Ad Placeholder Image

Berapa Denyut Nadi Normal Lansia? Yuk Cek!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 18 Juni 2026

Denyut Nadi Normal Lansia: Angka Sehat dan Waspada!

Berapa Denyut Nadi Normal Lansia? Yuk Cek!Berapa Denyut Nadi Normal Lansia? Yuk Cek!

DAFTAR ISI


Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami berbagai perubahan fisiologis yang signifikan. Salah satu sistem organ yang paling merasakan dampak penuaan adalah sistem kardiovaskular atau jantung dan pembuluh darah. Otot jantung mungkin menjadi lebih kaku, dan sistem kelistrikan jantung yang mengatur detak jantung juga bisa mengalami penurunan fungsi. Oleh karena itu, memantau tanda-tanda vital seperti denyut nadi menjadi sangat penting bagi kelompok lanjut usia (lansia).

Denyut nadi atau heart rate adalah indikator langsung dari seberapa keras jantung bekerja untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Memeriksa denyut nadi secara berkala adalah langkah deteksi dini yang paling mudah dilakukan di rumah. Apabila detak jantung terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan, ini bisa menjadi sinyal awal adanya masalah kesehatan yang memerlukan intervensi medis, seperti gangguan irama jantung (aritmia) atau masalah pada katup jantung.

Sebagai panduan untuk memastikan kesehatan kardiovaskular orang tua atau kakek-nenek di rumah, penting bagi kita untuk mengetahui parameter yang tepat. Jika kamu memiliki kekhawatiran tentang nadi normal pada lansia beserta gejala penyertanya seperti pusing atau sesak napas, jangan ragu untuk segera menghubungi dokter. Penanganan yang cepat dapat mencegah komplikasi yang lebih serius seperti stroke atau gagal jantung.

Nah, mau tahu apa saja hal-hal penting seputar denyut nadi pada lansia, nilai normalnya, serta faktor apa saja yang bisa memengaruhinya? Berikut ulasan medis selengkapnya!

Berapa Denyut Nadi Normal pada Lansia?

Secara umum, detak jantung istirahat (resting heart rate) pada orang dewasa yang sehat berkisar antara 60 hingga 100 detak per menit (BPM – beats per minute). Angka ini pada dasarnya juga berlaku untuk kelompok lansia (berusia 60 tahun ke atas). Namun, seiring bertambahnya usia, sangat wajar jika denyut nadi istirahat lansia cenderung berada di batas bawah normal, yaitu sekitar 60 hingga 80 BPM.

Hal ini terjadi karena nodus sinoatrial (SA node) yang berfungsi sebagai “alat pacu jantung” alami tubuh mulai kehilangan sebagian selnya. Akibatnya, impuls listrik yang mengatur ritme jantung menjadi sedikit lebih lambat. Selain itu, detak jantung maksimal (detak jantung saat beraktivitas berat) pada lansia juga akan menurun. Cara sederhana menghitung detak jantung maksimal adalah dengan rumus 220 dikurangi usia. Jadi, untuk lansia berusia 70 tahun, detak jantung maksimalnya adalah sekitar 150 BPM.

Faktor yang Memengaruhi Denyut Nadi Lansia

Denyut nadi lansia bersifat fluktuatif dan bisa berubah-ubah sepanjang hari. Berikut adalah beberapa faktor utama yang dapat memengaruhinya:

1. Tingkat Aktivitas Fisik

Saat lansia berjalan, naik tangga, atau melakukan pekerjaan rumah, otot membutuhkan lebih banyak oksigen. Otomatis, jantung akan berdetak lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada lansia yang rutin berolahraga ringan, detak jantung istirahat mereka biasanya lebih rendah dan stabil karena otot jantung mereka lebih efisien.

2. Kondisi Emosional dan Stres

Kecemasan, stres, ketakutan, atau bahkan rasa gembira yang berlebihan dapat memicu pelepasan hormon adrenalin. Hormon ini merangsang jantung untuk berdetak lebih cepat. Oleh karena itu, penting bagi lansia untuk mengelola stres demi menjaga kestabilan ritme jantung.

