Ad Placeholder Image

Bayi Kuning saat Lahir? Ini Penyebab dan Cara Merawatnya

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Bayi kuning merupakan kondisi di mana kulit dan bagian putih mata mereka tampak menguning.

Bayi Kuning saat Lahir? Ini Penyebab dan Cara MerawatnyaBayi Kuning saat Lahir? Ini Penyebab dan Cara Merawatnya

DAFTAR ISI


Melihat bayi yang baru saja lahir mengalami perubahan warna kulit dan mata menjadi kekuningan tentu bisa membuat kamu merasa khawatir. Kondisi yang dikenal dengan istilah ikterus neonatorum atau penyakit kuning pada bayi baru lahir ini sebenarnya merupakan hal yang sangat umum terjadi. Mayoritas kasus bayi kuning bersifat fisiologis atau normal, dan akan membaik dengan sendirinya seiring dengan menguatnya fungsi organ hati Si Kecil.

Penting bagi kamu untuk menyadari bahwa penanganan dan pemantauan yang tepat di hari-hari pertama kehidupan bayi sangatlah krusial. Pemantauan warna kulit, frekuensi menyusu, hingga perubahan pada kotoran bayi adalah kunci utama untuk memastikan kadar bilirubin dalam tubuhnya berangsur-angsur turun. Ketidaktahuan akan tanda-tanda bahaya justru dapat menunda penanganan yang semestinya segera diberikan.

Namun, kamu tidak perlu panik berlebihan. Dengan asupan ASI yang cukup dan pemantauan rutin dari dokter spesialis anak, kadar bilirubin bayi akan kembali normal. Kamu hanya perlu cermat mengamati setiap perubahan fisik dan perilaku bayi untuk memastikan ia berada di jalur pemulihan yang tepat.

Lantas, apa saja perubahan fisik dan perilaku yang menunjukkan perbaikan? Mengetahui ciri bayi kuning sudah sembuh sangat penting agar kamu bisa lebih tenang dan fokus pada pemenuhan nutrisi bayi. Berikut ini adalah ulasan lengkap mengenai kondisi bayi kuning, proses penyembuhannya, serta tanda-tanda pemulihan yang wajib kamu ketahui!

Memahami Kondisi Bayi Kuning (Ikterus Neonatorum)

Sebelum mengenali ciri-ciri kesembuhannya, ada baiknya kamu memahami terlebih dahulu mengapa bayi bisa menjadi kuning. Bayi kuning terjadi akibat adanya penumpukan bilirubin di dalam darah bayi. Bilirubin adalah zat berwarna kuning yang diproduksi saat sel darah merah dipecah. Pada orang dewasa, organ hati (liver) akan memproses bilirubin ini dan membuangnya melalui usus secara normal.

Namun, pada bayi yang baru lahir, organ hati mereka masih dalam tahap perkembangan dan belum sepenuhnya matang. Akibatnya, hati belum mampu memproses dan membuang bilirubin secepat tubuh memproduksinya. Penumpukan inilah yang kemudian meresap ke dalam jaringan kulit dan bagian putih mata (sklera), sehingga memunculkan warna kekuningan.

Secara umum, terdapat dua jenis ikterus pada bayi yang perlu kamu ketahui, yaitu ikterus fisiologis dan ikterus patologis.

1. Ikterus Fisiologis (Normal)

Ini adalah jenis kuning yang paling sering dialami oleh bayi baru lahir. Biasanya, warna kuning akan mulai terlihat pada hari ke-2 atau ke-3 setelah bayi dilahirkan. Kondisi ini akan mencapai puncaknya pada hari ke-4 hingga ke-5, dan perlahan-lahan menghilang dengan sendirinya pada minggu ke-2 atau ke-3 seiring dengan organ hati bayi yang semakin matang.

