Ad Placeholder Image

Arti Selfie: Ternyata Bukan Cuma Narsis!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

Arti Selfie: Mengapa Kita Suka Ambil Swafoto?

Arti Selfie: Ternyata Bukan Cuma Narsis!Arti Selfie: Ternyata Bukan Cuma Narsis!

DAFTAR ISI


Di era media sosial yang serba visual seperti sekarang, istilah “selca” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kamu, terutama jika kamu adalah penggemar budaya populer Korea Selatan atau K-Pop. Namun, tahukah kamu bahwa selca sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar mengambil foto diri sendiri? Fenomena ini telah mengubah cara kita berinteraksi, memandang diri sendiri, dan bahkan memengaruhi kesehatan mental serta fisik masyarakat modern secara luas.

Secara umum, selca adalah singkatan dari self-camera, sebuah istilah yang identik dengan aktivitas memotret wajah atau diri sendiri menggunakan kamera ponsel atau kamera digital. Meskipun terdengar sederhana, kebiasaan ini telah menjadi bagian integral dari gaya hidup digital. Banyak orang melakukan selca untuk menunjukkan eksistensi, berbagi momen bahagia, atau sekadar memamerkan riasan wajah dan pakaian yang sedang dikenakan kepada pengikut di media sosial.

Penting bagi kita untuk memahami konteks kesehatan di balik fenomena ini. Mengambil foto diri secara berlebihan terkadang berkaitan dengan kondisi psikologis tertentu, seperti kecemasan akan citra tubuh atau kebutuhan akan validasi eksternal. Selain itu, paparan cahaya biru dari layar ponsel saat melakukan selca secara terus-menerus juga memiliki dampak tersendiri bagi kesehatan kulit dan mata yang sering kali terabaikan oleh banyak pengguna.

Nah, mau tahu lebih lanjut mengenai apa itu selca, sejarahnya, hingga dampaknya terhadap kesehatan kamu? Berikut ulasannya!

Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Selca

Istilah “selca” berasal dari gabungan kata dalam bahasa Inggris, yaitu self dan camera. Di Korea Selatan, istilah ini sangat populer dan digunakan secara luas sebelum kata “selfie” diakui secara global oleh Oxford English Dictionary pada tahun 2013. Selca merujuk pada foto yang diambil oleh orang itu sendiri, biasanya dengan memegang kamera di tangan atau menggunakan tongkat narsis (tongsis).

Berbeda dengan foto potret biasa yang diambil oleh orang lain, selca memberikan kendali penuh kepada subjek foto atas sudut pandang (angle), pencahayaan, dan ekspresi yang ingin ditampilkan. Hal ini membuat selca menjadi sarana ekspresi diri yang sangat personal. Bagi banyak orang, selca adalah cara untuk mendokumentasikan perubahan fisik, kemajuan dalam perawatan kulit, atau sekadar merayakan hari yang menyenangkan.

Dalam konteks budaya K-Pop, selca sering kali diunggah oleh para idol sebagai bentuk komunikasi intim dengan penggemar mereka. Hal ini menciptakan standar estetika tertentu yang kemudian diikuti oleh masyarakat luas, mulai dari teknik pencahayaan yang membuat kulit tampak glowing hingga penggunaan berbagai aplikasi penyuntingan foto untuk menyempurnakan penampilan.

Sejarah dan Tren Selca di Era Digital

Meskipun istilah selca populer di era ponsel pintar, konsep mengambil foto diri sendiri sebenarnya sudah ada sejak awal penemuan fotografi. Foto diri pertama yang diketahui diambil oleh Robert Cornelius pada tahun 1839. Namun, tren ini baru benar-benar meledak setelah ponsel dengan kamera depan mulai dipasarkan secara massal pada awal tahun 2000-an.

Di Korea Selatan, situs media sosial seperti Cyworld menjadi wadah pertama populernya istilah selca. Pengguna berlomba-lomba mengunggah foto diri dengan sudut pandang dari atas (high angle) untuk membuat wajah terlihat lebih tirus dan mata lebih besar, yang dikenal sebagai gaya ulzzang. Tren ini kemudian berevolusi seiring dengan perkembangan teknologi kamera ponsel yang semakin canggih dan kemunculan platform global seperti Instagram dan TikTok.

