Bayi 10 Bulan Susah Makan? Jangan Panik, Ini Caranya!

DAFTAR ISI
- Penyebab Bayi 10 Bulan Susah Makan
- Cara Mengatasi Bayi 10 Bulan Susah Makan
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Memasuki usia 10 bulan, si Kecil biasanya mulai menunjukkan perkembangan motorik dan kognitif yang sangat pesat. Mereka mulai belajar merambat, berdiri, atau bahkan mencoba melangkah. Di fase emas ini, rasa ingin tahu mereka terhadap lingkungan sekitar meningkat drastis. Namun, perkembangan yang pesat ini sering kali dibarengi dengan sebuah tantangan baru bagi orang tua: bayi 10 bulan susah makan atau yang sering dikenal dengan istilah Gerakan Tutup Mulut (GTM).
Kondisi susah makan pada usia ini sangat wajar terjadi, namun tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Mengingat pada usia 10 bulan Air Susu Ibu (ASI) saja sudah tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi harian bayi, Makanan Pendamping ASI (MPASI) memegang peranan krusial. Nutrisi makro seperti karbohidrat, protein hewani, serta lemak, sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan fisik dan kecerdasan otak si Kecil.
Bila asupan nutrisi dari MPASI tidak tercukupi karena bayi terus menolak makan, ada risiko terjadinya perlambatan kenaikan berat badan (weight faltering), defisiensi zat gizi besi yang berujung pada anemia, hingga risiko stunting. Oleh karena itu, penting bagi kamu sebagai orang tua untuk tidak panik dan lebih peka dalam mengidentifikasi apa yang sebenarnya menyebabkan nafsu makan si Kecil menurun drastis.
Ada banyak faktor yang bisa menjadi pemicunya, mulai dari hal-hal fisiologis seperti tumbuh gigi, hingga faktor psikologis seperti kebosanan atau trauma saat makan. Nah, mau tahu apa saja penyebab pasti dan bagaimana cara mengatasi bayi 10 bulan susah makan? Berikut ulasannya!
Penyebab Bayi 10 Bulan Susah Makan
Sebelum buru-buru memaksa si Kecil menelan makanannya, penting untuk mencari tahu akar masalahnya. Berikut adalah beberapa penyebab umum mengapa bayi di usia 10 bulan sering kali menolak MPASI:
1. Fase Tumbuh Gigi (Teething)
Di usia 10 bulan, banyak bayi yang sedang mengalami pertumbuhan gigi seri atas atau bawah, bahkan ada yang mulai tumbuh gigi geraham pertama. Proses keluarnya gigi menembus gusi ini menyebabkan gusi menjadi bengkak, merah, dan sangat nyeri. Rasa tidak nyaman ini sering kali membuat bayi kehilangan selera makan, terutama jika makanan yang disajikan bersuhu hangat atau memiliki tekstur yang keras. Mereka cenderung lebih rewel, sering memasukkan tangan ke mulut, dan memproduksi air liur lebih banyak dari biasanya.
2. Terlalu Banyak Konsumsi Susu atau Camilan
Terkadang, orang tua yang khawatir anaknya kelaparan karena tidak mau makan nasi akan memberikan kompensasi berupa susu formula, ASI yang terlalu sering, atau camilan (snack bayi) dalam jumlah besar. Padahal, kapasitas lambung bayi usia 10 bulan masih sangat kecil. Jika lambungnya sudah penuh dengan cairan susu, secara otomatis ia tidak akan merasa lapar saat jam makan utama tiba. Idealnya, konsumsi susu pada usia ini maksimal sekitar 400-600 ml per hari.
3. Bosan dengan Menu atau Tekstur Makanan
Bayi usia 10 bulan sudah memiliki preferensi rasa dan mulai mengenali tekstur. Jika selama berbulan-bulan ia hanya diberikan bubur saring (puree) dengan menu yang itu-itu saja, bayi bisa merasa bosan. Di usia ini, gusi dan giginya sudah siap untuk mengunyah makanan dengan tekstur yang lebih kasar seperti bubur tim, nasi lembek, atau makanan cincang kasar (minced and chopped).