2. Ikterus Patologis (Tidak Normal)

Berbeda dengan ikterus fisiologis, ikterus patologis muncul sangat cepat, yaitu dalam 24 jam pertama setelah kelahiran. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh masalah medis lain yang mendasarinya, seperti ketidakcocokan golongan darah antara ibu dan bayi (inkompatibilitas rhesus atau ABO), infeksi berat (sepsis), masalah pada sistem pencernaan, atau kelainan sel darah merah. Jika kuning bertahan lebih dari 3 minggu atau kadar bilirubin meningkat sangat drastis, kondisi ini memerlukan intervensi medis segera seperti fototerapi atau transfusi tukar darah.

Proses Metabolisme Bilirubin pada Bayi Baru Lahir

Untuk lebih menghargai proses pemulihan bayi, penting untuk mengerti bagaimana tubuh mungilnya berjuang mengeluarkan kelebihan bilirubin. Saat bayi masih berada di dalam kandungan, plasenta atau ari-ari bertugas membuang bilirubin dari tubuh janin. Setelah lahir, bayi harus melakukannya sendiri menggunakan organ hatinya.

Sel darah merah pada bayi baru lahir memiliki masa hidup yang lebih pendek dibandingkan dengan orang dewasa, sehingga sel darah merah ini dipecah lebih cepat. Pecahnya sel darah merah menghasilkan bilirubin tidak terkonjugasi (indirect bilirubin) yang sifatnya larut dalam lemak, bukan dalam air. Oleh karena itu, bilirubin ini tidak bisa dibuang melalui urine atau tinja secara langsung.

Bilirubin tersebut harus dibawa ke organ hati untuk diubah menjadi bilirubin terkonjugasi (direct bilirubin) yang sifatnya larut dalam air. Setelah larut dalam air, barulah empedu menyalurkannya ke usus untuk dikeluarkan bersama kotoran (feses) dan sebagian kecil melalui urine. Jika asupan ASI bayi kurang, gerakan usus akan melambat, sehingga bilirubin yang sudah masuk ke usus bisa diserap kembali ke dalam aliran darah, menyebabkan kuning pada bayi menjadi lebih awet.

Faktor Risiko yang Memperbesar Peluang Bayi Kuning
  1. Lahir prematur: Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 38 minggu memiliki organ hati yang jauh lebih tidak matang dibandingkan bayi cukup bulan.
  2. Memar saat persalinan: Memar yang besar menyebabkan sel darah merah yang mati lebih banyak, sehingga memproduksi lebih banyak bilirubin.
  3. Kurang asupan cairan/ASI: Dehidrasi atau kurangnya kalori awal akibat kesulitan menyusu dapat memicu breastfeeding jaundice.
  4. Perbedaan golongan darah: Jika ibu bergolongan darah O dan bayi A atau B, atau jika ada perbedaan Rhesus (ibu negatif, bayi positif), antibodi ibu dapat menyerang sel darah merah bayi.

Ciri Bayi Kuning Sudah Sembuh yang Perlu Diperhatikan

Proses memudarnya warna kuning pada tubuh bayi memiliki pola yang khas. Biasanya, kuning menyebar dari kepala, turun ke dada, perut, lalu ke kaki. Menariknya, saat sembuh, proses memudarnya terjadi dengan arah sebaliknya. Kuning akan hilang dari kaki terlebih dahulu, naik ke perut, dada, dan terakhir hilang di area wajah dan bagian putih mata.

Lalu, bagaimana kita bisa memastikannya? Berikut ini adalah beberapa tanda dan ciri bayi kuning sudah sembuh yang bisa kamu amati secara langsung:

1. Warna Bagian Putih Mata (Sklera) Kembali Jernih

Bagian putih pada mata bayi adalah area yang paling sensitif terhadap perubahan kadar bilirubin. Saat bayi mengalami kuning, sklera ini akan terlihat menguning. Salah satu ciri utama bahwa kadar bilirubin sudah turun adalah bagian putih mata bayi yang perlahan-lahan kembali jernih dan berwarna putih bersih tanpa corak kekuningan.

