Ad Placeholder Image

Ari Ari Plasenta: Saudara Kembar dan Penjaga Janin

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Fakta Unik Ari-ari: Saudara Kembar Penjaga Bayi

Ari Ari Plasenta: Saudara Kembar dan Penjaga JaninAri Ari Plasenta: Saudara Kembar dan Penjaga Janin

DAFTAR ISI


Plasenta, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan sebutan ari-ari, adalah organ luar biasa yang hanya terbentuk selama masa kehamilan. Dalam budaya lokal, ari-ari sering kali dianggap sebagai “saudara kembar” janin yang menemaninya selama sembilan bulan berada di dalam kandungan. Anggapan ini bukannya tanpa alasan, sebab plasenta memiliki peran yang sangat esensial dalam menjaga, melindungi, dan menutrisi janin sejak hari pertama kehidupan hingga momen persalinan tiba.

Secara medis, plasenta adalah organ sementara yang menghubungkan janin yang sedang berkembang dengan dinding rahim ibu. Organ ini bertindak sebagai sistem pendukung kehidupan (life support system) yang kompleks. Melalui tali pusat, plasenta menyuplai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan janin untuk tumbuh, sekaligus membuang zat sisa metabolisme dari darah janin. Tanpa plasenta yang sehat, kelangsungan hidup dan perkembangan janin di dalam rahim tidak akan mungkin terjadi.

Mengetahui bagaimana plasenta bekerja dan apa saja risiko yang bisa memengaruhinya sangatlah penting bagi setiap ibu hamil. Pasalnya, ada beberapa kondisi kelainan pada plasenta yang jika tidak dideteksi dan ditangani secara dini, dapat membahayakan nyawa ibu maupun bayi. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin menjadi langkah wajib untuk memantau letak, ukuran, dan fungsi plasenta seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.

Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja “penjaga janin” ini dan masalah apa saja yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil? Mari simak ulasan lengkap dan mendalam mengenai plasenta (ari-ari) berikut ini!

Fungsi Vital Plasenta (Ari-Ari) Selama Kehamilan

Plasenta bukanlah sekadar bantalan atau penghubung pasif. Organ ini sangat aktif secara metabolik dan melakukan berbagai fungsi dari organ-organ tubuh janin yang belum matang, seperti paru-paru, hati, ginjal, dan sistem pencernaan. Berikut adalah penjelasan rinci mengenai fungsi-fungsi vital plasenta:

1. Fungsi Pernapasan (Pertukaran Gas)

Di dalam rahim, janin tidak bernapas menggunakan paru-parunya sendiri karena organ tersebut masih berisi cairan ketuban dan belum berfungsi penuh. Plasenta bertindak sebagai “paru-paru” bagi janin. Darah ibu yang kaya oksigen mengalir melalui rahim menuju plasenta. Di sana, oksigen berpindah melintasi membran sel menuju darah janin. Sebaliknya, karbon dioksida dari janin dipindahkan kembali ke darah ibu untuk dikeluarkan melalui paru-paru ibu.

2. Fungsi Nutrisi

Sistem pencernaan janin belum siap untuk memproses makanan. Oleh karena itu, plasenta berfungsi sebagai saluran utama yang mengantarkan nutrisi yang sudah dipecah dari tubuh ibu—seperti glukosa, asam amino, asam lemak, kalsium, zat besi, dan vitamin—langsung ke aliran darah janin. Proses transfer nutrisi ini terjadi secara terus-menerus dan menyesuaikan dengan kebutuhan janin yang semakin meningkat pada tiap trimester kehamilan.

3. Fungsi Ekskresi (Pembuangan Zat Sisa)

Layaknya ginjal, plasenta bertugas menyaring produk sisa metabolisme janin, seperti urea, asam urat, dan kreatinin. Zat-zat sisa ini akan ditransfer dari darah janin menuju aliran darah ibu, yang kemudian akan diproses dan dibuang oleh ginjal ibu melalui urine. Inilah mengapa ibu hamil sering kali merasa ginjalnya bekerja lebih keras dari biasanya.

