Ad Placeholder Image

ASD Jantung: Kenali Lubang Bawaan di Jantung

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

ASD Jantung: Pahami Lubang Hati dan Cara Atasinya

ASD Jantung: Kenali Lubang Bawaan di JantungASD Jantung: Kenali Lubang Bawaan di Jantung

DAFTAR ISI


Penyakit jantung bawaan merupakan salah satu kelainan anatomi tubuh yang sering terjadi pada bayi baru lahir. Dari sekian banyak jenis kelainan struktur jantung, Atrial Septal Defect (ASD) atau yang sering dikenal masyarakat sebagai “jantung bocor” adalah salah satu yang paling umum ditemui. Kondisi ini terjadi ketika terdapat lubang pada dinding pemisah (septum) antara dua serambi (atrium) jantung, yaitu serambi kanan dan serambi kiri.

Pada kondisi normal, darah yang kaya oksigen dari paru-paru harusnya mengalir ke serambi kiri, lalu ke bilik kiri, dan dipompa ke seluruh tubuh. Namun, adanya lubang pada dinding serambi menyebabkan sebagian darah yang kaya oksigen ini justru menyeberang kembali ke serambi kanan dan bercampur dengan darah yang miskin oksigen. Akibatnya, volume darah yang dipompa kembali ke paru-paru menjadi berlebihan, sehingga jantung dan paru-paru harus bekerja jauh lebih ekstra dari biasanya.

Jika lubang ASD berukuran kecil, kondisi ini mungkin tidak akan menimbulkan masalah berarti dan bisa menutup dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak. Namun, jika ukuran lubangnya besar dan dibiarkan tanpa penanganan medis, penderita dapat mengalami komplikasi serius di kemudian hari. Beberapa masalah kesehatan fatal yang mengintai antara lain gagal jantung kanan, kelainan irama jantung (aritmia), hingga hipertensi pulmonal (tekanan darah tinggi pada arteri paru-paru).

Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua dan masyarakat umum untuk mengenali apa itu Atrial Septal Defect secara mendalam. Deteksi dini dan penanganan yang tepat adalah kunci utama untuk mencegah kerusakan jantung permanen. Lantas, apa saja gejala, penyebab, dan bagaimana cara penanganannya? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu Atrial Septal Defect (ASD)?

Atrial Septal Defect (ASD) adalah sebuah kelainan jantung bawaan (kongenital) yang ditandai dengan adanya defek atau lubang pada septum interatrial. Septum interatrial adalah dinding otot yang memisahkan serambi (atrium) kanan dan serambi (atrium) kiri jantung. Lubang ini sudah terbentuk sejak janin masih berada di dalam kandungan ibu.

Secara embriologi, saat janin berkembang, terdapat sebuah bukaan normal di antara serambi jantung yang disebut foramen ovale. Fungsi bukaan ini sangat vital selama kehamilan, karena paru-paru janin belum berfungsi untuk bernapas, sehingga darah dialihkan langsung dari sisi kanan ke sisi kiri jantung. Begitu bayi lahir dan mulai bernapas sendiri mengambil oksigen dari udara, tekanan di dalam jantung berubah, dan bukaan ini seharusnya menutup dengan sendirinya secara alami dalam beberapa minggu atau bulan pertama.

Namun, pada kasus ASD, proses penutupan tersebut gagal terjadi, atau sejak awal pembentukan dinding pemisah memang tidak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya, tersisa sebuah lubang permanen yang mengganggu dinamika aliran darah normal. Karena tekanan di serambi kiri biasanya lebih tinggi daripada di serambi kanan, darah secara terus-menerus terdorong (shunt) dari kiri ke kanan. Hal ini menyebabkan peregangan, pembesaran, dan pelemahan otot jantung bagian kanan seiring berjalannya waktu.