2. Warna Kulit Mulai Terlihat Merah Muda

Kadar bilirubin yang menurun secara otomatis akan mengembalikan warna asli kulit bayi. Jika kulit bayi sebelumnya tampak kekuningan kusam (terutama jika kamu menekan lembut hidung atau dahinya dengan jari), perlahan kulitnya akan terlihat lebih segar dan memerah alami. Cek area telapak tangan dan telapak kakinya; jika tidak lagi tampak kuning, itu adalah pertanda yang sangat baik.

3. Bayi Lebih Aktif dan Tidak Terlalu Mengantuk (Lethargy)

Kadar bilirubin yang tinggi dapat menembus sawar darah otak dan membuat bayi menjadi sangat lesu atau lethargic. Bayi yang kuningnya sedang tinggi cenderung terus-menerus tidur, susah dibangunkan, dan lemah. Ketika bilirubinnya sudah berkurang dan mencapai ambang normal, bayi akan tampak lebih waspada (alert), aktif bergerak, memiliki tonus otot yang lebih baik, dan mulai bisa terjaga dalam durasi yang normal.

4. Kemampuan Menyusu Semakin Kuat

Terkait dengan poin sebelumnya, keluhan bayi lesu akibat ikterus membuat mereka sering kali malas menyusu atau hisapannya sangat lemah. Ciri kesembuhan yang sangat jelas adalah ketika refleks hisap bayi menjadi semakin kuat, durasi menyusunya lebih lama, dan ia tampak lebih rakus (memiliki nafsu makan yang baik). Ini juga akan menciptakan siklus positif: semakin banyak ia menyusu, semakin cepat sisa bilirubin dikeluarkan dari ususnya.

5. Perubahan Warna pada Kotoran (Feses) Bayi

Observasi popok bayi adalah cara terbaik untuk memantau kesehatannya. Bayi baru lahir akan mengeluarkan kotoran pertama yang disebut mekonium, yang berwarna hitam kehijauan dan sangat lengket. Seiring asupan ASI yang masuk, kotoran akan berubah warna menjadi kuning terang atau kuning mustard dengan tekstur agak berbiji (seedy). Feses yang berwarna kuning menandakan bahwa bilirubin sedang diekskresikan (dibuang) melalui usus secara optimal.

6. Warna Urine Menjadi Lebih Pucat atau Bening

Pada saat kadar bilirubin tinggi dan organ hati bekerja keras, urine bayi bisa terlihat berwarna kuning pekat atau bahkan kecokelatan. Namun, ketika kondisi ikterus bayi telah membaik dan bayi sudah terhidrasi dengan cukup melalui ASI atau susu formula, urinenya akan berubah menjadi kuning sangat pucat atau jernih. Selain itu, frekuensi buang air kecilnya pun akan meningkat, setidaknya mencapai 6 kali atau lebih dalam sehari (24 jam).

Cara Merawat Bayi Kuning di Rumah

Sebagian besar bayi kuning dengan kategori ringan bisa dirawat di rumah tanpa perlu perawatan intensif seperti fototerapi di rumah sakit. Namun, perawatannya harus dilakukan dengan konsisten dan tepat. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa kamu terapkan:

1. Tingkatkan Frekuensi Menyusui

Ini adalah langkah paling krusial. ASI bekerja sebagai pencahar alami bagi bayi. Kandungan kolostrum pada ASI di hari-hari pertama kelahiran sangat membantu pergerakan usus bayi, sehingga bilirubin yang menumpuk dapat segera dikeluarkan melalui kotoran. Susui bayi kamu sesering mungkin, idealnya 8 hingga 12 kali dalam waktu 24 jam. Jika bayi tidur terlalu lama, jangan ragu untuk membangunkannya setiap 2 atau 3 jam sekali agar ia tetap mendapat asupan ASI yang cukup.

