
Buncit Perut Bayi Kembung dan Berbunyi Ini Solusi Amannya
Buncit Perut Bayi Kembung dan Berbunyi Simak Cara Atasi

DAFTAR ISI
- Penyebab Perut Bayi Kembung dan Berbunyi
- Cara Mengatasi Perut Bayi Kembung di Rumah
- Kapan Harus Segera ke Dokter?
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Sebagai orang tua baru, mendengar perut bayi kembung dan berbunyi mungkin akan membuat kamu merasa panik dan khawatir. Suara gemuruh atau keroncongan yang berasal dari perut si kecil sering kali terdengar sangat keras di telinga, seolah-olah ada masalah serius pada sistem pencernaannya. Secara medis, suara berbunyi dari perut ini dikenal dengan istilah borborygmi, yang terjadi akibat pergerakan gas dan cairan di dalam usus.
Kondisi perut berbunyi yang disertai dengan kembung pada bayi sebenarnya merupakan hal yang sangat umum terjadi. Hal ini dikarenakan sistem pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan dan belum matang sempurna. Bayi belum memiliki kemampuan yang baik untuk memproses makanan atau mengeluarkan gas dari dalam perutnya layaknya orang dewasa. Oleh karena itu, gas sangat mudah terjebak di dalam saluran cerna mereka.
Walaupun tergolong kondisi yang normal, perut kembung tetap bisa membuat bayi merasa sangat tidak nyaman. Bayi yang mengalami kembung biasanya akan menjadi lebih rewel, sering menangis tanpa alasan yang jelas, menarik kedua kakinya ke arah perut, hingga sulit untuk tidur nyenyak. Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya mengganggu waktu istirahat bayi, tetapi juga membuat siklus menyusui menjadi tidak optimal.
Mengingat setiap tangisan bayi adalah bentuk komunikasi, penting bagi kamu untuk mengenali tanda-tanda kapan kembung tersebut merupakan hal yang biasa dan kapan kondisi tersebut memerlukan perhatian khusus. Yuk, kenali penyebab pastinya serta ketahui berbagai cara alami dan aman untuk mengatasi perut kembung pada bayi di bawah ini!
Penyebab Perut Bayi Kembung dan Berbunyi
Ada berbagai faktor yang bisa memicu penumpukan gas berlebih di dalam perut bayi. Mengetahui akar masalahnya adalah langkah pertama yang paling penting agar kamu bisa memberikan penanganan yang tepat.
1. Menelan Terlalu Banyak Udara (Aerophagia)
Ini adalah penyebab paling umum terjadinya perut kembung pada bayi. Bayi bisa menelan udara dalam jumlah banyak saat mereka menyusu, baik secara langsung dari payudara ibu (direct breastfeeding) maupun melalui botol susu. Posisi pelekatan (latch on) yang kurang tepat saat menyusu langsung membuat celah bagi udara untuk masuk ke mulut bayi. Pada bayi yang minum dari botol, lubang dot yang terlalu besar atau botol yang dibiarkan miring dalam keadaan kosong juga memicu masalah yang sama. Selain itu, bayi yang dibiarkan menangis terlalu lama juga cenderung menghirup banyak udara yang akhirnya terperangkap di perut.
2. Sistem Pencernaan yang Belum Sempurna
Saat bayi baru lahir, sistem gastrointestinal atau saluran pencernaan mereka belum terbentuk sepenuhnya. Usus bayi masih beradaptasi untuk mencerna air susu ibu (ASI) atau susu formula. Selain itu, flora normal atau bakteri baik (mikrobiota) di dalam usus bayi yang bertugas membantu proses fermentasi dan pencernaan makanan masih sangat minim. Proses adaptasi inilah yang sering kali menghasilkan banyak gas di dalam perut, sehingga memicu perut kembung dan suara berbunyi.
Tanda-Tanda Bayi Mengalami Perut Kembung
- Perut bayi terasa keras dan tegang saat diraba perlahan.
- Bayi sering menggeliat, melengkungkan punggung, dan menarik kedua kakinya ke arah perut.
- Bayi sering buang angin (kentut) dan bersendawa dengan frekuensi lebih dari biasanya.
- Wajah bayi tampak memerah saat menangis karena mengejan menahan rasa tidak nyaman.
