Berapa Lama Telur Bertahan? Cara Simpan & Ciri Busuk

DAFTAR ISI
- Faktor yang Memengaruhi Masa Simpan Telur
- Berapa Lama Telur Bertahan Berdasarkan Tempat Penyimpanan?
- Cara Mengetahui Telur Sudah Busuk atau Tidak Layak Konsumsi
- Bahaya Mengonsumsi Telur yang Sudah Busuk
- Studi Terkait Keamanan Konsumsi Telur
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- Referensi
- FAQ
Telur merupakan salah satu bahan makanan pokok yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia. Selain harganya yang terjangkau dan rasanya yang lezat, telur juga diakui sebagai salah satu sumber protein hewani terbaik. Di dalam sebutir telur terkandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti protein berkualitas tinggi, lemak sehat, vitamin A, vitamin D, vitamin B12, kolin, serta antioksidan seperti lutein dan zeaxanthin yang sangat baik untuk kesehatan mata.
Mengingat kepraktisannya, tidak heran jika banyak keluarga gemar menyetok telur di rumah dalam jumlah yang cukup banyak untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, di balik kemudahan dan nutrisinya, menyimpan bahan makanan hewani ini membutuhkan perhatian ekstra. Kualitas telur dapat menurun seiring berjalannya waktu dan sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan serta cara penyimpanannya. Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari ibu rumah tangga maupun anak kos yang suka berbelanja grosir adalah tentang telur bisa bertahan berapa lama sebelum akhirnya basi atau tidak layak konsumsi.
Mengetahui batas waktu kelayakan konsumsi telur sangatlah krusial untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan. Telur yang sudah melewati masa kedaluwarsa atau disimpan dengan cara yang salah dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri patogen, terutama bakteri Salmonella. Bakteri ini merupakan penyebab utama keracunan makanan yang bisa memicu gangguan pencernaan parah, mulai dari diare, mual, kram perut yang menyiksa, hingga demam tinggi yang memerlukan penanganan medis.
Nah, agar kamu dan keluarga senantiasa terhindar dari risiko keracunan makanan akibat telur busuk, penting untuk memahami siklus hidup bahan makanan ini setelah keluar dari peternakan. Mulai dari berapa lama usia simpannya di suhu ruang, berapa lama jika diletakkan di kulkas, hingga ciri-ciri fisik yang menandakan telur sudah rusak. Berikut ini ulasan lengkap yang perlu kamu perhatikan!
Faktor yang Memengaruhi Masa Simpan Telur
Sebelum kita membahas angka pasti mengenai usia simpan telur, penting untuk memahami bahwa cangkang telur memiliki struktur yang unik. Cangkang telur sebenarnya berpori-pori sangat kecil, yang memungkinkan udara dan kelembapan keluar masuk. Saat telur baru saja ditelurkan oleh ayam betina, telur tersebut dilapisi oleh lapisan pelindung alami yang disebut dengan istilah “kutikula” atau bloom. Lapisan transparan ini berfungsi untuk menutup pori-pori cangkang, sehingga mencegah bakteri dari luar masuk ke dalam putih dan kuning telur.
Di beberapa negara, seperti di Amerika Serikat, telur yang diproduksi secara komersial wajib dicuci bersih menggunakan air hangat dan disinfektan sebelum dijual ke pasaran. Proses pencucian ini sayangnya menghilangkan lapisan kutikula pelindung tersebut. Karena pelindungnya hilang, telur yang sudah dicuci harus segera masuk ke lemari pendingin (kulkas) agar tidak cepat terkontaminasi bakteri. Sebaliknya, di banyak negara Asia, termasuk Indonesia, serta negara-negara di Eropa, telur umumnya dijual dalam keadaan tidak dicuci. Kotoran mungkin masih sedikit menempel di cangkang, tetapi lapisan kutikulanya masih utuh, sehingga telur masih aman disimpan di suhu ruang untuk beberapa waktu.
Berapa Lama Telur Bertahan Berdasarkan Tempat Penyimpanan?