4. Fungsi Endokrin (Produksi Hormon)

Plasenta merupakan kelenjar endokrin yang luar biasa karena mampu memproduksi berbagai hormon krusial untuk mempertahankan kehamilan. Beberapa hormon penting yang dihasilkan antara lain:

  • Human Chorionic Gonadotropin (hCG): Hormon pertama yang diproduksi oleh plasenta. hCG mencegah rahim luruh (menstruasi) dan memicu produksi progesteron. Hormon inilah yang dideteksi oleh alat tes kehamilan (test pack) dan sering menjadi penyebab mual-muntah (morning sickness) di trimester pertama.
  • Progesteron: Dikenal sebagai “hormon kehamilan”, progesteron menjaga otot rahim tetap rileks sehingga mencegah kontraksi dini, serta membantu perkembangan kelenjar susu untuk persiapan menyusui.
  • Estrogen: Meningkatkan aliran darah ke rahim dan mendukung perkembangan rahim serta payudara ibu.
  • Human Placental Lactogen (hPL): Mengatur metabolisme ibu agar nutrisi (terutama glukosa) dialirkan secara optimal ke janin. Hormon ini juga menyiapkan payudara untuk produksi ASI.

5. Fungsi Imunologis (Sistem Kekebalan)

Di akhir masa kehamilan, plasenta akan mentransfer antibodi (terutama Imunoglobulin G atau IgG) dari ibu ke janin. Antibodi ini akan memberikan kekebalan pasif kepada bayi selama beberapa bulan pertama setelah kelahirannya, melindunginya dari berbagai infeksi seperti campak dan difteri hingga sistem imun bayi dapat memproduksi antibodinya sendiri.

6. Fungsi Pelindung (Sawari/Barier)

Plasenta bertindak sebagai penghalang fisik yang menyaring beberapa jenis bakteri, virus, dan racun agar tidak masuk ke peredaran darah janin. Namun sayangnya, penghalang ini tidak sempurna. Beberapa zat berbahaya seperti alkohol, nikotin, obat-obatan tertentu, dan virus (seperti Rubella, Zika, dan Cytomegalovirus) tetap dapat menembus plasenta dan menyebabkan cacat bawaan pada janin.

Proses Terbentuknya Plasenta dan Strukturnya

Pembentukan plasenta dimulai segera setelah proses pembuahan (fertilisasi) terjadi. Ketika sel telur yang telah dibuahi (zigot) membelah diri menjadi bentuk blastokista dan menempel pada dinding rahim (implantasi), lapisan terluar blastokista yang disebut trofoblas mulai menginvasi jaringan rahim.

Sel-sel trofoblas ini berkembang pesat dan membentuk tonjolan-tonjolan kecil menyerupai jari yang disebut vili korialis. Vili korialis inilah yang akan menembus pembuluh darah rahim ibu, menciptakan rongga-rongga kecil (ruang intervili) yang akan dipenuhi oleh darah ibu. Menariknya, meskipun terjadi pertukaran oksigen dan nutrisi secara masif di sini, darah ibu dan darah janin tidak pernah benar-benar bercampur secara langsung. Keduanya dipisahkan oleh lapisan tipis sel (membran plasenta) yang bertindak sebagai filter.

Plasenta biasanya terbentuk secara sempurna dan mulai mengambil alih produksi hormon secara mandiri pada usia kehamilan 12 minggu (akhir trimester pertama). Pada saat persalinan, plasenta yang sehat berbentuk seperti cakram atau piringan tebal berwarna merah tua keunguan, dengan diameter sekitar 15 hingga 22 sentimeter, tebal sekitar 2 sampai 4 sentimeter, dan berat mencapai 500 gram (sekitar seperenam dari berat bayi).

Tahukah Kamu?
  1. Tali pusat (umbilical cord) yang menghubungkan plasenta dengan bayi normalnya berisi tiga pembuluh darah: satu vena besar yang membawa darah kaya oksigen dan nutrisi menuju bayi, serta dua arteri kecil yang membawa darah deoksigenasi (kaya karbon dioksida) kembali ke plasenta.
  2. Setelah bayi lahir, rahim akan berkontraksi kembali untuk melepaskan plasenta dari dinding rahim. Proses pengeluaran plasenta ini disebut sebagai persalinan tahap ketiga atau kala III persalinan.

Berbagai Gangguan dan Kelainan pada Plasenta

Meski sebagian besar kehamilan berjalan normal, kadang-kadang bisa muncul komplikasi yang melibatkan plasenta. Kelainan pada plasenta dapat memengaruhi pertumbuhan janin dan berisiko memicu pendarahan hebat pada ibu. Beberapa gangguan plasenta yang paling umum meliputi:

1. Plasenta Previa (Plasenta Letak Rendah)

Pada awal kehamilan, plasenta sering berada di bagian bawah rahim. Namun seiring dengan membesarnya rahim, plasenta biasanya akan bergeser ke atas. Jika hingga trimester ketiga plasenta tetap berada di bagian bawah dan menutupi sebagian atau seluruh leher rahim (serviks), kondisi ini disebut plasenta previa. Gejala utamanya adalah perdarahan vagina tanpa disertai rasa nyeri. Wanita dengan kondisi ini biasanya disarankan untuk menjalani operasi caesar karena jalan lahir tertutup oleh ari-ari.

