Ad Placeholder Image

Berapa Kali Olahraga Baik dalam Seminggu? Ini Tipsnya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Olahraga Baik: Berapa Kali Seminggu Paling Pas?

Berapa Kali Olahraga Baik dalam Seminggu? Ini Tipsnya!Berapa Kali Olahraga Baik dalam Seminggu? Ini Tipsnya!

DAFTAR ISI


Gaya hidup modern sering kali membuat kita lebih banyak duduk dan kurang bergerak. Mulai dari bekerja di depan komputer selama berjam-jam, rebahan sambil bermain gawai, hingga menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak dekat. Sayangnya, gaya hidup sedenter (kurang gerak) ini merupakan salah satu faktor risiko utama munculnya berbagai penyakit kronis, seperti obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung koroner.

Banyak orang menyadari bahwa mereka perlu lebih banyak bergerak, namun sering kali terbentur oleh kebingungan: sebenarnya, berapa lama minimal olahraga dalam seminggu yang dibutuhkan agar tubuh tetap sehat? Apakah harus berjam-jam di pusat kebugaran (gym) setiap hari, atau cukup dengan berjalan santai di sekitar rumah beberapa kali seminggu?

Faktanya, mendapatkan manfaat kesehatan dari olahraga tidak selalu harus dengan melakukan latihan yang menyiksa fisik. Organisasi kesehatan global telah menetapkan standar yang sangat masuk akal dan bisa dicapai oleh hampir semua kalangan, bahkan di sela-sela kesibukan sekalipun. Mengetahui batasan minimal ini sangat penting agar kamu memiliki target yang realistis, tidak mudah menyerah, dan terhindar dari risiko cedera akibat berolahraga berlebihan (overtraining).

Nah, ingin tahu panduan lengkap mengenai minimal olahraga dalam seminggu, intensitas yang disarankan, hingga tips jitu untuk mulai rutin bergerak? Mari simak ulasan selengkapnya di bawah ini!

Mengapa Rutin Berolahraga Sangat Penting?

Sebelum membahas angka dan durasi, penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saat kita berolahraga secara rutin. Tubuh manusia pada dasarnya dirancang untuk bergerak. Ketika kita memenuhi kebutuhan gerak tersebut, hampir seluruh sistem organ di dalam tubuh akan mengalami peningkatan fungsi secara signifikan.

1. Meningkatkan Kesehatan Kardiovaskular

Jantung adalah otot. Sama seperti otot rangka lainnya, jantung perlu dilatih agar menjadi lebih kuat dan efisien dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Olahraga kardio yang rutin akan menurunkan denyut jantung istirahat (resting heart rate), menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) sekaligus menurunkan kolesterol jahat (LDL). Hal ini secara langsung akan memangkas risiko terkena serangan jantung dan stroke.

2. Memperbaiki Kinerja Metabolisme dan Gula Darah

Aktivitas fisik yang teratur membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Artinya, sel-sel tubuh kamu akan lebih efektif dalam menggunakan gula darah sebagai energi, sehingga kadar gula di dalam darah dapat terkontrol dengan baik. Inilah alasan mengapa olahraga adalah salah satu pilar utama dalam pencegahan maupun pengelolaan penyakit diabetes tipe 2.

3. Menjaga Kesehatan Mental dan Fungsi Kognitif

Pernahkah kamu merasa lebih bahagia setelah berolahraga? Ini bukan sekadar sugesti. Saat berolahraga, tubuh melepaskan hormon endorfin dan serotonin yang bertindak sebagai penghilang rasa sakit alami dan penambah suasana hati. Olahraga juga terbukti dapat menurunkan kadar hormon stres (kortisol), mengurangi gejala depresi dan kecemasan, serta meningkatkan produksi BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) yang sangat penting untuk memori dan kesehatan otak jangka panjang.

4. Memperkuat Tulang, Otot, dan Sendi

Seiring bertambahnya usia, kepadatan tulang dan massa otot secara alami akan menurun. Latihan beban (strength training) sangat krusial untuk mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis) dan menjaga massa otot (sarkopenia). Otot yang kuat juga akan mengurangi beban pada sendi-sendi kamu, sehingga meminimalkan risiko nyeri lutut atau nyeri punggung bawah.

Panduan Minimal Olahraga dalam Seminggu

Berdasarkan pedoman resmi dari World Health Organization (WHO) serta American Heart Association (AHA), durasi minimal olahraga dalam seminggu bagi orang dewasa (usia 18-64 tahun) untuk menjaga kesehatan secara optimal adalah sebagai berikut:

1. Aktivitas Aerobik Intensitas Sedang

Kamu disarankan untuk melakukan minimal 150 hingga 300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang dalam seminggu. Jika dibagi rata-rata dalam satu minggu, kamu hanya perlu berolahraga sekitar 30 menit sehari, selama 5 hari dalam seminggu.