Usia kesegaran telur sangat bergantung pada di mana dan bagaimana kamu menyimpannya. Berikut adalah panduan waktu simpan telur berdasarkan metode penyimpanannya:
1. Penyimpanan di Suhu Ruang (Dapur atau Rak Terbuka)
Jika kamu membeli telur di pasar tradisional atau supermarket di Indonesia yang tidak diletakkan di lemari pendingin (masih memiliki kutikula utuh), telur tersebut bisa bertahan sekitar 1 hingga 3 minggu di suhu ruang. Namun, mengingat iklim tropis Indonesia yang cenderung panas dan lembap, sangat disarankan untuk menghabiskan telur dalam waktu maksimal 2 minggu jika disimpan di luar kulkas. Semakin panas suhu dapur kamu, semakin cepat kualitas telur menurun. Putih telur akan menjadi lebih encer, dan kuning telurnya akan lebih mudah pecah.
2. Penyimpanan di Kulkas (Lemari Pendingin)
Menyimpan telur di dalam kulkas adalah cara terbaik dan paling direkomendasikan untuk memperpanjang usia simpannya dan menjaga kualitas gizi di dalamnya. Di dalam kulkas dengan suhu stabil di bawah 4 derajat Celsius, telur mentah utuh beserta cangkangnya dapat bertahan selama 3 hingga 5 minggu sejak tanggal pembelian. Suhu dingin secara efektif menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella dan menjaga tekstur putih telur tetap kental dan segar. Ingatlah untuk selalu menyimpan telur di bagian rak paling dalam (rak tengah), bukan di pintu kulkas, karena suhu di area pintu sangat fluktuatif setiap kali kulkas dibuka dan ditutup.
3. Penyimpanan di Dalam Freezer
Mungkin terdengar tidak biasa, tetapi telur mentah bisa dibekukan untuk penyimpanan jangka panjang. Namun, jangan pernah membekukan telur mentah utuh beserta cangkangnya, karena cairan di dalam telur akan memuai saat membeku dan membuat cangkangnya pecah berantakan. Jika kamu ingin membekukan telur, pecahkan telur, kocok rata antara putih dan kuningnya (atau pisahkan jika ingin), lalu simpan dalam wadah kedap udara yang aman untuk freezer. Telur mentah tanpa cangkang yang dibekukan dapat bertahan kualitasnya hingga 1 tahun. Telur ini nantinya sangat cocok digunakan untuk bahan kue atau hidangan scrambled egg setelah dicairkan perlahan di kulkas bawah.
4. Telur Rebus Matang
Bagaimana dengan telur yang sudah direbus matang? Proses perebusan ternyata melarutkan lapisan kutikula pelindung dan membuka pori-pori cangkang, sehingga telur rebus justru lebih rentan terhadap bakteri dibandingkan telur mentah. Telur matang, baik yang masih ada cangkangnya maupun yang sudah dikupas, hanya bisa bertahan maksimal 1 minggu jika disimpan di dalam kulkas. Jika dibiarkan di suhu ruang, telur rebus matang harus segera dikonsumsi dalam waktu kurang dari 2 jam untuk mencegah pembusukan dan pertumbuhan bakteri patogen.
Tips Menyimpan Telur agar Kesegarannya Tahan Lama
- Jangan mencuci telur sebelum disimpan: Jika kamu membeli telur berdebu atau sedikit kotor, cukup lap dengan tisu kering. Mencucinya dengan air akan merusak lapisan pelindung alami (kutikula) dan membuat pori-pori terbuka, sehingga bakteri mudah masuk.
- Simpan dalam karton aslinya: Karton telur didesain khusus untuk melindungi telur dari benturan dan membantu mencegah bau menyengat dari makanan lain (seperti bawang atau durian) masuk melalui pori-pori cangkang telur.
- Posisikan bagian runcing di bawah: Telur memiliki kantung udara di bagian yang tumpul. Menyimpannya dengan bagian tumpul di atas membantu menjaga kuning telur tetap berada di tengah dan menjauhkan kelembapan dari kantung udara, sehingga telur lebih awet.
