Ad Placeholder Image

Cara Ampuh Menghilangkan Bau Kencing Kucing Seketika

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

Pembersihan yang cepat dan menyeluruh sangat penting untuk mencegah bau kencing kucing menyebar dan menempel pada permukaan.

Cara Ampuh Menghilangkan Bau Kencing Kucing SeketikaCara Ampuh Menghilangkan Bau Kencing Kucing Seketika

DAFTAR ISI


Mendengar kata hewan berpori, sebagian besar dari kamu mungkin akan langsung terbayang pada spons mandi atau spons pencuci piring. Faktanya, di alam liar, hewan berpori atau yang dalam dunia sains dikenal dengan filum Porifera adalah kelompok hewan multiseluler primitif yang hidup menetap di dasar perairan, mayoritas di laut dan sebagian kecil di air tawar.

Secara kasat mata, hewan berpori memang lebih menyerupai terumbu karang atau tanaman laut yang kaku. Mereka tidak memiliki organ tubuh sejati, sistem saraf, apalagi sistem pencernaan layaknya hewan tingkat tinggi. Namun, jangan tertipu oleh kesederhanaan bentuknya. Di balik tubuhnya yang hanya terdiri dari kumpulan sel dan pori-pori, organisme ini menyimpan rahasia besar yang sangat berharga bagi kehidupan manusia.

Dalam bidang kesehatan, hewan berpori mendapat sorotan tajam dari para peneliti medis, ahli farmakologi, hingga ahli dermatologi. Mereka diketahui sebagai “pabrik” alami penghasil ribuan senyawa bioaktif yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obat-obatan mematikan penyakit berat, termasuk antibiotik generasi baru dan kemoterapi kanker. Tidak hanya itu, kerangka dari hewan berpori yang telah dibersihkan secara alami sering menjadi solusi terbaik untuk rutinitas perawatan tubuh dan kulit sensitif.

Nah, mau tahu apa saja keajaiban dan manfaat medis yang disimpan oleh filum Porifera? Berikut ulasan lengkap mengenai hewan berpori yang wajib kamu ketahui!

Mengenal Hewan Berpori dalam Ilmu Biologi dan Kesehatan

Hewan berpori atau Porifera berasal dari bahasa Latin, yaitu porus yang berarti lubang atau pori, dan ferre yang berarti membawa. Sesuai dengan namanya, ciri utama hewan ini adalah permukaan tubuhnya yang dipenuhi oleh ribuan pori-pori kecil. Mereka adalah organisme sessile, artinya mereka hidup menempel pada suatu substrat seperti batu atau karang di dasar lautan dan tidak dapat berpindah tempat secara bebas layaknya ikan laut pada umumnya.

Karena tidak dapat bergerak secara aktif untuk menghindari predator atau mencari makan, hewan ini harus berevolusi sedemikian rupa. Salah satu cara utama mereka bertahan hidup dari serangan predator dan infeksi patogen (seperti bakteri dan virus laut) adalah dengan memproduksi racun dan senyawa kimia yang sangat kuat. Senyawa kimia pertahanan atau chemical defense inilah yang kemudian menarik perhatian dunia kedokteran.

Berkat kemampuan adaptasi biokimia tersebut, para ilmuwan mengkategorikan hewan berpori sebagai sumber paling melimpah untuk obat-obatan berbahan dasar biota laut (marine drugs). Sejauh ini, diperkirakan hampir 30% dari seluruh senyawa bioaktif yang pernah diisolasi dari laut berasal dari hewan berpori. Fakta ini menjadikannya primadona dalam riset pengembangan obat baru, terutama ketika dunia sedang menghadapi krisis resistensi antibiotik.

Struktur dan Anatomi Unik Hewan Berpori

1. Ostium dan Oskulum

Tubuh hewan berpori bekerja layaknya sebuah filter air alami. Air yang kaya akan oksigen, nutrisi, dan bakteri mikroskopis akan masuk ke dalam tubuhnya melalui pori-pori kecil yang disebut ostium. Setelah disaring, air limbah beserta sisa metabolismenya akan disemburkan keluar melalui satu bukaan besar di bagian atas tubuhnya yang disebut oskulum. Proses filtrasi air laut yang tiada henti ini membuat spons laut sangat efisien dalam menyerap material biologis.

2. Sel Koanosit

Proses penyaringan makanan dalam tubuh hewan ini dijalankan oleh sel khusus bernama sel leher (koanosit). Sel ini memiliki flagela (bulu cambuk) yang bergerak secara terus-menerus untuk memompa air masuk melalui pori-pori. Sel ini juga bertugas untuk menangkap partikel organik dan bakteri laut, yang nantinya dicerna dan didistribusikan ke seluruh tubuh.