3. Sensitivitas Terhadap Makanan atau Susu Formula
Bagi bayi yang mengonsumsi susu formula, intoleransi laktosa atau alergi terhadap protein susu sapi bisa menjadi biang kerok perut kembung. Saluran cerna bayi mungkin belum memiliki enzim laktase yang cukup untuk memecah gula laktosa dalam susu, sehingga laktosa yang tidak tercerna akan berfermentasi di usus besar dan menghasilkan gas. Jika bayi kamu mengalami hal ini, sebaiknya kamu segera konsultasi dengan dokter anak Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan rekomendasi susu formula alternatif yang aman dan hipoalergenik.
4. Pola Makan Ibu Menyusui
Bagi bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, apa yang ibu makan bisa berdampak langsung pada pencernaan bayi. Beberapa jenis makanan yang dikonsumsi oleh ibu menyusui diketahui dapat memicu produksi gas yang tinggi, seperti sayuran golongan kubis (brokoli, kembang kol, kol), kacang-kacangan, produk olahan susu sapi, hingga makanan yang terlalu pedas atau asam. Protein dari makanan ini masuk ke dalam ASI dan bisa menyebabkan bayi ikut mengalami kembung.
Cara Mengatasi Perut Bayi Kembung di Rumah
Kabar baiknya, sebagian besar kasus perut kembung pada bayi bisa diatasi secara mandiri di rumah tanpa memerlukan intervensi medis yang berat. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa kamu terapkan untuk membuat perut si kecil kembali nyaman.
1. Rutin Menyendawakan Bayi
Membantu bayi bersendawa adalah rutinitas wajib yang harus dilakukan setiap kali selesai menyusui, atau bahkan di pertengahan waktu menyusui. Bersendawa membantu mengeluarkan udara yang terlanjur tertelan sebelum udara tersebut turun ke usus. Kamu bisa menggendong bayi secara tegak dengan dagunya bersandar di bahumu, lalu tepuk atau usap punggungnya dengan lembut. Posisi lain yang bisa dicoba adalah mendudukkan bayi di pangkuanmu, sangga dada dan kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menepuk punggung bayi perlahan.
2. Lakukan Gerakan Kayuh Sepeda (Bicycle Legs)
Gerakan ini sangat efektif untuk mendorong gas keluar dari saluran pencernaan bagian bawah. Baringkan bayi di atas permukaan yang datar dan empuk, seperti kasur atau playmat. Pegang kedua pergelangan kakinya dengan lembut, lalu gerakkan kakinya maju dan mundur ke arah perut menyerupai gerakan mengayuh sepeda. Lakukan gerakan ini selama beberapa menit secara perlahan dan hindari melakukannya tepat setelah bayi menyusu agar ia tidak muntah.
3. Pijat Perut Bayi dengan Lembut (Pijat ILU)
Memberikan pijatan pada perut bayi bisa merangsang pergerakan usus (peristaltik) agar gas yang terperangkap dapat segera keluar. Gunakan teknik pijat I Love You (ILU). Usap perut bayi di sisi kiri dari atas ke bawah (membentuk huruf I). Lalu, usap dari kanan atas ke kiri atas dan turun ke kiri bawah (membentuk huruf L terbalik). Terakhir, usap dari kanan bawah ke kanan atas, melengkung ke kiri atas, lalu turun ke kiri bawah (membentuk huruf U terbalik). Untuk memberikan rasa hangat, kamu bisa beli produk kesehatan bayi dan minyak telon secara online di Halodoc sebelum melakukan pijatan rutin ini.
4. Posisikan Bayi Tengkurap (Tummy Time)
Tummy time tidak hanya bagus untuk memperkuat otot leher dan punggung bayi, tetapi juga dapat memberikan tekanan lembut pada perut bayi yang bermanfaat untuk mendorong gas keluar. Biarkan bayi tengkurap di atas pangkuanmu atau di kasur selama beberapa menit sambil diawasi. Selalu pastikan bayi dalam keadaan terjaga dan tidak sedang tidur saat melakukan posisi ini untuk meminimalisasi risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).
Tips Pencegahan Perut Kembung saat Menyusui
- Pastikan posisi pelekatan mulut bayi pada puting atau botol susu tertutup rapat.
- Jika menggunakan botol susu, pilih jenis botol anti-colic yang didesain khusus untuk mengurangi udara masuk.
