Bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan yang parah, ditandai dengan gejala diare, kram perut, dan demam tinggi pada manusia. Selain Salmonella, daging kadal liar juga berpotensi mengandung parasit seperti pentastomids, spargana, dan berbagai jenis cacing usus yang dapat berpindah ke tubuh manusia.

Risiko kesehatan lainnya adalah adanya akumulasi logam berat atau polutan lingkungan dalam jaringan lemak kadal, terutama jika kadal tersebut hidup di area yang terkontaminasi. Infeksi dari daging reptil yang tidak dimasak dengan sempurna dapat memicu reaksi peradangan sistemik di dalam tubuh. Jika terjadi gejala demam pada anggota keluarga, terutama anak-anak setelah terjadi paparan infeksi bakteri, penggunaan penurun panas seperti Praxion Suspensi 60 ml dapat menjadi pertolongan pertama yang efektif.

Aspek Budaya dan Pandangan Agama Mengenai Konsumsi Kadal

Dalam perspektif budaya, konsumsi kadal sering dikaitkan dengan kepercayaan terhadap penyembuhan penyakit tertentu seperti asma atau penyakit kulit. Namun, secara ilmiah, klaim medis mengenai khasiat daging kadal sebagai obat tradisional masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan tidak boleh menggantikan pengobatan medis standar. Setiap kebudayaan memiliki batasan tersendiri mengenai jenis hewan liar yang boleh masuk ke dalam rantai makanan manusia.

Dari sisi pandangan agama Islam, terdapat perbedaan klasifikasi antara kadal gurun (dhab) dan kadal rumah atau biawak. Dhab hukumnya halal untuk dikonsumsi berdasarkan beberapa riwayat hadis, selama proses penyembelihannya sesuai dengan syariat Islam. Sebaliknya, kadal rumah, cicak, atau biawak yang memiliki sifat predator atau hidup di dua alam umumnya dianggap haram atau dilarang untuk dimakan oleh sebagian besar ulama.

Langkah Keamanan dalam Menangani dan Memasak Daging Kadal

Jika seseorang memutuskan untuk mengonsumsi kadal yang tergolong aman, proses penanganan harus dilakukan dengan standar higienitas yang sangat ketat. Seluruh bagian kulit dan organ dalam harus dipisahkan dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi silang bakteri dari usus ke bagian daging. Pencucian tangan dan alat potong menggunakan sabun disinfektan sangat wajib dilakukan setelah bersentuhan dengan daging reptil mentah.

Memasak daging kadal wajib menggunakan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama untuk memastikan semua larva parasit dan bakteri patogen mati. Berikut adalah beberapa panduan keamanan dalam mengolah daging reptil:

  • Pastikan daging berasal dari spesies yang teridentifikasi bukan jenis beracun.
  • Gunakan suhu internal minimal 75 derajat Celcius saat memasak.
  • Hindari mengonsumsi bagian jeroan atau organ dalam karena konsentrasi parasit tertinggi berada di sana.
  • Jangan menggunakan peralatan masak yang sama untuk daging mentah dan sayuran tanpa dicuci terlebih dahulu.

Rekomendasi Medis dan Penanganan Gejala di Halodoc

Mengingat risiko kontaminasi yang tinggi, konsumsi kadal sangat tidak disarankan bagi individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah, ibu hamil, serta anak-anak. Gejala infeksi bakteri yang muncul setelah mengonsumsi daging yang tidak higienis dapat berkembang dengan cepat menjadi kondisi medis serius. Pemantauan suhu tubuh secara berkala sangat penting jika muncul tanda-tanda infeksi setelah mengonsumsi makanan yang tidak biasa.

Untuk mengatasi gejala demam yang muncul akibat reaksi infeksi ringan pada anak, penggunaan Praxion Suspensi 60 ml sangat direkomendasikan karena mengandung paracetamol yang aman dengan dosis yang terukur. Segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis di Halodoc jika gejala seperti muntah terus-menerus, diare berdarah, atau demam yang tidak kunjung turun terjadi. Penanganan medis yang cepat dan tepat akan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat infeksi zoonosis dari hewan reptil.