Jenis-Jenis Atrial Septal Defect

Lubang pada dinding serambi jantung tidak selalu terjadi di lokasi yang sama. Berdasarkan posisi letak lubangnya pada septum interatrial, dunia medis mengklasifikasikan ASD menjadi empat jenis utama, yaitu:

1. Ostium Secundum (Secundum ASD)

Ini adalah jenis ASD yang paling sering terjadi, menyumbang sekitar 70 hingga 80 persen dari keseluruhan kasus ASD. Lubang terjadi di bagian tengah dari dinding pemisah serambi (septum). Ukuran lubang ini bisa sangat bervariasi, dari ukuran sekecil jarum (jarang menimbulkan gejala) hingga sangat besar (membutuhkan intervensi segera). Terkadang, ASD secundum kecil tidak terdeteksi hingga penderita beranjak dewasa.

2. Ostium Primum (Primum ASD)

Defek ini terjadi di bagian bawah septum, berdekatan dengan katup jantung yang memisahkan serambi dan bilik (katup atrioventrikular). ASD jenis ini sering kali tidak datang sendirian. Kondisi ini kerap disertai dengan masalah pada katup mitral atau trikuspidalis, dan sering ditemukan pada individu yang memiliki sindrom Down.

3. Sinus Venosus ASD

Ini adalah jenis kelainan langka yang letaknya berada di bagian atas dinding pemisah serambi jantung, di dekat tempat di mana pembuluh darah besar bernama vena cava superior masuk ke serambi kanan. Kondisi ini sering dikaitkan dengan anomali drainase vena pulmonalis parsial, di mana pembuluh darah dari paru-paru yang seharusnya masuk ke serambi kiri justru tersambung ke serambi kanan.

4. Coronary Sinus ASD

Jenis ini adalah bentuk ASD yang paling langka. Lubang atau defek terbentuk pada dinding yang memisahkan serambi kiri dengan sinus koroner. Sinus koroner sendiri merupakan sekumpulan pembuluh darah vena yang bertugas membawa darah miskin oksigen dari otot jantung itu sendiri ke serambi kanan. Defek ini membuat darah tercampur secara tidak normal di area tersebut.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti mengapa dinding jantung janin tidak terbentuk sempurna hingga memicu atrial septal defect belum diketahui secara pasti oleh para ahli medis. Kelainan ini murni terjadi pada masa pembentukan awal organ jantung janin, biasanya pada delapan minggu pertama kehamilan. Namun, ada banyak bukti yang mengarahkan pada kombinasi antara faktor genetik (keturunan) dan faktor lingkungan selama masa kehamilan.

Beberapa faktor risiko yang dipercaya kuat dapat meningkatkan kemungkinan janin lahir dengan ASD antara lain:

  • Faktor Genetik dan Kelainan Kromosom: Riwayat keluarga yang memiliki masalah jantung bawaan meningkatkan risiko. Selain itu, anak-anak dengan mutasi genetik seperti Sindrom Down (Trisomi 21), Sindrom Turner, atau Sindrom Holt-Oram memiliki tingkat prevalensi yang jauh lebih tinggi untuk mengalami kelainan septum atrium.
  • Infeksi Virus Selama Kehamilan: Jika ibu hamil terinfeksi virus Rubella (campak Jerman) pada trimester pertama, risiko bayi mengalami cacat organ, termasuk jantung bocor, akan meningkat drastis.
  • Paparan Zat Berbahaya: Konsumsi alkohol, merokok, atau penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain selama masa kehamilan sangat mengganggu perkembangan embrio.
  • Kondisi Medis Ibu: Ibu hamil yang menderita penyakit diabetes (baik diabetes tipe 1, tipe 2, maupun diabetes gestasional) yang tidak terkontrol dengan baik, atau ibu yang menderita penyakit lupus (SLE), memiliki risiko lebih besar untuk melahirkan bayi dengan cacat jantung bawaan.
  • Obat-obatan Tertentu: Penggunaan beberapa jenis obat keras saat hamil, seperti obat antikejang tertentu (misalnya asam valproat) atau obat jerawat yang mengandung isotretinoin, diketahui bersifat teratogenik (merusak janin).
Tips Pencegahan Saat Kehamilan
  1. Pastikan status vaksinasi, terutama untuk Rubella (MMR), sudah lengkap sebelum merencanakan kehamilan.
  2. Kontrol ketat kadar gula darah jika memiliki riwayat diabetes sebelum atau saat hamil.
  3. Selalu konsultasikan dengan dokter kandungan sebelum mengonsumsi obat atau suplemen apa pun.
  4. Terapkan gaya hidup sehat dengan menghindari rokok dan alkohol sepenuhnya selama masa gestasi.

