Ad Placeholder Image

BAB Bayi Berbusa Ternyata Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Bab Bayi Berbusa: Normal? Kapan Harus Khawatir?

BAB Bayi Berbusa Ternyata Ini Penyebab dan Cara MengatasinyaBAB Bayi Berbusa Ternyata Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

DAFTAR ISI


Memantau kondisi feses atau kotoran si Kecil adalah salah satu rutinitas penting bagi orang tua baru. Melalui tekstur, warna, dan frekuensi buang air besar (BAB), kamu bisa mengetahui banyak hal tentang kondisi kesehatan pencernaan bayi. Secara umum, feses bayi yang mengonsumsi ASI eksklusif memang cenderung lebih cair, berwarna kuning mustard, dan memiliki tekstur berbiji (seedy). Namun, bagaimana jika teksturnya berubah? Saat melihat pup bayi berbusa, tidak sedikit orang tua yang langsung merasa panik dan khawatir.

Kondisi feses yang berbusa pada dasarnya menunjukkan adanya gas berlebih di dalam saluran pencernaan bayi. Gas ini terperangkap di dalam kotoran saat melewati usus, sehingga ketika dikeluarkan, feses tampak memiliki gelembung-gelembung udara atau berbusa layaknya sabun. Walaupun sering kali terlihat menakutkan, kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi pada bayi, terutama pada bayi yang masih mendapatkan ASI eksklusif. Penting bagi kamu untuk memahami bahwa pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan, sehingga sangat sensitif terhadap perubahan kecil pada pola makan atau komposisi susu yang diterimanya.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah jangan panik. Mengamati gejala penyerta lainnya jauh lebih penting daripada sekadar melihat perubahan pada tekstur kotoran. Apakah bayi tetap ceria? Apakah berat badannya naik dengan baik? Jika bayi tidak menunjukkan tanda-tanda rewel, demam, atau lemas, kemungkinan besar feses berbusa tersebut hanyalah respons sementara dari sistem pencernaannya. Sebaliknya, jika kondisi ini disertai dengan gejala lain yang mengkhawatirkan, penanganan medis yang cepat sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi.

Karena kondisi ini berkaitan erat dengan proses pencernaan yang sensitif dan tidak memerlukan obat-obatan bebas tanpa resep, artikel ini tidak akan merekomendasikan obat-obatan farmasi secara sembarangan untuk bayi. Penanganan utama justru berfokus pada perbaikan manajemen laktasi dan evaluasi asupan. Nah, mau tahu apa saja penyebab dan langkah tepat untuk mengatasinya? Berikut ulasan lengkapnya!

Penyebab Pup Bayi Berbusa

Memahami akar masalah adalah kunci untuk mengatasi perubahan kotoran pada si Kecil. Ada beberapa faktor utama yang dapat memicu terbentuknya gas berlebih di lambung dan usus bayi, yang berujung pada feses yang berbusa. Berikut adalah beberapa penyebab yang paling sering ditemui:

1. Ketidakseimbangan Foremilk dan Hindmilk (Lactose Overload)

Penyebab paling umum dari feses berbusa pada bayi ASI adalah ketidakseimbangan antara asupan foremilk dan hindmilk. Saat ibu menyusui, ASI yang pertama kali keluar disebut foremilk. ASI jenis ini lebih encer, kaya akan air, dan mengandung kadar laktosa (gula susu) yang sangat tinggi. Setelah beberapa menit menyusui, ASI akan berubah menjadi hindmilk, yang lebih kental, kaya akan lemak, dan tinggi kalori.

Jika ibu memiliki pasokan ASI yang terlalu melimpah (hiperlaktasi) atau terlalu cepat memindahkan bayi dari satu payudara ke payudara lainnya sebelum payudara pertama benar-benar kosong, bayi akan mendapatkan terlalu banyak foremilk dan terlalu sedikit hindmilk. Akibatnya, sistem pencernaan bayi kewalahan menerima laktosa dalam jumlah besar. Enzim laktase di usus bayi tidak mampu memecah semua laktosa tersebut, sehingga laktosa yang tidak tercerna masuk ke usus besar, berfermentasi, dan menghasilkan banyak gas. Proses fermentasi inilah yang membuat feses bayi menjadi berbusa, berwarna kehijauan, dan sering kali menyembur saat dikeluarkan.

2. Sensitivitas atau Alergi Terhadap Makanan Ibu

Sistem pencernaan bayi yang belum matang juga sangat sensitif terhadap zat-zat tertentu yang tersalurkan melalui ASI. Apa yang ibu konsumsi dapat memengaruhi bayi. Penyebab alergi yang paling umum pada bayi adalah protein susu sapi (Cow’s Milk Protein Allergy – CMPA). Jika ibu banyak mengonsumsi produk olahan susu sapi (keju, mentega, yogurt), protein tersebut bisa memicu peradangan pada usus bayi, menyebabkan gas, kembung, dan feses berbusa, bahkan terkadang disertai bercak darah.

