Ad Placeholder Image

BAB Warna Putih: Penyebab, Gejala, dan Kapan ke Dokter

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

BAB Warna Putih: Penyebab, Gejala, & Kapan ke Dokter

BAB Warna Putih: Penyebab, Gejala, dan Kapan ke DokterBAB Warna Putih: Penyebab, Gejala, dan Kapan ke Dokter

DAFTAR ISI


Masa pertumbuhan anak adalah fase yang membutuhkan perhatian ekstra dari orang tua, mulai dari asupan nutrisi, pola tidur, hingga kondisi kotoran atau fesesnya. Salah satu indikator penting untuk memantau kesehatan pencernaan dan organ dalam anak adalah dengan melihat warna feses. Pada kondisi normal, feses anak berwarna kuning, cokelat, hingga sedikit kehijauan. Namun, bagaimana jika kamu menemukan bab anak warna putih pucat seperti dempul?

Kondisi buang air besar (BAB) dengan feses berwarna putih, abu-abu pucat, atau seperti tanah liat dalam dunia medis dikenal dengan istilah feses akolik (acholic stool). Ini bukanlah kondisi yang bisa dianggap remeh atau sekadar gangguan pencernaan biasa. Warna putih pada feses mengindikasikan adanya gangguan serius pada aliran empedu dari hati menuju ke usus. Cairan empedu inilah yang seharusnya memberikan pigmen kecokelatan pada feses yang disebut sterkobilin.

Ketika saluran empedu tersumbat atau hati tidak dapat memproduksi empedu dengan baik, pigmen tersebut tidak dapat mencapai usus, sehingga feses anak kehilangan warnanya. Mengingat kondisi ini sangat erat kaitannya dengan fungsi organ hati, penanganan yang cepat dan tepat oleh dokter sangatlah krusial, terutama bagi bayi baru lahir hingga usia beberapa bulan. Terlambat mendeteksi kondisi ini dapat berisiko menyebabkan kerusakan hati permanen.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap orang tua untuk memahami penyebab di balik perubahan warna feses ini, gejala lain yang mungkin menyertai, serta langkah medis apa yang harus segera diambil. Jika kamu membutuhkan asupan nutrisi tambahan yang diresepkan dokter pasca perawatan, kamu juga bisa beli vitamin atau suplemen kesehatan anak dengan mudah secara daring. Nah, untuk mengetahui informasi medis selengkapnya mengenai BAB anak berwarna putih pucat, mari simak ulasan lengkap berikut ini!

Apa Itu Feses Akolik pada Anak?

Sebelum membahas penyebabnya, kamu perlu memahami bagaimana feses mendapatkan warnanya. Proses pencernaan melibatkan organ hati yang memproduksi cairan empedu. Cairan ini disimpan di kantung empedu dan disalurkan ke bagian awal usus halus (duodenum) untuk membantu mencerna lemak.

Empedu mengandung zat yang disebut bilirubin, yang berasal dari pemecahan sel darah merah. Ketika berada di dalam usus, bakteri baik akan mengubah bilirubin menjadi sterkobilin. Sterkobilin inilah pigmen yang bertanggung jawab memberikan warna cokelat khas pada kotoran manusia. Jika terdapat gangguan struktural atau peradangan yang menghalangi cairan empedu masuk ke usus, proses ini akan terhenti. Hasilnya, feses anak tidak memiliki pigmen sterkobilin, sehingga keluarlah kotoran yang warnanya putih, pucat, atau abu-abu dempul (feses akolik).

Penyebab Utama BAB Anak Warna Putih

Warna feses yang memucat pada anak, khususnya bayi, sangat jarang disebabkan oleh makanan. Berbeda dengan feses berwarna merah muda atau hijau yang masih bisa dipengaruhi oleh konsumsi sayuran atau buah tertentu, feses putih hampir selalu menandakan masalah medis pada sistem hepatobilier (hati dan saluran empedu). Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:

1. Atresia Bilier

Atresia bilier adalah kelainan bawaan langka namun sangat kritis yang terjadi pada bayi baru lahir. Pada kondisi ini, saluran empedu di dalam atau di luar hati mengalami peradangan, menyempit, dan akhirnya tersumbat atau tidak terbentuk sama sekali. Akibatnya, cairan empedu terperangkap di dalam hati dan merusak sel-sel hati dengan cepat. Gejala klasik atresia bilier adalah bayi kuning (ikterus) yang tak kunjung hilang setelah usia dua minggu, disertai BAB berwarna putih dempul dan urine berwarna gelap. Kondisi ini adalah keadaan darurat bedah anak. Periode emas untuk menanganinya adalah sebelum bayi berusia 60 hari.

2. Hepatitis Neonatal

Hepatitis neonatal adalah peradangan hati yang terjadi pada masa awal kehidupan bayi. Hal ini bisa dipicu oleh infeksi virus yang ditularkan dari ibu saat kehamilan atau persalinan, seperti Cytomegalovirus (CMV), Rubella, Hepatitis A, B, atau C. Peradangan berat pada hati menyebabkan organ tersebut bengkak dan kesulitan mengalirkan empedu ke usus, sehingga warna tinja berubah menjadi putih atau pucat.

