Ad Placeholder Image

Bayi Diare Dikasih Apa? Cegah Dehidrasi Yuk!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   16 April 2026

Bayi Diare Dikasih Apa? ASI/Oralit untuk Cegah Dehidrasi

Bayi Diare Dikasih Apa? Cegah Dehidrasi Yuk!Bayi Diare Dikasih Apa? Cegah Dehidrasi Yuk!

Berikut adalah panduan lengkap mengenai penanganan diare pada bayi, termasuk apa saja yang perlu diberikan dan dihindari, serta kapan harus mencari bantuan medis profesional.

Ketika bayi mengalami diare, langkah paling penting adalah mencegah dehidrasi dengan memastikan asupan cairan yang cukup. Prioritas utama adalah memberikan ASI atau susu formula lebih sering, dan jika diperlukan, oralit khusus bayi sesuai anjuran dokter untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Pemberian makan dapat tetap dilanjutkan jika bayi sudah memulai Makanan Pendamping ASI (MPASI), dengan memilih jenis makanan yang mudah dicerna.

Apa itu Diare pada Bayi?

Diare pada bayi adalah kondisi di mana bayi buang air besar lebih sering dari biasanya, dengan konsistensi tinja yang lebih encer atau cair. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi virus, bakteri, atau intoleransi makanan. Diare yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan dehidrasi, yaitu kondisi kekurangan cairan dalam tubuh, yang bisa berbahaya bagi bayi. Penting bagi orang tua untuk mengetahui cara penanganan yang tepat di rumah dan kapan harus mencari pertolongan medis.

Apa yang Harus Dikasih saat Bayi Diare?

Penanganan utama untuk bayi diare adalah rehidrasi atau penggantian cairan. Jenis cairan dan makanan yang diberikan akan disesuaikan dengan usia bayi.

Untuk Bayi Kurang dari 6 Bulan:
Pada kelompok usia ini, fokus utama adalah asupan cairan.

  • ASI (Air Susu Ibu): Berikan ASI lebih sering. ASI mengandung nutrisi lengkap, antibodi, dan cairan yang sangat penting untuk melawan infeksi dan mencegah dehidrasi.
  • Oralit (Cairan Rehidrasi Oral): Pemberian oralit harus berdasarkan anjuran dokter. Umumnya, oralit diberikan sekitar 50-100 ml setelah setiap kali bayi buang air besar yang cair, atau sesuai dosis yang direkomendasikan dokter anak. Oralit membantu mengganti cairan dan elektrolit (seperti natrium dan kalium) yang hilang akibat diare.

Untuk Bayi Lebih dari 6 Bulan (Sudah MPASI):
Bayi yang sudah memulai MPASI memiliki kebutuhan yang sedikit berbeda, namun rehidrasi tetap menjadi prioritas.

  • ASI atau Susu Formula: Tetap berikan ASI atau susu formula lebih sering dari biasanya. Keduanya adalah sumber cairan dan nutrisi penting.
  • Cairan Rehidrasi Oral (Oralit): Oralit sangat dianjurkan untuk diberikan setelah setiap episode buang air besar cair atau muntah. Dosisnya dapat disesuaikan, sekitar 10 ml per kilogram berat badan bayi setiap kali diare. Sebagai contoh, jika bayi memiliki berat 10 kg, dapat diberikan sekitar 100 ml oralit per episode diare. Namun, selalu ikuti anjuran dosis dari dokter.
  • Makanan: Lanjutkan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan memilih jenis makanan yang lunak dan mudah dicerna. Pilihan makanan yang baik meliputi pisang, bubur nasi, sup, atau kentang tumbuk. Jika bayi sudah terbiasa mengonsumsi makanan padat, makanan probiotik seperti tempe atau yogurt (tanpa pemanis) bisa diberikan untuk membantu menyeimbangkan flora usus.

Tanda-tanda Bayi Diare dan Dehidrasi yang Perlu Diwaspadai

Penting untuk selalu memantau kondisi bayi saat diare, terutama tanda-tanda dehidrasi.

  • Jarang Buang Air Kecil: Popok yang kering lebih lama dari biasanya bisa menjadi indikasi dehidrasi.
  • Mata Cekung: Mata bayi tampak lebih cekung dari biasanya.
  • Lemas atau Lesu: Bayi terlihat kurang aktif, rewel, atau sangat lemas.
  • Mulut dan Bibir Kering: Permukaan mulut dan bibir bayi terasa kering.
  • Tidak Ada Air Mata saat Menangis: Pada bayi yang lebih besar, tidak adanya air mata saat menangis bisa menjadi tanda dehidrasi.

Hal yang Perlu Dilakukan Selain Memberi Makan atau Minum

Selain memastikan asupan cairan dan makanan yang tepat, ada beberapa tindakan lain yang harus dilakukan.

  • Porsi Kecil dan Sering: Berikan cairan atau makanan dalam porsi kecil namun lebih sering. Ini membantu mengurangi beban pada saluran pencernaan bayi dan memastikan penyerapan nutrisi yang lebih baik.
  • Menjaga Kebersihan: Pastikan kebersihan tangan orang tua dan peralatan makan bayi untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut.
  • Konsultasi Dokter: Selalu penting untuk berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, anjuran dosis oralit yang akurat, serta penanganan lebih lanjut jika diare tidak membaik. Dokter akan menilai kondisi bayi secara keseluruhan.

Apa yang Harus Dihindari saat Bayi Diare?

Beberapa jenis makanan atau minuman dapat memperburuk diare pada bayi dan sebaiknya dihindari.

  • Makanan atau Minuman Manis Berlebihan: Hindari jus buah kemasan, soda, atau minuman lain yang mengandung gula tinggi. Gula berlebihan dapat menarik lebih banyak cairan ke usus, memperburuk diare.
  • Makanan Berminyak atau Cepat Saji: Makanan tinggi lemak sulit dicerna dan dapat memicu diare semakin parah.
  • Buah dan Sayuran Pemicu Gas: Beberapa jenis buah dan sayuran seperti brokoli, jagung, atau kacang polong dapat menyebabkan perut kembung dan ketidaknyamanan pada bayi yang sedang diare.

Kapan Harus Segera ke Dokter jika Bayi Diare?

Orang tua perlu segera membawa bayi ke dokter jika ditemukan kondisi berikut:

  • Diare berlangsung lebih dari beberapa hari tanpa perbaikan.
  • Bayi mengalami demam tinggi (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius) atau muntah terus-menerus.
  • Muncul tanda-tanda dehidrasi parah yang disebutkan di atas.
  • Ditemukan darah atau lendir pada tinja bayi.
  • Bayi menunjukkan nyeri perut hebat atau perut kembung.

Penanganan diare pada bayi memerlukan perhatian cermat dan respons cepat untuk mencegah komplikasi serius seperti dehidrasi. Prioritaskan pemberian cairan dan makanan yang tepat sesuai usia bayi, serta selalu pantau tanda-tanda dehidrasi. Jika diare berlanjut atau kondisi bayi memburuk, jangan ragu untuk segera mencari bantuan medis profesional. Untuk informasi lebih lanjut dan konsultasi, dapat menghubungi dokter anak melalui aplikasi Halodoc.