• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bayi Rentan Alami Infeksi Saluran Kemih, Ini Penyebabnya

Bayi Rentan Alami Infeksi Saluran Kemih, Ini Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Bayi dan anak-anak di bawah usia 2 tahun rentan mengalami infeksi saluran kemih. Hampir semua infeksi saluran kemih yang terjadi pada anak-anak disebabkan oleh bakteri yang memasuki lubang uretra (tabung yang mengalirkan urine dari kandung kemih ke luar tubuh) sampai ke kandung kemih bahkan juga mengenai ginjal. 

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Cincinnati Children's Hospital Medical Center, disebutkan kalau kebersihan dan sering memainkan alat kelamin menjadi pemicu infeksi saluran kemih. Informasi selengkapnya ada bawah ini!

Infeksi Saluran Kemih pada Anak

Tadi sudah disinggung bagaimana faktor kebersihan memengaruhi kerentanan anak mengalami infeksi saluran kemih. Salah satunya adalah tidak mengganti pakaian dalam yang basah atau tidak mengelap area genital dengan benar.

Anak-anak juga cenderung untuk memegang atau memainkan alat kelaminnya, sering sembelit atau diare, memiliki semacam penyumbatan di saluran kemih yang membatasi, atau menghentikan aliran urine juga menjadi penyebabnya.

Baca juga: Cara Mengobati Infeksi Saluran Kemih Sampai Tuntas

Iritasi di area tempat urine keluar yang disebabkan oleh mandi busa, sabun mandi atau pakaian yang ketat, serta kondisi yang disebut refluks vesikoureteral (VUR), di mana urine mengalir mundur dari kandung kemih dan menuju ginjal adalah penyebab-penyebab lainnya. 

Apa yang harus dilakukan orangtua ketika anak atau bayi mengalami infeksi saluran kemih? Berikut ini beberapa rekomendasi yang perlu dilakukan:

  1. Berikan anak obat yang diresepkan dokter untuk infeksinya. Jangan menghentikan obat, bahkan jika anak merasa lebih baik.
  2. Bantu anak untuk mengonsumsi cairan secukupnya. Jadi, anak bisa terus buang air kecil secara teratur, setiap dua hingga tiga jam demi membantu membersihkan saluran berkemihnya. 
  3. Beri tahu dokter jika ada gejala demam, nyeri, atau lainnya pada anak setelah minum obat selama dua hari.
  4. Jika anak kesakitan atau demam, berikan obat hanya sesuai anjuran dokter. Jangan berikan aspirin kepada anak-anak.
  5. Jangan biarkan anak duduk di air mandi yang mengandung mandi busa, sampo atau sabun, karena ini dapat menyebabkan iritasi. Jika anak mandi, minta mereka duduk di air bersih. 

Butuh informasi lebih lengkap mengenai cara mengatasi infeksi saluran kemih pada anak, bisa ibu tanyakan langsung di HalodocDokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk orangtua. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orangtua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Mengenal Infeksi Saluran Kemih pada Anak

Infeksi saluran kemih ada beberapa jenis, tetapi yang paling sering dialami anak adalah jenis sistitis. Kondisi ini terjadi ketika infeksi berapa pada area uretra atau kandung kemih. Seorang anak yang mengalami sistitis dapat memiliki gejala:

  1. Demam (ini mungkin satu-satunya gejala pada bayi).
  2. Bersikap rewel (umum pada bayi).
  3. Muntah (umum terjadi pada bayi atau anak yang lebih besar).
  4. Hanya mengeluarkan sedikit urine (lebih sering terjadi pada anak yang lebih besar).
  5. Buang air kecil tanpa terkendali.
  6. Sensasi nyeri atau terbakar saat buang air kecil (lebih sering terjadi pada anak yang lebih besar).
  7. Memiliki sakit perut bagian bawah atau punggung.
  8. Darah pada urine.

Baca juga: Aroma Tak Sedap di Kelamin, Tanda Terkena ISK?

Jenis infeksi saluran kemih lainnya adalah pielonefritis, yang merupakan infeksi yang terjadi pada ginjal. Pielonefritis kadang-kadang dapat diobati di rumah, tetapi dalam beberapa kasus dapat menjadi serius, bahkan mengancam jiwa. Seorang anak yang mengalami pielonefritis mungkin memiliki:

  1. Demam tinggi.
  2. Gejala mirip flu seperti gemetar, kedinginan, mual, muntah, atau pegal-pegal.
  3. Nyeri di perut, punggung, samping atau pangkal paha.
  4. Rasa sakit atau perasaan terbakar saat buang air kecil.
  5. Urine yang keruh, merah, berbau busuk atau berubah menjadi warna cola gelap.
  6. Nanah atau darah dalam urine.
  7. Desakan sering buang air kecil.

Referensi:
Cincinnati Children's Hospital Medical Center. Diakses pada 2020. Urinary Tract Infections (UTIs).
MSD Manual Consumer Version. Diakses pada 2020. Urinary Tract Infection (UTI) in Children.