- Susui bayi sebelum ia menangis kelaparan untuk mencegah bayi menyedot susu terlalu rakus dan menelan udara.
- Bagi ibu menyusui, cobalah untuk mencatat makanan harian (food diary) untuk memantau makanan apa yang memicu kembung pada bayi.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Meskipun perut bayi kembung dan berbunyi umumnya tidak berbahaya, kamu tetap harus waspada terhadap tanda-tanda bahaya (red flags). Segera cari bantuan medis jika kembung pada perut bayi tidak kunjung membaik atau disertai dengan gejala-gejala berikut ini:
- Demam tinggi: Jika suhu tubuh bayi melebihi 38 derajat Celsius, ini bisa mengindikasikan adanya infeksi di dalam tubuh.
- Muntah hebat: Bayi memuntahkan susu dalam jumlah banyak secara proyektil (menyemprot), terutama jika muntahan berwarna hijau atau kekuningan.
- Perubahan pada feses: Feses bayi bertekstur sangat cair (diare berat), berbau tidak sedap yang tidak wajar, atau bahkan mengandung bercak darah dan lendir.
- Rewel ekstrem yang tidak bisa ditenangkan: Bayi menangis dengan nada tinggi terus-menerus selama lebih dari 2-3 jam, yang bisa menjadi tanda kolik parah atau masalah medis lainnya seperti intususepsi.
- Berat badan tidak naik: Bayi tampak lesu, enggan menyusu, dan grafik berat badannya menurun atau tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan normal.
Studi Terkait
American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa tangisan bayi akibat masalah gastrointestinal seperti perut kembung dan kolik sangat dipengaruhi oleh proses adaptasi mikrobioma di dalam ususnya. Bayi di bawah usia 3 bulan memiliki komposisi flora usus yang sangat berbeda dengan orang dewasa.
Studi klinis tersebut menyoroti bahwa keseimbangan bakteri baik (seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium) sangat penting dalam menekan produksi gas dari bakteri patogen. Pemberian edukasi teknik menyusui yang benar kepada ibu serta stimulasi fisik ringan seperti pijat bayi terbukti secara signifikan menurunkan frekuensi durasi menangis pada bayi yang mengalami masalah perut kembung.
Kesehatan pencernaan bayi adalah kunci utama dari pertumbuhan fisiknya. Memperhatikan dengan seksama bagaimana pola makan dan buang air bayi dapat membantu kamu mendeteksi masalah lebih dini. Jangan ragu untuk mencari dukungan profesional apabila kamu merasa kewalahan menghadapi fase ini.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Academy of Pediatrics. Diakses pada 2024. Infant Colic and Gas.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Colic in infants – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Gas in Babies: Causes and Remedies.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Infant Feeding and Digestion.
FAQ
1. Apakah perut bayi kembung dan berbunyi berbahaya?
Pada sebagian besar kasus, perut berbunyi dan kembung pada bayi adalah kondisi normal akibat pergerakan cairan dan gas di usus yang belum matang. Namun, kondisi ini perlu diwaspadai jika disertai demam, muntah menyemprot, atau darah pada feses.
2. Berapa lama biasanya bayi mengalami fase perut kembung ini?
Fase perut kembung atau kolik umumnya mulai muncul pada minggu ke-2 hingga ke-3 setelah bayi lahir, mencapai puncaknya pada usia 6 minggu, dan berangsur-angsur akan menghilang dengan sendirinya saat bayi menginjak usia 3 hingga 4 bulan seiring matangnya saluran cerna.
3. Apakah penggunaan dot atau empeng menyebabkan bayi kembung?
Ya, penggunaan empeng (pacifier) atau dot botol susu bisa menyebabkan bayi kembung jika bayi sering menghisap udara berlebih, terutama jika empeng sering terlepas dari mulutnya atau botol susu tidak diposisikan dengan sudut yang tepat untuk menutup bagian dot dengan cairan susu.
4. Bolehkah bayi diberikan obat pereda kembung?
Beberapa jenis obat simethicone tetes khusus bayi terkadang dijual bebas untuk memecah gelembung gas di usus. Namun, kamu sebaiknya selalu berkonsultasi dengan dokter spesialis anak sebelum memberikan obat-obatan jenis apa pun kepada bayi di bawah usia 6 bulan.