3. Kista Koledokus (Choledochal Cyst)

Kista koledokus merupakan kondisi terbentuknya kantong atau kista pada saluran empedu (duktus biliaris). Kista ini dapat membesar dan menekan saluran empedu, menyebabkan aliran empedu melambat atau terhenti total. Walaupun kelainan ini bersifat bawaan, gejalanya kadang baru muncul saat anak memasuki usia balita atau anak-anak, yang ditandai dengan feses putih, sakit perut di bagian kanan atas, dan penyakit kuning.

4. Sindrom Alagille

Sindrom Alagille adalah kelainan genetik langka yang menyebabkan seseorang lahir dengan jumlah saluran empedu di dalam hati yang kurang dari normal (hipoplasia saluran empedu). Terbatasnya saluran ini membuat empedu menumpuk di hati. Selain masalah buang air besar yang pucat, anak dengan sindrom ini sering kali memiliki ciri fisik wajah yang khas, kelainan tulang belakang, atau kelainan katup jantung.

5. Efek Samping Obat-obatan Tertentu

Selain kelainan anatomi dan infeksi, konsumsi obat atau prosedur medis tertentu juga bisa mengubah warna feses menjadi putih. Misalnya, jika anak baru saja menjalani pemeriksaan rontgen dengan menelan cairan barium (barium swallow), barium yang tidak terserap akan dikeluarkan lewat feses dan membuatnya terlihat putih kapur. Konsumsi obat maag yang mengandung aluminium hidroksida dalam dosis tinggi (yang tentunya tidak disarankan untuk anak tanpa anjuran dokter) juga dapat memudarkan warna feses.

Faktor Pemicu / Pemantauan Dini Warna Feses
  1. Perhatikan warna feses bayi sejak hari pertama kelahiran. Gunakan “Kartu Warna Feses” yang biasa ada pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
  2. Feses yang sehat pada bayi yang minum ASI eksklusif biasanya berwarna kuning mustard dengan sedikit butiran-butiran kecil.
  3. Jika kamu menemukan feses berwarna pucat menyerupai warna putih, krem, atau dempul, jangan buang popoknya. Segera foto kotoran tersebut di bawah cahaya yang terang.
  4. Bawa foto atau popok yang berisi feses pucat tersebut ke dokter spesialis anak sebagai bukti visual saat melakukan konsultasi.

Gejala Penyerta yang Harus Diwaspadai

BAB anak berwarna putih umumnya tidak muncul sendirian. Lantaran penyebabnya sering kali berkaitan dengan disfungsi hati dan kantung empedu, cairan empedu yang gagal masuk ke usus akan berbalik mengalir ke dalam aliran darah. Hal ini akan memicu berbagai gejala sistemik lain yang perlu diamati secara teliti oleh orang tua, di antaranya:

1. Penyakit Kuning (Ikterus)

Karena empedu menumpuk dalam darah, pigmen bilirubin akan menyebar ke seluruh jaringan tubuh. Kulit anak, serta bagian putih pada matanya (sklera), akan tampak berwarna kuning pekat. Penyakit kuning yang normal pada bayi biasanya hilang pada usia dua hingga tiga minggu. Jika lebih dari itu, atau kuningnya baru muncul setelah usia 2 minggu, ini adalah tanda bahaya.

2. Urine Berwarna Gelap

Ginjal akan berusaha membuang kelebihan bilirubin dari dalam darah melalui urine. Akibatnya, air seni anak akan berubah warna menjadi sangat gelap, menyerupai warna teh pekat atau Coca-Cola. Pada bayi sehat yang cukup minum, urine seharusnya berwarna kuning jernih atau transparan.

3. Perut Membengkak dan Rewel

Pembesaran ukuran organ hati (hepatomegali) dan penumpukan cairan di rongga perut (asites) dapat membuat perut anak tampak lebih buncit dari biasanya, keras saat dipegang, dan sangat tidak nyaman. Anak akan sering menangis rewel, menunjukkan tanda kesakitan, dan mengalami penurunan nafsu makan yang drastis.

Langkah Diagnosis dan Penanganan Medis

Jika kamu membawa anak dengan keluhan feses putih ke dokter, dokter spesialis anak atau dokter konsultan gastrohepatologi anak akan segera melakukan serangkaian prosedur untuk menemukan letak sumbatan dan kerusakan organ. Evaluasi cepat sangat penting karena beberapa kondisi, seperti atresia bilier, berpacu dengan waktu.

1. Pemeriksaan Darah Lengkap

Dokter akan mengambil sampel darah anak untuk mengukur kadar bilirubin total, bilirubin direk (langsung), dan bilirubin indirek. Pada kasus sumbatan empedu, kadar bilirubin direk biasanya melonjak tajam. Selain itu, enzim hati seperti SGOT, SGPT, dan Gamma GT juga akan diperiksa untuk menilai tingkat kerusakan sel hati.

