Ad Placeholder Image

Awas Penularan TBC Serumah! Ini Aturan Baru dari Kemenkes

5 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   17 Maret 2026

Panduan detail mengenai pencegahan penularan TBC, faktor risiko, serta kebijakan wajib terapi pencegahan bagi kontak serumah dari Kemenkes.

Awas Penularan TBC Serumah! Ini Aturan Baru dari KemenkesAwas Penularan TBC Serumah! Ini Aturan Baru dari Kemenkes

DAFTAR ISI


Penyakit tuberkulosis atau yang akrab disebut TBC masih menjadi ancaman kesehatan yang serius, bukan hanya di dunia, tetapi juga di Indonesia. Banyak orang tidak menyadari bahwa bakteri penyebab penyakit ini sangat mudah menyebar di udara, terutama di ruang tertutup.

Jika kamu atau anggota keluargamu memiliki kontak erat dengan penderita, memahami cara pencegahan penularan TBC adalah langkah pertama yang paling krusial untuk melindungi diri.

Mari kita bahas secara mendalam mengenai proses penyebaran kuman ini, faktor risikonya, hingga kebijakan terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang wajib kamu patuhi jika berada dalam satu atap dengan penderita.

Mengenal Penyakit TBC dan Kondisi Terkini di Indonesia

Berdasarkan Global TB Report, Indonesia menghadapi beban kasus TBC yang sangat tinggi, dengan estimasi mencapai lebih dari 1 juta kasus per tahunnya. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan perhatian khusus terhadap pemberantasan tuberkulosis.

Di tingkat global sendiri, penyakit infeksi paru ini menginfeksi jutaan orang dan menyebabkan angka kematian yang tidak sedikit. Pemerintah terus menggenjot upaya promotif dan preventif (pencegahan) untuk menekan laju penyebaran penyakit ini.

Salah satu fokus utamanya adalah melindungi kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi tertular bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Bagaimana Proses Penularan TBC Terjadi?

Penularan TBC terjadi secara airborne atau melalui udara. Ketika seseorang yang mengidap TBC paru aktif batuk, berbicara, bersin, atau bahkan bernyanyi, mereka melepaskan percikan renik (droplet) yang mengandung bakteri ke udara.

Bakteri ini bisa bertahan melayang di udara selama beberapa jam, terutama jika lingkungan tersebut:

  • Memiliki sirkulasi udara yang buruk.
  • Berada di ruang tertutup (seperti kamar tanpa ventilasi atau di dalam kendaraan).
  • Minim paparan sinar matahari langsung.

Orang-orang yang menghirup udara yang terkontaminasi inilah yang berisiko terinfeksi. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang menghirup bakteri ini akan langsung jatuh sakit.

Tubuh memiliki mekanisme pertahanan, yang membedakan infeksi ini menjadi dua kondisi, yakni TBC laten (tidak aktif dan tidak menularkan) serta TBC aktif (bergejala dan bisa menularkan).

Faktor Risiko Tinggi Terpapar TBC

Siapa pun bisa terkena penyakit ini, tetapi penularan TBC jauh lebih rentan terjadi pada kelompok berikut:

  • Kontak erat (orang serumah): Anggota keluarga, teman sekamar, atau rekan kerja yang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari dengan penderita TBC aktif.
  • Kondisi imunitas menurun: Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah sangat mudah mengalami perubahan dari infeksi laten menjadi penyakit aktif. Ini termasuk penderita HIV, Diabetes Mellitus, kanker, atau mereka yang mengalami gizi buruk (malnutrisi).
  • Lingkungan padat penduduk: Tinggal di fasilitas dengan tingkat hunian padat seperti asrama, panti jompo, atau lembaga pemasyarakatan.

Jika mengalami gejala TBC, Catat, Ini Dokter Spesialis Paru yang Bisa Dihubungi untuk kamu tanyakan perawatannya.

