• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah PTSD Bisa Disebabkan karena Trauma Perceraian?

Benarkah PTSD Bisa Disebabkan karena Trauma Perceraian?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Berpisah dengan pasangan merupakan momen tersulit dalam hidup seseorang dan menjadi momok yang mengerikan. Perceraian misalnya, peristiwa traumatis ini dapat memicu munculnya risiko gangguan psikologis, seperti stres yang berkepanjangan. Bahkan, berpisah dengan pasangan menjadi salah satu faktor stres terbesar dalam hidup seseorang.

Apalagi, jika perpisahan yang terjadi dilatarbelakangi oleh serangkaian peristiwa traumatis, hal tersebut bisa sama membuat perceraian berujung pada gangguan mental yang dikenal dengan sebutan PTSDS atau Post-Traumatic Stress Divorce Syndrome. Berikut fakta dan ulasan selengkapnya mengapa bercerai sebabkan PTSD!

Baca juga: Benarkah PTSD Sebabkan Gangguan pada Tumbuh Kembang Anak?

Ini Alasan Mengapa Bercerai Sebabkan PTSD

PTSD atau Post-Traumatic Stress Divorce Syndrome merupakan sebuah kecemasan dan kegelisahan akut yang disebabkan oleh trauma psikologis yang mendalam. Salah satu peristiwa yang bisa menyebabkan kondisi ini adalah perceraian. Suatu peristiwa traumatik bisa dikatakan PTSD jika peristiwa tersebut mengancam jiwa atau keselamatan tubuh.

Saat memilih untuk bercerai lantaran peristiwa traumatik yang dijalani, atau bahkan perceraian tersebut yang akan menyebabkan peristiwa traumatik, keduanya akan memicu kemiripan gejala PTSD. Artinya, mereka yang memilih jalan untuk bercerai dapat mengalami gejala yang serupa dengan mereka yang pernah mengalami peristiwa traumatik, seperti pertempuran, bencana alam, pemerkosaan, atau peristiwa lain yang dapat mengancam jiwa.

Sembuh dari PTSD bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Untuk mengatasinya, silahkan temui psikolog atau psikiater di rumah sakit terdekat untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk membuat diri sendiri menjadi lebih baik. Jangan lupa untuk selalu fokus pada hal-hal yang membuatmu bahagia. Lakukan hal-hal positif yang disukai, saat dulu dilarang oleh pasangan.

Baca juga: Gejala yang Terlihat saat Anak Mengalami PTSD

Sejumlah Gejala PTSD yang Perlu Diwaspadai

Seperti pada penjelasan sebelumnya, gejala PTSD muncul setelah seseorang mengalami peristiwa yang membuatnya merasa trauma. Waktu kemunculannya sendiri bisa dalam beberapa bulan atau beberapa tahun, dalam intensitas keparahan dan gejala yang berbeda. Beberapa gejala PTSD umumnya akan ditandai dengan:

1.Mengingat Peristiwa Traumatis

Pengidap Post-Traumatic Stress Divorce Syndrome sering kali teringat pada peristiwa yang tidak mengenakkan tersebut. Bahkan, mereka bisa merasa seakan mengulang kembali kejadian tersebut.

2.Sering Mengelak

Gejala PTSD selanjutnya ditandai dengan seringnya mereka mengelak saat memikirkan atau membicarakan peristiwa yang membuatnya trauma. Hal tersebut ditandai dengan menghindari tempat, aktivitas, atau bahkan seseorang yang terkait kejadian traumatis tersebut.

3.Pemikiran dan Perasaan negatif

Pemikiran dan perasaan negatif merupakan gejala PTSD selanjutnya. Pengidap Post-Traumatic Stress Divorce Syndrome cenderung akan menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Bukan itu saja, pengidap cenderung akan kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukainya serta merasa putus asa.

4.Perubahan Emosi dan Perilaku

Pengidap Post-Traumatic Stress Divorce Syndrome akan mudah merasa takut atau marah meski tidak dipicu oleh ingatan pada peristiwa traumatis yang dialami. Perubahan perilaku tersebut bisa membahayakan dirinya, bahkan orang-orang di sekitarnya. Pengidap juga akan mengalami gangguan tidur dan kesulitan dalam berkonsentrasi.

Post-Traumatic Stress Divorce Syndrome yang terjadi pada orang dewasa akan berbeda dengan anak-anak. Saat terjadi pada anak-anak, ada gejala khusus yang tampak, yaitu mereka mengulangi peristiwa traumatis melalui permainan. Selain itu, anak akan cenderung mengalami mimpi buruk yang terkait atau bahkan tidak terkait dengan kejadian yang dialami.

Baca juga: Trauma Bencana Bisa Sebabkan PTSD jika Tidak Diatasi

Diskusikan dengan psikolog atau psikiater jika muncul ingatan terhadap peristiwa traumatis yang mengganggu aktivitas, terutama jika hal tersebut berlangsung selama 1 bulan atau lebih. Jangan biarkan kondisi ini berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menyakiti diri sendiri, bahkan sampai muncul dorongan untuk mengakhiri hidup.

Referensi:
Very Well Mind. Diakses pada 2020. Post-Divorce Trauma and PTSD.
National Health Service. Diakses pada 2020. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
National Institute of Mental Health. Diakses pada 2020. Post-Traumatic Stress Disorder.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).