2. Aktivitas Aerobik Intensitas Tinggi

Sebagai alternatif, jika kamu lebih menyukai olahraga yang menantang dan menghemat waktu, kamu bisa melakukan aktivitas aerobik intensitas tinggi minimal 75 hingga 150 menit dalam seminggu. Ini setara dengan sekitar 15 menit sehari selama 5 hari, atau 25 menit sehari selama 3 hari.

3. Kombinasi Keduanya

Kamu juga bebas mengombinasikan antara intensitas sedang dan tinggi. Sebagai aturan dasar, 1 menit olahraga intensitas tinggi setara dengan 2 menit olahraga intensitas sedang. Misalnya, kamu bisa melakukan 2 hari olahraga intensitas tinggi (total 50 menit) ditambah 2 hari olahraga intensitas sedang (total 50 menit) untuk memenuhi standar mingguan tersebut.

4. Latihan Penguatan Otot (Strength Training)

Selain latihan kardio atau aerobik di atas, WHO juga sangat menekankan pentingnya melakukan latihan penguatan otot yang melibatkan seluruh kelompok otot utama (kaki, pinggul, punggung, dada, perut, bahu, dan lengan) setidaknya 2 hari atau lebih dalam seminggu.

Tanda Bahwa Kamu Berolahraga Berlebihan (Overtraining)
  1. Merasa kelelahan kronis sepanjang hari dan tidak kunjung pulih.
  2. Mengalami penurunan performa meskipun latihan terus dilakukan.
  3. Nyeri otot dan sendi yang berkepanjangan (lebih dari 72 jam).
  4. Kesulitan tidur atau insomnia pada malam hari.
  5. Detak jantung istirahat (resting heart rate) yang terus meningkat dari biasanya.

Memahami Perbedaan Intensitas Olahraga

Setelah mengetahui angka minimalnya, mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana cara membedakan intensitas olahraga? Cara termudah yang bisa kamu gunakan tanpa harus menggunakan alat pemantau detak jantung canggih adalah dengan metode “Talk Test” (Tes Berbicara).

1. Intensitas Ringan

Pada tingkat ini, kamu tidak menyadari adanya perubahan signifikan pada pernapasan. Kamu masih bisa bernyanyi atau berbicara panjang lebar dengan sangat santai. Walaupun bermanfaat untuk memecah kebiasaan duduk lama (sedenter), intensitas ini belum cukup untuk memenuhi target 150 menit mingguan. Contohnya: berjalan santai di dalam rumah atau peregangan ringan.

2. Intensitas Sedang (Moderate Intensity)

Jantung kamu akan berdetak lebih cepat dan pernapasan menjadi lebih berat. Pada intensitas ini, tubuh mulai berkeringat ringan. Berdasarkan “Talk Test”, kamu masih bisa berbicara dengan teman dalam kalimat pendek, namun kamu sudah tidak bisa bernyanyi karena akan kehabisan napas. Inilah intensitas yang dihitung dalam target 150 menit mingguan.

Contoh olahraga intensitas sedang meliputi:

  • Jalan cepat (brisk walking).
  • Bersepeda dengan kecepatan santai di jalan datar.
  • Berenang santai.
  • Senam aerobik ringan atau menari.
  • Merapikan taman atau membersihkan rumah yang menguras tenaga.

3. Intensitas Tinggi (Vigorous Intensity)

Napas kamu akan terasa terengah-engah dan jantung berdetak sangat kencang. Tubuh akan mengeluarkan keringat yang jauh lebih banyak. Jika kamu mencoba “Talk Test”, kamu hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja sebelum harus mengambil napas panjang. Aktivitas ini dihitung dalam target 75 menit mingguan.

Contoh olahraga intensitas tinggi meliputi:

  • Berlari (jogging atau lari cepat).
  • Bersepeda dengan kecepatan tinggi atau di medan menanjak.
  • Berenang bolak-balik dengan cepat.
  • Olahraga permainan kompetitif seperti sepak bola, bola basket, atau bulu tangkis.
  • Lompat tali (skipping) dan HIIT (High-Intensity Interval Training).

Tips Memulai dan Menjaga Konsistensi

Mengetahui aturan minimal olahraga dalam seminggu adalah satu hal, tetapi mempraktikkannya secara rutin adalah tantangan tersendiri. Bagi pemula, jangan langsung memaksakan diri untuk memenuhi target 150 menit di minggu pertama, karena hal tersebut justru bisa menyebabkan cedera sendi maupun hilangnya motivasi akibat kelelahan parah (burnout).

1. Mulai Perlahan dengan Prinsip “Snacking” Olahraga

Jika mencari waktu 30 menit secara utuh dirasa sangat sulit, kamu bisa memecahnya ke dalam sesi-sesi kecil yang disebut “exercise snacks”. Misalnya, jalan cepat selama 10 menit di pagi hari setelah sarapan, 10 menit saat jam istirahat makan siang, dan 10 menit pada sore hari setelah bekerja. Manfaat kesehatan yang didapatkan dari pemecahan waktu ini terbukti sama efektifnya dengan melakukan olahraga 30 menit sekaligus.