Cara Mengetahui Telur Sudah Busuk atau Tidak Layak Konsumsi
Meski sudah menghitung minggu penyimpanan, ada kalanya telur membusuk lebih cepat dari perkiraan akibat keretakan mikroskopis pada cangkang atau fluktuasi suhu. Sebelum memasak, selalu pastikan kualitas telur dengan melakukan beberapa pengecekan sederhana berikut ini:
1. Lakukan Tes Apung (Float Test)
Ini adalah metode paling populer, ilmiah, dan akurat untuk mengecek usia telur tanpa harus memecahkannya. Sediakan gelas atau mangkuk berisi air dingin. Masukkan telur perlahan ke dalam air tersebut. Seiring bertambahnya usia telur, kelembapan di bagian dalam akan menguap keluar melalui pori-pori cangkang, dan digantikan oleh udara. Jika telur tenggelam secara horizontal di dasar gelas, artinya telur tersebut sangat segar. Jika telur tenggelam tetapi salah satu ujungnya berdiri (miring tegak), telur itu sudah tidak terlalu segar namun masih sangat aman dikonsumsi (biasanya sangat mudah dikupas jika direbus). Namun, jika telur mengapung di permukaan air, itu pertanda bahwa kantung udaranya sudah sangat besar akibat usia yang tua atau pembusukan. Telur yang mengapung sebaiknya dibuang.
2. Tes Endus (Uji Aroma)
Bakteri yang membusukkan protein di dalam telur akan menghasilkan gas hidrogen sulfida yang memiliki aroma sangat tajam. Telur yang segar tidak akan memiliki bau apa pun, baik dari luar cangkang maupun saat dipecahkan. Jika kamu memecahkan telur dan langsung tercium aroma busuk, belerang (sulfur), atau bau asam yang menyengat, buang telur tersebut beserta wadahnya dan cuci tangan kamu menggunakan sabun dengan bersih.
3. Perhatikan Warna dan Tekstur Secara Visual
Pecahkan telur di atas piring putih yang datar. Telur segar akan memiliki putih telur yang terlihat kental, sedikit buram (cloudy), dan berkumpul kuat mengelilingi kuning telur yang berbentuk bulat sempurna, cembung, dan kokoh. Semakin lama telur disimpan, ikatan protein di putih telur akan melemah. Jika saat dipecahkan putih telurnya langsung melebar seperti air (sangat encer) dan kuning telurnya tampak datar, rata, atau bahkan langsung pecah dengan sendirinya, itu menandakan telur sudah sangat tua. Meski tidak selalu berarti busuk, kualitas rasanya sudah jauh menurun. Waspadai juga jika kamu melihat bintik hitam, merah mudah, atau warna kehijauan pada putih telur, karena itu adalah tanda pasti adanya pertumbuhan jamur atau bakteri pseudomonas.
Bahaya Mengonsumsi Telur yang Sudah Busuk
Mengonsumsi bahan makanan yang sudah tidak layak, termasuk telur yang sudah basi atau terkontaminasi, sangat berbahaya bagi sistem pencernaan. Bahaya utama yang mengintai dari telur kedaluwarsa adalah infeksi Salmonellosis, sebuah kondisi keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enteritidis.
Bakteri ini bisa masuk ke tubuh manusia dan menginfeksi saluran usus. Gejala keracunan Salmonella biasanya mulai muncul dalam kurun waktu 6 hingga 72 jam setelah seseorang tidak sengaja mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Keluhan yang paling umum dilaporkan meliputi mual dan muntah hebat, kram perut yang menyiksa, diare yang terkadang disertai lendir atau darah, hingga demam tinggi yang disertai sakit kepala dan menggigil. Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat, gejala ini mungkin bisa mereda dengan sendirinya setelah beberapa hari beristirahat dan mengonsumsi cairan rehidrasi yang cukup.
Namun, infeksi ini bisa berakibat fatal jika menyerang kelompok rentan seperti anak balita, wanita hamil (bisa membahayakan janin), lansia, atau individu yang menderita gangguan imun. Dehidrasi parah akibat muntah dan diare terus menerus adalah komplikasi yang paling sering menyebabkan pasien harus dirawat inap di rumah sakit.
