Ad Placeholder Image

Bolehkah Busui Makan Tape Singkong? Ini Jawabannya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 22 Juni 2026

Bolehkah Busui Makan Tape Singkong? Lebih Baik Hindari

Bolehkah Busui Makan Tape Singkong? Ini Jawabannya!Bolehkah Busui Makan Tape Singkong? Ini Jawabannya!

DAFTAR ISI


Tape singkong merupakan salah satu makanan tradisional hasil fermentasi yang sangat populer di Indonesia. Cita rasanya yang manis, sedikit asam, dan teksturnya yang lembut membuat makanan ini digemari berbagai kalangan. Tidak hanya lezat dikonsumsi langsung, tape singkong juga sering diolah menjadi berbagai hidangan penutup yang menggugah selera.

Di balik rasanya yang khas, proses fermentasi pada tape singkong menyimpan berbagai rahasia biokimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Fermentasi menggunakan ragi (Saccharomyces cerevisiae) mengubah karbohidrat kompleks pada singkong menjadi gula sederhana, alkohol, dan asam organik. Proses ini tidak hanya meningkatkan profil rasa, tetapi juga memecah nutrisi agar lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh manusia.

Sebagai makanan yang kaya akan probiotik alami, tape singkong berkontribusi positif terhadap kesehatan mikroflora usus. Namun, cara pembuatan tape singkong menuntut kebersihan dan ketelitian yang tinggi. Sedikit saja kesalahan dalam proses persiapan atau suhu saat fermentasi dapat menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen yang justru merugikan pencernaan dan merusak hasil akhir tape.

Oleh karena itu, memahami teknik dan kebersihan dalam pembuatannya sangatlah penting. Nah, mau tahu bagaimana cara pembuatan tape singkong yang benar, aman, dan higienis serta apa saja dampaknya bagi kesehatan? Berikut ulasan lengkapnya!

Kandungan Nutrisi dan Manfaat Tape Singkong

Sebelum kita membahas langkah-langkah pembuatannya, penting untuk mengetahui apa saja nutrisi yang terkandung di dalam makanan fermentasi ini. Singkong pada dasarnya adalah sumber karbohidrat yang sangat baik. Ketika difermentasi menjadi tape, kandungan gizinya mengalami perubahan yang menguntungkan.

Proses fermentasi meningkatkan kandungan vitamin B kompleks, terutama vitamin B1 (tiamin) dan vitamin B12, yang biasanya sulit ditemukan dalam makanan nabati. Vitamin B sangat krusial untuk fungsi sistem saraf, metabolisme energi, dan pembentukan sel darah merah. Selain itu, tape singkong mengandung probiotik, yaitu mikroorganisme hidup yang baik untuk menjaga keseimbangan bakteri dalam usus manusia.

Mengonsumsi tape singkong dalam porsi yang wajar dapat memberikan efek menghangatkan tubuh, melancarkan sistem pencernaan, dan memberikan dorongan energi instan karena kandungan gula sederhananya. Kandungan asam laktat di dalamnya juga membantu memecah protein dan lemak dalam saluran cerna, sehingga meringankan kerja lambung dan usus.

Perhatian Konsumsi Tape Singkong
  1. Konsumsi sewajarnya: Mengingat adanya kandungan alkohol alami, konsumsi berlebihan dapat memicu pusing atau perut kembung.
  2. Penderita asam lambung: Tape memiliki sifat asam yang dapat memicu iritasi pada penderita dispepsia atau GERD jika dikonsumsi saat perut kosong.
  3. Ibu hamil dan menyusui: Sebaiknya membatasi atau menghindari konsumsi tape karena kandungan alkohol hasil fermentasi dapat berdampak pada janin atau bayi.

Persiapan dan Bahan yang Dibutuhkan

Kunci utama dari keberhasilan cara pembuatan tape singkong terletak pada pemilihan bahan baku yang berkualitas dan kebersihan (higienitas) alat-alat yang digunakan. Ragi sangat sensitif terhadap kontaminasi silang dari minyak, garam, atau bakteri lain. Berikut adalah bahan-bahan yang perlu kamu siapkan:

1. Singkong Segar Berkualitas

Pilih singkong yang masih segar, idealnya baru dicabut dari tanah. Singkong jenis mentega (yang dagingnya berwarna kekuningan) sangat disarankan karena teksturnya akan jauh lebih lembut, empuk, dan rasanya lebih manis dibandingkan singkong putih biasa. Siapkan sekitar 1 hingga 2 kilogram singkong.

2. Ragi Tape

Ragi adalah komponen nyawa dalam proses ini. Pastikan kamu membeli ragi khusus tape yang kualitasnya masih baik (tidak kedaluwarsa, tidak lembap, dan utuh). Untuk 1 kilogram singkong, biasanya dibutuhkan sekitar 1 hingga 2 butir ragi tape yang nanti akan dihaluskan.

