Pahami Tantrum dalam Bahasa Gaul: Ngamuknya Orang Dewasa

DAFTAR ISI
- Ciri-Ciri “Tantrum” pada Orang Dewasa
- Mengapa Orang Dewasa Bisa Tantrum?
- Cara Mengatasi dan Mengelola Emosi
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu mendengar seseorang nyeletuk, “Duh, bos gue lagi tantrum nih!” atau melihat seseorang marah besar di tempat umum hanya karena masalah sepele? Jika istilah tantrum secara medis identik dengan anak balita yang sedang menangis, berguling-guling, atau berteriak karena belum bisa mengelola emosi, belakangan ini istilah tersebut mengalami pergeseran makna dalam percakapan sehari-hari. Memahami arti tantrum dalam bahasa gaul sangat penting, terutama untuk menyadari bahwa orang dewasa pun sering kali gagal meregulasi emosinya dengan baik.
Secara bahasa gaul, “tantrum” merujuk pada perilaku orang dewasa yang kehilangan kendali atas emosinya, meledak-ledak, ngambek berlebihan, atau bersikap pasif-agresif ketika menghadapi ketidaknyamanan, stres, atau ketika keinginannya tidak terpenuhi. Berbeda dengan balita yang wajar mengalami hal ini karena perkembangan otaknya belum sempurna, tantrum pada orang dewasa sering kali menjadi sinyal adanya masalah psikologis yang lebih dalam, seperti kelelahan mental (burnout), stres kronis, atau gangguan regulasi emosi.
Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika seseorang terbiasa “tantrum” saat menghadapi masalah, hal ini tidak hanya merusak hubungan profesional dan personal, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mentalnya sendiri. Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang terus-menerus terpacu dapat memicu berbagai penyakit fisik, mulai dari hipertensi hingga gangguan pencernaan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali ciri-ciri, penyebab, serta bagaimana cara mengatasi tantrum pada orang dewasa. Mari kita bahas lebih dalam mengenai fenomena psikologis yang sering dibalut dengan istilah gaul ini!
Ciri-Ciri “Tantrum” pada Orang Dewasa
Tantrum pada orang dewasa tidak selalu ditunjukkan dengan berguling-guling di lantai sambil menangis. Perilaku ini bisa bermanifestasi dalam berbagai bentuk yang kadang terlihat “lebih dewasa” namun tetap merusak (destruktif). Berikut adalah beberapa ciri utamanya:
1. Ledakan Amarah yang Tidak Proporsional
Reaksi marah yang ditunjukkan jauh lebih besar daripada masalah yang memicunya. Misalnya, membanting barang, berteriak, atau memaki hanya karena pesanan makanan datang terlambat atau karena koneksi internet terputus sesaat.
2. Perilaku Pasif-Agresif (Silent Treatment)
Tidak semua tantrum berupa ledakan suara. Banyak orang dewasa yang melakukan tantrum secara diam-diam melalui silent treatment (mendiamkan orang lain sebagai bentuk hukuman), menyindir dengan sarkasme yang menyakitkan, atau sengaja menunda pekerjaan untuk menyabotase orang lain.
3. Menyalahkan Orang Lain Secara Agresif
Saat melakukan kesalahan atau menghadapi kegagalan, individu yang sedang tantrum tidak mampu mengambil tanggung jawab. Mereka cenderung mencari kambing hitam dan memojokkan orang lain dengan kata-kata yang kasar demi menutupi rasa malu atau frustrasi mereka sendiri.
Faktor Pemicu Tantrum pada Orang Dewasa
- Stres pekerjaan yang menumpuk (burnout) yang tidak dikelola.
- Kelelahan fisik yang ekstrem (fatigue) atau kurang tidur berkepanjangan.
- Penurunan kadar gula darah yang memicu rasa lapar berlebih (hangry).
- Merasa diabaikan, tidak dihargai, atau kehilangan kendali atas suatu situasi (loss of control).
Mengapa Orang Dewasa Bisa Tantrum?
Fenomena ini bukan sekadar masalah “sifat pemarah”. Dari kacamata psikologi klinis, ketidakmampuan orang dewasa dalam mengelola emosi biasanya berakar dari kondisi atau kebiasaan tertentu, di antaranya:
1. Disregulasi Emosi
Ini adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol atau mengatur respons emosionalnya terhadap suatu rangsangan. Orang dengan disregulasi emosi sering merasa emosinya mengambil alih logika. Hal ini bisa terjadi karena pola asuh di masa kecil di mana mereka tidak pernah diajarkan bagaimana cara menenangkan diri (soothing) yang benar.
2. Stres Kronis dan Burnout
Orang dewasa memikul banyak beban, mulai dari finansial, pekerjaan, hingga keluarga. Ketika kapasitas mental seseorang sudah penuh (cognitive overload), hal kecil seperti tumpahan air minum saja bisa menjadi pelatuk yang meledakkan “bom” emosi yang sudah lama ditahan.