2. Perhatikan Pelekatan (Latch-on) saat Menyusui

Menyusui sering saja tidak cukup jika pelekatan bayi pada payudara ibu belum tepat. Pelekatan yang buruk membuat ASI tidak keluar secara maksimal, sehingga bayi tidak mendapatkan cukup nutrisi dan cairan meskipun durasi menyusunya lama. Pastikan mulut bayi terbuka lebar dan areola (bagian gelap di sekitar puting) masuk sebagian besar ke dalam mulut bayi. Jika kamu mengalami kesulitan, jangan segan untuk berkonsultasi dengan konselor laktasi.

3. Berjemur di Bawah Sinar Matahari (Dengan Catatan Khusus)

Di Indonesia, menjemur bayi di pagi hari sudah menjadi tradisi turun-temurun untuk mengatasi kuning. Terpapar sinar matahari pagi yang mengandung spektrum biru memang dapat membantu memecah bilirubin di kulit agar mudah dibuang melalui urine. Namun, dokter anak saat ini sangat berhati-hati dalam merekomendasikan hal ini karena risiko paparan sinar ultraviolet (UV) yang dapat membakar kulit sensitif bayi. Jika disarankan dokter, jemurlah bayi di dalam ruangan melalui kaca jendela yang terkena sinar matahari pagi (sekitar pukul 07.00 – 08.00) dengan durasi singkat, maksimal 10-15 menit saja.

4. Pertimbangkan Tambahan Nutrisi jika Diperlukan

Dalam beberapa kasus khusus di mana produksi ASI ibu belum lancar atau berat badan bayi turun secara drastis, dokter anak mungkin akan merekomendasikan penambahan ASI perah donor atau susu formula untuk sementara waktu. Tujuannya adalah untuk mencegah dehidrasi parah yang dapat memperburuk kondisi ikterus. Keputusan ini mutlak harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bukan keputusan sepihak dari orang tua.

Kapan Harus Menghubungi Dokter?

Meski sebagian besar kasus kuning bisa membaik seiring waktu, ada kondisi-kondisi tertentu di mana kadar bilirubin melonjak tinggi hingga berisiko merusak otak (kondisi yang disebut kernikterus). Kamu harus segera membawa bayi ke fasilitas kesehatan atau dokter spesialis anak jika mendapati tanda-tanda berikut ini:

1. Kuning Menyebar dengan Sangat Cepat

Jika warna kuning terlihat menutupi seluruh tubuh mulai dari kepala, perut, hingga meluas ke area lutut atau bahkan telapak kaki dalam waktu kurang dari 24 jam setelah ia dilahirkan, ini adalah sinyal bahaya (red flag). Kuning yang timbul di hari pertama kehidupan hampir selalu merupakan pertanda adanya kondisi medis yang serius.

2. Perubahan Perilaku yang Mengkhawatirkan

Bayi yang tampak sangat lemas, sama sekali tidak merespon saat dibangunkan, tidak mau menyusu sama sekali, memiliki tatapan mata yang kosong, atau menangis dengan nada yang sangat melengking (high-pitched cry). Tangisan melengking ini sering dikaitkan dengan adanya masalah pada sistem saraf pusat akibat kadar bilirubin yang terlampau tinggi.

3. Tubuh Bayi Kaku atau Melengkung

Jika otot-otot bayi tampak sangat kaku, punggung atau lehernya melengkung ke belakang seperti busur (opisthotonos), ini adalah tanda kedaruratan medis yang mengindikasikan bahwa bilirubin sudah mulai meracuni saraf otak bayi. Segera bawa bayi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).

4. Kuning Tidak Memudar Setelah Tiga Minggu

Pada bayi lahir cukup bulan, penyakit kuning fisiologis seharusnya sudah memudar sepenuhnya di minggu kedua atau maksimal minggu ketiga. Jika hingga usia satu bulan lebih bayi masih terlihat kuning cerah, ini bisa menjadi tanda adanya masalah pada kelenjar tiroid, infeksi saluran kemih, atau penyumbatan saluran empedu (atresia bilier) yang membutuhkan tindakan segera.