4. Trauma atau Suasana Makan yang Tidak Menyenangkan
Pemaksaan saat makan, membentak, atau menyuapi bayi sambil memegang tangannya agar tidak berontak dapat memicu trauma psikologis. Bayi mengasosiasikan jam makan sebagai momen yang penuh tekanan dan menakutkan, sehingga sebelum sendok menyentuh mulutnya, ia sudah melakukan penolakan seperti memalingkan wajah atau menyemburkan makanan (melepeh).
5. Anemia Defisiensi Besi
Salah satu penyebab medis yang sering tidak disadari dari hilangnya nafsu makan bayi adalah kekurangan zat besi (anemia). Zat besi sangat penting untuk metabolisme sel dan fungsi hormon yang mengatur selera makan. Bayi yang pucat, lemas, dan selalu menolak makan protein hewani perlu dicurigai mengalami kondisi ini.
Tips Pencegahan Trauma Makan pada Bayi
- Terapkan prinsip “Responsive Feeding”, yaitu peka terhadap sinyal lapar dan kenyang bayi.
- Hentikan pemberian makan jika bayi sudah memalingkan wajah, menutup mulut rapat, atau menangis setelah ditawarkan makanan 3-4 kali.
- Hindari memaksa membuka mulut bayi dengan sendok atau jari.
Cara Mengatasi Bayi 10 Bulan Susah Makan
Setelah mengetahui penyebabnya, kamu bisa menerapkan langkah-langkah strategis berikut untuk mengembalikan nafsu makan dan memperbaiki pola makan si Kecil:
1. Terapkan Aturan Makan (Feeding Rules) Secara Konsisten
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sangat menyarankan penerapan “Feeding Rules” dasar. Pertama, buat jadwal makan yang teratur (3 kali makan utama, 1-2 kali camilan sehat, dan susu). Jarak antar waktu makan sebaiknya sekitar 2-3 jam agar perut bayi benar-benar kosong dan sinyal lapar alami muncul. Kedua, batasi waktu makan maksimal hanya 30 menit, baik makanan tersebut habis maupun tidak. Ketiga, pastikan lingkungan makan netral dan tidak ada distraksi, seperti bebas dari mainan, televisi, atau gadget (HP).
2. Kenalkan Finger Food dan Biarkan Bayi Makan Sendiri
Usia 10 bulan adalah masa emas di mana bayi sedang melatih kemampuan motorik halusnya, terutama pincer grasp (menjumput barang dengan ibu jari dan jari telunjuk). Manfaatkan momen ini dengan menyajikan finger food atau makanan yang bisa digenggam. Potong sayuran kukus (seperti brokoli, wortel), buah-buahan lunak (pisang, alpukat), atau potongan ayam rebus dan tempe. Biarkan bayi mengeksplorasi makanannya. Meski berantakan, hal ini akan meningkatkan minatnya terhadap makanan.
3. Atur Suhu Makanan Jika Sedang Tumbuh Gigi
Jika penyebab GTM adalah karena rasa nyeri akibat tumbuh gigi, kamu bisa menyiasatinya dengan memberikan makanan yang bersuhu lebih sejuk (dingin). Makanan dingin dapat memberikan efek kebas alami yang meredakan nyeri pada gusi bengkak. Cobalah memberikan pure buah yang didinginkan di kulkas, yogurt bayi, atau buah potong yang sedikit dingin.
4. Tingkatkan Kualitas Rasa dan Lemak Tambahan (Double Protein)
Bayi juga butuh rasa makanan yang gurih dan enak. Jangan ragu untuk menambahkan lemak tambahan aromatik seperti mentega (butter), minyak zaitun (Evoo), santan, atau kaldu tulang sapi/ayam ke dalam MPASI-nya. Selain menambah kalori untuk mengejar berat badan, lemak tambahan membuat aroma makanan jauh lebih menggugah selera.
Kapan Harus ke Dokter?
