Ad Placeholder Image

Bolehkah Ibu Menyusui Makan Tape Ketan? Cek Faktanya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Bolehkah Ibu Menyusui Makan Tape Ketan? Amankah Bayi?

Bolehkah Ibu Menyusui Makan Tape Ketan? Cek FaktanyaBolehkah Ibu Menyusui Makan Tape Ketan? Cek Faktanya

DAFTAR ISI


Menyusui adalah fase krusial dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pada masa ini, ibu tidak hanya berfokus pada teknik menyusui yang benar, tetapi juga harus sangat memperhatikan asupan nutrisi harian. Segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh ibu, dari makanan, minuman, hingga obat-obatan, memiliki potensi untuk diserap ke dalam aliran darah dan akhirnya bercampur dengan Air Susu Ibu (ASI). Oleh karena itu, diet ibu menyusui sering kali menjadi topik yang dipenuhi dengan kehati-hatian dan pantangan.

Salah satu makanan tradisional Indonesia yang kerap mengundang tanda tanya di kalangan ibu menyusui adalah tape ketan. Rasanya yang manis, asam, dan menyegarkan membuat kudapan hasil fermentasi ini sangat digemari, terutama saat disajikan dingin atau dicampur dalam es campur. Namun, di balik kelezatannya, proses fermentasi tape ketan menghasilkan senyawa etanol atau alkohol. Hal ini tentu memicu kekhawatiran: apakah aman bagi ibu yang sedang menyusui bayinya untuk mengonsumsi makanan yang mengandung alkohol alami?

Secara medis, asupan alkohol pada ibu menyusui adalah hal yang sangat tidak direkomendasikan. Sistem metabolisme bayi, terutama yang masih berusia di bawah enam bulan, belum terbentuk sempurna seperti orang dewasa. Ginjal dan organ hati (liver) mereka masih sangat prematur untuk memproses racun atau senyawa kompleks seperti alkohol. Jika alkohol sampai masuk ke dalam tubuh bayi melalui ASI, dampak kesehatannya bisa sangat merugikan, mulai dari gangguan pola tidur hingga potensi hambatan perkembangan motorik.

Oleh karena itu, banyak pakar laktasi dan dokter anak yang menyarankan agar ibu menyusui menghindari tape ketan sepenuhnya. Jika kamu masih merasa ragu mengenai aturan makan dan minum selama masa laktasi, atau ingin tahu efek samping secara spesifik apabila busui makan tape ketan, sangat disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan ahlinya agar proses menyusui tetap aman dan nyaman bagi ibu maupun si buah hati. Lantas, bagaimana sebenarnya proses perpindahan alkohol ini terjadi dan apa dampaknya? Mari kita bedah faktanya secara medis di bawah ini.

Kandungan Alkohol dalam Tape Ketan

Tape ketan dibuat melalui proses fermentasi karbohidrat (beras ketan) dengan bantuan ragi (Saccharomyces cerevisiae). Selama proses inkubasi yang memakan waktu 2 hingga 3 hari, ragi akan memecah glukosa (gula) yang ada pada ketan menjadi dua komponen utama: karbon dioksida dan etanol (alkohol). Semakin lama tape ketan disimpan atau difermentasi, maka kadar alkoholnya akan semakin tinggi dan rasanya akan semakin tajam.

Banyak masyarakat yang menganggap bahwa alkohol dalam tape berbeda dengan alkohol pada minuman keras. Secara kimiawi, hal tersebut tidaklah benar. Etanol yang dihasilkan dari fermentasi tape adalah senyawa yang sama persis dengan etanol yang ada pada bir, anggur, atau minuman beralkohol lainnya. Kadar alkohol pada tape ketan yang sudah matang bisa bervariasi, berkisar antara 2% hingga 5%, bahkan bisa lebih jika disimpan dalam waktu yang lama. Angka ini setara dengan kandungan alkohol pada bir berkarbonasi ringan.

Bagi orang dewasa dengan metabolisme yang sehat, mengonsumsi sedikit tape ketan mungkin tidak akan memberikan efek memabukkan yang signifikan. Namun, ketika kita berbicara tentang ibu menyusui, parameternya berubah drastis. Berapapun kadar alkohol yang masuk ke dalam darah ibu, ia akan ikut mengalir ke dalam ASI dengan konsentrasi yang hampir sama dengan kadar alkohol dalam darah ibu (Blood Alcohol Concentration / BAC) pada saat itu.