2. Solusio Plasenta (Placental Abruption)

Ini adalah kondisi darurat medis di mana sebagian atau seluruh plasenta terlepas dari dinding dalam rahim sebelum proses persalinan (biasanya di trimester ketiga). Solusio plasenta memutus suplai oksigen dan nutrisi ke bayi secara tiba-tiba dan menyebabkan perdarahan hebat pada ibu. Gejalanya meliputi perdarahan vagina, nyeri perut bagian bawah yang sangat tajam, nyeri punggung, dan rahim terasa tegang/kaku.

3. Plasenta Akreta, Inkreta, dan Perkreta

Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah dan bagian lain dari plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim. Pada plasenta akreta, plasenta melekat terlalu kuat pada otot rahim. Pada plasenta inkreta, plasenta tumbuh masuk ke dalam dinding otot rahim. Sedangkan pada plasenta perkreta (yang paling parah), plasenta menembus dinding rahim dan bisa melekat pada organ terdekat seperti kandung kemih. Kondisi ini berisiko menyebabkan perdarahan masif setelah persalinan dan sering kali memerlukan pengangkatan rahim (histerektomi) untuk menyelamatkan nyawa ibu.

4. Retensio Plasenta (Plasenta Tertinggal)

Normalnya, plasenta akan dilahirkan dalam waktu 30 hingga 60 menit setelah bayi lahir. Jika plasenta gagal keluar secara utuh setelah waktu tersebut, kondisi ini disebut retensio plasenta. Sisa plasenta yang tertinggal di dalam rahim dapat menyebabkan infeksi berat dan perdarahan pascapersalinan (postpartum hemorrhage). Dokter biasanya akan melakukan tindakan manual atau kuretase untuk mengeluarkan jaringan yang tersisa.

5. Insufisiensi Plasenta

Kondisi di mana plasenta tidak dapat memberikan oksigen dan nutrisi yang cukup kepada janin karena aliran darah yang buruk atau kerusakan jaringan plasenta. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat (Intrauterine Growth Restriction/IUGR), air ketuban sedikit (oligohidramnion), hingga risiko bayi lahir mati (stillbirth). Insufisiensi plasenta sering dikaitkan dengan kondisi ibu seperti hipertensi, preeklamsia, atau diabetes gestasional.

Jika kamu mengalami perdarahan, kram perut yang tidak tertahankan, atau merasa gerakan janin berkurang drastis, jangan menunda untuk konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam. Penanganan medis yang cepat dan tepat sangat krusial dalam mencegah komplikasi fatal akibat gangguan plasenta.

Cara Menjaga Kesehatan Plasenta dan Janin

Meskipun beberapa gangguan plasenta tidak dapat dicegah secara mutlak (seperti kelainan genetik atau riwayat operasi rahim sebelumnya), ada banyak langkah proaktif yang bisa dilakukan oleh ibu hamil untuk meminimalisasi risiko dan mendukung fungsi plasenta bekerja secara optimal:

1. Rutin Melakukan Pemeriksaan Kehamilan (Antenatal Care/ANC)

Pemeriksaan rutin dengan dokter spesialis kandungan atau bidan memungkinkan tenaga medis untuk memantau kesehatan ibu dan janin secara berkala. Pemeriksaan USG (ultrasonografi) secara teratur sangat penting untuk mengetahui posisi plasenta, mendeteksi kelainan letak, serta mengukur aliran darah yang melewati tali pusat dan plasenta.

2. Memenuhi Asupan Nutrisi Harian

Ibu hamil memerlukan kalori dan nutrisi tambahan untuk mendukung perkembangan plasenta dan janin. Pastikan asupan makanan sehari-hari kaya akan zat besi, asam folat, kalsium, protein, dan omega-3. Sayuran berdaun hijau gelap, daging tanpa lemak, ikan laut yang aman dari merkuri, serta kacang-kacangan sangat direkomendasikan. Untuk menunjang kebutuhan nutrisi, kamu juga dianjurkan mengonsumsi vitamin prenatal sesuai anjuran dokter.

Jika kamu membutuhkan suplemen pendukung kehamilan, kamu bisa beli vitamin dan suplemen kehamilan secara online di Halodoc. Produk 100% terjamin keasliannya dan akan langsung diantar ke depan pintu rumahmu.