Selain susu sapi, beberapa bayi juga sensitif terhadap kafein, makanan pedas, kedelai, kacang-kacangan, atau makanan yang memicu gas seperti kubis dan brokoli yang dikonsumsi oleh sang ibu. Pada bayi yang mengonsumsi susu formula, feses berbusa bisa menjadi pertanda bahwa ia tidak cocok dengan jenis formula yang diberikan, terutama jika formula tersebut mengandung laktosa yang terlalu tinggi bagi toleransi pencernaannya.

3. Infeksi Saluran Pencernaan (Gastroenteritis)

Jika feses berbusa terjadi secara tiba-tiba, sangat cair, lebih sering dari biasanya, dan memiliki bau yang sangat busuk, ini bisa menjadi pertanda adanya infeksi virus atau bakteri di saluran pencernaan bayi (gastroenteritis). Virus seperti Rotavirus sering menjadi penyebab utama diare pada bayi. Infeksi ini merusak sementara lapisan usus kecil tempat enzim laktase diproduksi. Karena enzim laktase berkurang, bayi akan mengalami intoleransi laktosa sementara, yang memicu feses berbusa. Kondisi ini biasanya disertai dengan gejala lain seperti demam, muntah, dan rewel karena perut yang terasa kram.

4. Fase Tumbuh Gigi (Teething)

Meskipun terdengar tidak saling berkaitan, fase tumbuh gigi dapat memengaruhi bentuk feses bayi. Saat gigi mulai tumbuh, produksi air liur bayi (saliva) akan meningkat secara drastis (drooling). Bayi akan lebih sering menelan air liurnya sendiri. Air liur yang berlebihan ini masuk ke dalam lambung dan usus, sehingga dapat mengubah konsistensi kotoran bayi menjadi lebih berlendir, lebih cair, dan terkadang tampak sedikit berbusa. Jika bayi sedang berada di usia tumbuh gigi (biasanya mulai usia 4-6 bulan) dan feses berbusa tidak disertai demam tinggi atau diare parah, hal ini umumnya normal dan tidak perlu dikhawatirkan.

Waspadai Red Flags (Tanda Bahaya) pada Pencernaan Bayi

Meskipun feses berbusa seringkali normal, kamu harus segera mencari pertolongan medis jika melihat tanda-tanda berikut:

  1. Feses bercampur darah merah segar atau berwarna hitam seperti aspal.
  2. Tanda dehidrasi: ubun-ubun cekung, tidak ada air mata saat menangis, dan popok kering lebih dari 6 jam.
  3. Bayi muntah menyembur berwarna hijau (cairan empedu).
  4. Demam tinggi melebihi 38 derajat Celcius pada bayi di bawah usia 3 bulan.
  5. Bayi tampak sangat lemas (letargi) dan menolak untuk menyusu.

Cara Mengatasi Pup Bayi Berbusa di Rumah

Jika bayi tetap aktif, mau menyusu, dan berat badannya bertambah dengan baik, intervensi medis mungkin tidak diperlukan. Fokus penanganan utamanya adalah dengan memperbaiki cara menyusui dan memantau pola asupan. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa kamu terapkan:

1. Terapkan Teknik Block Feeding

Jika masalahnya adalah lactose overload akibat pasokan ASI yang terlalu deras, teknik block feeding bisa sangat membantu. Caranya adalah dengan menyusui bayi hanya pada satu payudara selama rentang waktu tertentu (misalnya selama 3-4 jam). Hal ini memastikan bayi mengosongkan payudara tersebut sepenuhnya dan mendapatkan hindmilk yang kaya lemak. Lemak dari hindmilk akan memperlambat proses pencernaan laktosa di usus, sehingga mencegah pembentukan gas dan busa pada feses. Pastikan bayi menyusu sampai tuntas dan payudara terasa lembek sebelum menawarkan payudara yang lain.

2. Perbaiki Posisi dan Pelekatan (Latch) Menyusui

Pelekatan mulut bayi yang tidak sempurna pada payudara dapat membuat bayi menelan terlalu banyak udara saat menyusu. Udara yang terperangkap di lambung ini akan turun ke usus dan keluar sebagai feses yang bergas dan berbusa. Pastikan mulut bayi terbuka lebar, bibir bawahnya terlipat ke luar (dower), dan dagunya menempel erat pada payudara. Jangan lupa untuk selalu menyendawakan bayi (burping) di pertengahan dan setelah selesai menyusu untuk mengeluarkan gas dari lambungnya.

3. Evaluasi dan Modifikasi Diet Ibu Menyusui

Jika kamu mencurigai si Kecil mengalami alergi terhadap makanan tertentu yang kamu konsumsi, cobalah lakukan diet eliminasi. Hentikan konsumsi produk olahan susu sapi (susu kental, keju, mentega, yogurt) selama 2 hingga 3 minggu, lalu perhatikan apakah tekstur feses bayi membaik. Proses eliminasi protein susu sapi dari sistem tubuh ibu dan bayi membutuhkan waktu, sehingga kesabaran sangat diperlukan. Jika setelah menghentikan produk susu kental dan keju gejala bayi hilang, kemungkinan besar ia memang mengalami alergi protein susu sapi.