Saat ini, selca tidak hanya tentang wajah yang cantik atau tampan, tetapi juga tentang estetika visual secara keseluruhan. Munculnya berbagai filter berbasis Augmented Reality (AR) memungkinkan orang untuk mengubah fitur wajah mereka secara instan, menambahkan riasan virtual, hingga mengubah latar belakang foto hanya dengan satu ketukan jari.

Dampak Psikologis: Antara Percaya Diri dan Obsesi

Secara psikologis, selca memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, selca dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Mendapatkan “likes” dan komentar positif pada foto yang diunggah dapat memicu pelepasan dopamin di otak, yang memberikan perasaan senang dan dihargai. Hal ini bisa menjadi bentuk apresiasi diri (self-love) jika dilakukan dengan cara yang sehat.

Namun, di sisi lain, kebiasaan selca yang berlebihan dapat memicu masalah kesehatan mental. Keinginan untuk selalu tampil sempurna di depan kamera sering kali menyebabkan seseorang merasa tidak puas dengan penampilan aslinya di dunia nyata. Kondisi ini jika dibiarkan dapat mengarah pada Body Dysmorphic Disorder (BDD), di mana seseorang menjadi sangat terobsesi dengan kekurangan fisik yang dianggapnya ada, meskipun sebenarnya tidak terlihat oleh orang lain.

Selain itu, ketergantungan pada filter kecantikan dapat mengaburkan batasan antara realitas dan ekspektasi. Jika kamu merasa sangat cemas saat tidak bisa mengunggah selca atau merasa rendah diri saat foto kamu tidak mendapatkan banyak perhatian, mungkin itu tandanya kamu perlu beristirahat sejenak dari media sosial. Jangan ragu untuk konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk membicarakan kesehatan mental dan masalah kepercayaan diri kamu.

Tanda Kebiasaan Selca Mulai Tidak Sehat
  1. Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengambil satu foto yang sempurna.
  2. Merasa sangat cemas atau sedih jika hasil foto tidak sesuai dengan ekspektasi atau standar filter.
  3. Menghindari interaksi sosial secara langsung karena merasa penampilan asli tidak sebagus di foto.

Dampak Kesehatan Fisik akibat Kebiasaan Selca

Siapa sangka bahwa aktivitas sesederhana mengambil foto diri bisa berdampak pada kesehatan fisik? Salah satu masalah yang sering muncul adalah tech neck atau ketegangan pada otot leher akibat terlalu sering menunduk atau memposisikan kepala secara janggal saat mencari angle selca yang pas. Posisi ini memberikan beban berlebih pada tulang belakang leher yang dapat menyebabkan nyeri kronis.

Selain masalah postur, kesehatan kulit juga menjadi sorotan. Paparan cahaya biru (HEV light) dari layar ponsel saat kamu berlama-lama menyunting selca atau mengambil foto dapat memicu stres oksidatif pada kulit. Hal ini berpotensi mempercepat penuaan dini, munculnya flek hitam, dan membuat kulit tampak kusam. Untuk menjaga kesehatan kulit dari luar, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah untuk mendapatkan berbagai pilihan tabir surya atau serum antioksidan.

Kesehatan mata pun tak luput dari risiko. Menatap layar ponsel dalam jarak dekat dengan intensitas cahaya tinggi saat melakukan selca dapat menyebabkan mata lelah, kering, dan penglihatan kabur. Kondisi ini dikenal sebagai Computer Vision Syndrome. Oleh karena itu, penting untuk membatasi durasi penggunaan ponsel dan menjaga jarak aman antara mata dengan layar.

Tips Menjaga Kesehatan di Tengah Tren Selca

Kamu tetap bisa menikmati hobi selca tanpa harus mengorbankan kesehatan. Kuncinya adalah keseimbangan dan kesadaran diri. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kamu terapkan:

1. Batasi Penggunaan Filter

Cobalah untuk lebih sering mengambil dan mengunggah foto tanpa filter (bare face). Ini akan membantu kamu untuk lebih menerima dan mencintai diri sendiri apa adanya, serta mengurangi tekanan untuk selalu tampil sempurna sesuai standar digital yang tidak realistis.