3. Suhu Udara

Saat cuaca sangat panas atau tingkat kelembapan tinggi, jantung harus memompa lebih banyak darah ke permukaan kulit untuk membantu mendinginkan tubuh. Hal ini dapat meningkatkan denyut nadi secara perlahan. Lansia rentan terhadap dehidrasi di cuaca panas, yang juga bisa menyebabkan nadi berdetak lebih cepat namun terasa lemah.

Tips Mengukur Denyut Nadi Lansia di Rumah
  1. Pastikan lansia dalam keadaan istirahat dan rileks selama minimal 10-15 menit sebelum diukur.
  2. Gunakan dua jari (telunjuk dan jari tengah) untuk meraba pembuluh darah arteri di pergelangan tangan bagian dalam (sejajar dengan ibu jari) atau di sisi leher.
  3. Hitung jumlah denyut selama 60 detik penuh. Atau, hitung selama 30 detik lalu kalikan dua. Perhatikan juga apakah iramanya teratur atau “melompat-lompat”.

Memahami Kondisi Denyut Nadi Tidak Normal pada Lansia

Penyimpangan dari angka nadi normal pada lansia harus selalu diwaspadai. Terdapat dua kondisi utama terkait kelainan detak jantung:

1. Bradikardia (Detak Jantung Terlalu Lambat)

Bradikardia didefinisikan sebagai detak jantung istirahat di bawah 60 BPM. Walaupun angka 50-60 BPM bisa dianggap normal pada lansia yang sangat bugar atau sedang tidur pulas, bradikardia bisa berbahaya jika jantung tidak mampu memompa cukup darah kaya oksigen ke otak dan organ tubuh lainnya. Penyebab umumnya pada lansia meliputi sick sinus syndrome (kerusakan pada sistem kelistrikan jantung), ketidakseimbangan elektrolit, atau hipotiroidisme. Gejala yang sering menyertai bradikardia adalah rasa pusing, kelelahan kronis, hingga pingsan (sinkop).

2. Takikardia (Detak Jantung Terlalu Cepat)

Takikardia terjadi saat detak jantung istirahat lebih dari 100 BPM. Pada lansia, bentuk takikardia yang paling sering ditemui dan paling berisiko adalah Fibrilasi Atrium (Atrial Fibrillation / AFib). Pada AFib, serambi jantung bergetar tidak beraturan sehingga darah tidak terpompa sempurna dan berisiko menggumpal. Gumpalan darah ini bisa lepas dan menyumbat pembuluh darah otak, memicu stroke. Selain aritmia, takikardia juga bisa disebabkan oleh demam, anemia, dehidrasi, atau hipertiroidisme.

Pengaruh Obat-obatan Terhadap Nadi Lansia

Sebagai catatan farmakologis, lansia sering kali mengonsumsi berbagai macam obat (polifarmasi) untuk penyakit penyerta. Banyak obat-obatan medis yang secara langsung memengaruhi detak jantung, antara lain:

  • Beta-Blocker (contoh: Bisoprolol, Metoprolol, Propranolol): Obat golongan ini diresepkan untuk hipertensi atau gagal jantung. Cara kerjanya menghambat reseptor beta di jantung, sehingga detak jantung menjadi melambat. Lansia yang minum obat ini sering memiliki nadi istirahat di kisaran 50-60 BPM.
  • Calcium Channel Blockers (contoh: Verapamil, Diltiazem): Digunakan untuk hipertensi dan aritmia, obat ini merelaksasi pembuluh darah dan dapat memperlambat laju detak jantung.
  • Obat Tiroid (contoh: Levothyroxine): Jika dosisnya terlalu tinggi, obat ini dapat menyebabkan tirotoksikosis buatan yang memicu jantung berdebar sangat cepat (takikardia).
  • Digoxin: Obat ini memperkuat kontraksi otot jantung namun memperlambat ritmenya. Toksisitas digoxin pada lansia umum terjadi dan dapat memicu bradikardia parah.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Memiliki denyut nadi sedikit di luar batas normal tidak selalu mengindikasikan keadaan darurat medis, terutama jika tidak disertai keluhan lain. Namun, lansia harus segera mendapatkan penanganan medis apabila denyut nadi yang tidak normal disertai dengan gejala-gejala berikut:

