Ad Placeholder Image

Berapa Jumlah Gigi Orang Dewasa? Ini Penjelasannya

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Orang dewasa memiliki gigi sebanyak 32 buah, masing-masing 16 gigi pada rahang bagian atas dan bawah.

Berapa Jumlah Gigi Orang Dewasa? Ini PenjelasannyaBerapa Jumlah Gigi Orang Dewasa? Ini Penjelasannya

DAFTAR ISI


Kesehatan rongga mulut sering kali menjadi cerminan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Salah satu elemen terpenting di dalam rongga mulut kita adalah gigi. Mahkota putih yang tersusun rapi ini tidak hanya berfungsi untuk mengunyah makanan, tetapi juga berperan penting dalam proses pencernaan awal, membentuk struktur wajah, serta membantu kita berbicara dan melafalkan kata-kata dengan jelas dan tepat.

Sayangnya, banyak orang masih belum sepenuhnya memahami anatomi mulut mereka sendiri, termasuk hal yang paling mendasar, yaitu berapa sebenarnya jumlah gigi yang normal. Fakta yang perlu kamu ketahui adalah bahwa jumlah gigi manusia tidaklah statis; ia berubah seiring dengan bertambahnya usia, fase pertumbuhan, dan kondisi klinis tertentu yang mungkin dialami seseorang sepanjang hidupnya.

Pada masa kanak-kanak, kita memiliki set gigi awal yang dikenal sebagai gigi susu, yang kemudian akan tanggal dan digantikan secara bertahap oleh gigi permanen saat kita memasuki usia sekolah hingga remaja. Perbedaan jumlah, ukuran, dan kekuatan antara kedua set gigi ini sangat dipengaruhi oleh kebutuhan anatomis dan fisiologis tubuh di tiap fase kehidupan.

Lantas, berapa pastinya jumlah gigi yang normal pada anak-anak maupun orang dewasa? Serta, apa saja masalah kesehatan yang mungkin timbul jika jumlahnya tidak sesuai? Artikel ini akan mengupas tuntas anatomi gigi, fase pertumbuhannya, hingga cara perawatannya.

Anatomi dan Struktur Dasar Gigi

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai jumlah gigi, penting bagi kamu untuk memahami bahwa gigi bukanlah sekadar tulang biasa yang menempel di rahang. Secara biologis, gigi adalah jaringan keras yang terdiri dari beberapa lapisan kompleks dengan fungsinya masing-masing. Lapisan terluar disebut enamel atau email, yang merupakan substansi paling keras dalam tubuh manusia. Enamel berfungsi melindungi jaringan gigi yang lebih dalam dari kerusakan fisik maupun serangan asam akibat bakteri.

Di bawah enamel terdapat dentin, jaringan yang mengandung tabung-tabung mikroskopis yang mengarah langsung ke pusat saraf gigi. Jika enamel terkikis dan dentin terekspos, kamu akan mulai merasakan ngilu atau gigi sensitif terhadap suhu panas, dingin, atau makanan manis. Lebih dalam lagi, terdapat pulpa, yakni rongga lunak di pusat gigi yang berisi pembuluh darah dan saraf. Pulpa inilah yang memberikan nutrisi pada gigi serta mengirimkan sinyal rasa sakit jika terjadi infeksi atau trauma.

Selain lapisan tersebut, gigi ditopang oleh akar yang tertanam kuat di dalam tulang rahang, serta sementum (jaringan pengikat keras yang menutupi akar) dan ligamen periodontal yang berfungsi sebagai “bantalan” pelindung agar gigi tidak mudah goyah. Mengingat strukturnya yang kompleks, perawatan kebersihan gigi menjadi sangat mutlak agar setiap lapisannya tetap terjaga dari risiko pembusukan atau karies.

Jumlah Gigi Susu pada Anak-anak

Proses pembentukan gigi sebenarnya sudah dimulai sejak bayi masih berada di dalam kandungan, tepatnya pada trimester kedua kehamilan. Namun, mahkota gigi baru akan mulai menembus gusi (erupsi) saat bayi berusia sekitar 6 hingga 12 bulan. Set pertama gigi manusia ini disebut sebagai gigi sulung, gigi desidui, atau yang lebih populer dikenal di masyarakat dengan istilah gigi susu.

Jumlah gigi normal pada anak-anak secara keseluruhan adalah 20 buah. Formasi ini terbagi rata, yaitu 10 buah di rahang atas dan 10 buah di rahang bawah. Susunan gigi susu terdiri dari 8 gigi seri, 4 gigi taring, dan 8 gigi geraham (molar). Perlu diperhatikan bahwa anak-anak tidak memiliki gigi geraham depan (premolar) seperti yang dimiliki oleh orang dewasa.

Urutan pertumbuhan gigi susu umumnya dimulai dari dua gigi seri tengah bawah, diikuti oleh dua gigi seri tengah atas. Seiring berjalannya waktu, gigi seri lateral, gigi geraham pertama, gigi taring, dan terakhir gigi geraham kedua akan tumbuh secara bergantian. Pada usia 3 tahun, sebagian besar anak sudah memiliki jumlah gigi susu yang lengkap yakni 20 buah.