3. Kerangka Tubuh (Spikula dan Spongin)

Meski terlihat lunak, hewan ini memiliki kerangka untuk mempertahankan bentuk tubuhnya dari arus laut yang deras. Beberapa jenis hewan berpori memiliki spikula (jarum penyokong) yang terbuat dari kalsium karbonat (kapur) atau silika (seperti kaca tajam). Namun, ada golongan lain (kelas Demospongiae) yang tidak memiliki spikula tajam, melainkan kerangka berupa jaringan protein yang sangat elastis bernama spongin. Spons jenis inilah yang nantinya banyak digunakan manusia sebagai spons mandi atau eksfoliator kulit yang aman.

Klasifikasi Hewan Berpori di Alam
  1. Calcarea: Memiliki kerangka berupa spikula dari zat kapur (kalsium karbonat). Hidup di perairan dangkal laut.
  2. Hexactinellida: Dikenal juga sebagai spons kaca. Kerangkanya terbuat dari zat kersik (silika) transparan dan hidup di laut dalam.
  3. Demospongiae: Kelompok terbesar. Sebagian memiliki spikula dari silika, sebagian besar kerangkanya terbuat dari spongin yang lembut. Jenis inilah yang sering dimanfaatkan manusia.

Manfaat Hewan Berpori dalam Dunia Farmasi dan Medis

Penelitian mengenai manfaat spons laut di bidang kedokteran bukanlah hal yang baru. Sejak pertengahan abad ke-20, lautan dianggap sebagai apotek raksasa, dan hewan berpori adalah salah satu “rak obat” utamanya. Berikut ini adalah beberapa terobosan medis yang dihasilkan dari ekstrak Porifera:

1. Obat Antikanker (Sitostatika)

Salah satu kontribusi paling monumental dari hewan berpori adalah dalam pengobatan kanker. Pada tahun 1950-an, peneliti mengisolasi nukleosida langka bernama spongothymidine dan spongouridine dari spesies spons laut di wilayah Karibia, Cryptotethya crypta. Penemuan ini menjadi landasan terciptanya obat kanker darah pertama, Cytarabine (Ara-C).

Selain itu, ekstrak dari spesies Halichondria okadai yang ditemukan di Jepang sukses disintesis menjadi obat kemoterapi kanker payudara bernama Eribulin (Halaven). Obat-obatan ini bekerja dengan cara merusak proses pembelahan sel kanker, sehingga menghambat pertumbuhan tumor ganas dalam tubuh penderita.

2. Pengembangan Agen Antivirus

Hewan berpori ternyata juga menghasilkan senyawa yang mampu menghalau serangan virus mematikan. Selain obat kanker, ekstrak spons laut juga mendorong pengembangan Vidarabine (Ara-A), salah satu obat antivirus pertama di dunia. Vidarabine dulu sering digunakan untuk mengatasi berbagai masalah akibat infeksi Herpes Simplex Virus, meskipun saat ini telah banyak digantikan oleh obat antivirus yang lebih modern.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa senyawa tertentu yang diekstrak dari spons laut memiliki aktivitas penghambatan terhadap enzim HIV, yang berarti di masa depan, obat untuk HIV/AIDS mungkin bisa mendapatkan penyempurnaan formulasi dari laut.

3. Antibiotik Alami Penangkal Superbug

Di era modern ini, dunia kesehatan sangat kewalahan menghadapi fenomena resistensi antibiotik, yaitu kondisi di mana bakteri patogen tidak lagi dapat dibunuh oleh antibiotik standar. Untungnya, hewan berpori sering bersimbiosis dengan mikroorganisme laut yang memproduksi senyawa antibakteri untuk melawan kompetitor di ekosistem terumbu karang. Beberapa senyawa seperti manzamine dari spons laut terbukti ampuh melawan bakteri ganas seperti MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus) dan bakteri penyebab Tuberkulosis (TBC).

Jika kamu membutuhkan pengobatan antibiotik secara umum dan sudah berkonsultasi sebelumnya, kamu bisa dengan mudah beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah untuk mempercepat masa penyembuhanmu tanpa perlu keluar rumah.

Manfaat Spons Laut Alami untuk Perawatan Kulit

Selain diekstrak senyawa kimianya, kelas hewan berpori dari golongan Demospongiae, khususnya Spongia officinalis, telah dibudidayakan secara khusus sebagai alat kebersihan kulit yang premium. Apa saja keuntungan menggunakan spons alami (kerangka hewan berpori) dibandingkan spons sintetis?

1. Eksfoliasi Super Lembut dan Hipoalergenik

Spons mandi sintetis yang terbuat dari bahan plastik poliuretan cenderung memiliki tekstur kasar dan berpotensi merusak skin barrier jika digosokkan terlalu keras. Di sisi lain, kerangka spongin dari hewan berpori menjadi sangat lembut, kenyal, dan mengembang secara optimal saat terkena air hangat. Karena merupakan produk organik, spons laut bersifat hipoalergenik, sehingga sangat aman digunakan pada kulit bayi yang sensitif, atau penderita eksim dan psoriasis.

