Cara Mencegah Dehumanisasi untuk Kesehatan Mental
“Dehumanisasi bisa berdampak negatif pada kesehatan mental korban. Mereka rentan mengalami stres, cemas hingga depresi berat.”

Halodoc, Jakarta – Dehumanisasi merupakan perilaku merendahkan seseorang secara kurang manusiawi. Salah satu contohnya adalah human trafficking atau perdagangan manusia. Di sini, manusia diibaratkan seperti benda yang bisa diperjualbelikan dengan uang.
Contoh ekstrem lainnya adalah saat Nazi memperlakukan kaum Yahudi di dalam kamp konsentrasi. Tindakan tersebut membuat manusia kehilangan kehormatannya sebagai makhluk bermartabat dan berakal.
Namun, perilaku dehumanisasi kini muncul dalam bentuk yang familiar dan kerap terjadi di kehidupan sehari-hari. Misalnya, melakukan social media bullying dengan menghina fisik seseorang di sosial media. Tindakan ini tentu berdampak negatif bagi kesehatan mental korban.
Cara Mencegah Tindakan Dehumanisasi
Melansir dari Psychology Today, dehumanisasi dapat dicegah melalui tindakan berikut:
1. Tumbuhkan rasa empati
Jangan ragu ataupun takut untuk menunjukan rasa empati saat menemui tindakan dehumanisasi. Kamu bisa melakukannya dengan mengajukan pertanyaan maupun pernyataan untuk menarik tanggapan empatik.
Kamu mungkin justru mendapatkan tanggapan defensif dari beberapa orang. Namun, pasti ada satu atau dua orang lainnya yang menjadi memanusiakan manusia.
2. Pilih bahasa yang baik
Jangan pernah menggunakan bahasa yang kasar dan merendahkan saat mengkritik orang lain, meskipun orang tersebut telah melakukan kejahatan berat. Jangan menghina seseorang dengan menyamakannya dengan hewan atau istilah penghinaan lain yang bukan manusia.
3. Jangan merendahkan orang lain
Merendahkan orang lain tidak akan membuat derajatmu lebih tinggi. Justru, cara yang paling tepat untuk mengangkat diri sendiri adalah mengangkat orang lain juga. Semakin besar kekuasaan yang kamu miliki, maka kamu perlu lebih berhati-hati saat mengkritik orang lain.
4. Tidak menyebar informasi dehumanisasi
Kamu memang bukan pelaku dehumanisasi, tetapi kamu bisa masuk ke golongan orang tersebut saat membantu menyebarkan berita yang merendahkan orang lain. Oleh sebab itu, jangan membagikan berita atau informasi apapun di media sosial yang mengandung tindakan dehumanisasi.
Ketika kamu menyebarkannya, artinya kamu telah memancing komentar atau dukungan orang-orang untuk melakukan dehumanisasi. Oleh sebab itu, saring dan telusuri setiap informasi yang kamu dapatkan di media sosial.
Membahas tindakan dehumanisasi sebenarnya diperbolehkan. Namun, pastikan sumbernya valid, informatif, dan faktual. Jangan menyebar berita yang sumbernya tidak jelas bersifat rasis atau misoginis.
5. Diskusikan bias secara terbuka
Ketika kamu mendapati sebuah bias atau prasangka yang mengarah pada dehumanisasi di lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja atau lingkaran pertemanan, jangan ragu untuk mengungkapkannya secara terbuka.
Misalnya, seorang teman melakukan tindakan yang tidak manusiawi pada orang lain dengan dalih bercanda. Segera bicarakan secara baik-baik bahwa tindakan tersebut tidak pantas atau kurang tepat. Hal ini tentu bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan canggung dalam hubungan pertemanan kamu. Namun, coba posisikan diri pada korban, tindakan tersebut tentu bisa sangat menyakitinya.
Dampak Dehumanisasi pada Korban
Tindakan ini bisa menurunkan kepercayaan diri atau bahkan membuat korban merasa tidak berguna lagi sebagai manusia. Dehumanisasi bisa membuat korban merasa malu, marah dan sedih dalam jangka waktu lama.
Lama kelamaan, korban dapat mengalami “dekonstruktif kognitif”. Kondisi tersebut ditandai dengan matinya rasa emosional, menurunnya kejernihan pikiran, stres, kecemasan dan depresi berat. Dalam jangka panjang, depresi bisa memicu pikiran bunuh diri.
Jika kamu punya pertanyaan lain seputar masalah kesehatan, hubungi dokter melalui aplikasi Halodoc saja. Dokter yang ahli di bidangnya akan menjawab pertanyaan kamu sekaligus memberikan solusi terbaik. Jangan tunda sebelum kondisinya memburuk, download Halodoc sekarang juga!