GTM yang berlangsung selama 1-2 hari mungkin hanya respons sementara terhadap kelelahan atau sakit ringan. Namun, kamu harus lebih waspada jika penolakan makan terjadi terus-menerus hingga lebih dari 1 minggu, disertai dengan berat badan yang menurun atau stagnan (garis pertumbuhan di KMS mendatar atau turun), bayi tampak sangat lemas, frekuensi buang air kecil menurun (tanda dehidrasi), atau muntah berlebihan.
Jika gejala-gejala atau keluhan kesehatan di atas muncul, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Dokter akan mengevaluasi kemungkinan adanya infeksi tersembunyi (seperti Infeksi Saluran Kemih atau radang telinga), anemia, maupun alergi makanan tertentu yang menyebabkan bayi enggan makan.
Dalam beberapa kasus, setelah melakukan diagnosis, dokter spesialis anak mungkin akan meresepkan suplemen zat besi, zinc, atau multivitamin khusus untuk membantu memperbaiki metabolisme dan meningkatkan selera makan bayi. Jika dokter memberikan resep tersebut atau kamu butuh suplemen pendukung lainnya, kamu bisa beli vitamin anak secara online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah, sehingga kamu tidak perlu repot meninggalkan si Kecil yang sedang rewel untuk pergi ke apotek.
Studi Mengenai Praktik Pemberian Makan Responsif
Journal of Nutrition menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa penerapan pola makan yang responsif (responsive feeding) secara signifikan dapat mengurangi risiko masalah makan pada balita dan mendukung kenaikan berat badan yang sehat.
Studi ini menekankan bahwa orang tua yang merespons isyarat lapar dan kenyang anak dengan tepat, serta tidak menggunakan metode paksaan atau iming-iming hadiah untuk menghabiskan makanan, terbukti memiliki anak dengan pola regulasi energi yang lebih baik. Anak-anak tersebut lebih jarang mengalami GTM kronis dibandingkan mereka yang tumbuh di lingkungan pemberian makan yang kaku dan menekan.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Sebagai penutup, merawat bayi 10 bulan yang sedang mogok makan memang menguji kesabaran. Tetaplah tenang, ciptakan suasana yang menyenangkan, dan terus tawarkan ragam nutrisi sehat. Pemenuhan kebutuhan si Kecil bisa dilakukan dengan lebih praktis melalui layanan Halodoc.
Referensi:
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Guiding principles for complementary feeding of the breastfed child.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Picky eating in children: What to do.
PubMed/NCBI. Diakses pada 2024. Responsive Feeding is Associated with Improved Child Growth.
FAQ
1. Bolehkah bayi 10 bulan diberikan vitamin penambah nafsu makan?
Pemberian vitamin penambah nafsu makan tidak boleh dilakukan secara sembarangan, terutama untuk bayi di bawah 1 tahun. Sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter anak untuk memastikan apakah bayi kekurangan mikronutrien tertentu (seperti zinc atau zat besi) sebelum memberikan suplemen.
2. Apakah wajar jika bayi 10 bulan hanya mau makan buah?
Buah memang enak dan mudah dikunyah, namun buah saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, dan lemak bayi usia 10 bulan. Jika bayi hanya mau buah, coba campurkan buah favoritnya ke dalam bubur oat atau sebagai topping makanan berprotein agar asupan nutrisinya tetap seimbang.
3. Berapa jam sekali bayi 10 bulan harus makan?
Sesuai panduan IDAI, atur jarak makan bayi setiap 2 hingga 3 jam sekali. Misalnya sarapan pukul 08.00, camilan pagi pukul 10.00, makan siang pukul 12.00, dan seterusnya. Hal ini melatih ritme lapar dan kenyang alami pada perut bayi.
4. Kenapa bayi sering menyemburkan (melepeh) makanannya?
Tindakan melepeh sering kali merupakan cara bayi berkomunikasi bahwa mereka sudah kenyang, tidak menyukai rasa atau teksturnya, atau bisa jadi merupakan fase eksplorasi sensorik. Jangan dimarahi, cukup hentikan sementara proses menyuapi dan coba tawarkan lagi beberapa saat kemudian dengan tekstur yang sedikit berbeda.



