
Bronkopneumonia Pada Anak: Info Lengkap dan Cara Atasi
Bronkopneumonia pada anak adalah infeksi paru yang menyebabkan peradangan saluran napas kecil dan jaringan paru.

DAFTAR ISI
- Apakah Bronkopneumonia Menular atau Tidak?
- Penyebab dan Faktor Risiko Bronkopneumonia
- Gejala Bronkopneumonia yang Harus Diwaspadai
- Langkah Penanganan Medis dan Perawatan di Rumah
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang memicu peradangan pada saluran udara utama (bronkus) dan kantung udara kecil (alveoli) di dalam paru-paru. Kondisi ini paling sering menimpa anak-anak, balita, dan lansia yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rentan. Saat seseorang terkena bronkopneumonia, kantung udara di paru-paru akan terisi oleh cairan atau nanah, sehingga membuat penderitanya kesulitan bernapas.
Mengingat penyakit ini berkaitan erat dengan infeksi bakteri maupun virus, tidak heran jika banyak orang tua dan masyarakat umum yang merasa khawatir. Pertanyaan mengenai bronkopneumonia menular atau tidak sering kali muncul, terutama ketika ada anggota keluarga di rumah yang sedang menderita batuk parah yang disertai sesak napas.
Memahami sifat penularan, gejala, dan cara pencegahan penyakit ini sangatlah krusial. Hal ini tidak hanya berguna untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk mencegah penyebaran infeksi ke orang-orang terdekat yang masuk dalam kelompok rentan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui fakta medis di balik penyakit paru-paru ini secara menyeluruh.
Nah, ingin tahu penjelasan lengkap mengenai sifat penularan penyakit ini, gejala, serta langkah-langkah medis yang tepat untuk mengatasinya? Mari simak ulasan selengkapnya di bawah ini!
Apakah Bronkopneumonia Menular atau Tidak?
Jawaban singkatnya: Ya, infeksi yang menyebabkan bronkopneumonia bisa menular. Namun, ada sedikit miskonsepsi yang perlu diluruskan. Penyakit “bronkopneumonia” itu sendiri adalah kondisi peradangan paru-paru. Kamu tidak bisa menularkan “peradangannya”, tetapi kamu sangat bisa menularkan kuman (bakteri, virus, atau jamur) yang memicu peradangan tersebut kepada orang lain.
Ketika seseorang yang sehat menghirup atau terpapar kuman dari penderita bronkopneumonia, orang sehat tersebut bisa jatuh sakit. Namun, penyakit yang muncul pada orang yang tertular tidak selalu langsung berbentuk bronkopneumonia. Bisa saja mereka hanya mengalami batuk pilek biasa, radang tenggorokan, atau bronkitis ringan. Semuanya tergantung pada seberapa kuat sistem imun orang yang tertular tersebut.
Penularan kuman penyebab bronkopneumonia umumnya terjadi melalui:
- Percikan air liur (Droplet): Saat penderita batuk, bersin, atau berbicara tanpa menutup mulut, kuman akan menyebar ke udara dalam bentuk droplet kecil dan bisa terhirup oleh orang di sekitarnya.
- Kontak langsung: Berbagi peralatan makan, gelas, atau sedotan dengan seseorang yang sedang terinfeksi.
- Kontak tidak langsung: Menyentuh permukaan benda yang sudah terkontaminasi droplet penderita (seperti gagang pintu, mainan anak, atau meja), lalu menyentuh hidung, mulut, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Penyebab dan Faktor Risiko Bronkopneumonia
Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme. Namun, penyebab paling umum di seluruh dunia adalah infeksi bakteri. Beberapa patogen yang sering menjadi biang keladi di balik kondisi ini antara lain:
- Bakteri: Streptococcus pneumoniae (penyebab paling sering), Haemophilus influenzae tipe b (Hib), Staphylococcus aureus, dan Mycoplasma pneumoniae.
- Virus: Virus influenza, Respiratory syncytial virus (RSV), Adenovirus, dan virus SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19).
- Jamur: Lebih jarang terjadi, biasanya hanya menyerang individu dengan sistem imun yang sangat lemah, seperti penderita HIV/AIDS atau pasien kemoterapi.
Setiap orang bisa terkena kondisi ini, tetapi ada beberapa kelompok yang memiliki faktor risiko lebih tinggi, di antaranya:
- Anak-anak di bawah usia 2 tahun, karena sistem imun mereka belum berkembang sempurna.
- Lansia berusia di atas 65 tahun.
- Perokok aktif, karena paparan asap rokok merusak silia (rambut halus di paru-paru) yang bertugas menyapu kotoran dan lendir.
- Penderita penyakit kronis seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung.
- Orang yang tinggal di lingkungan padat penduduk dengan sirkulasi udara yang buruk.
Tips Mencegah Penularan Bronkopneumonia di Rumah
- Rutin Cuci Tangan: Gunakan sabun dan air mengalir setidaknya selama 20 detik, terutama setelah dari toilet atau sebelum makan.
- Terapkan Etika Batuk: Tutup mulut dan hidung dengan tisu atau lipatan siku bagian dalam saat batuk atau bersin, bukan dengan telapak tangan.
- Lengkapi Imunisasi: Pastikan anak mendapatkan vaksin PCV (Pneumokokus) dan Hib sesuai jadwal dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Gejala Bronkopneumonia yang Harus Diwaspadai
Gejala bronkopneumonia bisa berkisar dari ringan hingga sangat berat. Pada stadium awal, gejalanya sering kali menyerupai flu biasa, sehingga banyak orang yang meremehkannya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah cairan di paru-paru, gejala akan semakin memburuk.
