Ad Placeholder Image

Bolehkah Ibu Menyusui Makan Jengkol? Ini Batas Amannya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Bolehkah Ibu Menyusui Makan Jengkol? Cek Faktanya!

Bolehkah Ibu Menyusui Makan Jengkol? Ini Batas AmannyaBolehkah Ibu Menyusui Makan Jengkol? Ini Batas Amannya

DAFTAR ISI


Jengkol (Archidendron pauciflorum) merupakan salah satu makanan primadona di Indonesia yang dikenal dengan aroma dan cita rasanya yang khas. Namun, bagi ibu yang sedang dalam masa laktasi, sering muncul pertanyaan besar: bolehkah ibu menyusui makan jengkol? Kekhawatiran ini biasanya berakar pada mitos bahwa bau jengkol yang menyengat dapat memengaruhi kualitas air susu ibu (ASI) atau bahkan menyebabkan bayi mengalami gangguan kesehatan.

Sebagai ibu menyusui, menjaga asupan nutrisi adalah prioritas utama demi mendukung pertumbuhan buah hati. Jengkol sendiri sebenarnya memiliki profil nutrisi yang cukup menarik, mulai dari protein hingga zat besi. Namun, ada aspek keamanan medis yang perlu diperhatikan, terutama terkait kandungan asam jengkolat yang dapat berisiko bagi fungsi ginjal jika dikonsumsi secara berlebihan atau dengan cara yang salah.

Penting bagi kamu untuk memahami batasan aman dan cara pengolahan yang tepat agar manfaat nutrisinya tetap didapat tanpa memberikan dampak negatif pada proses menyusui. Jika kamu ragu mengenai kondisi kesehatan ginjal atau asupan gizi harian, sebaiknya segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan saran medis yang personal.

Nah, mau tahu apa saja fakta medis di balik konsumsi jengkol bagi ibu menyusui? Berikut ulasannya!

Kandungan Nutrisi Jengkol bagi Ibu Menyusui

Jengkol bukan sekadar makanan pelengkap yang mengundang selera. Di balik baunya yang kuat, jengkol mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, termasuk bagi ibu yang sedang menyusui. Berikut adalah beberapa nutrisi penting yang terkandung dalam jengkol:

  • Protein: Jengkol mengandung protein yang cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis kacang-kacangan lainnya. Protein sangat penting untuk memperbaiki jaringan tubuh ibu dan mendukung pertumbuhan sel pada bayi.
  • Kalsium dan Fosfor: Kedua mineral ini sangat krusial untuk menjaga kepadatan tulang ibu yang sering kali “terkuras” selama masa menyusui, sekaligus membantu pembentukan tulang dan gigi bayi.
  • Zat Besi: Ibu menyusui rentan mengalami anemia. Kandungan zat besi dalam jengkol dapat membantu pembentukan sel darah merah dan mencegah rasa lelah yang berlebihan.
  • Vitamin A dan C: Berfungsi sebagai antioksidan untuk menjaga daya tahan tubuh ibu agar tidak mudah jatuh sakit.
  • Serat: Membantu melancarkan sistem pencernaan ibu dan mencegah konstipasi, yang sering menjadi masalah pasca persalinan.

Pengaruh Makan Jengkol terhadap Rasa dan Aroma ASI

Banyak ibu khawatir bahwa aroma jengkol yang tajam akan berpindah ke ASI dan membuat bayi enggan menyusu (nursing strike). Secara medis, apa pun yang dikonsumsi ibu memang dapat memengaruhi rasa dan aroma ASI, namun dalam kadar yang sangat kecil.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa paparan berbagai rasa melalui ASI justru dapat membantu bayi lebih mudah menerima berbagai jenis makanan saat mulai masuk masa MPASI nantinya. Namun, reaksi setiap bayi berbeda. Beberapa bayi mungkin tidak mempermasalahkan sedikit perubahan aroma pada ASI, sementara bayi yang sensitif mungkin akan menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman atau rewel saat menyusu setelah ibu makan jengkol.

Tanda Bayi Sensitif terhadap Aroma Makanan Ibu:
  1. Bayi tampak rewel atau memalingkan wajah saat akan menyusu.
  2. Durasi menyusu menjadi lebih singkat dari biasanya.
  3. Bayi menunjukkan gejala kembung atau kolik yang tidak biasa.

Risiko Asam Jengkolat (Jengkolan) pada Busui

Hal yang paling perlu diwaspadai dari konsumsi jengkol bukanlah baunya, melainkan kandungan asam jengkolat. Asam jengkolat adalah jenis asam amino yang mengandung sulfur dan sulit larut dalam air pada suasana asam. Jika kadarnya terlalu tinggi di dalam tubuh, asam ini dapat mengkristal di dalam ginjal dan saluran kemih.

