Ad Placeholder Image

Bruntusan di Kepala Bayi: Kenapa Muncul dan Cara Atasi

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 April 2026

Bruntusan di Kepala Bayi: Normal Kok! Ini Solusinya

Bruntusan di Kepala Bayi: Kenapa Muncul dan Cara AtasiBruntusan di Kepala Bayi: Kenapa Muncul dan Cara Atasi

Bruntusan di Kepala Bayi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Bruntusan di kepala bayi adalah kondisi umum yang sering membuat orang tua khawatir. Kondisi ini dapat muncul sebagai bintik-bintik merah kecil, benjolan, atau area kulit yang tampak kasar di kulit kepala bayi. Umumnya, bruntusan ini tidak berbahaya dan sering kali disebabkan oleh faktor-faktor non-serius yang terkait dengan kulit bayi yang sensitif atau perubahan hormon.

Namun, penting untuk memahami penyebab yang mendasarinya agar penanganan yang tepat dapat diberikan. Beberapa penyebab mungkin memerlukan perhatian medis lebih lanjut, terutama jika disertai gejala lain yang mengkhawatirkan.

Penyebab Umum Bruntusan di Kepala Bayi

Bruntusan di kepala bayi bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Pemahaman tentang penyebab ini membantu orang tua dalam mengidentifikasi dan menangani kondisi kulit buah hati.

  • Kulit Sensitif dan Perubahan Hormon
    Kulit bayi sangat halus dan sensitif, sehingga mudah bereaksi terhadap perubahan lingkungan atau paparan iritan. Hormon ibu yang masih tersisa dalam tubuh bayi setelah lahir juga dapat memicu munculnya bruntusan, menyerupai jerawat.

  • Kerak Kepala (Cradle Cap)
    Kondisi ini dikenal juga dengan dermatitis seboroik pada bayi. Kerak kepala ditandai dengan bercak bersisik, berminyak, atau berkerak yang seringkali berwarna kekuningan atau kecoklatan. Meskipun tampak mengganggu, kerak kepala umumnya tidak gatal atau nyeri.

  • Biang Keringat (Miliaria)
    Biang keringat terjadi ketika kelenjar keringat bayi tersumbat, terutama di cuaca panas atau jika bayi terlalu banyak memakai pakaian. Bruntusan yang muncul berupa bintik-bintik merah kecil, terkadang disertai gelembung air, dan bisa terasa gatal.

  • Milia
    Milia adalah bintik-bintik putih kecil yang tampak seperti mutiara. Kondisi ini disebabkan oleh sel kulit mati yang terperangkap di bawah permukaan kulit. Milia sangat umum pada bayi baru lahir dan biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu.

  • Jerawat Bayi (Acne Neonatorum)
    Jerawat bayi mirip dengan jerawat pada remaja, yaitu berupa bintik-bintik merah atau benjolan kecil dengan titik putih di tengahnya. Kondisi ini dipercaya berkaitan dengan hormon yang diterima bayi dari ibu selama kehamilan dan menyusui. Biasanya muncul pada usia beberapa minggu hingga beberapa bulan.

  • Alergi dan Iritasi Kulit
    Kulit kepala bayi bisa mengalami bruntusan sebagai reaksi alergi atau iritasi terhadap produk tertentu. Contohnya adalah sabun, sampo, deterjen, atau bahkan paparan bahan kimia tertentu. Alergi makanan juga bisa bermanifestasi pada kulit.

  • Infeksi
    Dalam beberapa kasus, bruntusan bisa menjadi tanda infeksi jamur atau bakteri. Infeksi ini mungkin memerlukan penanganan medis khusus. Ciri-ciri infeksi seringkali disertai kemerahan yang parah, nyeri, nanah, atau demam.

Gejala Tambahan yang Perlu Diwaspadai

Meskipun sebagian besar bruntusan di kepala bayi tidak berbahaya, beberapa gejala dapat mengindikasikan kondisi yang lebih serius. Penting untuk memperhatikan tanda-tanda berikut:

  • Bruntusan yang menyebar cepat atau semakin parah.
  • Disertai demam, rewel, atau kurang mau makan.
  • Terdapat nanah atau cairan bening dari bruntusan.
  • Kulit tampak sangat merah, bengkak, atau nyeri saat disentuh.
  • Bayi tampak sangat gatal dan terus-menerus menggaruk.

Penanganan dan Perawatan di Rumah

Penanganan bruntusan di kepala bayi sangat tergantung pada penyebabnya. Namun, ada beberapa langkah umum yang dapat dilakukan di rumah untuk meredakan dan mencegah kondisi ini:

  • Menjaga Kebersihan Kulit Kepala
    Bersihkan kulit kepala bayi secara rutin dengan sampo bayi yang lembut dan hipoalergenik. Bilas bersih dan keringkan dengan menepuk-nepuk lembut, bukan menggosok.

  • Gunakan Produk yang Tepat
    Pilih produk perawatan bayi seperti sampo, sabun, dan losion yang diformulasikan khusus untuk kulit sensitif bayi. Pastikan produk bebas pewangi, pewarna, dan bahan kimia keras.

  • Pakaian yang Menyerap Keringat
    Pakaikan bayi pakaian yang longgar dan terbuat dari bahan alami seperti katun. Ini membantu sirkulasi udara dan mencegah penumpukan keringat yang bisa memicu biang keringat.

  • Cukupi Kebutuhan ASI
    ASI mengandung antibodi yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi. Sistem imun yang baik membantu bayi melawan infeksi dan masalah kulit.

  • Hindari Gesekan Berlebihan
    Jangan menggaruk atau menggosok bruntusan. Hal ini dapat memperparah iritasi dan meningkatkan risiko infeksi.

Pencegahan Bruntusan di Kepala Bayi

Beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko bruntusan di kepala bayi:

  • Mandikan bayi secara teratur namun tidak terlalu sering, sekitar 2-3 kali seminggu, untuk menjaga kelembapan kulit.
  • Gunakan air bersuhu suam-suam kuku saat memandikan bayi.
  • Hindari penggunaan topi atau penutup kepala yang terlalu ketat atau tebal, terutama saat cuaca panas.
  • Pastikan lingkungan tempat bayi berada tidak terlalu panas atau lembap.
  • Perhatikan reaksi kulit bayi terhadap makanan baru atau produk perawatan yang digunakan.

Kapan Harus ke Dokter?

Orang tua disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika bruntusan di kepala bayi tidak membaik setelah beberapa hari perawatan di rumah, atau jika disertai dengan gejala seperti demam, bayi rewel, nafsu makan menurun, atau terdapat tanda-tanda infeksi seperti nanah atau kemerahan yang parah. Dokter dapat mendiagnosis penyebab pasti dan memberikan penanganan yang sesuai.

Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan kulit kepala bayi, dapat diakses melalui aplikasi Halodoc. Tim dokter Halodoc siap memberikan saran medis yang akurat dan terpercaya.