Advertisement

Bisa Jadi Tanda Penyakit, Ini 7 Penyebab Telapak Kaki Terasa Panas

9 menit
Ditinjau oleh  dr. Budiyanto, MARS   31 Oktober 2025

“Sensasi panas pada telapak kaki yang terus-menerus terjadi, bisa disebabkan oleh neuropati perifer, infeksi jamur, hingga diabetes.”

Bisa Jadi Tanda Penyakit, Ini 7 Penyebab Telapak Kaki Terasa PanasBisa Jadi Tanda Penyakit, Ini 7 Penyebab Telapak Kaki Terasa Panas

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasa telapak kaki tiba-tiba panas, seperti terbakar? Sensasi ini mungkin sering dianggap sepele. Tetapi, jika berlangsung terus-menerus atau terjadi tanpa alasan yang jelas, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Bahkan, rasa panas di telapak kaki sering kali membuat kita sulit tidur atau merasa tidak nyaman saat berjalan.

Masalah telapak kaki panas bisa terjadi pada siapa saja, baik muda maupun lansia. Ada berbagai penyebab yang mungkin mendasarinya, mulai dari faktor sederhana seperti kelelahan, hingga gejala kondisi medis tertentu. 

Supaya kamu lebih waspada, cari tahu selengkapnya mengenai penyebab telapak kaki terasa panas pada artikel berikut ini!

Gejala Telapak Kaki Panas yang Perlu Diwaspadai

Selain sensasi panas, gejala lain yang mungkin menyertai antara lain:

  • Kesemutan.
  • Mati rasa.
  • Nyeri seperti ditusuk-tusuk.
  • Kulit kering atau pecah-pecah.
  • Perubahan warna kulit.

Telapak kaki terasa panas bisa terjadi karena aliran darah yang meningkat atau adanya iritasi saraf. Jika telapak kaki terasa panas disertai kesemutan atau mati rasa, bisa jadi itu tanda gangguan saraf perifer atau neuropati.

Untuk mengatasinya, penting mencari tahu penyebab telapak kaki terasa panas agar penanganannya lebih tepat, misalnya dengan pemeriksaan kadar gula darah atau kondisi pembuluh darah.

Penyebab Telapak Kaki Terasa Panas

Telapak kaki yang terasa panas dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya:

1. Neuropati perifer

Kerusakan saraf perifer membuat saraf tidak bisa mengirim sinyal dengan baik ke otak, sehingga sensasi rasa panas dan kesemutan bisa timbul di bagian tubuh tertentu, termasuk telapak kaki. 

Umumnya, kerusakan saraf perifer terjadi pada pengidap diabetes. Sebab, kenaikan gula darah yang tinggi dapat melukai saraf di tubuh. 

2. Defisiensi vitamin

Kekurangan vitamin B, terutama B12, dapat memengaruhi fungsi saraf dan memicu rasa panas pada telapak kaki.

Selain itu, kekurangan vitamin B juga ditandai dengan anemia, sulit berkonsentrasi, serta tubuh mudah lelah meski tidak melakukan aktivitas berat. 

Untungnya, ada beberapa suplemen vitamin B12 yang bisa dikonsumsi untuk melengkapi asupan vitamin harianmu. Berikut ini Ini 5 Rekomendasi Vitamin B12 untuk Pembentukan Sel Darah Merah. 

3. Infeksi jamur (Athlete’s Foot)

Infeksi jamur pada kaki atau Athlete’s foot dapat menimbulkan rasa panas, gatal, dan kulit bersisik. 

Ada banyak faktor pemicu infeksi jamur kaki. Contohnya menggunakan sepatu yang terlalu ketat, kaki selalu dalam keadaan lembap, terdapat luka terbuka pada permukaan kaki, kebiasaan tidak memakai alas kaki, serta mengidap diabetes. 

Ada beberapa obat jamur yang bisa kamu gunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Rekomendasinya bisa kamu cari tahu pada artikel berikut ini: 5 Rekomendasi Obat Jamur Kulit yang Ada di Apotek

4. Mengidap penyakit kronis

Sensasi rasa panas di telapak kaki juga bisa muncul jika kamu mengidap penyakit kronis. Contohnya seperti gagal ginjal, hipotiroidisme, atau gangguan autoimun juga sering dikaitkan dengan sensasi panas pada kaki.

