Tingkat kadar ureum merupakan indikator untuk mengetahui kesehatan fungsi ginjal.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Ureum dan Mengapa Bisa Tinggi?
- Berbagai Penyebab Ureum Tinggi dalam Darah
- Gejala yang Muncul Saat Ureum Tinggi
- Diagnosis dan Pemeriksaan Fungsi Ginjal
- Cara Mengatasi dan Menurunkan Kadar Ureum
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Apa Itu Ureum dan Mengapa Bisa Tinggi?
Ketika kamu melakukan pemeriksaan darah lengkap di laboratorium, salah satu indikator fungsi organ yang sering kali dicek adalah kadar ureum atau Blood Urea Nitrogen (BUN). Jika dokter mengatakan hasilnya di atas batas normal, kamu mungkin akan langsung mencari tahu ureum tinggi artinya apa dan seberapa bahaya kondisi tersebut bagi tubuh. Sebagai informasi dasar, ureum adalah zat sisa atau limbah hasil dari metabolisme protein di dalam tubuh.
Setiap kali kamu mengonsumsi makanan yang mengandung protein, seperti daging, telur, tahu, atau tempe, sistem pencernaan akan memecah protein tersebut menjadi asam amino. Dalam proses pemecahan asam amino oleh organ hati (liver), tubuh menghasilkan zat amonia yang beracun. Hati kemudian mengubah amonia ini menjadi zat yang lebih aman, yaitu ureum. Ureum ini kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah, dibawa menuju ginjal, disaring, dan akhirnya dibuang dari tubuh melalui urine (air kencing).
Lantas, ureum tinggi artinya apa? Secara medis, tingginya kadar ureum dalam darah (azotemia) merupakan indikasi kuat bahwa ginjal tidak bekerja secara optimal dalam menyaring limbah pembuangan. Normalnya, ginjal yang sehat akan dengan mudah membuang ureum. Namun, jika ginjal mengalami kerusakan, penurunan fungsi, atau ada kondisi medis lain yang mengganggu aliran darah ke ginjal, ureum akan menumpuk di dalam darah.
Kondisi ini tidak boleh dibiarkan, sebab penumpukan zat sisa beracun di dalam darah (uremia) dapat meracuni organ tubuh lainnya. Jika kamu mengalami gejala penurunan fungsi ginjal, jangan ragu untuk segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis yang tepat. Di sisi lain, untuk menjaga kesehatan tubuh secara umum, kamu juga bisa beli obat, beli suplemen kesehatan online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.
Berbagai Penyebab Ureum Tinggi dalam Darah
Memahami penyebab dari tingginya kadar ureum sangat penting agar penanganan medis yang diberikan bisa tepat sasaran. Dalam dunia medis, penyebab tingginya ureum (BUN) umumnya diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama, yaitu masalah prerenal (sebelum ginjal), renal (di dalam ginjal itu sendiri), dan postrenal (setelah ginjal).
1. Faktor Prerenal (Sebelum Ginjal)
Kondisi prerenal terjadi ketika aliran darah yang menuju ke ginjal mengalami penurunan. Ginjal membutuhkan pasokan darah yang cukup untuk dapat melakukan proses penyaringan. Jika darah yang masuk sedikit, ginjal tidak bisa membuang ureum dengan baik. Beberapa kondisi yang menyebabkan hal ini antara lain:
- Dehidrasi berat: Kurangnya cairan tubuh akibat muntah hebat, diare berlebihan, atau kurang minum membuat volume darah menurun, sehingga aliran darah ke ginjal berkurang.
- Gagal jantung: Jika jantung tidak memompa darah dengan kuat, pasokan darah ke ginjal akan menurun drastis.
- Perdarahan masif: Kehilangan banyak darah akibat trauma, kecelakaan, atau perdarahan saluran cerna kronis memicu syok hipovolemik yang merusak ginjal secara akut.
- Luka bakar parah: Menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan plasma darah, yang berujung pada dehidrasi sistemik.
2. Faktor Renal (Kerusakan pada Ginjal)
Jika masalahnya ada pada kategori renal, ini berarti terdapat kerusakan fisik atau penurunan fungsi pada organ ginjal itu sendiri. Penyebab ini adalah yang paling umum dikaitkan dengan penyakit ginjal kronis. Beberapa penyakit dan kondisi pemicunya meliputi:
- Penyakit Ginjal Kronis (PGK): Kondisi ini sering disebabkan oleh komplikasi dari diabetes melitus (nefropati diabetik) dan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol selama bertahun-tahun. Keduanya merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal.
- Glomerulonefritis: Peradangan pada glomerulus (unit penyaring kecil di dalam ginjal).
- Nekrosis tubular akut: Kerusakan pada sel-sel tubulus ginjal, sering kali disebabkan oleh paparan racun, obat-obatan tertentu (seperti obat antiinflamasi non-steroid/NSAID dosis tinggi), atau infeksi berat (sepsis).
3. Faktor Postrenal (Setelah Ginjal)
Faktor postrenal berkaitan dengan adanya sumbatan atau obstruksi pada saluran kemih yang menghalangi keluarnya urine dari ginjal. Saat urine tidak bisa keluar, tekanan di dalam ginjal meningkat dan merusak sistem penyaringan, sehingga ureum kembali menumpuk di darah. Penyebab postrenal meliputi:
- Batu ginjal atau batu saluran kemih: Endapan mineral keras yang menyumbat ureter.
- Pembesaran prostat jinak (BPH): Sering terjadi pada pria lanjut usia, di mana kelenjar prostat yang membesar menekan uretra dan menghambat aliran urine.
- Tumor atau kanker: Tumor di area panggul, kandung kemih, atau ginjal yang menyumbat saluran pembuangan.
Tips Menjaga Kesehatan Ginjal Sejak Dini
- Cukupi kebutuhan cairan harian, minimal 8 gelas atau 2 liter air putih sehari (kecuali jika ada pantangan medis dari dokter).
- Batasi konsumsi garam (natrium) harian tidak lebih dari 1 sendok teh per hari untuk mencegah hipertensi.
- Rutin melakukan pemeriksaan gula darah dan tekanan darah, karena diabetes dan hipertensi adalah musuh utama ginjal.
- Hindari kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri secara sembarangan tanpa resep atau pengawasan apoteker dan dokter.
Gejala yang Muncul Saat Ureum Tinggi
Pada tahap awal penurunan fungsi ginjal, kadar ureum mungkin sudah mulai meningkat perlahan, namun sering kali pasien belum merasakan gejala yang signifikan. Inilah mengapa penyakit ginjal sering dijuluki sebagai “silent killer”. Gejala baru akan terlihat jelas ketika ginjal sudah kehilangan sebagian besar fungsinya dan kadar zat sisa (uremia) sudah sangat tinggi meracuni tubuh.
Beberapa tanda dan gejala uremia yang perlu kamu waspadai meliputi:
- Kelelahan ekstrem dan lemas: Ginjal yang rusak memicu anemia karena kurangnya produksi hormon eritropoietin. Akibatnya, tubuh kekurangan sel darah merah dan oksigen, membuat tubuh terasa sangat lelah.
- Mual, muntah, dan hilang nafsu makan: Racun ureum yang menumpuk memengaruhi pusat saraf di otak dan lapisan lambung, memicu rasa mual yang sering kali memburuk di pagi hari.
- Pembengkakan (Edema): Karena ginjal tidak bisa membuang kelebihan cairan dan garam, cairan akan menumpuk di ruang antar jaringan, menyebabkan bengkak pada pergelangan kaki, tungkai, tangan, dan wajah (terutama sekitar mata).
- Perubahan pola berkemih: Volume urine bisa berkurang drastis (oliguria), urine berbusa (indikasi adanya protein yang bocor), atau sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil.
- Bau mulut seperti amonia: Tingginya kadar ureum dalam darah bisa merembes ke air liur, memberikan sensasi rasa logam di mulut atau napas yang berbau menyerupai urine (amonia).
- Gatal-gatal pada kulit: Penumpukan fosfor dan ureum memicu rasa gatal yang parah di seluruh tubuh, sering kali tanpa adanya ruam merah.
- Sesak napas: Bisa terjadi jika cairan mulai menumpuk di dalam paru-paru (edema paru) atau karena anemia berat.
- Penurunan kesadaran: Pada kasus uremia yang sangat parah (ensefalopati uremik), pasien bisa mengalami kebingungan mental, kesulitan berkonsentrasi, tremor otot, kejang, hingga koma.
Diagnosis dan Pemeriksaan Fungsi Ginjal
Untuk mengetahui secara pasti apakah ureum tinggi artinya ginjal kamu bermasalah, dokter tidak bisa hanya bergantung pada gejala fisik. Diperlukan serangkaian tes laboratorium untuk menilai fungsi ekskresi ginjal.
1. Tes BUN (Blood Urea Nitrogen)
Tes darah ini mengukur jumlah nitrogen urea di dalam darah. Nilai normal BUN pada orang dewasa umumnya berkisar antara 7 hingga 20 mg/dL. Namun, angka ini bisa sedikit bervariasi tergantung pada laboratorium tempat pemeriksaan, usia, dan jenis kelamin. Kadar di atas batas normal menunjukkan adanya potensi disfungsi ginjal atau kondisi dehidrasi.
2. Tes Kreatinin Darah
BUN jarang diperiksa sendirian. Dokter pasti akan memintamu melakukan tes kreatinin bersamaan dengan tes BUN. Kreatinin adalah zat sisa dari pemecahan otot. Berbeda dengan ureum yang produksinya sangat dipengaruhi oleh asupan protein makanan, kadar kreatinin lebih stabil. Jika kadar BUN tinggi namun kreatinin normal, masalahnya mungkin karena dehidrasi, perdarahan, atau diet tinggi protein. Tetapi jika BUN tinggi disertai kreatinin yang tinggi, ini adalah tanda kuat adanya kerusakan pada organ ginjal.
3. Laju Filtrasi Glomerulus (eGFR)
Berdasarkan nilai kreatinin, usia, jenis kelamin, dan ras, dokter akan menghitung estimasi Laju Filtrasi Glomerulus (eGFR). Angka ini menunjukkan seberapa baik ginjal menyaring darah setiap menitnya. eGFR normal adalah ≥ 90 mL/menit/1,73 m². Jika eGFR di bawah 60 selama lebih dari 3 bulan, ini didiagnosis sebagai penyakit ginjal kronis.
4. Tes Urine dan Pencitraan
Selain tes darah, urinalisis (tes urine) dilakukan untuk mencari tahu apakah ada kebocoran protein atau darah dalam urine. Pemeriksaan USG ginjal atau CT scan juga mungkin disarankan untuk melihat struktur ginjal, mencari adanya batu, tumor, atau penyusutan ukuran ginjal yang umum terjadi pada PGK tahap lanjut.
Cara Mengatasi dan Menurunkan Kadar Ureum
Penanganan ureum tinggi bergantung pada penyebab utamanya. Jika kadar ureum tinggi disebabkan oleh dehidrasi, solusinya sangat sederhana, yaitu pemberian cairan baik melalui minuman maupun infus (rehidrasi intravena). Namun, jika ureum tinggi disebabkan oleh penyakit ginjal kronis, tujuannya adalah memperlambat kerusakan lebih lanjut dan mengontrol gejalanya.
1. Modifikasi Diet dan Asupan Nutrisi
Langkah paling mendasar bagi penderita penyakit ginjal adalah pengaturan pola makan. Karena ureum berasal dari pemecahan protein, dokter spesialis gizi klinik akan menyarankan diet rendah protein. Dengan membatasi asupan daging merah, telur, dan produk susu sesuai perhitungan kalori, beban kerja ginjal akan menurun dan produksi ureum bisa ditekan.
Meski begitu, pembatasan protein tidak boleh sembarangan. Pasien tetap membutuhkan protein berkualitas tinggi dalam jumlah terbatas (biasanya ditambahkan suplemen asam amino esensial/ketoanalog) untuk mencegah malnutrisi. Selain protein, asupan kalium (pisang, tomat, kentang), fosfor (kacang-kacangan, susu), dan natrium (garam) juga harus dibatasi ketat.
2. Pengobatan Medis yang Tepat
Pasien akan diberikan obat-obatan untuk mengendalikan faktor risiko perusak ginjal. Ini termasuk obat antihipertensi (seperti golongan ACE inhibitor atau ARB) untuk menjaga tekanan darah tetap stabil, obat penurun gula darah atau insulin bagi penderita diabetes, obat untuk mengatasi anemia, dan suplemen pengikat fosfat.
3. Terapi Pengganti Ginjal (Dialisis)
Jika kondisi ginjal sudah berada di tahap akhir (gagal ginjal terminal) di mana eGFR di bawah 15 mL/menit dan gejala uremia sangat berat, diet dan obat-obatan tidak lagi cukup. Pasien membutuhkan terapi pengganti ginjal berupa cuci darah (hemodialisis) atau Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Mesin atau rongga perut akan berfungsi menggantikan tugas ginjal untuk menyaring racun, termasuk ureum, dari dalam tubuh.
Studi Terkait Mengenai Ureum dan Kesehatan Ginjal
National Institutes of Health (NIH) menerbitkan berbagai laporan medis mengenai pentingnya pemantauan Blood Urea Nitrogen pada penderita gagal jantung dan ginjal. Studi secara konsisten menunjukkan bahwa peningkatan rasio BUN terhadap kreatinin merupakan prediktor kuat terkait tingkat keparahan gagal jantung kongestif dan risiko gagal ginjal akut.
Temuan ini menegaskan bahwa ureum bukanlah sekadar zat sisa biasa, melainkan biomarker penting yang bisa memprediksi risiko komplikasi kardiovaskular. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium secara berkala sangat disarankan bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes, hipertensi, atau obesitas.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Menjaga kesehatan ginjal dimulai dari gaya hidup sehat hari ini. Jika kamu merasa sering lelah, buang air kecil berbuih, atau memiliki riwayat keluarga dengan gangguan ginjal, segera lakukan skrining kesehatan. Deteksi lebih dini akan menyelamatkan ginjal kamu dari kerusakan permanen.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Blood urea nitrogen (BUN) test.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Blood Urea Nitrogen (BUN) Test: What It Is, Normal Range.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2024. Chronic Kidney Disease (CKD).
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Kenali Penyakit Ginjal Kronis dan Cara Pencegahannya.
FAQ
1. Sebenarnya, ureum tinggi artinya apa?
Ureum tinggi artinya terdapat penumpukan zat sisa metabolisme protein di dalam darah. Hal ini biasanya mengindikasikan bahwa organ ginjal tidak berfungsi dengan optimal dalam menyaring racun, atau tubuh sedang mengalami dehidrasi berat.
2. Berapa nilai normal ureum dalam darah?
Secara umum, nilai normal Blood Urea Nitrogen (BUN) untuk orang dewasa berkisar antara 7 hingga 20 mg/dL. Namun, rentang referensi ini dapat sedikit bervariasi bergantung pada standar laboratorium masing-masing tempat kamu melakukan pemeriksaan.
3. Apakah ureum tinggi bisa disembuhkan?
Jika ureum tinggi disebabkan oleh dehidrasi atau perdarahan akut, kondisinya bisa disembuhkan dengan cepat melalui penanganan medis. Namun, jika disebabkan oleh penyakit ginjal kronis, kerusakan ginjal biasanya bersifat permanen. Pengobatan ditujukan untuk mengontrol kadar ureum, memperlambat kerusakan ginjal, dan mencegah komplikasi.
4. Makanan apa yang harus dihindari saat ureum tinggi?
Pasien dengan ureum tinggi disarankan untuk menjalani diet rendah protein, yang berarti harus membatasi asupan daging merah, telur, ayam, ikan, dan produk susu berlebih. Selain itu, makanan tinggi kalium (seperti pisang) dan makanan tinggi garam, serta makanan olahan juga harus dihindari agar ginjal tidak bekerja terlalu keras.