3. Daun Pisang

Daun pisang digunakan sebagai alas dan pembungkus selama proses fermentasi. Daun pisang tidak hanya menjaga kelembapan secara alami, tetapi juga memberikan aroma khas yang sedap pada tape. Pastikan daun pisang sudah dilap bersih dan dilayukan sedikit (misalnya dipanaskan sebentar di atas kompor) agar tidak mudah robek saat digunakan.

4. Wadah Kedap Udara

Siapkan panci kukusan, baskom bersih yang bebas dari sisa minyak masakan, dan wadah tertutup rapat (bisa berupa kotak plastik tebal atau panci stainless) untuk proses inkubasi (pemeraman). Pastikan semua alat ini dicuci bersih dan dikeringkan sempurna sebelum mulai digunakan.

Langkah-Langkah Cara Pembuatan Tape Singkong

Setelah semua bahan dan alat siap, kamu bisa memulai proses pembuatannya. Ikuti panduan ini dengan saksama, karena setiap detail sangat menentukan apakah tape akan menjadi manis dan lembut, atau justru berujung masam dan keras.

1. Kupas dan Bersihkan Singkong

Langkah pertama adalah mengupas kulit tebal singkong. Setelah dikupas, hal yang sangat krusial adalah mengerik bagian luar daging singkong (kambium atau lendirnya). Mengapa ini penting? Lendir singkong jika dibiarkan akan membuat tape terasa pahit dan permukaannya menjadi licin yang menghambat kerja ragi. Setelah dikerik rata, potong-potong singkong dengan ukuran sesuai selera, lalu cuci bersih di bawah air mengalir hingga benar-benar kesat.

2. Kukus Singkong Hingga Matang

Panaskan panci kukusan yang sudah diisi air. Setelah air mendidih, masukkan potongan singkong ke dalam kukusan. Kukus singkong hingga matang, kurang lebih sekitar 20 hingga 30 menit. Cek tingkat kematangannya dengan menusukkan garpu. Pastikan singkong matang sempurna, tetapi jangan sampai terlalu lembek atau hancur, karena singkong yang terlalu berair akan membuat tape gagal berfermentasi dengan baik.

3. Proses Pendinginan (Tahap Paling Kritis)

Angkat singkong yang sudah matang dan pindahkan ke atas nampan besar atau tampah bambu yang sudah dialasi daun pisang bersih. Ratakan posisinya agar tidak saling menumpuk dan biarkan singkong dingin sepenuhnya dalam suhu ruang. Jangan pernah menaburkan ragi saat singkong masih panas atau hangat. Suhu panas akan mematikan sel-sel mikroorganisme dalam ragi, sehingga singkong tidak akan pernah berubah menjadi tape, melainkan hanya akan membusuk.

4. Persiapan dan Penaburan Ragi

Sembari menunggu singkong dingin (bisa memakan waktu beberapa jam), siapkan ragi tape. Hancurkan kepingan ragi hingga menjadi bubuk halus. Kamu bisa memasukkannya ke dalam plastik lalu menggilasnya dengan sendok atau botol kaca bersih. Setelah singkong benar-benar dingin, taburkan bubuk ragi secara merata ke seluruh permukaan potongan singkong. Gunakan saringan teh halus agar taburan ragi merata dan tidak menggumpal di satu sisi.

5. Proses Pemeraman (Fermentasi)

Siapkan wadah bersih bertutup rapat. Alasi dasar dan dinding wadah dengan daun pisang secara rapat. Susun singkong yang sudah diragi ke dalam wadah tersebut. Jika ada beberapa lapis, kamu bisa menaburkan sedikit lagi ragi di antara lapisan. Setelah semua singkong masuk, tutup bagian atasnya kembali dengan daun pisang hingga rapat tak bersela. Terakhir, tutup wadah dengan penutupnya secara kedap udara.

6. Masa Tunggu Inkubasi

Simpan wadah di tempat yang kering, sejuk, dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung, misalnya di dalam lemari atau sudut dapur. Biarkan proses fermentasi berlangsung secara anaerob (tanpa oksigen) selama 2 hingga 3 hari (sekitar 48-72 jam). Jangan membuka tutup wadah selama masa ini karena udara luar dapat mengganggu kerja ragi dan membawa bakteri pembusuk masuk.

7. Cek Kematangan Tape

Setelah 2 hari, kamu bisa mulai mengeceknya dengan mengintip sedikit. Jika tape sudah mengeluarkan aroma wangi khas fermentasi, teksturnya menjadi sangat empuk jika ditekan perlahan, dan mengeluarkan sedikit air yang manis, itu tandanya tape singkong buatanmu sudah berhasil. Jika dirasa kurang lembut atau kurang manis, kamu bisa menutupnya kembali dan melanjutkannya hingga hari ketiga.