Gejala Atrial Septal Defect

Banyak bayi yang terlahir dengan ASD tidak menunjukkan gejala apa pun pada masa kanak-kanak, terutama jika defek berukuran kecil. Jantung masih sanggup menoleransi beban volume tambahan dengan baik. Seringkali, kelainan ini baru terdiagnosis secara kebetulan saat dokter mendengarkan detak jantung anak dengan stetoskop dan menemukan adanya bunyi jantung bising atau murmur.

Namun, jika lubang berukuran sedang hingga besar, gejala dapat mulai terlihat seiring pertumbuhan anak atau baru muncul secara perlahan di usia 30-an atau 40-an tahun akibat penumpukan kerusakan paru dan jantung bagian kanan. Berikut adalah gejala yang sering dijumpai:

  • Pada Bayi dan Anak-anak:
    • Kesulitan saat menyusu karena cepat merasa lelah.
    • Pertumbuhan fisik yang terhambat atau berat badan sulit naik (failure to thrive).
    • Napas terasa cepat dan pendek.
    • Sering mengalami infeksi saluran pernapasan, seperti pneumonia atau bronkitis.
    • Tubuh mudah lelah saat bermain atau beraktivitas fisik dibandingkan dengan anak seusianya.
  • Pada Orang Dewasa:
    • Sesak napas, terutama saat sedang berolahraga atau beraktivitas.
    • Rasa lelah kronis dan penurunan kapasitas stamina tubuh.
    • Pembengkakan (edema) pada tungkai, pergelangan kaki, kaki, dan kadang-kadang di area perut (asites). Hal ini merupakan tanda awal gagal jantung kanan.
    • Sensasi jantung berdebar cepat, tidak beraturan, atau serasa melompat (aritmia dan palpitasi).
    • Warna kebiruan pada kulit, bibir, atau kuku (sianosis), yang menandakan rendahnya kadar oksigen dalam darah pada kondisi komplikasi lanjut.
    • Risiko stroke meningkat karena gumpalan darah bisa melewati lubang ke otak.

Jika kamu atau si Kecil mengalami gejala persisten seperti sesak napas yang tidak wajar, cepat lelah, atau pembengkakan di kaki, segeralah mencari konsultasi dokter spesialis untuk mendapatkan diagnosis dini yang akurat sebelum komplikasi bertambah parah.

Diagnosis dan Pemeriksaan Medis

Untuk mendiagnosis ASD, dokter spesialis jantung anak atau dewasa akan memulai dengan anamnesis lengkap mengenai riwayat kesehatan pasien dan keluarga, diikuti dengan pemeriksaan fisik. Menggunakan stetoskop, dokter dapat mendengar suara khas murmur jantung—suara mendesing akibat turbulensi darah yang berlebih mengalir melalui katup paru.

Jika dokter mencurigai adanya kelainan jantung, sejumlah tes diagnostik presisi tinggi akan direkomendasikan:

1. Ekokardiogram (USG Jantung)

Ini adalah tes utama dan standar emas (gold standard) untuk mendiagnosis ASD. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran video dari jantung yang sedang berdetak. Ekokardiogram transtorakal (TTE) dapat memperlihatkan secara jelas keberadaan lubang pada septum interatrial, seberapa besar ukurannya, jumlah darah yang bocor, serta bagaimana pengaruhnya terhadap bilik jantung kanan. Jika dibutuhkan gambaran yang lebih detail, dokter mungkin melakukan Ekokardiogram transesofageal (TEE) dengan memasukkan selang kecil ke dalam kerongkongan.