4. Pastikan Bayi Tetap Terhidrasi

Feses yang berbusa sering kali memiliki konsistensi yang lebih cair, yang berarti bayi kehilangan lebih banyak cairan. Teruskan pemberian ASI atau susu formula sesering yang bayi minta (on demand). Jangan pernah memberikan obat antidiare yang dijual bebas untuk orang dewasa kepada bayi, karena bisa berbahaya dan menghentikan pergerakan usus secara tidak wajar. Fokuslah pada hidrasi dan kenyamanan bayi.

Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?

Sistem kekebalan dan pencernaan bayi masih sangat rentan. Meskipun kamu sudah mencoba berbagai cara di atas, ada kalanya kondisi bayi memerlukan penanganan medis profesional. Kamu harus segera berkonsultasi dengan dokter apabila feses berbusa berlangsung selama lebih dari dua hari berturut-turut tanpa adanya perbaikan, atau frekuensi buang air besarnya meningkat drastis hingga lebih dari 6-8 kali dalam sehari dengan volume cairan yang banyak.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, menimbang berat badan bayi untuk memastikan tidak ada penurunan berat badan yang drastis, dan mungkin menyarankan pemeriksaan sampel tinja (analisis feses) di laboratorium. Tujuannya adalah untuk mendeteksi apakah ada bakteri spesifik, virus, parasit, darah tersembunyi, atau kandungan zat asam yang mengindikasikan malabsorpsi nutrisi. Jika bayi mengonsumsi susu formula dan terbukti mengalami alergi, dokter akan meresepkan susu formula hipoalergenik atau formula berbasis asam amino yang diformulasikan khusus agar mudah dicerna oleh usus bayi yang sedang meradang.

Studi Terkait Pencernaan Bayi

The Journal of Pediatrics menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa intoleransi laktosa sekunder akibat ketidakseimbangan foremilk-hindmilk adalah salah satu penyebab paling umum dari kolik, kembung, dan perubahan tekstur tinja pada bayi sehat yang disusui ASI secara eksklusif.

Studi tersebut menegaskan bahwa modifikasi manajemen laktasi, seperti mengosongkan satu payudara secara total sebelum beralih ke sisi lainnya, secara signifikan mengurangi hidrogen napas (indikator fermentasi laktosa) dan memperbaiki gejala gastrointestinal pada bayi. Hal ini mengonfirmasi bahwa intervensi non-farmakologis, alias tanpa obat-obatan, merupakan terapi garis pertama yang sangat efektif dan aman bagi pencernaan si Kecil.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

FAQ

1. Apakah pup bayi berbusa selalu menandakan penyakit yang berbahaya?

Tidak selalu. Pada sebagian besar kasus, feses berbusa hanyalah tanda bahwa bayi menerima terlalu banyak laktosa dari foremilk atau menelan terlalu banyak gas. Selama bayi tetap aktif dan berat badannya naik, kondisi ini tergolong aman dan bisa diatasi dengan perbaikan teknik menyusui.

2. Apakah susu formula bisa menyebabkan feses bayi menjadi berbusa?

Ya, bisa. Jika bayi tidak dapat mentoleransi jenis protein atau jumlah laktosa yang terkandung dalam susu formula tersebut, sistem pencernaannya akan bereaksi dengan menghasilkan gas berlebih yang membuat kotorannya berbusa. Konsultasikan dengan dokter spesialis anak sebelum mengganti merek atau jenis susu formula.

3. Berapa lama kondisi pup berbusa ini biasanya berlangsung?

Jika disebabkan oleh ketidakseimbangan ASI, feses berbusa biasanya akan membaik dalam 1 hingga 2 hari setelah ibu memperbaiki pola menyusui (seperti menerapkan block feeding). Namun, jika disebabkan oleh infeksi usus, kondisi ini bisa berlangsung selama 5 hingga 7 hari.

4. Bolehkah saya memberikan obat anti-diare untuk menghentikan pup berbusa?

Sangat tidak disarankan. Bayi di bawah usia 1 tahun tidak boleh diberikan obat anti-diare bebas tanpa resep dokter. Obat tersebut dapat membahayakan fungsi usus bayi. Langkah terbaik adalah menjaga hidrasi bayi dengan memberikan ASI atau cairan oralit khusus anak sesuai instruksi dokter.


Jika kamu membutuhkan suplemen anak, vitamin, atau produk perawatan ibu dan bayi lainnya untuk mendukung masa tumbuh kembangnya, jangan ragu untuk berbelanja secara praktis. Kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan cepat dan aman.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Infant and toddler health: Baby poop: What’s normal?
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Infant and young child feeding.
American Academy of Pediatrics (AAP). Diakses pada 2024. Stool Colors and Changes in Infants.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Feses Bayi: Normal Atau Tidak?
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Lactose Intolerance in Infants.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang