Ad Placeholder Image

Cara Mengatasi Breath Holding Spell Saat Anak Berhenti Napas

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Breath Holding Spell: Penyebab, Jenis, & Cara Mengatasi

Cara Mengatasi Breath Holding Spell Saat Anak Berhenti NapasCara Mengatasi Breath Holding Spell Saat Anak Berhenti Napas

DAFTAR ISI


Melihat bayi menangis adalah hal yang wajar bagi orang tua. Namun, suasana bisa seketika menjadi sangat mencekam ketika bayi yang sedang menangis tiba-tiba terdiam, mulutnya terbuka seperti hendak berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar, dan wajahnya mulai berubah warna menjadi kebiruan atau sangat pucat. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal dengan sebutan breath-holding spells (BHS).

Bagi orang tua baru, fenomena bayi menangis tanpa suara ini bisa memicu kepanikan luar biasa. Rasanya seperti waktu berhenti berputar saat melihat si kecil seolah-olah kesulitan bernapas atau bahkan pingsan selama beberapa detik. Padahal, memahami mekanisme di balik kondisi ini adalah kunci utama agar kamu bisa memberikan penanganan yang tepat dan tetap tenang demi keselamatan si kecil.

Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa meskipun terlihat menakutkan, sebagian besar kasus bayi menangis tanpa suara bukanlah tanda penyakit mematikan. Namun, penanganan yang salah akibat kepanikan justru bisa berisiko bagi bayi. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai langkah-langkah darurat dan kapan kondisi ini memerlukan intervensi medis sangatlah krusial.

Nah, mau tahu apa saja informasi lengkap mengenai cara mengatasi bayi menangis tanpa suara dan bagaimana membedakannya dengan kondisi serius lainnya? Berikut ulasannya!

Apa Itu Bayi Menangis Tanpa Suara (Breath-Holding Spells)?

Breath-holding spells adalah respons refleksif yang terjadi pada beberapa bayi dan anak kecil, biasanya antara usia 6 bulan hingga 6 tahun. Kondisi ini terjadi ketika anak berhenti bernapas secara tidak sengaja segera setelah mengalami emosi yang kuat, seperti rasa takut, terkejut, marah, atau rasa sakit fisik yang tiba-tiba.

Penting untuk digarisbawahi bahwa bayi tidak melakukannya dengan sengaja. Ini bukan bentuk “tantrum” yang direncanakan untuk mendapatkan perhatian, melainkan reaksi involunter dari sistem saraf otonom mereka. Ada dua jenis utama dari kondisi ini:

  • Sianotik (Kebiruan): Ini adalah jenis yang paling umum. Terjadi saat anak sangat marah atau frustrasi. Mereka akan menangis, lalu napasnya terhenti saat membuang napas (ekspirasi), dan bibir atau wajahnya berubah menjadi biru atau keunguan.
  • Pucat (Pallid): Jenis ini lebih jarang dan biasanya dipicu oleh rasa takut atau terkejut, misalnya akibat jatuh atau benturan ringan. Jantung melambat sebentar, napas terhenti, dan anak menjadi sangat pucat serta lemas.

Penyebab dan Faktor Pemicu

Hingga saat ini, penyebab pasti mengapa beberapa anak mengalami BHS sementara yang lain tidak, masih terus diteliti. Namun, para ahli kesehatan sepakat bahwa faktor genetik memegang peranan; sekitar 25% anak yang mengalami kondisi ini memiliki riwayat keluarga dengan keluhan serupa. Selain itu, ada kaitan erat antara kejadian menangis tanpa suara dengan defisiensi zat besi (anemia). Anak dengan kadar zat besi rendah cenderung lebih sering mengalami episode ini.

Secara fisiologis, saat bayi mengalami emosi hebat, sistem saraf mereka memberikan respons yang menyebabkan detak jantung melambat atau pernapasan terhenti sementara. Hal ini menyebabkan penurunan oksigen sesaat ke otak, yang kemudian memicu hilangnya kesadaran singkat.

Pemicu Umum Bayi Menangis Tanpa Suara
  1. Rasa sakit tiba-tiba (misalnya terjatuh atau disuntik).
  2. Rasa frustrasi yang mendalam karena keinginannya tidak terpenuhi.
  3. Rasa takut atau terkejut yang hebat.
  4. Kelelahan yang ekstrem sehingga emosi menjadi tidak stabil.

Langkah Penanganan Saat Kejadian

Jika kamu menghadapi situasi di mana si kecil tiba-tiba terdiam saat menangis dan wajahnya mulai berubah warna, langkah pertama yang paling wajib dilakukan adalah tetap tenang. Panik hanya akan membuat kamu melakukan tindakan berbahaya seperti mengguncang tubuh bayi.

Berikut adalah langkah-langkah yang disarankan secara medis:

  1. Baringkan bayi di posisi mendatar: Letakkan bayi di lantai atau permukaan yang datar dan aman. Jangan menggendongnya secara tegak karena aliran darah ke otak lebih optimal dalam posisi berbaring mendatar.
  2. Miringkan kepala bayi: Hal ini untuk mencegah bayi tersedak jika ia muntah atau mengeluarkan air liur yang berlebih.
  3. Pastikan lingkungan aman: Jauhkan benda-benda tajam atau keras di sekitar bayi agar ia tidak terluka jika ototnya menjadi kaku atau ia mengalami gerakan menyentak.
  4. Observasi durasi: Biasanya episode ini hanya berlangsung kurang dari 1 menit. Jika anak pingsan, ia akan segera bernapas kembali secara normal dalam hitungan detik setelah otot-ototnya rileks.
  5. Jangan masukkan benda apa pun ke mulut: Jangan mencoba menarik lidah atau memasukkan sendok, karena bayi tidak akan menelan lidahnya sendiri. Tindakan ini justru berisiko menyebabkan luka atau bayi tersedak.

Setelah serangan berakhir, peluklah anak dengan lembut dan berikan kenyamanan. Hindari memarahi anak atau justru memberikan semua keinginannya hanya karena takut ia akan menangis lagi, karena hal ini bisa membentuk pola perilaku tantrum di masa depan.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun sebagian besar kasus bersifat jinak, kamu sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis yang pasti. Dokter perlu memastikan bahwa apa yang dialami anak benar-benar breath-holding spells dan bukan kejang epilepsi atau masalah jantung.

Segera cari bantuan medis jika:

  • Episode terjadi pada bayi di bawah usia 6 bulan.
  • Anak mengalami kejang yang berlangsung lebih dari 1 menit (tubuh kaku dan menyentak hebat).
  • Anak tidak segera sadar setelah 1 menit.
  • Kejadian terjadi sangat sering (beberapa kali dalam sehari).
  • Anak terlihat sangat lemas atau linglung dalam waktu lama setelah kejadian.

Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan darah untuk mengecek kadar zat besi. Jika ditemukan adanya anemia, dokter akan meresepkan suplemen zat besi yang sesuai. Kamu juga bisa beli obat online di Halodoc untuk memenuhi kebutuhan nutrisi atau suplemen yang direkomendasikan dokter dengan lebih praktis.

Studi Mengenai Breath-Holding Spells

The Journal of Pediatrics menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa terdapat kaitan yang signifikan antara kejadian breath-holding spells dengan anemia defisiensi besi pada anak-anak. Studi tersebut menemukan bahwa suplementasi zat besi dapat mengurangi frekuensi serangan pada banyak pasien secara signifikan.

Selain itu, penelitian lain dalam ranah neurologi anak menunjukkan bahwa BHS tidak memberikan dampak negatif jangka panjang pada perkembangan kecerdasan atau fungsi otak anak. Hal ini memberikan rasa tenang bagi orang tua bahwa kondisi ini akan menghilang seiring bertambahnya usia anak dan matangnya sistem saraf mereka.

Cara Mencegah Serangan di Masa Depan

1. Identifikasi Pemicu

Perhatikan pola kapan si kecil biasanya mengalami serangan. Jika biasanya terjadi saat ia sangat lapar atau mengantuk, pastikan jadwal makan dan tidurnya lebih teratur untuk menjaga stabilitas emosinya.

2. Alihkan Perhatian

Jika kamu melihat tanda-tanda si kecil akan mulai menangis hebat, segera alihkan perhatiannya dengan mainan, nyanyian, atau mengajaknya melihat hal yang menarik di luar jendela. Pencegahan sebelum emosinya memuncak sangatlah efektif.

3. Berikan Edukasi Emosi

Untuk anak yang sudah lebih besar (toddler), ajarkan mereka cara mengekspresikan rasa marah atau frustrasi dengan kata-kata sederhana atau teknik pernapasan dasar. Memvalidasi perasaan mereka (“Kamu sedih ya karena mainannya rusak?”) bisa membantu menenangkan saraf mereka.

FAQ

1. Apakah bayi menangis tanpa suara bisa menyebabkan kerusakan otak?

Tidak. Meskipun kadar oksigen menurun sesaat, tubuh memiliki mekanisme pertahanan otomatis di mana anak akan mulai bernapas kembali setelah pingsan singkat. Tidak ada bukti medis yang menunjukkan BHS menyebabkan kerusakan otak atau penurunan IQ.

2. Apa perbedaan antara menangis tanpa suara dengan kejang?

Pada BHS, kejadian selalu dipicu oleh emosi atau rasa sakit. Sedangkan pada kejang (seperti epilepsi), serangan bisa terjadi kapan saja bahkan saat tidur tanpa pemicu emosional. Warna kulit pada BHS berubah di awal, sementara pada kejang biasanya terjadi di tengah atau akhir serangan.

3. Apakah saya boleh menyiram air ke wajah bayi saat ia berhenti napas?

Sangat tidak disarankan. Memberikan rangsangan kaget seperti menyiram air atau menepuk wajah dengan keras justru bisa memperburuk refleks sistem saraf mereka. Cukup baringkan dan tunggu beberapa detik sampai ia bernapas kembali.

4. Sampai usia berapa kondisi ini akan hilang?

Umumnya, sebagian besar anak akan berhenti mengalami episode ini pada usia 4 hingga 5 tahun. Sangat jarang ditemukan kasus yang berlanjut hingga usia sekolah dasar.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan terkait tumbuh kembang si kecil, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Breath-holding spells: Is it a cause for concern?.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Breath-Holding Spells in Children.
KidsHealth from Nemours. Diakses pada 2026. Breath-Holding Spells.
NCBI – StatPearls. Diakses pada 2026. Breath Holding Spells.
Pediatric Review Journal. Diakses pada 2026. Diagnosis and Management of Breath-Holding Spells.