3. Menghindari Rokok, Alkohol, dan Obat Terlarang

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun, termasuk nikotin dan karbon monoksida, yang dapat menyempitkan pembuluh darah dan mengurangi aliran oksigen ke plasenta. Hal ini meningkatkan risiko solusio plasenta, bayi lahir prematur, dan berat badan lahir rendah. Sama halnya dengan alkohol dan obat-obatan terlarang yang bisa menembus plasenta dan menyebabkan kerusakan permanen pada sistem saraf janin.

4. Mengontrol Tekanan Darah dan Gula Darah

Tekanan darah tinggi (hipertensi) selama kehamilan dapat merusak pembuluh darah plasenta dan mengurangi aliran nutrisi ke bayi, meningkatkan risiko solusio plasenta dan preeklamsia. Begitu pula dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol (diabetes gestasional) dapat menyebabkan plasenta tumbuh abnormal. Sangat penting bagi ibu hamil untuk rutin mengecek tekanan darah dan gula darah.

5. Berhati-hati dalam Beraktivitas

Trauma atau benturan keras pada perut ibu hamil, misalnya akibat kecelakaan kendaraan bermotor atau terjatuh, dapat menyebabkan solusio plasenta. Oleh karena itu, selalu gunakan sabuk pengaman saat berada di dalam mobil, hindari aktivitas olahraga yang berisiko tinggi terhadap benturan, dan berhati-hatilah saat berjalan di permukaan yang licin.

Studi Terkait

National Institutes of Health (NIH) menerbitkan berbagai studi komprehensif mengenai fisiologi dan patologi plasenta. Salah satu temuan penting menekankan bahwa stres oksidatif pada jaringan plasenta di awal kehamilan sangat berkaitan dengan munculnya kondisi preeklamsia di trimester akhir.

Selain itu, studi lanjutan juga menemukan bahwa kualitas nutrisi makro dan mikro yang dikonsumsi ibu, khususnya ketersediaan asam folat dan zat besi pada trimester pertama, secara langsung memengaruhi pembentukan jaringan pembuluh darah (angiogenesis) di dalam vili plasenta. Plasenta dengan pembuluh darah yang terbentuk sempurna terbukti menurunkan risiko kelahiran prematur secara signifikan.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Dengan menerapkan gaya hidup sehat, melakukan pemeriksaan kehamilan tepat waktu, dan memahami tanda-tanda bahaya, kamu dapat mendukung kerja plasenta agar tetap optimal hingga proses persalinan tiba.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Placenta: How it works, what’s normal.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Placenta: Anatomy, Function & Complications.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Physiology, Placenta.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

FAQ

1. Apakah plasenta dan tali pusat adalah hal yang sama?

Tidak. Plasenta adalah organ berbentuk cakram yang menempel pada dinding rahim dan berfungsi menyaring darah serta memproduksi hormon. Sedangkan tali pusat adalah saluran panjang menyerupai selang yang menghubungkan plasenta dengan pusar bayi, berfungsi sebagai jalur lalu lintas darah dan nutrisi.

2. Apa yang menyebabkan pengapuran plasenta (kalsifikasi plasenta)?

Pengapuran plasenta adalah proses penuaan alami pada plasenta yang umumnya terjadi menjelang akhir masa kehamilan (trimester ketiga). Namun, pengapuran dini dapat disebabkan oleh kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, atau diabetes pada ibu hamil. Jika terjadi terlalu dini, kondisi ini dapat mengurangi aliran nutrisi ke janin.

3. Mengapa ari-ari sering dikubur setelah persalinan?

Dalam budaya masyarakat Indonesia, mengubur ari-ari adalah tradisi turun-temurun yang dianggap sebagai bentuk penghormatan karena plasenta telah merawat bayi selama di kandungan. Secara medis, setelah bayi lahir, plasenta menjadi jaringan mati (limbah biologis medis) yang akan membusuk. Menguburnya dengan benar merupakan salah satu cara sanitasi yang aman agar tidak menyebarkan penyakit atau menimbulkan bau tidak sedap, asalkan kedalaman galian cukup dan aman dari jangkauan hewan.

4. Bisakah fungsi plasenta diperbaiki jika terjadi masalah?

Bergantung pada masalahnya. Kondisi struktural seperti plasenta previa atau akreta tidak dapat “disembuhkan” atau diperbaiki posisinya secara medis, melainkan harus dikelola dengan pemantauan ketat dan operasi caesar. Namun, masalah fungsi akibat gaya hidup atau tekanan darah sering kali dapat dioptimalkan dengan mengontrol faktor risikonya, istirahat yang cukup, dan mengonsumsi obat-obatan anjuran dokter spesialis kandungan.