Sebagai langkah pertolongan pertama saat mengalami diare dan mual ringan, kamu harus menjaga asupan cairan tubuh dengan meminum oralit. Tidak perlu repot antre ke apotek saat kondisi tubuh sedang lemas, karena kamu bisa langsung beli obat online di Halodoc, mulai dari cairan rehidrasi hingga suplemen pencernaan, dan pesanan akan langsung diantar ke depan pintu rumah kamu dalam hitungan menit.
Studi Terkait Keamanan Konsumsi Telur
Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menerbitkan pedoman keamanan pangan yang menjelaskan bahwa bakteri Salmonella dapat masuk menembus pori-pori telur dari luar, maupun tertinggal di bagian dalam telur sebelum cangkang terbentuk secara utuh pada tubuh ayam betina.
Studi yang menjadi dasar pedoman ini menegaskan bahwa pengendalian suhu sangat krusial dalam menekan perbanyakan bakteri patogen. Menyimpan telur mentah pada lemari pendingin bersuhu konsisten di bawah 4°C terbukti secara efektif menghentikan perbanyakan bakteri Salmonella. Studi lebih lanjut juga menekankan kewajiban memasak telur hingga bagian putih dan kuningnya benar-benar padat sempurna, untuk menjamin seluruh bakteri mati sebelum dikonsumsi.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Menjaga keamanan pangan keluarga berawal dari pemilihan dan penyimpanan bahan pokok yang benar. Jangan pernah ragu untuk membuang telur jika kamu sudah mencurigai adanya perubahan warna, tekstur, atau aroma yang tidak wajar. Mencegah keracunan makanan jauh lebih baik daripada harus mengobatinya.
Jika kamu atau anggota keluarga terlanjur mengalami gejala diare persisten, muntah berkepanjangan hingga lemas, demam tidak kunjung turun setelah makan telur, segera cari pertolongan medis. Dehidrasi akibat keracunan makanan dapat memburuk dengan cepat jika tidak tertangani secara profesional. Kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah pencernaan atau indikasi keracunan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc.
Referensi
Referensi:
Food and Drug Administration (FDA). Diakses pada 2026. What You Need to Know About Egg Safety.
United States Department of Agriculture (USDA). Diakses pada 2026. Shell Eggs from Farm to Table.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Salmonella infection – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Food Poisoning: Symptoms, Causes & Treatment.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Salmonella (non-typhoidal).
FAQ
1. Apakah aman memakan telur yang ada sedikit retak di cangkangnya?
Sangat tidak disarankan mengonsumsi telur yang cangkangnya sudah retak saat kamu membelinya atau menyimpannya. Cangkang yang retak adalah pintu masuk langsung bagi berbagai bakteri patogen dari lingkungan, termasuk Salmonella, untuk mencemari bagian dalam telur dan berisiko memicu keracunan makanan.
2. Telur saya masih mengapung sebagian di dalam air, bolehkah diolah setengah matang?
Telur yang posisinya berdiri (salah satu sisinya mengapung di air) menandakan telur tersebut sudah mulai menua, meski belum busuk. Untuk telur yang usianya sudah cukup lama seperti ini, sebaiknya selalu dimasak hingga matang sempurna (putih dan kuningnya mengeras). Hindari mengolah telur yang kurang segar menjadi hidangan setengah matang atau poached egg.
3. Mengapa putih telur berubah menjadi sangat encer seperti air?
Perubahan putih telur dari yang kental menjadi sangat encer adalah bagian dari proses alami penuaan telur. Seiring waktu, ikatan rantai protein di dalam putih telur mulai terurai dan kehilangan kelembapannya. Ini menandakan telur tersebut sudah lama disimpan, namun belum tentu beracun asalkan tidak mengeluarkan bau busuk.
4. Apakah telur yang dicuci akan lebih cepat busuk?
Ya, benar. Mencuci telur dengan air, apalagi air dingin, akan menghancurkan lapisan kutikula alami pada cangkang dan membuat pori-porinya membesar. Bakteri dari kotoran di luar cangkang akan ikut tersedot ke dalam pori-pori telur karena adanya tekanan osmosis. Jika telur terlanjur dicuci, pastikan kamu segera menyimpannya di dalam kulkas.
Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.