Studi Terkait Mengenai Ikterus Neonatorum

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan sebuah studi komprehensif mengenai efektivitas fototerapi dan pentingnya asupan nutrisi dini dalam penanganan ikterus neonatorum. Studi tersebut menjelaskan bahwa bayi baru lahir yang disusui secara eksklusif dengan frekuensi tinggi di hari-hari pertama kehidupan (lebih dari 8 kali sehari) memiliki persentase puncak bilirubin yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan bayi yang frekuensi menyusunya rendah.

Lebih lanjut, temuan studi ini juga menggarisbawahi pentingnya peran kolostrum. Kolostrum yang kaya antibodi juga berfungsi memfasilitasi percepatan ekskresi mekonium. Keterlambatan pengeluaran mekonium dalam 24 jam pertama akan meningkatkan reabsorpsi bilirubin kembali ke aliran darah usus (siklus enterohepatik). Hal ini menegaskan kembali secara ilmiah bahwa cara terbaik untuk menyembuhkan penyakit kuning fisiologis secara natural adalah dengan menjaga asupan cairan dan nutrisi bayi tanpa henti.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Penting untuk selalu memantau tumbuh kembang anak secara berkala, ya. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis anak terkait masalah kesehatan bayi yang sedang dialami melalui Halodoc kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Maternal, newborn, child and adolescent health: Newborn care.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Infant jaundice – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Jaundice in Newborns: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Air Susu Ibu dan Ikterus.
National Institutes of Health (PubMed). Diakses pada 2024. Neonatal Jaundice and Breastfeeding.

FAQ

1. Apakah menjemur bayi cukup untuk menyembuhkan penyakit kuning?

Menjemur bayi di bawah sinar matahari hanya dapat membantu sedikit memecah bilirubin di permukaan kulit. Namun, hal ini bukanlah terapi utama dan tidak efektif untuk mengobati kuning dengan kadar bilirubin tinggi. Terapi utama yang jauh lebih efektif adalah meningkatkan frekuensi pemberian ASI agar bilirubin cepat keluar lewat feses, atau melakukan prosedur medis fototerapi (terapi sinar biru) di rumah sakit bila direkomendasikan dokter.

2. Berapa lama rata-rata penyakit kuning pada bayi baru lahir akan hilang?

Pada bayi yang lahir dengan cukup bulan (aterm), ikterus fisiologis yang normal biasanya akan mencapai puncaknya di hari ketiga hingga kelima, lalu perlahan mulai memudar dan akan hilang sepenuhnya dalam waktu 1 hingga 2 minggu. Pada bayi yang lahir secara prematur atau yang mengandalkan ASI eksklusif secara lambat di awal kelahirannya (breastfeeding jaundice), proses ini bisa memakan waktu sedikit lebih lama, terkadang bisa mencapai tiga minggu.

3. Apakah saya perlu menghentikan pemberian ASI jika bayi saya kuning?

Tidak disarankan. Menghentikan ASI justru bisa membuat bayi dehidrasi dan memperburuk penumpukan bilirubin di tubuhnya. Ada kondisi langka bernama breast milk jaundice di mana zat tertentu dalam ASI ibu menyebabkan kuning bertahan lebih lama, namun hal ini tidak berbahaya. Dokter biasanya tetap akan menyarankan ibu untuk melanjutkan pemberian ASI sambil terus memantau kadar bilirubin bayi secara berkala.

4. Bagaimana cara mudah mengecek kulit bayi kuning di rumah?

Kamu dapat melakukan pengecekan visual dengan langkah sederhana. Bawa bayi kamu ke ruangan yang memiliki pencahayaan alami yang baik, idealnya dekat jendela. Tekan dengan sangat lembut area dahi atau ujung hidung bayi menggunakan jari telunjuk selama beberapa detik, lalu lepaskan. Jika kulit di area yang ditekan itu terlihat kuning sebelum warnanya kembali ke warna asli kulit bayi, kemungkinan besar bayi kamu mengalami ikterus derajat ringan hingga sedang.