Aplikasi Dating Dapat Berpengaruh pada Kesehatan Mental
“Jurnal penelitian berjudul Swipe-based Dating Applications Use and Its Association with Mental Health Outcomes: a cross-sectional study yang dipublikasikan di National Library of Medicine mengungkapkan bahwa 49 persen pengguna aplikasi dating mengalami gangguan mood yang juga memperburuk gejala depresi.”

Halodoc, Jakarta – Baru-baru ini viral film dokumenter Netflix berjudul The Tinder Swindler yang menceritakan penipuan hampir 10 juta USD yang dilakukan oleh Simon Leviev (Shimon Hayut) ke banyak perempuan lewat aplikasi Tinder.
Faktanya, aplikasi dating tidak hanya rentan terjadi love scam yang merugikan secara finansial, tetapi juga emosional. Menurut American Psychological Association pengguna aplikasi dating Tinder banyak yang mengalami masalah kesehatan mental terkait penolakan rutin dan keraguan akan nilai diri. Bagaimana aplikasi dating dapat berpengaruh pada kesehatan mental? Berikut ulasannya!
Tekanan Psikologis sampai Budaya Seks Kasual
Perkembangan teknologi membuat aplikasi dating semakin digemari orang-orang yang ingin mencari pasangan tetap ataupun hubungan kasual. Apalagi di situasi pandemi saat ini, aplikasi kencan menjadi semakin booming.
Artikel dari Vox berjudul Tinder Data Shows How Pandemic Dating was Even Weirder than Regular Dating menyebutkan bahwa sejak pandemi 2020 terjadi peningkatan pengguna aplikasi kencan tersebut. Tidak hanya itu, frekuensi obrolan baik dari chat maupun video juga lebih lama saat pandemi dibanding sebelum pandemi.
Ini menunjukkan aplikasi dating menjadi semacam pelipur lara di masa pandemi. Meski begitu, aplikasi dating juga menjadi sesuatu yang merugikan. Beberapa media maupun lembaga perlindungan perempuan pernah memberitakan penipuan dan pelecehan yang dilakukan pengguna aplikasi dating.
Jurnal penelitian berjudul Swipe-based Dating Applications Use and Its Association with Mental Health Outcomes: a cross-sectional study yang dipublikasikan di National Library of Medicine mengungkapkan bahwa 49 persen pengguna aplikasi dating mengalami gangguan mood yang juga memperburuk gejala depresi. Seperti apa pengaruh penggunaan aplikasi dating pada kesehatan mental?
1. Tekanan Psikologis
Orang yang menggunakan aplikasi kencan cenderung lebih tertekan, cemas, atau depresi. Pengguna aplikasi kencan menghadapi stres tiga kali lipat dibandingkan dengan non-pengguna. Jumlah ini bisa meningkat jika pengguna aplikasi kencan menggunakan aplikasi tersebut dalam jangka waktu yang lama.
Mengapa pengguna aplikasi ini rentan mengalami tekanan psikologis? Ini bisa terjadi ketika pengguna aplikasi mencari validasi dari rekan match-nya. Sebenarnya mengejar validasi eksternal, baik melalui kencan online maupun media sosial, dapat memberikan tekanan emosional.
2. Citra Tubuh yang Buruk
Penggunaan aplikasi dating dapat membantu membentuk citra diri seseorang. Selain memilih (swipe right) calon match-nya melalui pertimbangan penampilan fisik (foto) yang menarik, pengguna juga memilih calon match dari kemungkinan apakah orang tersebut juga memilih dirinya atau tidak. Pertimbangan-pertimbangan demikian akan menempatkan pengguna pada pengevaluasian diri terus-menerus, dan mempertanyakan kelayakan diri untuk di-swipe right.
3. Budaya Seks Kasual
Tidak bisa dimungkiri, keberadaan aplikasi dating jadi membudayakan seks kasual ataupun seks tanpa komitmen. Seks tanpa komitmen tidak hanya mengganggu kestabilan emosi, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit menular seks.
4. Masalah Kepercayaan
Sering mendapatkan rekan match penipu, suka berbohong, dan anti-komitmen sedikit banyak akan memengaruhi cara pandang pengguna akan suatu hubungan. Pada akhirnya, ketika orang tersebut punya kesempatan berada pada hubungan yang nyata, besar kemungkinan dia mengalami trust issue, alias susah percaya dengan pasangannya. Kebiasaan untuk mencari yang lain dan tidak gigih berusaha mempertahankan hubungannya juga kemungkinan lebih besar terjadi pada pengguna aplikasi dating.
Itulah informasi mengenai bagaimana aplikasi dating dapat berpengaruh pada kesehatan mental. Kalau kamu pernah mengalami pengalaman serupa dan butuh teman cerita atau saran profesional, hubungi saja psikolog atau psikiater di Halodoc. Yuk, download aplikasinya sekarang juga!