2. Mengandung Enzim Pencegah Bakteri

Kelemahan terbesar alat mandi seperti loofah dan spons plastik adalah mudahnya menjadi sarang berkembang biak bagi jamur dan bakteri akibat kondisi kamar mandi yang lembap. Menariknya, hewan berpori secara alami mengandung enzim kompleks yang dapat menghambat tumbuhnya bakteri di dalam rongga-rongganya. Hal ini membuat spons alami cenderung tidak mudah berbau apak dan jauh lebih higienis, selama selalu dibilas bersih dan dikeringkan secara optimal setiap selesai digunakan.

3. Ramah Lingkungan dan Bebas Mikroplastik

Penggunaan loofah dari plastik akan melepaskan partikel mikroplastik saat bergesekan dengan tubuh, yang akhirnya mengalir ke saluran air hingga bermuara ke lautan lepas. Dengan beralih menggunakan spons alami (hewan berpori), kamu tidak hanya menjaga kesehatan pelindung kulitmu dari polutan kimia, tapi juga ikut menjaga kebersihan perairan dari sampah plastik, karena kerangka hewan ini akan terurai sempurna secara biologis.

Apabila eksfoliasi yang kamu lakukan selama ini terlanjur memicu ruam atau luka radang yang berkepanjangan pada kulit, kamu bisa dengan cepat konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mencegah timbulnya infeksi bakteri di area kulit yang terluka tersebut.

Studi Mengenai Potensi Hewan Berpori

Marine Drugs menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2021 yang menjelaskan bahwa filum Porifera adalah produsen senyawa laut yang paling menjanjikan dalam ilmu farmakognosi. Studi ini menegaskan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, lebih dari 5.300 senyawa molekul baru telah diisolasi dari berbagai spesies spons laut secara global.

Lebih lanjut, temuan yang terangkum dalam publikasi ini menyatakan bahwa senyawa alkaloid, peptida, dan makrolida yang dihasilkan hewan berpori menunjukkan rekam jejak efikasi (kemanjuran) yang tinggi terhadap penghambatan sel kanker dan aktivitas antiparasit (seperti agen anti-malaria). Studi ini membuka jalan yang lebih lebar bagi ilmuwan untuk melakukan sintesis obat di dalam laboratorium menggunakan bioteknologi berdasarkan susunan kimia dari hewan berpori, tanpa harus mengeksploitasi dan merusak ekosistem terumbu karang di habitat aslinya.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Bioactive Compounds from Marine Sponges: Fundamentals and Applications.
Marine Drugs Journal. Diakses pada 2024. Marine Sponges as Pharmacy: A Comprehensive Review.
Healthline. Diakses pada 2024. Sea Sponges for Bathing: Benefits, How to Use, and More.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. The Importance of Marine Biodiversity to Human Health.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Diakses pada 2024. What are Sponges and How Do They Benefit Humans?

FAQ

1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hewan berpori?

Hewan berpori atau Porifera adalah kelompok hewan primitif yang hidup berdiam diri (sessile) di perairan bersuhu hangat dan dingin, mayoritas di lautan dangkal maupun dalam. Hewan ini tidak memiliki organ tubuh atau jaringan otot layaknya hewan umumnya, melainkan bertubuh seperti spons dengan jutaan pori sebagai tempat mengalirnya air dan penyaringan nutrisi dari lingkungannya.

2. Benarkah hewan berpori digunakan untuk memproduksi obat kanker?

Ya, benar. Beberapa obat penting dalam dunia medis, termasuk Cytarabine yang digunakan untuk terapi penyembuhan leukemia dan Eribulin untuk penderita kanker payudara secara langsung dikembangkan berdasarkan senyawa bioaktif (spongothymidine) yang diekstrak dan diteliti dari hewan berpori.

3. Apakah kerangka hewan berpori aman digunakan sebagai alat mandi sehari-hari?

Sangat aman. Jenis spons laut dari kelas Demospongiae memiliki kerangka organik berupa zat spongin yang tidak tajam, melainkan berserat lembut, elastis, dan memiliki properti hipoalergenik. Menggunakannya tidak akan merobek pelindung alami kulit sehingga sangat direkomendasikan untuk menggantikan penggunaan loofah atau plastik eksfoliator berbahan dasar serat polietilen buatan.

4. Apakah kita boleh mengonsumsi hewan berpori sebagai sumber makanan?

Tidak disarankan. Biota ini mengandung serpihan rangka berupa jarum kalsium atau jarum silika (kaca) serta kandungan racun biokimia keras yang diproduksi untuk mengusir predator sehingga sistem pencernaan manusia tidak didesain untuk bisa mengolah dan mendetoksifikasi tubuh spons ini secara utuh.