Berikut adalah beberapa gejala umum yang perlu segera mendapat perhatian:
- Demam tinggi, sering kali disertai menggigil dan keringat dingin.
- Batuk berdahak yang membandel. Dahak bisa berwarna kuning, hijau, atau bahkan bercampur bercak darah.
- Sesak napas atau napas yang terasa sangat cepat dan pendek (takipnea).
- Nyeri dada yang terasa menusuk, yang semakin parah saat penderita batuk atau menarik napas dalam.
- Kelelahan ekstrem dan penurunan nafsu makan yang drastis.
- Pada bayi dan anak-anak, gejala bisa berupa retraksi dada (kulit di sela tulang rusuk tampak tertarik ke dalam saat bernapas), bibir membiru (sianosis), muntah, dan rewel.
- Pada lansia, demam mungkin tidak terlalu tinggi, tetapi mereka bisa mengalami kebingungan mental (delirium) atau penurunan suhu tubuh di bawah normal.
Langkah Penanganan Medis dan Perawatan di Rumah
Penanganan bronkopneumonia sangat bergantung pada apa penyebab infeksinya (bakteri, virus, atau jamur) serta tingkat keparahannya. Secara medis, bronkopneumonia bukanlah kondisi yang bisa diobati hanya dengan istirahat saja jika disebabkan oleh bakteri. Oleh karena itu, pemeriksaan ke dokter adalah hal mutlak.
1. Penanganan Medis oleh Dokter
Jika infeksi terbukti disebabkan oleh bakteri, dokter akan meresepkan antibiotik. Penting untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik meskipun gejala sudah membaik agar bakteri tidak kebal (resisten). Untuk kasus infeksi virus, dokter biasanya memberikan obat antivirus jika terdeteksi lebih awal, atau meresepkan obat pereda gejala sambil menunggu sistem imun tubuh melawan virus tersebut.
Pada kasus yang berat, terutama jika pasien mengalami kesulitan bernapas yang parah, rawat inap di rumah sakit mungkin diperlukan untuk pemberian oksigen, cairan infus, dan antibiotik melalui pembuluh darah (intravena).
2. Perawatan Suportif di Rumah
Selain obat dari dokter, perawatan di rumah bertujuan untuk mempercepat pemulihan dan membuat pasien merasa lebih nyaman. Pastikan pasien mendapatkan istirahat total, minum banyak air putih hangat untuk membantu mengencerkan dahak, dan mengonsumsi makanan bergizi tinggi.
Gunakan pelembap udara (humidifier) di kamar untuk melegakan saluran pernapasan. Jika dokter menyarankan perawatan di rumah dan meresepkan obat pereda gejala seperti obat penurun panas atau vitamin tambahan, kamu bisa beli obat secara praktis melalui layanan apotek terpercaya tanpa harus meninggalkan pasien sendirian di rumah.
Studi Terkait Bronkopneumonia
World Health Organization (WHO) menerbitkan laporan studi yang menjelaskan bahwa pneumonia menyumbang 14% dari seluruh kematian anak balita di dunia. Penyakit ini menewaskan lebih dari 740.000 anak setiap tahunnya, yang sebagian besar bentuknya adalah bronkopneumonia.
Studi ini menegaskan bahwa intervensi lingkungan—seperti mengurangi polusi udara di dalam rumah dari asap rokok atau kayu bakar—serta nutrisi yang memadai dan imunisasi lengkap adalah strategi paling efektif untuk menekan angka penularan dan keparahan penyakit paru-paru ini di kalangan masyarakat rentan.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Paru via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Paru terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Pneumonia Fact Sheet.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Pneumonia – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Bronchopneumonia: Symptoms, Causes & Treatment.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Mengenal Gejala Pneumonia pada Anak dan Cara Pencegahannya.
FAQ
1. Apakah anak yang menderita bronkopneumonia boleh pergi ke sekolah?
Sebaiknya jangan. Anak harus beristirahat total di rumah sampai gejala utamanya (seperti demam dan sesak napas) mereda dan dokter sudah menyatakan kondisinya tidak lagi menular. Hal ini untuk mencegah penularan kuman kepada teman-teman di sekolahnya.
2. Berapa lama masa inkubasi kuman penyebab bronkopneumonia?
Masa inkubasi, yaitu waktu dari masuknya kuman hingga timbulnya gejala, bervariasi tergantung pada jenis patogennya. Infeksi virus seperti RSV biasanya membutuhkan waktu 4-6 hari, sedangkan infeksi bakteri seperti Streptococcus pneumoniae berkisar antara 1 hingga 3 hari.
3. Apakah bronkopneumonia bisa disembuhkan secara total?
Ya, dengan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat sasaran (seperti pemberian antibiotik untuk infeksi bakteri), sebagian besar kasus bronkopneumonia dapat disembuhkan secara total tanpa meninggalkan kerusakan paru-paru permanen. Namun, pemulihan penuh bisa memakan waktu beberapa minggu.
4. Bisakah orang dewasa tertular bronkopneumonia dari anak-anak?
Sangat bisa. Meskipun orang dewasa memiliki sistem imun yang lebih kuat, mereka tetap bisa tertular kuman dari anak yang sakit, terutama melalui percikan batuk atau kontak fisik. Oleh karena itu, pengasuh atau orang tua yang merawat anak sakit wajib menggunakan masker dan rajin mencuci tangan.