Meski bersifat sementara dan pada akhirnya akan tanggal, menjaga kesehatan gigi susu sangatlah penting. Gigi susu berfungsi sebagai “penunjuk jalan” atau penahan ruang (space maintainer) bagi gigi permanen yang bersembunyi di bawah gusi. Jika gigi susu tanggal terlalu dini akibat karies yang parah, gigi permanen berisiko tumbuh berjejal, miring, atau keluar dari jalur yang seharusnya. Sebagai pertolongan pertama saat anak mulai rewel karena nyeri tumbuh gigi atau sakit gigi ringan, orang tua bisa beli obat pereda nyeri yang aman untuk anak di apotek terpercaya.

Jumlah Gigi Permanen pada Orang Dewasa

Ketika anak menginjak usia sekitar 6 tahun, fase gigi bercampur (mixed dentition) pun dimulai. Gigi susu akan mulai goyah dan tanggal satu per satu, memberi jalan bagi akar dan mahkota gigi permanen untuk muncul ke permukaan gusi. Proses pergantian ini umumnya berlangsung cukup panjang, yakni hingga anak berusia sekitar 12 hingga 13 tahun.

Jumlah gigi permanen pada orang dewasa yang normal dan utuh adalah 32 buah. Pembagiannya adalah 16 buah di lengkung rahang atas dan 16 buah di lengkung rahang bawah. Namun, tidak semua dari ke-32 gigi ini tumbuh di usia remaja. Formasi lengkap 32 gigi ini mencakup 8 gigi seri, 4 gigi taring, 8 gigi geraham depan (premolar), dan 12 gigi geraham belakang (molar).

Hal yang paling sering menjadi keluhan adalah pertumbuhan 4 gigi geraham belakang yang paling ujung, yang dikenal dengan sebutan gigi bungsu (wisdom teeth). Gigi bungsu umumnya baru akan erupsi pada rentang usia 17 hingga 21 tahun, atau bahkan lebih tua. Karena muncul paling akhir, gigi bungsu sering kali tidak mendapatkan ruang yang cukup di rahang, sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat, miring, atau terpendam sebagian di dalam gusi (impaksi).

Kondisi impaksi gigi bungsu ini dapat memicu rasa sakit yang luar biasa, peradangan gusi (perikoronitis), penumpukan sisa makanan yang berujung infeksi, hingga kerusakan pada gigi geraham di sebelahnya. Apabila kamu mengalami rasa sakit berlebih akibat impaksi gigi bungsu, atau mengalami gusi bengkak yang tidak kunjung reda, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter gigi agar segera mendapatkan evaluasi klinis dan penanganan medis yang tepat, seperti tindakan pencabutan atau operasi minor (odontektomi).

Jenis dan Fungsi Masing-Masing Gigi

Dari ke-32 jumlah gigi permanen tersebut, masing-masing memiliki bentuk anatomis yang unik dan fungsi mekanis yang berbeda dalam proses pengunyahan makanan. Berikut adalah penjabarannya:

1. Gigi Seri (Incisors)

Berjumlah 8 buah (4 di atas, 4 di bawah). Gigi seri terletak di bagian paling depan mulut, memiliki tepi yang tajam dan rata seperti pahat. Fungsinya adalah untuk memotong dan menggigit makanan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, seperti saat kamu menggigit buah apel.

2. Gigi Taring (Canines)

Berjumlah 4 buah (2 di atas, 2 di bawah) dan terletak tepat di sebelah gigi seri. Gigi ini memiliki ujung yang runcing dan akar yang paling panjang serta kuat dibandingkan gigi lainnya. Fungsi utama gigi taring adalah untuk merobek dan menahan makanan yang bertekstur liat, seperti daging.

3. Gigi Geraham Depan (Premolars)

Berjumlah 8 buah (4 di atas, 4 di bawah). Gigi premolar memiliki permukaan yang sedikit datar namun memiliki beberapa tonjolan kecil (cusp). Gigi ini berfungsi sebagai transisi antara gigi taring dan geraham belakang, bertugas untuk menghancurkan, meremukkan, dan menggilas makanan yang baru saja dipotong.

4. Gigi Geraham Belakang (Molars)

Berjumlah 12 buah (6 di atas, 6 di bawah, termasuk gigi bungsu). Gigi geraham belakang memiliki bentuk mahkota yang paling besar dan permukaan kunyah yang paling luas dengan banyak tonjolan. Fungsinya sangat vital, yaitu untuk menghaluskan dan menggiling makanan secara maksimal hingga menjadi tekstur lumat yang aman untuk ditelan dan dicerna oleh lambung.

Tips Menjaga Kesehatan dan Kelengkapan Jumlah Gigi
  1. Sikat gigi minimal dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur) menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride untuk memperkuat enamel.
  2. Lakukan flossing (membersihkan sela-sela gigi dengan benang gigi) setiap hari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tidak terjangkau bulu sikat.
  3. Gunakan obat kumur antiseptik sesekali untuk membantu mengurangi populasi bakteri jahat dalam rongga mulut.
  4. Kurangi frekuensi konsumsi makanan dan minuman yang tinggi gula serta asam, karena dapat mempercepat proses demineralisasi dan pembentukan karies (gigi berlubang).
  5. Rutin memeriksakan diri ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk pembersihan karang gigi (scaling) dan deteksi dini masalah kesehatan mulut.