Kebijakan Baru Kemenkes: Wajib Terapi Pencegahan TBC (TPT)

Untuk memutus rantai penularan TBC, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan terbaru yang sangat tegas, khususnya bagi orang yang tinggal serumah dengan pasien positif.

Menurut Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Ina Agustina Isturini, MKM, siapa pun yang memiliki riwayat kontak erat serumah wajib segera memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.

Hal yang paling penting dari kebijakan baru ini adalah, meskipun hasil pemeriksaan awal menunjukkan negatif (tidak ada TBC aktif), orang yang kontak serumah tetap diwajibkan untuk mengonsumsi Terapi Pencegahan TBC (TPT).

Obat pencegahan ini harus diminum secara teratur agar kuman yang mungkin sudah masuk (fase laten) tidak berkembang menjadi penyakit aktif di kemudian hari.

Langkah Pencegahan Penularan TBC di Lingkungan Rumah

Jika ada anggota keluarga yang terdiagnosis TBC paru aktif, jangan panik. Berikut adalah langkah-langkah detail untuk mencegah penularan TBC di dalam rumah:

  • Isolasi mandiri di awal pengobatan. Pasien harus tidur di kamar terpisah dari anggota keluarga lain, setidaknya pada minggu-minggu pertama pengobatan hingga dokter menyatakan pasien sudah tidak infeksius (tidak menularkan).
  • Perbaiki sirkulasi udara. Buka jendela kamar pasien lebar-lebar pada pagi hingga sore hari. Kamu bisa meletakkan kipas angin menghadap ke luar jendela untuk membantu meniup udara yang mengandung kuman ke luar ruangan. Hindari sirkulasi udara tertutup yang hanya memutar udara di dalam rumah.
  • Etika batuk yang benar. Pasien harus selalu menutup mulut dengan tisu saat batuk atau bersin, lalu segera membuang tisu tersebut ke tempat sampah tertutup.
  • Gunakan masker. Baik pasien maupun anggota keluarga yang merawat dianjurkan menggunakan masker saat berada dalam satu ruangan.
  • Jangan berbagi ruang sempit. Hindari mengajak pasien bepergian menggunakan kendaraan tertutup ber-AC untuk sementara waktu.

Pahami lebih dalam mengenai Tuberkulosis (TBC) – Penyebab, Gejala, Pengobatan & Pencegahannya berikut ini.

Mengapa Pengobatan TBC Harus Tuntas?

Mengonsumsi obat TBC secara disiplin, persis seperti yang diresepkan dokter, adalah kunci utama menghentikan penularan TBC. Pasien tidak boleh berhenti minum obat hanya karena merasa gejalanya (seperti batuk, demam, atau lemas) sudah hilang.

Menghentikan pengobatan secara sepihak atau minum obat secara tidak teratur sangat berbahaya karena dapat memicu TBC Resistan Obat (TB RO) atau Kebal Obat. Pada kondisi ini, kuman TBC bermutasi sehingga obat-obatan standar tidak lagi mempan membunuhnya.

Pengobatan TB kebal obat jauh lebih sulit, memakan waktu lebih lama, menimbulkan efek samping yang lebih berat, dan biayanya sangat mahal. Oleh karena itu, dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk memastikan pasien patuh meminum obatnya sampai tuntas (biasanya minimal 6 bulan).

Itulah penjelasan seputar penularan TBC yang perlu kamu waspadai. Jika kamu punya pertanyaan lain terkait penyakit ini, hubungi dokter spesialis paru di Halodoc saja!

Mereka bisa memberikan informasi dan saran perawatan yang tepat sekaligus meresepkan obat.

Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

CD
Referensi:
VIVA Gaya Hidup. Diakses pada 2026. Kebijakan Baru Kemenkes, Kontak Serumah dengan Penderita TBC Harus Segera Lakukan Ini.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2026. Preventing Tuberculosis.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Cegah dan Obati TB dengan Terapi Pencegahan Tuberkulosis.