Ad Placeholder Image

Awas! Bahaya Kerokan di Punggung, Bukan Cuma Masuk Angin

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   29 April 2026

Bahaya Kerokan di Punggung: Bukan Sekadar Masuk Angin

Awas! Bahaya Kerokan di Punggung, Bukan Cuma Masuk AnginAwas! Bahaya Kerokan di Punggung, Bukan Cuma Masuk Angin

Bahaya Kerokan di Punggung: Risiko yang Perlu Diketahui

Kerokan merupakan metode pengobatan tradisional yang populer di Indonesia untuk meredakan masuk angin atau pegal-pegal. Prosedur ini melibatkan menggosok permukaan kulit dengan benda tumpul dan minyak hingga menimbulkan ruam kemerahan. Meski banyak yang merasa lega setelahnya, penting untuk memahami bahwa kerokan, terutama yang dilakukan di punggung, dapat menimbulkan sejumlah bahaya dan efek samping yang perlu diwaspadai. Risiko tersebut meliputi iritasi kulit, infeksi, hingga kerusakan pembuluh darah kapiler.

Apa Itu Kerokan dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Kerokan adalah praktik pengobatan komplementer yang memanfaatkan gesekan benda tumpul, seperti koin atau sendok, pada permukaan kulit yang telah diolesi minyak. Tindakan ini bertujuan untuk merangsang sirkulasi darah dan meredakan ketidaknyamanan tubuh. Area yang paling umum untuk kerokan adalah punggung, leher, dan bahu. Meskipun memberikan sensasi lega, cara kerja kerokan dalam konteks medis perlu dipahami secara lebih mendalam.

Potensi Bahaya Kerokan di Punggung

Meskipun sering dianggap sepele, kerokan di punggung memiliki beberapa risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Pemahaman tentang bahaya ini krusial untuk mencegah komplikasi serius.

  • Iritasi dan Luka Kulit

    Gesekan yang kuat dan berulang pada kulit dapat menyebabkan iritasi. Dalam kasus yang lebih parah, kulit bisa mengalami luka lecet atau bahkan goresan yang lebih dalam. Luka terbuka ini menjadi pintu masuk bagi berbagai mikroorganisme.

  • Risiko Infeksi Kuman

    Ketika pori-pori kulit terbuka atau terjadi luka akibat kerokan, risiko infeksi kuman meningkat. Bakteri dan patogen lainnya dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh melalui area kulit yang rusak. Ini bisa memicu infeksi lokal yang menimbulkan peradangan, nyeri, dan bahkan demam.

  • Pecahnya Pembuluh Darah Kapiler

    Salah satu efek samping yang paling umum dari kerokan adalah munculnya ruam merah, memar, atau bahkan keunguan pada kulit. Fenomena ini bukan tanda “angin keluar”, melainkan indikasi pecahnya pembuluh darah kapiler kecil di bawah permukaan kulit. Gesekan keras yang diberikan saat kerokan menyebabkan tekanan berlebih pada pembuluh darah halus ini, sehingga pecah dan darah merembes ke jaringan sekitarnya.

  • Penularan Penyakit

    Jika alat yang digunakan untuk kerokan tidak steril, terdapat risiko penularan penyakit. Berbagai kuman atau virus bisa berpindah dari satu individu ke individu lain melalui alat yang sama. Praktik ini sangat berisiko, terutama jika alat tidak dicuci dan disterilkan dengan benar setelah digunakan.

  • Risiko Stroke (khususnya di area leher)

    Meskipun fokus artikel ini pada punggung, perlu diketahui bahwa kerokan yang berlebihan atau terlalu kuat di area leher, khususnya dekat arteri karotis, memiliki risiko yang lebih serius. Gesekan di area ini dapat berpotensi memicu kerusakan pembuluh darah vital yang berujung pada stroke, meskipun kasusnya jarang terjadi.

Kondisi yang Harus Menghindari Kerokan

Beberapa kondisi kesehatan membuat seseorang lebih rentan terhadap efek samping kerokan. Individu dengan kondisi berikut sebaiknya menghindari praktik ini:

  • Gangguan Pembekuan Darah

    Penderita gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia, berisiko tinggi mengalami pendarahan hebat atau memar yang lebih luas dan sulit sembuh setelah kerokan.

  • Diabetes

    Penderita diabetes seringkali memiliki kulit yang lebih tipis dan sensitif, serta proses penyembuhan luka yang lebih lambat. Kerokan dapat menyebabkan luka yang sulit sembuh dan berpotensi terinfeksi.

  • Konsumsi Obat Pengencer Darah

    Individu yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah, seperti warfarin atau aspirin dosis tinggi, memiliki risiko pendarahan internal dan memar yang signifikan akibat kerokan. Penggunaan obat ini meningkatkan kerapuhan pembuluh darah.

  • Kulit Sensitif atau Alergi

    Individu dengan kulit sangat sensitif atau riwayat alergi terhadap minyak atau bahan lain yang digunakan untuk kerokan dapat mengalami reaksi alergi atau iritasi parah.

Pencegahan dan Alternatif yang Lebih Aman

Untuk mencegah efek samping serius, kebersihan alat menjadi prioritas utama. Jika tetap ingin melakukan kerokan, pastikan alat yang digunakan bersih dan steril. Namun, untuk mengatasi pegal-pegal atau masuk angin, terdapat alternatif yang lebih aman dan terbukti secara medis.

  • Istirahat Cukup

    Memastikan tubuh mendapatkan istirahat yang cukup dapat membantu pemulihan dan meredakan gejala masuk angin atau kelelahan.

  • Hidrasi Optimal

    Minum banyak air membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi dan mendukung fungsi kekebalan tubuh.

  • Kompres Hangat

    Menggunakan kompres hangat pada area yang pegal atau nyeri dapat membantu meredakan ketegangan otot dan meningkatkan sirkulasi darah tanpa merusak kulit.

  • Pijatan Lembut

    Pijatan lembut oleh profesional atau individu terlatih dapat memberikan efek relaksasi dan meredakan nyeri otot.

  • Obat Pereda Nyeri yang Dijual Bebas

    Obat-obatan seperti paracetamol atau ibuprofen dapat digunakan untuk meredakan nyeri dan demam sesuai dosis anjuran.

Kesimpulan dan Rekomendasi Halodoc

Meskipun kerokan telah menjadi bagian dari tradisi pengobatan masyarakat, penting untuk memahami potensi bahaya yang melekat, terutama pada area punggung. Risiko seperti iritasi kulit, infeksi, pecahnya pembuluh darah kapiler, dan penularan penyakit merupakan pertimbangan serius. Individu dengan kondisi medis tertentu seperti gangguan pembekuan darah, diabetes, atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah, sebaiknya menghindari kerokan sepenuhnya. Untuk gejala yang tidak membaik atau munculnya kondisi baru, disarankan untuk mencari saran medis profesional. Halodoc menyediakan akses mudah ke dokter dan informasi kesehatan terpercaya untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.