Tips Anti Gagal Memaksimalkan Fermentasi

Cara pembuatan tape singkong memang terlihat sederhana, namun seringkali orang gagal dan mendapati tapenya asam, keras, atau berlendir putih tebal. Berikut adalah kunci utama dari sudut pandang higienitas dan ilmu pangan:

  • Hindari Kontaminasi Lemak dan Garam: Pastikan panci kukusan, pisau, tangan, dan wadah benar-benar bebas dari minyak, sisa makanan, dan garam. Mikroorganisme pada ragi akan mati atau kinerjanya terhambat jika terkena zat-zat ini. Tangan yang digunakan untuk menabur ragi juga harus dicuci bersih dengan sabun dan dikeringkan total.
  • Suhu Singkong: Ingat, suhu ruangan adalah satu-satunya indikator bahwa singkong siap diragi. Jangan buru-buru menabur ragi.
  • Tutup Kedap Udara: Ragi tape bekerja optimal dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Jika wadah bocor atau sering dibuka tutup selama proses pemeraman, fermentasi bisa gagal dan tape akan berubah menjadi asam kecut seperti cuka karena bakteri penghasil asam asetat akan mengambil alih.

Risiko dan Kapan Harus Berhati-hati

Meski memiliki manfaat kesehatan berkat kandungan probiotik, tape singkong tetap memiliki kandungan alkohol ringan dan asam laktat yang cukup tinggi. Bagi individu dengan sistem pencernaan yang sensitif, riwayat penyakit asam lambung kronis (GERD), atau maag akut, mengonsumsi tape dapat memicu kenaikan asam lambung, nyeri ulu hati, hingga rasa panas di dada (heartburn).

Jika kamu mengalami keluhan lambung setelah mengonsumsi makanan fermentasi, kamu bisa konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat agar gejalanya tidak memburuk.

Sebagai langkah pertolongan pertama, penderita masalah pencernaan biasanya disarankan mengonsumsi antasida atau obat penurun asam lambung sesuai petunjuk medis. Untuk meredakan asam lambung ringan, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan praktis tanpa harus mengantre di apotek.

Studi Mengenai Fermentasi dan Probiotik

Journal of Food Science and Technology pernah mempublikasikan studi yang menjelaskan bahwa fermentasi makanan tradisional menggunakan kapang dan ragi (seperti Saccharomyces cerevisiae) terbukti dapat memecah antinutrisi pada tanaman umbi-umbian, sehingga meningkatkan bioavailabilitas (ketersediaan) nutrisi penting bagi tubuh manusia.

Studi ini menegaskan bahwa proses fermentasi yang benar tidak hanya mengawetkan makanan secara alami, tetapi juga menciptakan enzim-enzim pencernaan dan bakteri baik yang mendukung perbaikan mikrobioma usus. Oleh karena itu, konsumsi tape yang higienis dapat dianggap sebagai salah satu bentuk asupan sinbiotik tradisional yang bermanfaat asalkan tidak dikonsumsi berlebihan.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala gangguan pencernaan, mual, atau perih lambung yang berlarut-larut setelah mengonsumsi makanan fermentasi yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Diakses pada 2024. Pedoman Keamanan Pangan Tradisional.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Nilai Gizi Pangan Tradisional Fermentasi.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Probiotic Potential of Traditional Fermented Foods.
Journal of Food Science and Technology. Diakses pada 2024. Biochemical changes during cassava fermentation.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Food Safety and Fermentation Processes.

FAQ

1. Berapa lama maksimal tape singkong boleh disimpan?

Tape singkong paling ideal dikonsumsi pada hari ke-3 hingga ke-4 sejak proses pembuatan (ragi ditabur). Jika ingin menyimpannya lebih lama, segera masukkan ke dalam kulkas. Suhu dingin akan memperlambat proses fermentasi, sehingga tape bisa bertahan hingga 1-2 minggu tanpa menjadi terlalu asam atau lembek.

2. Mengapa tape singkong buatan saya rasanya sangat asam dan berair?

Rasa yang terlalu asam dan berair biasanya disebabkan oleh dua faktor: ragi yang digunakan terlalu banyak, atau durasi fermentasi (pemeraman) yang terlalu lama. Selain itu, jika wadah tidak tertutup kedap udara, udara yang masuk akan memicu pertumbuhan bakteri asam asetat yang membuat tape terasa asam pekat dan beraroma menyengat.

3. Apakah tape singkong aman dikonsumsi oleh penderita diabetes?

Penderita diabetes sebaiknya berhati-hati dan membatasi konsumsi tape singkong. Proses fermentasi memecah karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana (glukosa). Hal ini membuat tape memiliki indeks glikemik yang cukup tinggi, sehingga berpotensi menaikkan kadar gula darah dengan cepat jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

4. Bolehkah menaburkan ragi saat singkong masih panas agar lebih cepat jadi?

Sangat tidak boleh. Menaburkan ragi saat singkong masih panas atau hangat adalah kesalahan paling umum yang menyebabkan kegagalan. Suhu panas akan mematikan mikroorganisme (jamur ragi) yang bertugas melakukan fermentasi. Akibatnya, singkong tidak akan menjadi tape, melainkan hanya membusuk atau tidak mengalami perubahan rasa sama sekali.