Risiko Alkohol pada ASI dan Bayi

Ketika ibu menyusui mengonsumsi makanan beralkohol seperti tape ketan, alkohol akan diserap di lambung dan usus halus, lalu masuk ke dalam aliran darah dalam waktu 30 hingga 60 menit setelah konsumsi. Karena ASI dibentuk dari komponen darah ibu, alkohol akan langsung masuk ke kelenjar payudara. Berikut adalah beberapa risiko medis yang dapat terjadi akibat paparan alkohol pada ASI:

1. Mengubah Siklus Tidur Bayi

Banyak mitos mengatakan bahwa alkohol membuat bayi tidur lebih nyenyak. Faktanya, penelitian medis menunjukkan sebaliknya. Bayi yang terpapar alkohol melalui ASI mungkin akan tertidur lebih cepat (karena efek sedatif ringan), namun mereka akan mengalami gangguan tidur REM (Rapid Eye Movement). Akibatnya, durasi tidur bayi menjadi lebih pendek, mereka lebih sering terbangun, dan menjadi rewel atau mudah menangis karena kualitas tidurnya terganggu.

2. Menurunkan Produksi ASI (Inhibisi Oksitosin)

Alkohol memiliki sifat menekan sistem saraf pusat ibu. Hal ini berdampak langsung pada hormon oksitosin, yakni hormon yang bertanggung jawab atas Let-Down Reflex (refleks keluarnya ASI). Konsumsi alkohol, meskipun dalam jumlah kecil, dapat menghambat pelepasan oksitosin. Akibatnya, meskipun payudara ibu penuh, ASI menjadi sulit keluar. Hal ini akan membuat bayi frustrasi saat menyusu dan pada akhirnya dapat menurunkan total produksi ASI harian hingga 20%.

3. Mengubah Rasa ASI dan Mengurangi Asupan Nutrisi Bayi

Alkohol terbukti dapat merubah profil rasa dan aroma ASI. ASI akan terasa sedikit lebih asam atau pahit. Bayi sangat sensitif terhadap perubahan rasa ini. Sering kali, bayi akan menolak menyusu (nursing strike) atau menyusu dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dari biasanya. Pengurangan asupan ASI ini tentu berisiko menyebabkan bayi kekurangan nutrisi harian yang krusial untuk tumbuh kembangnya.

4. Risiko Keterlambatan Perkembangan Motorik

Paparan alkohol yang terus-menerus atau dalam jumlah banyak selama masa laktasi telah dikaitkan dengan risiko keterlambatan perkembangan motorik kotor pada bayi saat mereka berusia satu tahun. Meskipun tape ketan mungkin hanya dikonsumsi sesekali, organ liver bayi yang belum matang membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk memetabolisme alkohol dibandingkan orang dewasa, sehingga racun tersebut bertahan lebih lama di dalam tubuh mungil mereka.

Penting untuk Diingat: Pompa dan Buang (Pump and Dump) Tidak Efektif Menghilangkan Alkohol
  1. Memompa ASI dan membuangnya tidak mempercepat proses pengeluaran alkohol dari tubuh ibu.
  2. Selama alkohol masih ada di dalam darah ibu, ASI yang baru diproduksi pun akan tetap mengandung alkohol.
  3. Satu-satunya cara menghilangkan alkohol dari ASI adalah dengan menunggu seiring berjalannya waktu (metabolisme alami tubuh).

Mitos vs Fakta Tape Ketan dan Kelancaran ASI

Di beberapa daerah, terdapat kepercayaan turun-temurun yang menyebutkan bahwa makanan fermentasi ragi seperti tape ketan atau minuman tuak manis dapat berfungsi sebagai galactagogue (pelancar ASI). Klaim ini sering kali menyesatkan banyak ibu baru.

Fakta Medis: Sensasi payudara yang terasa penuh (bengkak) setelah mengonsumsi alkohol bukanlah tanda produksi ASI meningkat. Hal tersebut justru terjadi karena terhambatnya hormon oksitosin, yang membuat ASI terjebak di dalam saluran payudara dan tidak bisa mengalir keluar secara optimal saat bayi menghisap. Kondisi penumpukan ini berisiko memicu sumbatan saluran ASI (plugged duct) hingga infeksi payudara (mastitis).

Jadi, anggapan bahwa tape ketan melancarkan ASI adalah mitos belaka yang justru berisiko membahayakan kesehatan bayi dan kenyamanan ibu.

Tips Aman Jika Terlanjur Makan Tape Ketan

Terkadang, ibu menyusui bisa saja tidak sengaja mengonsumsi makanan penutup, es campur, atau hidangan acara keluarga yang ternyata mengandung tape ketan di dalamnya. Jika hal ini terjadi, jangan panik. Berikut adalah langkah medis yang direkomendasikan:

1. Tunda Waktu Menyusui

Jika kamu mengetahui baru saja mengonsumsi tape ketan dalam porsi sedang, berhentilah menyusui bayimu secara langsung. Aturan medis (berdasarkan American Academy of Pediatrics) menyarankan ibu untuk menunggu minimal 2 jam hingga 2,5 jam untuk setiap takaran standar alkohol sebelum kembali menyusui. Karena kadar alkohol tape sulit diukur, menunggu setidaknya 3 hingga 4 jam setelah konsumsi adalah langkah paling aman.