  1. Nyeri atau rasa tertekan di bagian dada, bahu, lengan, atau rahang.
  2. Sesak napas yang muncul secara tiba-tiba, bahkan saat sedang istirahat.
  3. Pusing berputar, pandangan gelap, atau hingga kehilangan kesadaran (pingsan).
  4. Keringat dingin berlebih tanpa sebab yang jelas.
  5. Detak jantung terasa “hilang” sejenak lalu berdebar sangat keras secara terus-menerus.

Studi Terkait Denyut Nadi dan Penuaan

Circulation, jurnal dari American Heart Association, pernah menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa perubahan struktur dan fungsi kelistrikan jantung yang terjadi akibat penuaan secara langsung meningkatkan insiden Fibrilasi Atrium pada pasien geriatri (lansia).

Studi tersebut menegaskan bahwa lansia memiliki peningkatan risiko kekakuan ventrikel dan fibrosis pada jaringan jantung. Hal ini membuat pemantauan nadi secara mandiri menjadi krusial. Denyut nadi yang tidak teratur (irregular) sering kali menjadi satu-satunya tanda awal (asimtomatik) sebelum komplikasi serius seperti stroke iskemik terjadi.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Heart rate: What’s normal?
American Heart Association. Diakses pada 2024. Target Heart Rates Chart.
National Institute on Aging (NIA). Diakses pada 2024. Heart Health and Aging.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Pulse Rate: Normal, Fast, and Slow.
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2024. How age and gender affect your heart rate.

FAQ

1. Apakah bahaya jika nadi lansia di bawah 60 BPM?

Tergantung pada kondisinya. Jika lansia sedang tidur atau rutin berolahraga ringan dan merasa sehat, angka 50-60 BPM bisa jadi normal. Namun, jika nadi di bawah 60 BPM disertai pusing, sesak napas, atau pingsan (bradikardia bergejala), ini adalah kondisi berbahaya yang memerlukan evaluasi dokter segera, sebab mungkin ada masalah kelistrikan jantung atau efek samping obat.

2. Berapa denyut nadi maksimal untuk lansia usia 65 tahun saat beraktivitas?

Untuk mengetahui batas detak jantung maksimal secara umum, rumusnya adalah 220 dikurangi usia. Jadi, untuk lansia usia 65 tahun, nadi maksimalnya adalah sekitar 155 BPM (220 – 65). Saat berolahraga, disarankan lansia hanya mencapai 50-85% dari detak maksimal tersebut, yaitu sekitar 77 hingga 131 BPM.

3. Mengapa detak jantung lansia sering terasa berdebar tidak beraturan?

Seiring bertambahnya usia, otot dan jaringan kelistrikan jantung bisa mengalami kerusakan atau penumpukan jaringan parut (fibrosis). Hal ini membuat impuls listrik penyebarannya terganggu, memicu detak yang “melompat” atau aritmia, yang paling umum pada lansia adalah Fibrilasi Atrium (AFib). Segera cek ke dokter jantung jika ini terjadi.

4. Apakah tekanan darah tinggi memengaruhi denyut nadi lansia?

Secara langsung, tekanan darah tinggi tidak selalu mengubah jumlah denyut nadi per menit secara drastis. Seseorang bisa memiliki hipertensi dengan nadi yang normal. Namun, hipertensi yang dibiarkan kronis akan menebalkan otot jantung dan merusak sistem kelistrikannya dalam jangka panjang, yang pada akhirnya dapat memicu aritmia atau takikardia.