Ad Placeholder Image

Awas! Efek Digigit Ular Hijau Ekor Merah, Sangat Berbahaya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

Efek Digigit Ular Hijau Ekor Merah: Bisa Sampai Kematian

Awas! Efek Digigit Ular Hijau Ekor Merah, Sangat BerbahayaAwas! Efek Digigit Ular Hijau Ekor Merah, Sangat Berbahaya

DAFTAR ISI


Indonesia merupakan negara tropis dengan biodiversitas yang sangat tinggi, termasuk berbagai jenis reptil. Salah satu yang paling sering dijumpai di area perkebunan, taman, hingga pemukiman warga adalah ular hijau. Namun, jangan terkecoh dengan warnanya yang cantik dan gerakannya yang tenang. Beberapa spesies ular hijau di Indonesia memiliki bisa yang sangat mematikan dan dapat mengancam nyawa dalam waktu singkat jika tidak ditangani dengan benar.

Gigitan ular merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan cepat dan tepat. Kesalahan dalam memberikan pertolongan pertama, seperti mengikat luka terlalu kencang atau mencoba menghisap bisa, justru dapat memperburuk kondisi korban. Pemahaman mengenai jenis bisa (venom) dan prosedur medis yang berlaku sangat penting untuk meminimalkan risiko kecacatan permanen hingga kematian.

Penting bagi kamu untuk mengetahui perbedaan antara ular hijau yang berbisa dan yang tidak, serta langkah apa saja yang harus diambil jika terjadi kontak fisik atau gigitan. Penanganan medis di rumah sakit dengan pemberian Serum Anti Bisa Ular (SABU) adalah satu-satunya jalan keluar yang aman untuk menetralisir racun dalam tubuh.

Nah, mau tahu apa saja informasi lengkap mengenai bahaya ular hijau berbisa dan bagaimana cara penanganannya? Berikut ulasannya!

Mengenal Ular Hijau Berbisa di Indonesia

Di Indonesia, jenis ular hijau yang paling diwaspadai adalah dari keluarga Viperidae, khususnya genus Trimeresurus. Dua spesies yang paling umum adalah Trimeresurus insularis (Ular Hijau Ekor Merah) dan Trimeresurus albolabris (Ular Bangkai Laut). Ular ini memiliki ciri khas kepala berbentuk segitiga yang melebar, yang menandakan adanya kelenjar bisa yang besar di belakang matanya.

Berbeda dengan ular pucuk (Ahaetulla prasina) yang bertubuh sangat ramping dan berbisa rendah, ular viper hijau memiliki tubuh yang lebih gempal dan ekor yang cenderung kemerahan atau cokelat tua. Mereka bersifat arboreal, artinya lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon atau semak-semak. Sifatnya yang pasif dan sering berdiam diri membuat ular ini sering tidak sengaja terpegang atau terinjak oleh manusia.

Gejala dan Efek Gigitan Ular Hijau

Bisa yang dihasilkan oleh ular hijau jenis viper umumnya bersifat hemotoksik. Artinya, racun tersebut menyerang sistem peredaran darah dan merusak jaringan tubuh. Jika kamu tergigit, reaksi pertama yang muncul adalah rasa nyeri yang sangat hebat, seolah-olah kulit terbakar atau tertusuk jarum panas.

Beberapa gejala klinis yang sering muncul meliputi:

  • Pembengkakan hebat di area gigitan yang menyebar dengan cepat ke bagian tubuh lainnya.
  • Perubahan warna kulit menjadi kebiruan atau kehitaman (ekimosis) akibat pendarahan di bawah kulit.
  • Munculnya gelembung berisi cairan (bula) di sekitar luka.
  • Gangguan pembekuan darah, yang ditandai dengan darah yang terus merembes dari luka gigitan atau pendarahan di gusi.
  • Dalam kasus berat, dapat terjadi gagal ginjal akut akibat mioglobinuria atau kerusakan jaringan yang masif.
Penting Diingat Saat Tergigit Ular
  1. Tetap tenang dan jangan banyak bergerak untuk memperlambat penyebaran bisa.
  2. Segera lepaskan perhiasan seperti cincin atau jam tangan di area yang tergigit sebelum terjadi pembengkakan.
  3. Jangan pernah menyedot bisa atau menyayat luka gigitan.

Langkah Pertolongan Pertama yang Benar

Langkah paling krusial saat menghadapi gigitan ular adalah imobilisasi. Prinsipnya mirip dengan penanganan patah tulang. Tujuannya adalah untuk meminimalkan pergerakan otot, karena bisa ular menyebar melalui kelenjar getah bening yang alirannya dipicu oleh kontraksi otot.

Kamu bisa menggunakan bidai sederhana dari kayu atau karton tebal untuk memastikan anggota tubuh yang tergigit tidak bergerak. Jika lokasi kejadian jauh dari fasilitas kesehatan, pastikan korban dibawa dengan cara digendong atau menggunakan tandu, sehingga korban tidak perlu berjalan kaki sendiri yang dapat memicu detak jantung lebih cepat dan penyebaran racun.