2. USG Abdomen (Perut)

Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk melihat bentuk ukuran hati, kantung empedu, dan saluran empedu secara visual. USG dapat mendeteksi apakah kantung empedu anak menyusut (tidak terlihat) atau jika ada kista yang menekan saluran (seperti kista koledokus).

3. Biopsi Hati dan Kolangiogram

Jika pemeriksaan awal mengarah kuat pada atresia bilier, dokter akan melakukan kolangiogram intraoperatif (memasukkan zat pewarna ke saluran empedu saat pembedahan) dan mengambil sampel kecil jaringan hati (biopsi). Ini adalah standar emas (gold standard) untuk menegakkan diagnosis pasti kerusakan saluran empedu.

Mengenai pengobatannya, hal ini bergantung pada penyebab utama. Jika disebabkan oleh Atresia Bilier, bayi harus segera menjalani operasi yang disebut Prosedur Kasai (Kasai Portoenterostomy). Operasi ini bertujuan untuk mengangkat saluran empedu yang rusak dan menyambungkan langsung usus ke organ hati, sehingga cairan empedu bisa mengalir. Jika operasi ini terlambat dilakukan atau hati sudah terlanjur sirosis parah, satu-satunya cara penanganan medis tingkat akhir adalah transplantasi hati (cangkok hati).

Sementara itu, jika penyebabnya adalah infeksi virus (Hepatitis), penanganan akan berfokus pada terapi suportif, pemberian vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, K), susu dengan formula khusus (MCT oil) yang mudah diserap hati, serta pengobatan untuk mengatasi peradangan sampai fungsi hati membaik dengan sendirinya.

Studi Terkait

Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa keterlambatan merujuk bayi dengan gejala feses akolik merupakan faktor utama gagalnya prosedur pembedahan Kasai. Studi ini menekankan bahwa skrining warna feses menggunakan kartu deteksi sangat efektif menurunkan angka kematian bayi akibat atresia bilier.

Studi observasional klinis ini mempertegas bahwa edukasi visual bagi orang tua untuk membedakan antara feses kuning pucat yang normal dan feses putih dempul yang abnormal dapat menyelamatkan nyawa anak dan menghindarkan mereka dari komplikasi sirosis hati di usia sangat dini.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kondisi medis terkait pencernaan anak ini merupakan sinyal penting yang tidak boleh diabaikan. Sangat disarankan bagi setiap orang tua untuk peka terhadap perubahan kecil pada tubuh buah hati. Kamu dapat menggunakan aplikasi konsultasi telemedis untuk pertolongan informasi langkah pertama yang cepat dan tepat.

Kamu bisa mendapatkan berbagai kebutuhan kesehatan pendukung seperti popok, suplemen bayi, maupun produk higienis dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc.

Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Neonatal Jaundice and Liver Diseases.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Acholic Stools (Pale Stool).
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Deteksi Dini Kolestasis pada Bayi (Penyakit Atresia Bilier).
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2024. Biliary Atresia.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Pale Stool: Causes, Symptoms, and Treatment.

FAQ

1. Apakah bab anak warna putih selalu berbahaya?

Ya, pada sebagian besar kasus, feses yang benar-benar berwarna putih kapur, keabu-abuan, atau seperti dempul pucat selalu mengindikasikan bahaya medis. Hal ini menandakan adanya penyumbatan pada saluran empedu atau masalah berat pada fungsi hati yang mencegah empedu memberi warna alami pada kotoran.

2. Apa yang harus segera dilakukan jika melihat feses anak berwarna pucat?

Jangan panik namun jangan menunda. Segera ambil foto feses tersebut dengan pencahayaan yang terang, atau simpan popok kotor anak dalam plastik tertutup untuk ditunjukkan kepada dokter. Segera jadwalkan kunjungan ke IGD rumah sakit terdekat atau ke dokter spesialis anak.

3. Bisakah susu formula atau MPASI menyebabkan bab warna putih?

Susu formula tinggi zat besi atau makanan pendamping ASI (MPASI) yang banyak mengandung produk susu kadang membuat feses bayi berwarna kuning sangat pucat atau cokelat muda. Namun, makanan atau susu tidak akan pernah mengubah feses menjadi benar-benar putih pekat seperti kertas atau kapur. Jika kotorannya putih solid, itu adalah masalah sistem empedu.

4. Berapa lama batas waktu aman untuk mengobati atresia bilier?

Periode paling krusial untuk atresia bilier adalah saat bayi berusia di bawah 60 hari. Prosedur bedah Kasai yang dilakukan pada rentang usia ini memiliki tingkat keberhasilan pengembalian aliran empedu tertinggi. Jika dibiarkan melewati usia 2 hingga 3 bulan, risiko sirosis (pengerasan hati) yang tidak dapat diubah (irreversible) akan melonjak tajam.