5. Mengonsumsi alkohol 

Konsumsi alkohol berlebihan dapat merusak saraf perifer, yang dikenal sebagai neuropati alkoholik.

Selain memicu rasa panas di telapak kaki, mengonsumsi alkohol berlebihan juga bisa menyebabkan gangguan berbicara, gangguan buang air, serta kekakuan otot tubuh. 

6. Sindrom tarsal tunnel

Sindrom tarsal tunnel terjadi ketika saraf tibialis posterior terjepit, menyebabkan rasa panas, nyeri, dan kesemutan di kaki.

Ada berbagai macam penyebab sindrom tarsal tunnel, mulai dari kaki datar, cedera, varises, tumor, diabetes, hingga radang sendi. 

7. Paparan zat beracun

Terpapar logam berat atau bahan kimia tertentu dapat memengaruhi fungsi saraf. Pada beberapa kondisi, hal ini dapat memicu timbulnya sensasi rasa panas di telapak kaki, bahkan hingga mengganggu aktivitas. 

8. Efek samping obat dan kemoterapi

Beberapa obat, termasuk obat kemoterapi, bisamenyebabkan sensasi panas pada telapak kaki sebagai efek sampingnya. 

Kondisi ini sering disebut sebagai neuropati perifer. Kondisi tersebut= terjadi ketika saraf di telapak kaki rusak atau terganggu akibat pengaruh obat. 

Obat-obatan tertentu untuk HIV, diabetes, dan kemoterapi tertentu seperti cisplatin dan paclitaxel juga bisa menyebabkan gejala ini. 

Pengaruh ini bisa bersifat sementara atau permanen tergantung pada dosis dan durasi pengobatan.

9. Kondisi medis yang berhubungan

Ada juga kondisi-kondisi medis tertentu yang bisa menyebabkan sensasi panas pada telapak kaki. Di antaranya adalah:

  • Neuropati diabetik: Kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol pada penderita diabetes.
  • Eritromelalgia: Gangguan vaskular yang menyebabkan pembuluh darah pada kaki melebar secara tidak normal, menyebabkan rasa panas, kemerahan, dan rasa terbakar pada telapak kaki.
  • Hipertiroidisme: Produksi hormon tiroid yang berlebihan dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan menyebabkan rasa panas.
  • Gangguan saraf lainnya: Kondisi seperti radang saraf atau saraf terjepit juga dapat menyebabkan sensasi panas pada telapak kaki.

Cara Mengatasi Telapak Kaki Terasa Panas

Jika telapak kaki terasa panas, jangan panik dulu. Lakukan langkah-langkah berikut ini untuk meredakan rasa tidak nyamannya:

1. Teknik pijat lembut dan latihan fisik

Pijat lembut dapat meningkatkan sirkulasi darah di telapak kaki, membantu mengurangi rasa panas. 

Gunakan minyak atau lotion saat memijat untuk kelembutan pada kulit. Selain pijat, latihan fisik seperti berjalan, bersepeda, atau berenang juga meningkatkan sirkulasi darah, yang dapat meredakan gejala.

2. Menjaga kebersihan dan kelembapan kaki

Kebersihan kaki yang baik penting untuk menghindari rasa panas. Cuci kaki setiap hari, keringkan dengan baik, dan gunakan pelembap untuk menjaga kelembapan. 

Pilih kaus kaki dari bahan yang menyerap kelembapan, seperti katun, untuk menjaga kaki tetap kering dan nyaman.

3. Penggunaan terapi dingin

Terapi dingin efektif mengurangi rasa panas di telapak kaki. Cara mengaplikasikannya meliputi:

  • Rendam kaki dalam air dingin selama 15-20 menit untuk mendinginkan.
  • Selain merendam, kamu juga bisa mempatkan kantong es yang dibungkus handuk tipis di telapak kaki selama 15-20 menit. Hindari kontak langsung es dengan kulit.
  • Ulangi terapi dingin beberapa kali sehari sesuai kebutuhan.

Kombinasi dari metode ini dengan pengobatan yang tepat dapat efektif mengatasi rasa panas di telapak kaki.