Kondisi yang dikenal sebagai “jengkolan” ini dapat menyebabkan gejala seperti nyeri pinggang yang hebat, sulit buang air kecil, hingga kencing berdarah (hematuria). Bagi ibu menyusui, kondisi ini tentu sangat berbahaya karena dapat mengganggu kesehatan ibu secara umum dan menghambat proses pemberian ASI. Oleh karena itu, moderasi adalah kunci utama. Jika kamu memerlukan suplemen tambahan untuk menjaga kondisi fisik selama menyusui, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.

Tips Aman Mengonsumsi Jengkol saat Menyusui

Jika kamu sangat mengidamkan jengkol, kamu tidak perlu menghindarinya sepenuhnya. Berikut adalah beberapa tips dari perspektif farmakologi dan gizi untuk meminimalisir risiko:

1. Perhatikan Porsi

Jangan mengonsumsi jengkol dalam jumlah banyak sekaligus. Batasi hanya 2-3 keping jengkol dalam satu kali makan dan jangan dikonsumsi setiap hari.

2. Cara Pengolahan yang Benar

Asam jengkolat dapat dikurangi kadarnya dengan cara merendam jengkol dalam air atau air kapur selama satu malam sebelum dimasak. Pastikan jengkol dimasak hingga benar-benar empuk dan matang sempurna. Hindari mengonsumsi jengkol mentah karena kadar asam jengkolatnya paling tinggi.

3. Minum Air Putih yang Banyak

Air putih berfungsi untuk membantu ginjal melarutkan kristal asam jengkolat dan membuangnya melalui urine. Bagi ibu menyusui, hidrasi juga sangat penting untuk menjaga produksi ASI tetap lancar.

4. Amati Reaksi Bayi

Setelah makan jengkol, amati perilaku bayi selama 24 jam ke depan. Jika bayi tetap menyusu dengan lahap dan tidak ada perubahan pada pola buang air besarnya, maka konsumsi jengkol dalam batas wajar dianggap aman bagi kamu.

Studi Mengenai Nutrisi Busui

National Institutes of Health (NIH) menerbitkan berbagai laporan yang menjelaskan bahwa variasi diet ibu selama menyusui sangat penting untuk profil nutrisi ASI, namun keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama untuk mencegah paparan toksin alami pada bayi melalui ASI.

Meskipun belum ada studi spesifik yang melarang total jengkol untuk busui, para ahli gizi menekankan pentingnya menghindari makanan yang dapat memicu gangguan ginjal akut, karena kondisi kesehatan ibu yang menurun akan berdampak langsung pada kualitas pengasuhan dan pemberian nutrisi bayi.

Jika setelah mengonsumsi jengkol kamu merasakan nyeri pinggang atau perubahan pada warna urine, jangan menunda untuk mencari bantuan medis. Kamu bisa mengonsultasikan gejala tersebut dengan dokter spesialis untuk mendapatkan penanganan yang tepat sebelum kondisi memburuk.

Selain menjaga pola makan, pastikan kamu juga memenuhi kebutuhan vitamin harian. Kamu bisa mendapatkan produk kesehatan di atas dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Punya Keluhan Kesehatan setelah Makan Jengkol? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan seperti nyeri perut atau bingung mengatur pola makan saat menyusui? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Tabel Komposisi Pangan Indonesia: Jengkol.
NCBI – PubMed. Diakses pada 2026. Djenkolism: A Rare Cause of Acute Kidney Injury.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Breastfeeding diet: Tips for moms.
WHO. Diakses pada 2026. Maternal nutrition during breastfeeding.

FAQ

1. Apakah jengkol bisa membuat ASI berbau?

Ya, zat sulfur dalam jengkol bisa masuk ke aliran darah dan memengaruhi aroma ASI, namun biasanya tipis dan tidak membahayakan bayi selama dikonsumsi dalam jumlah wajar.

2. Apa bahaya jengkol untuk ibu menyusui jika berlebihan?

Risiko utamanya adalah “jengkolan” atau gagal ginjal akut akibat kristalisasi asam jengkolat yang dapat menyebabkan nyeri hebat dan gangguan buang air kecil pada ibu.

3. Bagaimana cara menghilangkan bau jengkol pada mulut dan urine?

Mengkonsumsi mentimun, kopi, atau susu setelah makan jengkol serta meningkatkan asupan air putih dapat membantu menetralisir aroma sulfur yang dikeluarkan tubuh.

4. Apakah bayi bisa terkena jengkolan dari ASI ibu?

Hingga saat ini belum ada laporan kasus bayi mengalami jengkolan hanya karena ibu makan jengkol. Risiko terbesar tetap ada pada kesehatan ginjal ibu itu sendiri.