Sambil menuju rumah sakit, pastikan kamu selalu memantau kondisi kesadaran korban. Jangan memberikan minuman beralkohol atau obat-obatan tradisional yang belum teruji secara medis. Untuk kebutuhan pembersihan luka luar atau penyediaan alat P3K dasar di rumah, kamu bisa beli obat online di Halodoc yang produknya 100% asli dan diantar langsung ke rumah.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Jawaban singkatnya adalah: SEGERA. Setiap gigitan ular harus dianggap sebagai keadaan darurat medis sampai terbukti sebaliknya oleh tenaga profesional. Jangan menunggu munculnya gejala sistemik seperti pusing atau mual untuk mencari bantuan. Kecepatan penanganan dalam “golden period” sangat menentukan tingkat kesembuhan.

Dokter di unit gawat darurat akan melakukan observasi minimal 24 jam untuk memantau waktu pembekuan darah (20-minute whole blood clotting test). Jika terdapat indikasi keracunan sistemik, dokter akan memberikan Serum Anti Bisa Ular (SABU) polivalen yang tersedia di Indonesia. SABU bekerja dengan cara mengikat racun yang masih beredar di dalam darah agar tidak merusak organ lebih lanjut.

Jika kamu ragu dengan gejala yang dialami atau membutuhkan arahan cepat mengenai langkah evakuasi, segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam kapan saja dan di mana saja. Dokter dapat memberikan panduan awal sebelum kamu sampai ke rumah sakit terdekat.

Studi Mengenai Bisa Ular Hijau

Journal of Venomous Animals and Toxins including Tropical Diseases menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa racun dari Trimeresurus insularis mengandung enzim metalloproteinase yang sangat aktif merusak kolagen dan pembuluh darah. Studi ini menekankan bahwa keterlambatan pemberian antivenom lebih dari 6 jam secara signifikan meningkatkan risiko amputasi pada ekstremitas yang tergigit.

Penelitian lain dalam jurnal medis nasional juga menyebutkan bahwa edukasi masyarakat mengenai imobilisasi masih sangat rendah, di mana banyak masyarakat yang masih melakukan tindakan berbahaya seperti pemasangan torniket yang terlalu kencang. Torniket yang menghentikan aliran darah total justru dapat menyebabkan kematian jaringan (gangren) yang berujung pada amputasi, meskipun bisanya sendiri mungkin tidak mematikan.

Kesadaran akan pentingnya membawa korban ke rumah sakit yang memiliki stok SABU adalah kunci utama dalam menekan angka mortalitas akibat gigitan ular di wilayah pedesaan maupun perkotaan.

Kesimpulannya, ular hijau berbisa adalah ancaman nyata yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Jangan pernah meremehkan gigitan ular sekecil apa pun. Pastikan lingkungan rumah bersih dari tumpukan barang bekas yang bisa menjadi tempat persembunyian ular.

Kamu bisa mendapatkan berbagai kebutuhan kesehatan mulai dari antiseptik hingga vitamin untuk pemulihan dengan praktis di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, konsultasi dokter juga sangat penting untuk memastikan penanganan yang tepat bagi masalah kesehatan keluarga kamu.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2026. Snakebite envenoming.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pedoman Penatalaksanaan Gigitan Ular.
Toxinology.com. Diakses pada 2026. Trimeresurus insularis Species Profile.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Snakebites: First Aid.

FAQ

1. Apakah semua ular hijau itu berbisa?

Tidak semua, namun banyak spesies ular hijau di Indonesia seperti Viper Hijau memiliki bisa tinggi. Sebaiknya hindari kontak dengan ular hijau apa pun jika kamu bukan profesional.

2. Apa yang harus dilakukan jika digigit ular hijau ekor merah?

Segera lakukan imobilisasi (jangan gerakkan area yang tergigit) dan langsung menuju Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit terdekat untuk mendapatkan Serum Anti Bisa Ular (SABU).

3. Bolehkah luka gigitan ular diikat dengan kain?

Tidak disarankan mengikat terlalu kencang (torniket) karena dapat mematikan aliran darah dan menyebabkan kerusakan jaringan permanen. Cukup lakukan pembidaian agar area tersebut tidak bergerak.

4. Apakah menghisap bisa ular efektif?

Tidak. Menghisap bisa ular dengan mulut justru berbahaya bagi penolong (jika ada luka di mulut) dan tidak efektif mengeluarkan racun yang sudah masuk ke jaringan bawah kulit.

Punya Keluhan Kesehatan akibat Kontak dengan Hewan Berbahaya? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu merasa khawatir setelah melihat ular di sekitar rumah atau memiliki keluhan kesehatan yang membingungkan? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.