4. Perawatan medis khusus

Jika sensasi panas pada telapak kaki disebabkan oleh infeksi jamur, perawatan yang dapat dilakukan yakni dengan menggunakan obat antijamur. 

Pengobatan ini bisa berupa krim atau salep antijamur yang dioleskan langsung pada area yang terinfeksi. 

Untuk infeksi yang lebih parah atau yang tidak responsif terhadap pengobatan topikal, dokter mungkin akan meresepkan obat antijamur oral. 

Selalu ikuti instruksi dokter dan menyelesaikan seluruh kursus pengobatan untuk memastikan bahwa infeksi benar-benar teratasi dan mencegah kambuhnya infeksi.

5. Mengonsumsi suplemen

Sensasi panas di telapak kaki bisa disebabkan oleh defisiensi nutrisi tertentu, misalnya vitamin B. 

Dalam kasus seperti ini, suplemen mungkin diperlukan. Vitamin B penting untuk kesehatan saraf dan kekurangannya dapat menyebabkan masalah saraf yang mempengaruhi telapak kaki. 

Suplemen vitamin B kompleks, yang mencakup B1 (tiamin), B6 (piridoksin), dan B12 (kobalamin), sering direkomendasikan untuk mendukung fungsi saraf yang sehat. 

Kamu wajib berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum memulai suplemen untuk menentukan dosis yang tepat dan menghindari interaksi dengan kondisi kesehatan lain atau obat-obatan yang sedang diambil.

6. Menghindari faktor pemicu

Dalam beberapa kasus, alkohol atau zat toksik lain bisa menjadi penyebab dari sensasi panas di telapak kaki, biasanya melalui kerusakan saraf yang disebabkan oleh toksin tersebut.

Menghindari alkohol atau mengurangi paparan terhadap zat kimia berbahaya dapat sangat membantu dalam meringankan gejala. 

Jika pekerjaan atau lingkungan hidup seseorang melibatkan paparan zat berbahaya, sebaiknya ubah gaya hidup atau kondisi kerja. 

Konsultasi dengan dokter sangat diperlukan untuk menilai risiko dan mengimplementasikan strategi pengurangan paparan yang efektif.

Selain itu, kamu bisa cari tahu juga 5 Rekomendasi Obat Saraf Mudah Ditemukan di Apotek. Beli obat pereda nyeri saraf dengan mudah melalui Toko Kesehatan Halodoc

Perawatan Mandiri di Rumah

Selain pengobatan medis, ada beberapa langkah perawatan mandiri yang dapat dilakukan di rumah untuk meredakan telapak kaki terasa panas:

  • Rendam kaki dalam air dingin: Merendam kaki dalam air dingin selama 15-20 menit dapat membantu mengurangi peradangan dan meredakan nyeri.
  • Gunakan kompres dingin: Kompres dingin pada telapak kaki juga dapat membantu meredakan nyeri dan peradangan.
  • Pijat kaki: Pijat kaki dapat membantu meningkatkan aliran darah dan mengurangi nyeri.
  • Gunakan sepatu yang nyaman: Hindari sepatu yang terlalu sempit atau tidak memiliki ventilasi yang baik.
  • Jaga kebersihan kaki: Cuci kaki setiap hari dengan sabun dan air, dan keringkan dengan baik, terutama di sela-sela jari kaki.

Perawatan mandiri dapat membantu meredakan gejala ringan telapak kaki panas. Jika gejala berlanjut atau memburuk, segera konsultasikan dengan dokter.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

Untuk mencegah telapak kaki terasa panas, kamu dapat melakukan hal berikut:

  • Menjaga kesehatan saraf dengan mengonsumsi makanan bergizi, terutama yang kaya vitamin B. Contohnya telur, susu, dan biji-bijian.
  • Hindari mengonsumsi alkohol berlebihan. Sebab, alkohol dapat memperburuk kerusakan saraf, sehingga pembatasan konsumsi sangat penting untuk dilakukan. 
  • Jaga kebersihan kaki dengan cuci kaki secara teratur, keringkan dengan baik, dan gunakan alas kaki yang nyaman untuk mencegah infeksi. 
  • Kontrol kondisi medis. Jika kamu memiliki diabetes atau gangguan kronis lainnya, pastikan kondisi tersebut terkelola dengan baik melalui pengobatan dan gaya hidup sehat.

