• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Butuh Waktu 18 Bulan untuk Buat Vaksin COVID-19, Apa Alasannya?

Butuh Waktu 18 Bulan untuk Buat Vaksin COVID-19, Apa Alasannya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Perkembangan virus corona (korona) Wuhan semakin ganas. Kekhawatiran pada COVID-19 (virus korona Wuhan) berkembang setelah kasusnya meningkat tajam di Iran, Korea Selatan, dan Italia. Kasus paling menyita perhatian di Korea Selatan. Hingga hari ini setidaknya 977 orang telah terjangkit COVID-19 di negara tersebut.

Beragam cara dilakukan para ahli di berbagai belahan dunia untuk mengalahkan virus korona jenis baru ini. Salah satunya melalui terobosan obat-obatan antivirus yang diduga bisa membantu menyembuhkan pengidap COVID-19. 

Selain obat-obatan, para ahli juga terus-menerus memutar otak untuk menemukan vaksin yang ampuh guna mencegah virus misterius ini. Namun, sayangnya vaksin virus corona sepertinya masih jauh di depan mata. WHO mengatakan butuh sekitar 18 bulan untuk memperoleh vaksin virus korona.

Nah, pertanyaannya mengapa memerlukan waktu selama 18 bulan? Waktu yang cepat atau lama untuk membuat suatu vaksin? 

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

Hitungan Tahun, Mungkin Gagal

Ancaman kesehatan global yang ditimbulkan oleh virus korona memaksa komunitas ilmiah dunia berlomba dan bekerja sama untuk mengembangkan vaksin virus korona. Sebab bila semakin lama vaksin ditemukan, maka kemungkinan angka kematian virus korona juga makin melambung tinggi. Kini COVID-19 setidaknya telah menewaskan lebih dari 2.500 orang yang sebagian besar terjadi di Tiongkok. 

Pada Selasa (11/2) Ketua Badan Kesehatan Dunia Mengatakan, vaksin virus corona jenis COVID-19 akan siap dalam 18 bulan ke depan. WHO bersama berbagai negara melakukan berbagai upaya dengan menggunakan perangkat dan sumber daya yang tersedia untuk melawan virus mematikan ini. 

Masalahnya, menurut WHO, proses pencarian vaksin untuk virus baru biasanya memakan waktu beberapa tahun. Itu pula terkadang berujung pada kegagalan. Namun, dengan perkembangan teknologi saat ini, vaksin virus corona bisa lebih cepat ditemukan, sekitar 18 bulan ke depan.

Baca juga: Korban Virus Corona Terus Bertambah, Ini 5 Fakta Baru Virus Corona

RNA dari Tiongkok Untuk Global

Perkembangan vaksin virus corona dimulai dari negara Tiongkok yang membagikan urutan RNA dari virus korona Wuhan. Virus RNA merupakan virus yang materi genetiknya RNA (asam ribonukleat). Virus ini menyebabkan penyakit ebola, SARS, hepatitis C, dan HIV atau AIDS. Hal yang perlu digarisbawahi, virus ini juga menyebabkan COVID-19.

Di akhir Januari, Doherty Institute di Melbourne menapak langkah penting. Ahli di sana sukses menumbuhkan virus ini di luar Tiongkok untuk kali pertama. Hal ini membuat peneliti di belahan dunia bisa memiliki akses ke sampel virus COVID-19.

Contohnya, para ahli di  CSIRO (Laboratorium Kesehatan Hewan Australia) di Geelong, Australia memulai untuk memahami karakteristik virus ini. Hal ini bukanlah sebuah langkah kecil, tetapi langkah penting dalam upaya global untuk mengembangkan sebuah vaksin. 

Lalu, benarkah waktu 18 bulan dinilai terlalu lama? Jangan salah, fakta dilapangan mengatakan setidaknya vaksin memakan waktu 2 sampai 5 tahun untuk dikembangkan. Nah, lewat kerja sama global para ahli bisa mengembangkan vaksin virus corona dalam waktu yang lebih cepat. Seperti kata WHO, kira-kira 18 bulan lamanya.

Mengembangkan vaksin tidaklah mudah. Ada banyak tahapan dalam prosesnya yang umumnya tidak diketahui para awam. Mulai dari memahami karakteristik dan perilaku virus, menilai keamanannya bagi tubuh, uji hewan pre-klinis, hingga pengujian praklinis. 

Di samping itu, tak ada satupun institusi yang punya kapasitas atau fasilitas untuk mengembangkan vaksin secara mandiri. Nah, atas dasarnya inilah negara-negara di dunia bekerja sama untuk menemukan vaksin COVID-19. 

Baca juga: Selain Virus Corona, Ini 12 Wabah Mematikan Lainnya dalam Sejarah

Update Terbaru COVID-19, Korea Selatan

Selain Tiongkok, kita perhatian global juga tertuju pada Korea Selatan. Alasannya jelas, menurut data real time dari The GISAID  Global Initiative on Sharing All Influenza Data, saat ini sekitar 977 orang di negara tersebut terjangkit virus korona Wuhan. Angka ini menempatkan Korea Selatan sebagai negara kedua terbanyak setelah Tiongkok, yang warganya terjangkit COVID-19. 

Padahal, pada 14 Februari lalu hanya terdapat 28 kasus COVID-19 di negara tersebut. Namun, kini angkanya melesat tajam hingga lebih dari 900 orang. Selain itu, beberapa jam lalu, Fox News juga melaporkan seorang pekerja awak kabin dari Korean Air positif mengidap COVID-19. Namun, pihak maskapai belum memberitahukan rute perjalanan pesawat tersebut. 

Menurut juru bicara maskapai penerbangan, perusahaan telah menutup kantornya di dekat bandara utama Korea Selatan. Meroketnya kasus COVID-19 di Korea Selatan mendorong berbagai negara mengeluarkan travel warning. Misalnya, Amerika Serikat (AS) yang mengeluarkan travel warning level 3. Artinya, warga AS perlu menghindari perjalanan yang tidak penting ke negara Korea Selatan.

Pada Minggu (23/02), pejabat kesehatan di Korea Selatan mengatakan, lonjakan jumlah kasus virus corona terjadi di dekat kota Daegu. Di sana lebih dari 50 persen warga yang terinfeksi COVID-19 merupakan kelompok gereja Kristen Shincheonji. 

Menurut data real time dari The GISAID, saat ini virus korona Wuhan telah menewaskan 10 warga korea selatan, 22 orang berhasil pulih dari COVID-19. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
ABC News. Diakses pada 2020. Health experts warn life-saving coronavirus vaccine still years away.
The Conversation Diakses pada 2020. Here’s why the WHO says a coronavirus vaccine is 18 months away.
The GISAID  Global Initiative on Sharing All Influenza Data. Diakses pada Januari 2020. 2019-nCoV Global Cases (by Johns Hopkins CSSE).
WHO. Diakses pada 2020. Coronavirus.