3. Gangguan Kesehatan Mental yang Tidak Tertangani
Dalam beberapa kasus, tantrum pada orang dewasa adalah gejala dari gangguan psikologis yang butuh penanganan medis. Beberapa di antaranya adalah depresi (yang pada pria sering muncul sebagai kemarahan, bukan kesedihan), gangguan kecemasan (anxiety), hingga Intermittent Explosive Disorder (IED)—sebuah gangguan kontrol impuls di mana penderitanya meledak dalam amarah tanpa alasan yang jelas.
Selain melakukan terapi psikologis, menjaga kesehatan fisik sangat memengaruhi stabilitas emosi. Tidur yang cukup, olahraga teratur, dan bila perlu mengonsumsi suplemen atau vitamin saraf seperti Vitamin B Kompleks dapat membantu menjaga sistem saraf agar tidak mudah tegang saat menghadapi tekanan.
Cara Mengatasi dan Mengelola Emosi
Jika kamu merasa sering melakukan “tantrum” atau ingin membantu orang terdekat yang memiliki masalah kemarahan, ada beberapa langkah yang bisa diambil secara mandiri maupun medis:
1. Terapkan Teknik “Time-Out”
Sama seperti balita, orang dewasa juga butuh time-out. Ketika kamu merasa darah mulai naik dan emosi akan meledak, segera tinggalkan situasi tersebut. Pergilah ke toilet, cuci muka dengan air dingin, atau berjalan-jalan sejenak ke luar ruangan selama 10-15 menit hingga detak jantung kembali normal.
2. Latihan Pernapasan (Mindful Breathing)
Tarik napas dalam-dalam melalui hidung selama 4 detik, tahan 4 detik, lalu embuskan perlahan melalui mulut selama 6 detik. Latihan ini terbukti secara klinis dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang bertugas merilekskan tubuh dan menurunkan hormon stres.
3. Cari Tahu Pemicu Utamanya (Trigger Tracker)
Catat kapan saja kamu merasa ingin meledak. Apakah selalu terjadi di jam 3 sore saat kamu belum makan siang? Atau saat kamu kurang tidur? Dengan mengetahui polanya, kamu bisa melakukan pencegahan sebelum tantrum itu terjadi.
4. Terapi Perilaku Kognitif (CBT)
Jika tantrum ini sudah mengganggu pekerjaan dan hubungan sosial, ini saatnya mencari bantuan profesional. Psikolog biasanya akan menggunakan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu kamu mengenali pola pikir negatif dan mengubahnya menjadi respons yang lebih rasional dan terkendali.
Studi Mengenai Regulasi Emosi pada Orang Dewasa
The Journal of Clinical Psychiatry menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa sekitar 5-7% populasi orang dewasa pernah mengalami krisis ledakan amarah yang parah (Intermittent Explosive Disorder) pada suatu titik dalam hidup mereka.
Studi tersebut menemukan bahwa orang dewasa yang sering merespons frustrasi dengan kemarahan ekstrem memiliki aktivitas yang lebih tinggi di amigdala (bagian otak yang memproses rasa takut dan emosi) dan konektivitas yang lebih rendah dengan korteks prefrontal (bagian otak yang mengatur logika dan kontrol diri). Ini membuktikan bahwa tantrum pada orang dewasa memiliki basis neurologis yang nyata dan memerlukan penanganan berbasis terapi dan modifikasi gaya hidup agar otak mampu membangun jalur regulasi emosi yang lebih sehat.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apa arti tantrum dalam bahasa gaul?
Dalam bahasa gaul, tantrum merujuk pada perilaku orang dewasa yang mengekspresikan kekecewaan, kemarahan, atau frustrasi secara meledak-ledak, berlebihan, atau pasif-agresif, mirip seperti balita yang tidak bisa mengontrol emosinya.
2. Apakah normal jika orang dewasa sesekali tantrum?
Merasa marah atau frustrasi adalah hal yang sangat normal. Namun, meresponsnya dengan cara menghancurkan barang, berteriak di depan umum, atau menyakiti orang lain (verbal/fisik) adalah bentuk disregulasi emosi yang tidak sehat dan perlu diperbaiki.
3. Bagaimana cara menghadapi rekan kerja yang sedang tantrum?
Jangan membalas kemarahan dengan kemarahan. Tetap tenang, jangan tersulut emosi, dan berikan ruang baginya. Kamu bisa mengatakan, “Kita bicarakan masalah ini lagi nanti saat suasana sudah lebih tenang,” lalu tinggalkan situasi tersebut.
4. Kapan saya harus ke psikolog terkait masalah tantrum ini?
Kamu disarankan berkonsultasi dengan profesional jika kemarahanmu mulai merusak hubungan dengan orang-orang terdekat, menyebabkan masalah di tempat kerja, mengarah pada kekerasan fisik, atau jika kamu merasa lelah karena selalu dipenuhi oleh emosi negatif yang tidak bisa dikendalikan.
Referensi:
American Psychological Association. Diakses pada 2024. Controlling Anger Before It Controls You.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Intermittent Explosive Disorder.
The Journal of Clinical Psychiatry. Diakses pada 2024. The Epidemiology of Intermittent Explosive Disorder.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Emotional Dysregulation: What It Is and How to Cope.
Konsultasi dengan Psikolog Klinis via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Psikolog Klinis terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.