2. Elektrokardiogram (EKG)

Pemeriksaan sederhana ini merekam aktivitas sinyal listrik jantung. EKG membantu dokter melihat apakah terdapat pembesaran otot jantung kanan dan mengidentifikasi keberadaan irama jantung yang tidak beraturan (aritmia) yang sangat umum terjadi pada penderita ASD dewasa.

3. Rontgen Dada (Chest X-Ray)

Pencitraan foto rontgen dada digunakan untuk melihat kondisi ukuran jantung dan paru-paru. Pada penderita dengan ASD yang signifikan, rontgen dada dapat menunjukkan pembesaran sisi kanan jantung akibat peregangan otot, serta melihat adanya kelebihan cairan di paru-paru.

4. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Jantung

Pemeriksaan MRI menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar 3D yang sangat detail mengenai struktur jantung. MRI sangat berguna ketika hasil ekokardiogram kurang jelas, terutama untuk mengevaluasi ASD sinus venosus atau komplikasi struktural lainnya.

5. Kateterisasi Jantung

Meskipun sekarang lebih jarang digunakan semata-mata untuk diagnosis karena adanya USG, prosedur invasif ini dilakukan dengan memasukkan selang tipis (kateter) melalui pembuluh darah di pangkal paha langsung menuju jantung. Kateterisasi membantu mengukur tekanan secara pasti dan kadar oksigen di berbagai ruang jantung, sekaligus bisa langsung digunakan sebagai metode pengobatan untuk menutup lubang.

Penanganan dan Pengobatan ASD

Pendekatan pengobatan untuk penderita ASD sangat bergantung pada ukuran defek, jenis kelainan yang dimiliki, tingkat keparahan gejala, serta apakah penderita juga memiliki kelainan jantung bawaan lainnya. Perlu dicatat bahwa tidak ada obat-obatan farmasi yang dapat menutup lubang di jantung. Pembedahan adalah satu-satunya cara untuk memperbaiki anatomi tersebut.

1. Pemantauan Medis Berkala (Watchful Waiting)

Jika ASD berukuran sangat kecil (kurang dari 5 mm) dan didiagnosis pada bayi tanpa menyebabkan gejala komplikasi, dokter biasanya hanya akan merekomendasikan observasi. Lubang sekecil ini memiliki kemungkinan tinggi menutup dengan sendirinya pada tahun-tahun awal kehidupan. Pemantauan rutin melalui ekokardiogram sangat diperlukan dalam tahap ini.

2. Terapi Obat-Obatan

Meskipun obat tidak dapat menyembuhkan lubang, terapi medis kerap diresepkan oleh dokter untuk meringankan beban kerja jantung dan menangani gejala komplikasi. Dokter mungkin memberikan obat golongan diuretik (untuk mengurangi penumpukan cairan di paru-paru), beta-blocker (untuk menstabilkan irama detak jantung), atau obat antikoagulan (pengencer darah) guna menurunkan risiko terbentuknya bekuan darah yang memicu stroke pada penderita dewasa.

3. Penutupan Defek Melalui Kateter (Transcatheter Repair)

Ini adalah metode pengobatan terkini yang minimal invasif (tanpa bedah terbuka), sangat direkomendasikan khusus untuk jenis ASD secundum. Melalui pembuluh vena di pangkal paha, dokter akan memasukkan selang kateter yang membawa perangkat penutup (septal occluder). Perangkat yang menyerupai payung kecil ini kemudian dikembangkan tepat di area lubang septum. Seiring waktu, jaringan tubuh akan tumbuh menyelimuti perangkat ini sehingga lubang tertutup secara permanen.