2. Berikan ASIP (ASI Perah) Cadangan

Selama masa tunggu hilangnya alkohol dari darah, berikan bayi ASI perah yang sudah kamu pompa dan simpan di hari-hari sebelumnya (sebelum makan tape). Inilah mengapa penting bagi ibu menyusui untuk selalu memiliki cadangan ASIP (frozen breastmilk) untuk keadaan darurat semacam ini.

3. Minum Air Putih yang Banyak

Meskipun air putih tidak mempercepat metabolisme alkohol keluar dari darah secara drastis, hidrasi yang baik sangat penting untuk fungsi ginjal dan sirkulasi darah ibu, serta mencegah dehidrasi yang dapat menurunkan produksi ASI lebih jauh.

Rekomendasi Nutrisi Pengganti yang Aman

Daripada mengambil risiko dengan mengonsumsi tape ketan, ibu menyusui sebaiknya berfokus pada asupan makanan yang terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ASI (ASI booster alami). Beberapa pilihan yang lezat dan aman antara lain:

  • Oatmeal: Mengandung beta-glukan tinggi, zat besi, dan serat yang terbukti dapat menstimulasi produksi ASI dan memberikan energi tahan lama bagi ibu.
  • Daun Katuk dan Bayam: Kaya akan fitoestrogen, kalsium, dan asam folat yang baik untuk komposisi gizi ASI.
  • Almond dan Kacang-kacangan: Sumber lemak baik (HDL) dan protein yang membuat ASI menjadi lebih kental (hindmilk kaya kalori).
  • Buah-buahan Segar: Jika ibu mendambakan rasa manis dan segar dari tape, gantilah dengan buah-buahan seperti pepaya, mangga, atau alpukat yang jauh lebih aman dan kaya vitamin.

Untuk memastikan kebutuhan mikro dan makro nutrisi ibu laktasi terpenuhi tanpa risiko, ibu juga dianjurkan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis. Pastikan juga kamu melengkapi nutrisi harian dengan cara beli vitamin dan suplemen menyusui yang diformulasikan khusus dan telah tersertifikasi BPOM demi keamanan bayi.

Studi Mengenai Kandungan Alkohol pada ASI

American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan pedoman klinis terkait transfer obat dan bahan kimia ke dalam ASI yang menegaskan bahwa alkohol, dalam bentuk apapun, mudah terserap ke dalam kompartemen ASI.

Studi tersebut menjelaskan bahwa konsumsi alkohol menumpulkan pelepasan oksitosin sehingga bayi mengonsumsi ASI 20% lebih sedikit dalam rentang waktu 3 sampai 4 jam setelah ibu minum/makan makanan beralkohol. Selain itu, bayi memiliki laju eliminasi alkohol hanya sekitar separuh dari laju eliminasi orang dewasa. Temuan ini menegaskan bahwa menghindari produk fermentasi beralkohol seperti tape adalah pilihan paling preventif bagi ibu menyusui.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Academy of Pediatrics (AAP). Diakses pada 2024. Breastfeeding and Alcohol.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Maternal Diet: Alcohol and Breastfeeding.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Breast-feeding and alcohol: Is it safe?
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Panduan Gizi Ibu Menyusui.
La Leche League International. Diakses pada 2024. Alcohol and Breastfeeding.

FAQ

1. Apakah boleh busui makan tape ketan sedikit saja?

Secara medis, sangat tidak disarankan. Meskipun hanya sedikit, tape ketan mengandung alkohol dari proses fermentasi. Alkohol dapat mengalir ke ASI dan memengaruhi pola tidur, saraf, serta menurunkan refleks let-down (keluarnya ASI) pada ibu.

2. Berapa lama alkohol dari tape ketan hilang dari ASI?

Alkohol rata-rata membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 jam per takaran standar untuk hilang sepenuhnya dari aliran darah dan ASI. Namun, karena kadar alkohol pada tape ketan tidak pasti dan sulit ditakar, sebaiknya hindari konsumsinya sama sekali selama masa laktasi.

3. Apakah tape ketan bisa membuat bayi mabuk?

Bayi mungkin tidak akan mabuk layaknya orang dewasa, tetapi organ hati mereka yang belum matang akan kesulitan memproses alkohol. Efeknya, bayi bisa menjadi sangat rewel, siklus tidurnya terganggu (tidur gelisah), dan asupan ASI mereka menurun karena perubahan rasa.

4. Apakah tape ubi (peuyeum) juga dilarang untuk ibu menyusui?

Ya, konsepnya sama. Tape ubi atau singkong (peuyeum) juga melewati proses fermentasi menggunakan ragi yang menghasilkan etanol (alkohol). Oleh karena itu, semua jenis tape sebaiknya dihindari oleh ibu yang sedang menyusui.