2. Istirahatkan Mata dan Leher

Gunakan aturan 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, lihatlah benda sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Selain itu, lakukan peregangan leher dan bahu secara rutin untuk mencegah kekakuan otot akibat posisi tubuh yang statis saat berselca.

3. Gunakan Perlindungan Kulit

Meskipun berada di dalam ruangan, penggunaan sunscreen yang melindungi dari cahaya biru atau produk perawatan kulit yang kaya antioksidan seperti Vitamin C sangat disarankan untuk menangkal dampak buruk radiasi layar ponsel.

Studi Mengenai Tren Selfie dan Kesehatan Mental

International Journal of Mental Health and Addiction menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi mengambil foto diri (selfie) dengan tingkat kepercayaan diri dan kepuasan hidup. Studi ini mengidentifikasi istilah “selfitis” sebagai kondisi di mana seseorang merasa terobsesi untuk mengambil foto diri secara terus-menerus.

Penelitian tersebut menekankan bahwa meskipun mengambil selca bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, motivasi di baliknya sangat menentukan dampaknya terhadap kesehatan mental. Orang yang berselca untuk meningkatkan lingkungan sosial atau mendokumentasikan kenangan cenderung memiliki dampak positif, sementara mereka yang melakukannya karena kompetisi sosial atau kurang percaya diri cenderung mengalami kecemasan yang lebih tinggi.

FAQ

1. Apakah selca adalah istilah yang sama dengan selfie?

Ya, secara substansi selca dan selfie adalah hal yang sama, yaitu memotret diri sendiri. Perbedaannya terletak pada asal-usul istilahnya, di mana selca lebih populer di Korea Selatan (singkatan dari self-camera), sementara selfie digunakan secara internasional.

2. Apakah sering selca bisa merusak kulit?

Paparan cahaya biru (blue light) dari layar ponsel saat mengambil atau mengedit selca dalam waktu lama dapat memicu penuaan dini dan pigmentasi kulit. Disarankan menggunakan produk perawatan kulit dengan antioksidan untuk pencegahan.

3. Mengapa orang sangat menyukai selca?

Secara psikologis, selca memberikan kontrol penuh atas citra diri yang ingin ditampilkan. Selain itu, respon positif di media sosial memberikan kepuasan instan melalui pelepasan hormon dopamin.

4. Kapan hobi selca dianggap berbahaya?

Hobi ini dianggap mulai mengkhawatirkan jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, menyebabkan kecemasan berlebih saat tidak bisa berfoto, atau memicu perasaan benci terhadap penampilan asli (Body Dysmorphic Disorder).

Menikmati tren selca adalah hal yang wajar sebagai bentuk ekspresi diri di zaman modern. Namun, jangan sampai kecintaan kamu pada layar ponsel membuat kamu abai terhadap kesehatan fisik dan mental yang sesungguhnya. Jika kamu merasa kebiasaan ini mulai memengaruhi suasana hati atau menyebabkan masalah fisik seperti nyeri leher yang tak kunjung sembuh, segera cari bantuan profesional.

Kamu bisa mendapatkan produk kesehatan seperti suplemen kulit atau tetes mata di Toko Kesehatan Halodoc secara praktis. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Referensi:
International Journal of Mental Health and Addiction. Diakses pada 2026. An Exploratory Study to Examine the Concept of Selfitis and Its Relation to Self-Esteem and Self-Objectification.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Body Dysmorphic Disorder: Symptoms and Causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Computer Vision Syndrome (Digital Eye Strain).
Healthline. Diakses pada 2026. How Blue Light Affects Your Skin.

Punya Keluhan Kulit atau Masalah Percaya Diri Saat Selca? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan kulit atau merasa kurang percaya diri saat ingin mengambil selca, tapi bingung harus mulai konsultasi dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.