4. Operasi Jantung Terbuka (Open-Heart Surgery)

Operasi pembedahan dada (bedah konvensional) menjadi prosedur mutlak yang harus diambil jika jenis ASD bukan secundum (misalnya ostium primum atau sinus venosus), letaknya sulit dijangkau, atau ukurannya terlalu besar untuk diperbaiki melalui kateter. Di bawah bius total dengan bantuan mesin pintas jantung-paru (heart-lung machine), dokter bedah akan membuka dada pasien dan menutup defek tersebut secara langsung menggunakan jahitan atau menjahitkan tambalan (patch) khusus dari jaringan sintetis.

Pasca tindakan operasi, penting bagi penderita untuk rutin menjaga daya tahan tubuh. Untuk melengkapi nutrisi dalam mendukung masa pemulihan setelah tindakan medis, selain mengonsumsi makanan bergizi tinggi, pastikan kebutuhan harian tubuh tercukupi. Kamu bisa beli vitamin serta suplemen tepercaya di apotek terdekat atau via online guna menjaga imunitas seluler secara optimal sesuai persetujuan dokter.

Studi Terkait

Journal of the American College of Cardiology (JACC) menerbitkan studi yang membandingkan hasil jangka panjang antara penutupan ASD menggunakan kateter dan operasi bedah terbuka. Studi tersebut menyimpulkan bahwa penutupan melalui kateter memiliki angka komplikasi komorbid yang jauh lebih rendah, waktu rawat inap yang lebih singkat, dan tingkat keberhasilan yang sejajar dengan operasi konvensional dalam jangka waktu satu dekade pasca-tindakan.

Studi ini menegaskan bahwa untuk pasien yang memiliki indikasi anatomi yang tepat (khususnya defek secundum dengan batas margin yang baik), intervensi menggunakan alat occluder via kateter merupakan pilihan utama yang jauh lebih aman secara klinis dan memberi kualitas hidup yang sangat baik secara jangka panjang.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Jantung via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Jantung terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Atrial septal defect (ASD) – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Atrial Septal Defect: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment.
American Heart Association (AHA). Diakses pada 2024. Atrial Septal Defect (ASD).
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Atrial Septal Defect – StatPearls.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Congenital anomalies.

FAQ

1. Apakah penyakit jantung atrial septal defect bisa sembuh sendiri tanpa operasi?

Bisa, namun hal ini sangat bergantung pada ukuran dan usia pasien. Defek secundum yang berukuran kurang dari 5 mm yang ditemukan pada masa bayi, memiliki peluang tinggi hingga 80 persen untuk menutup secara spontan pada tahun-tahun awal kehidupan. Namun, defek yang besar atau jenis lain umumnya butuh intervensi.

2. Apakah ibu hamil dengan riwayat ASD boleh melahirkan normal?

Sebagian besar wanita yang memiliki ASD berukuran kecil atau yang defeknya sudah tertutup secara sukses di masa lalu dapat menjalani kehamilan dan persalinan normal tanpa komplikasi. Namun, wanita dengan ASD yang tidak tertutup dan memiliki komplikasi penyerta (seperti gagal jantung atau hipertensi pulmonal) tergolong kehamilan risiko tinggi dan mungkin membutuhkan penanganan khusus atau bedah caesar.

3. Apakah penderita ASD diperbolehkan untuk berolahraga?

Jika lubang ASD kecil dan tidak menyebabkan gejala peregangan jantung kanan maupun hipertensi paru, pasien bisa berolahraga ringan hingga sedang secara normal. Namun, bagi pasien dengan ASD yang signifikan dan bergejala, sangat disarankan menghindari aktivitas fisik berat (seperti angkat beban atau olahraga kompetitif) sebelum dikonsultasikan lebih lanjut dan mendapatkan izin langsung dari kardiolog.

4. Apa yang terjadi jika atrial septal defect tidak diobati sama sekali hingga dewasa?

ASD yang tidak diobati selama puluhan tahun akan membebani kerja paru dan jantung kanan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal jantung kanan, atrial fibrilasi (irama jantung kacau), stroke akibat pembekuan darah, serta sindrom Eisenmenger—sebuah kondisi terminal hipertensi pulmonal tak dapat diubah, di mana aliran darah justru berbalik arah karena kerusakan masif pembuluh paru.