2. Pilih Jenis Olahraga yang Disukai

Kunci dari konsistensi adalah rasa senang. Jangan memaksakan diri berlari jika kamu membencinya. Cobalah berbagai jenis olahraga seperti kelas Zumba, bersepeda, berenang, atau bahkan yoga, hingga kamu menemukan aktivitas yang terasa seperti hobi dan rekreasi, bukan sekadar kewajiban yang memberatkan.

3. Penuhi Kebutuhan Nutrisi dan Pemulihan

Olahraga akan membakar kalori dan merusak serat otot untuk sementara waktu agar bisa dibangun kembali menjadi lebih kuat. Oleh karena itu, pastikan kamu mengonsumsi makanan yang kaya protein, karbohidrat kompleks, serta selalu menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Jika kamu merasa tubuh membutuhkan tambahan energi atau nutrisi mikro harian belum terpenuhi, kamu bisa mencoba beli suplemen kesehatan dan vitamin yang tepat untuk mendukung daya tahan fisikmu agar tidak mudah drop saat rutin berlatih.

4. Perhatikan Kondisi Medis Bawaan

Bagi orang dewasa sehat, memulai olahraga intensitas sedang umumnya aman dilakukan secara mandiri. Namun, jika kamu memiliki kondisi medis tertentu seperti masalah jantung koroner, hipertensi tidak terkontrol, diabetes tingkat lanjut, asma kronis, atau sedang dalam masa pemulihan pasca operasi, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter spesialis kedokteran olahraga agar mendapatkan resep olahraga (exercise prescription) yang aman, tepat sasaran, dan meminimalisir risiko komplikasi fatal.

Studi Mengenai Frekuensi Olahraga

Berbagai literatur medis terus mengonfirmasi pentingnya pedoman minimal olahraga ini. JAMA Internal Medicine menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2015 yang menganalisis lebih dari 660.000 orang dewasa. Studi tersebut menemukan bahwa individu yang melakukan olahraga sesuai pedoman minimal (150 menit seminggu) memiliki risiko kematian dini 31% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah berolahraga sama sekali.

Lebih menariknya lagi, studi tersebut juga menunjukkan bahwa manfaat paling besar dari penurunan risiko kematian terjadi justru ketika seseorang beralih dari status “tidak aktif secara fisik” menjadi “aktif” meskipun hanya sedikit. Artinya, berolahraga walau hanya 1-2 kali seminggu tetap memberikan dampak perlindungan yang sangat signifikan bagi tubuh dibandingkan dengan tidak bergerak sama sekali, mempertegas filosofi bahwa sedikit bergerak jauh lebih baik daripada diam di tempat.

Selain itu, riset dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa individu yang memadukan latihan aerobik rutin dengan dua sesi latihan beban mingguan memiliki pelestarian kepadatan mineral tulang yang jauh lebih baik serta risiko penurunan kognitif (demensia) yang lebih lambat di hari tua.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2024. Physical activity.
American Heart Association. Diakses pada 2024. American Heart Association Recommendations for Physical Activity in Adults and Kids.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Exercise: 7 benefits of regular physical activity.
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2024. How much exercise do you really need?
JAMA Internal Medicine. Diakses pada 2024. Leisure Time Physical Activity and Mortality.

FAQ

1. Apakah olahraga 2 kali seminggu sudah cukup baik?

Bagi orang dengan kesibukan tinggi, melakukan olahraga intens hanya pada akhir pekan (sering disebut “Weekend Warrior”) selama 2 kali seminggu sudah cukup baik. Selama total durasi mingguan mencapai minimal 150 menit olahraga intensitas sedang atau 75 menit intensitas tinggi, manfaat perlindungan penyakit jantungnya serupa dengan mereka yang berolahraga setiap hari.

2. Apakah pekerjaan rumah tangga bisa dihitung sebagai olahraga?

Bisa, asalkan pekerjaan rumah tangga yang kamu lakukan (seperti mengepel lantai, menggosok kamar mandi, atau memotong rumput) membutuhkan usaha yang cukup kuat hingga membuat napas sedikit terengah-engah dan jantung berdetak lebih cepat. Jika hanya berjalan santai merapikan barang, itu dihitung aktivitas ringan, bukan intensitas sedang.

3. Kapan waktu terbaik dalam sehari untuk berolahraga?

Tidak ada satu waktu “sempurna” yang berlaku untuk semua orang. Olahraga pagi dapat membantu membangun kebiasaan dan menyegarkan tubuh, sementara olahraga sore atau malam terbukti baik untuk pelepasan stres harian dan peningkatan kekuatan otot. Waktu terbaik adalah waktu yang paling konsisten bisa kamu lakukan sesuai dengan jadwal kegiatanmu.

4. Bagaimana cara menjaga motivasi agar terus berolahraga rutin?

Coba berlatih bersama teman (workout buddy) agar saling memotivasi. Tetapkan target yang spesifik namun realistis, misalnya “berjalan cepat 15 menit setiap selesai makan malam”. Selain itu, catat perkembanganmu dan dengarkan musik atau podcast favorit (habit bundling) hanya saat sedang berolahraga untuk membuat kegiatan ini menjadi hal yang dinanti-nantikan.