Kelainan pada Jumlah Gigi: Hipodontia dan Hiperdontia

Walaupun patokan jumlah gigi normal adalah 20 untuk anak-anak dan 32 untuk dewasa, dalam dunia medis tidak jarang ditemukan kondisi anomali di mana seseorang memiliki jumlah gigi yang lebih sedikit atau lebih banyak dari angka tersebut. Kelainan ini umumnya bersifat genetik atau bawaan lahir.

1. Hipodontia (Kekurangan Gigi)

Hipodontia adalah kondisi di mana satu atau beberapa benih gigi memang tidak terbentuk sama sekali sejak dalam kandungan, sehingga jumlah gigi seseorang kurang dari normal. Kasus yang paling sering terjadi adalah hilangnya benih gigi bungsu, gigi seri lateral atas, atau gigi premolar kedua. Jika kehilangan terjadi pada lebih dari 6 gigi (di luar gigi bungsu), kondisi ini disebut oligodontia. Kekurangan gigi ini dapat menyebabkan celah antargigi yang renggang dan mempengaruhi bentuk estetika senyum maupun efisiensi mengunyah.

2. Hiperdontia (Kelebihan Gigi)

Sebaliknya, hiperdontia adalah kondisi di mana terdapat gigi tambahan (supernumerary teeth) yang tumbuh di luar jumlah gigi normal. Gigi ekstra ini paling sering tumbuh di lengkung rahang atas, tepatnya di sela-sela antara dua gigi seri tengah atas (disebut mesiodens). Kehadiran gigi berlebih ini dapat mendesak akar gigi permanen yang normal, menyebabkan gigi tumbuh tumpang tindih, berjejal parah, atau bahkan menimbulkan pembentukan kista di dalam tulang rahang. Penanganannya biasanya melibatkan tindakan bedah mulut untuk mencabut gigi yang berlebih tersebut, dilanjutkan dengan perawatan ortodonti (kawat gigi) untuk merapikan kembali susunan rahang.

Studi Terkait Kesehatan Gigi

World Health Organization (WHO) menerbitkan Global Oral Health Status Report pada tahun 2022 yang memperkirakan bahwa hampir 3,5 miliar orang di seluruh dunia menderita penyakit mulut, dengan karies gigi (gigi berlubang) pada gigi permanen menjadi kondisi kesehatan yang paling umum dialami.

Studi ini menegaskan bahwa kehilangan gigi yang tidak ditangani—yang secara langsung mengurangi jumlah gigi yang fungsional—dapat menyebabkan gangguan nutrisi yang parah pada lansia, serta memengaruhi kesejahteraan psikologis akibat penurunan estetika wajah dan kesulitan dalam berkomunikasi sosial secara wajar.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Dental Association (ADA). Diakses pada 2024. MouthHealthy: Tooth Eruption.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Cavities/tooth decay.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Teeth: Anatomy, Types, Function & Care.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Oral health.

FAQ

1. Berapa sebenarnya jumlah gigi normal pada orang dewasa?

Jumlah gigi normal yang utuh pada orang dewasa adalah 32 buah. Susunan ini mencakup 8 gigi seri, 4 gigi taring, 8 gigi geraham depan (premolar), dan 12 gigi geraham belakang (molar), yang sudah termasuk 4 buah gigi bungsu yang tumbuh paling akhir.

2. Apakah wajar jika jumlah gigi saya kurang dari 32?

Ya, kondisi ini sangat wajar. Banyak orang dewasa hanya memiliki 28 gigi karena keempat gigi bungsunya tidak tumbuh akibat impaksi, benih gigi bungsu yang tidak ada (hipodontia), atau karena gigi bungsu telah dicabut melalui prosedur medis akibat menimbulkan rasa sakit dan peradangan.

3. Mengapa jumlah gigi anak-anak dan dewasa berbeda?

Perbedaan jumlah gigi disebabkan oleh perbedaan ukuran tulang rahang pada fase usia tersebut. Rahang balita dan anak-anak masih kecil, sehingga hanya cukup menampung 20 gigi susu. Seiring bertumbuhnya anak, tulang rahang membesar dan memanjang, memberikan ruang yang cukup bagi 32 gigi permanen yang berukuran lebih besar dan lebih kuat untuk tumbuh secara utuh.

4. Apa dampaknya jika seseorang kehilangan beberapa gigi permanen?

Berkurangnya jumlah gigi permanen (misalnya karena terpaksa dicabut akibat karies parah atau benturan keras) dapat menyebabkan gigi di sebelahnya bergeser ke area yang kosong, memicu masalah pada persendian rahang, kesulitan mengunyah secara optimal, serta berisiko menyebabkan pengeroposan tulang rahang jika tidak segera diatasi dengan pemasangan gigi palsu (implan atau denture).