Benjolan di Areola: Bisa Normal, Kapan Periksa Dokter?

Benjolan di Areola: Penyebab dan Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Benjolan di areola, area gelap di sekitar puting payudara, seringkali menimbulkan kekhawatiran. Padahal, benjolan tersebut bisa bersifat normal dan tidak berbahaya. Namun, tidak jarang pula benjolan di areola mengindikasikan kondisi medis yang memerlukan perhatian serius. Pemahaman mengenai penyebab dan gejala penyertanya sangat penting untuk menentukan langkah selanjutnya.
Apa Itu Benjolan di Areola?
Benjolan di areola merujuk pada adanya massa atau tonjolan yang teraba di sekitar puting. Ukuran, konsistensi, dan gejala yang menyertai benjolan ini bisa bervariasi. Benjolan ini bisa muncul pada siapa saja, baik pria maupun wanita, dan pada berbagai usia.
Penyebab Benjolan di Areola
Penyebab benjolan di areola sangat beragam, mulai dari kondisi yang normal hingga yang memerlukan penanganan medis. Berikut adalah beberapa penyebab umum:
Penyebab Umum (Seringkali Normal):
- Kelenjar Montgomery: Ini adalah benjolan kecil yang mirip jerawat di areola. Kelenjar ini secara alami ada dan berfungsi mengeluarkan minyak untuk melumasi puting. Kelenjar Montgomery dapat membesar dan lebih terlihat saat kehamilan, menyusui, atau saat dingin. Kondisi ini normal dan tidak berbahaya.
Penyebab Lain yang Memerlukan Perhatian:
- Infeksi:
- Folikulitis/Bisul: Terjadi akibat infeksi pada folikel rambut di areola. Biasanya terasa nyeri, merah, dan bisa berisi nanah.
- Abses: Kumpulan nanah yang terbentuk di bawah kulit akibat infeksi bakteri. Abses terasa hangat, nyeri, dan bengkak.
- Mastitis: Infeksi pada jaringan payudara yang sering terjadi pada wanita menyusui. Gejalanya meliputi nyeri, kemerahan, bengkak, dan terasa hangat.
- Kista: Kantung berisi cairan yang dapat terbentuk di bawah kulit areola. Kista bisa terasa lunak atau agak padat saat diraba.
- Perubahan Fibrokistik: Kondisi umum yang dipengaruhi oleh fluktuasi hormon, menyebabkan payudara terasa lebih padat, nyeri, dan kadang muncul benjolan atau kista.
- Tumor Jinak:
- Fibroadenoma: Tumor non-kanker yang umumnya bergerak saat diraba dan memiliki tekstur padat, kenyal, atau keras.
- Papiloma Intraduktal: Pertumbuhan jinak di saluran susu, kadang menyebabkan keluarnya cairan dari puting.
- Kondisi Serius:
- Penyakit Paget pada Payudara: Bentuk langka kanker payudara yang memengaruhi kulit areola dan puting. Gejalanya meliputi kemerahan, gatal, bersisik, dan perubahan kulit mirip eksim.
- Kanker Payudara: Meskipun jarang, benjolan di areola bisa menjadi tanda kanker payudara. Benjolan kanker biasanya terasa keras, tidak bergerak, dan mungkin memiliki batas yang tidak beraturan.
Gejala yang Memerlukan Pemeriksaan Dokter
Meskipun beberapa benjolan di areola normal, ada tanda-tanda tertentu yang harus segera dievaluasi oleh dokter. Segera cari pertolongan medis jika benjolan di areola disertai dengan gejala berikut:
- Benjolan terasa nyeri yang tidak kunjung hilang.
- Kulit di sekitar benjolan tampak merah atau mengalami perubahan warna.
- Area benjolan terasa hangat saat disentuh.
- Benjolan membengkak dan terus membesar.
- Keluar cairan abnormal atau nanah dari puting.
- Benjolan memiliki batas yang tidak jelas dan teraba keras.
- Perubahan bentuk atau tekstur kulit areola/puting, seperti mengerut atau tertarik ke dalam.
- Pembesaran kelenjar getah bening di ketiak.
Pengobatan Benjolan di Areola
Pengobatan benjolan di areola sangat tergantung pada penyebabnya. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin merekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti USG payudara, mammografi, atau biopsi untuk menegakkan diagnosis. Setelah penyebab diketahui, dokter akan menentukan penanganan yang sesuai, yang bisa berupa:
- Pemberian antibiotik untuk infeksi.
- Drainase abses.
- Pengawasan berkala untuk kista atau fibroadenoma yang tidak berbahaya.
- Tindakan bedah untuk mengangkat tumor jinak atau ganas.
Pencegahan
Beberapa langkah pencegahan umum yang dapat dilakukan meliputi:
- Menjaga kebersihan area payudara.
- Mengenakan bra yang nyaman dan tidak terlalu ketat.
- Melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara rutin untuk mendeteksi perubahan sejak dini.
- Menjalani pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) secara berkala sesuai anjuran dokter.
- Menerapkan gaya hidup sehat, termasuk pola makan seimbang dan olahraga teratur.
Kapan Harus ke Dokter?
Penting untuk diingat bahwa setiap benjolan baru di area payudara atau areola harus dievaluasi oleh dokter. Mendapatkan diagnosis dini adalah kunci untuk penanganan yang efektif, terutama jika benjolan tersebut merupakan tanda dari kondisi serius. Jangan menunda pemeriksaan jika mengalami gejala yang mencurigakan.
Untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat terkait benjolan di areola, segera konsultasikan dengan dokter ahli di Halodoc. Dokter dapat memberikan penjelasan detail dan rekomendasi medis berdasarkan kondisi kesehatan.