Apa Kata Studi Terkait Telapak Kaki Terasa Panas Akibat Neuropati Perifer?

Penelitian menunjukkan, neuropati perifer merupakan salah satu penyebab utama telapak kaki terasa panas. 

Menurut jurnal berjudul Diabetic neuropathy and the sensory neuron: New aspects of pathogenesis and their treatment implications yang dipublikasikan oleh Journal of Diabetes Investigation (2018) lebih dari 50% penderita diabetes melaporkan gejala telapak kaki panas akibat kerusakan saraf. 

Kondisi ini bisa terjadi disebabkan oleh kadar gula darah yang tidak terkontrol. Selain itu, masalah disfungsi saraf pada pengidap diabetes juga bisa terjadi akibat adanya ketidakseimbangan metabolik, stres oksidatif, hingga peradangan. 

Hubungi Dokter Ini Jika Telapak Kaki Terasa Panas, Nyeri, atau Kesemutan

Apabila kamu merasakan telapak kaki panas, nyeri, atau nyeri yang tak kunjung membaik, sebaiknya konsultasikan pada dokter spesialis kulit via Halodoc.

Dokter spesialis kulit di Halodoc berpengalaman dalam menangani masalah kulit serta mendapatkan rating positif dari pasien sebelumnya.

Inilah beberapa dokter yang bisa kamu hubungi melalui Halodoc:

  • dr. Frieda, Sp.D.V.E: Dokter spesialis kulit dan kelamin dengan pengalaman 8 tahun, lulusan Universitas Sebelas Maret (2022). Saat ini praktik di Bogor, anggota PERDOSKI, dan tersedia untuk konsultasi di Halodoc.
  • dr. Dyah Ayu Nirmalasari, Sp.D.V.E: Dokter spesialis kulit dan kelamin dengan pengalaman 10 tahun, lulusan Universitas Hasanuddin (2022). Kini praktik di Bima, NTB, anggota PERDOSKI, dan tersedia untuk konsultasi di Halodoc.
  • dr. Made Martina W., M.Biomed, Sp.D.V.E: Dokter spesialis kulit dan kelamin dengan pengalaman 12 tahun, lulusan Universitas Udayana (2017). Kini praktik di Denpasar, Bali, anggota PERDOSKI, dan tersedia untuk konsultasi di Halodoc.

Itulah dokter yang siap mengatasi masalah telapak kaki panas, nyeri, atau kesemutan secara aman dan akurat.

Dengan Halodoc, kamu bisa berkonsultasi secara mudah, aman, dan nyaman tanpa harus keluar rumah.

Tunggu apa lagi? Yuk, gunakan Halodoc sekarang juga!

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter jika:

  • Telapak kaki terasa panas berlangsung lama atau semakin parah.
  • Gejala disertai dengan nyeri hebat, mati rasa, atau kelemahan.
  • Terdapat luka atau infeksi pada kaki.
  • Menderita diabetes atau kondisi medis lain yang dapat menyebabkan neuropati perifer.

Konsultasi dengan dokter penting untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat. Jangan menunda-nunda pemeriksaan jika mengalami gejala yang mengkhawatirkan.

Kesimpulan

Telapak kaki terasa panas dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari neuropati perifer hingga infeksi jamur.

Penting untuk mengidentifikasi penyebabnya agar dapat mengambil langkah penanganan yang tepat.

Jika mengalami telapak kaki terasa panas yang berlangsung lama atau disertai dengan gejala lain, segera konsultasikan dengan dokter.

Selain pengobatan medis, perawatan mandiri di rumah dan langkah-langkah pencegahan juga dapat membantu meredakan gejala dan menjaga kesehatan kaki.

Konsultasi dengan dokter spesialis ortopedi sekarang lebih mudah dan praktis melalui Halodoc.

Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

Referensi:
Healthline.  Diakses pada 2025. Why Are My Feet Burning?
Verywell Health.  Diakses pada 2025. Burning Feet Syndrome.
National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism. Diakses pada 2025. Peripheral Neuropathy.
Dermatology Reports.  Diakses pada 2025.  Fungal Infections of the Feet. 
Journal of Diabetes Investigation. Diakses pada 2025. Diabetic neuropathy and the sensory neuron: New aspects of pathogenesis and their treatment implications.