Ad Placeholder Image

Cara Menyimpan ASI di Kulkas agar Tetap Segar dan Awet

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Cara Menyimpan ASI di Kulkas yang Benar Agar Tetap Segar

Cara Menyimpan ASI di Kulkas agar Tetap Segar dan AwetCara Menyimpan ASI di Kulkas agar Tetap Segar dan Awet

DAFTAR ISI


Air Susu Ibu (ASI) sering disebut sebagai “cairan emas” karena kandungan nutrisinya yang sangat sempurna dan tidak dapat tergantikan oleh susu formula jenis apa pun. ASI mengandung kombinasi makronutrien, mikronutrien, antibodi, enzim, dan sel darah putih yang dirancang khusus oleh tubuh ibu untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal. Oleh karena itu, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi sangat direkomendasikan oleh organisasi kesehatan global.

Namun, dalam praktiknya, proses menyusui secara langsung (direct breastfeeding) tidak selalu bisa dilakukan setiap saat. Banyak ibu menyusui yang merupakan ibu pekerja (working moms), memiliki aktivitas padat di luar rumah, atau bayi yang sedang dirawat secara terpisah karena kondisi medis tertentu. Dalam situasi-situasi seperti ini, memerah dan menyimpan ASI menjadi solusi terbaik agar bayi tetap mendapatkan asupan nutrisi utamanya meskipun ibu tidak sedang berada di dekatnya.

Sayangnya, nutrisi dan antibodi alami di dalam ASI sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kebersihan lingkungan. Kesalahan dalam proses penyimpanan tidak hanya dapat merusak vitamin dan komponen imunologis di dalamnya, tetapi juga berisiko memicu pertumbuhan bakteri patogen yang dapat membahayakan pencernaan bayi yang masih sangat rentan. Oleh karena itu, penting bagi setiap ibu untuk membekali diri dengan pengetahuan yang tepat mengenai teknik penyimpanan ASI.

Untuk mendukung kelancaran menyusui, penting bagi ibu untuk memahami cara menyimpan asi yang tepat, sekaligus menyiapkan perlengkapan esensial seperti kantong penyimpanan, botol kaca steril, hingga pompa payudara berkualitas. Kamu bisa beli perlengkapan bayi dan ibu menyusui secara online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.

Wadah Penyimpanan ASI yang Aman dan Tepat

Langkah pertama yang paling krusial dalam menyimpan ASI adalah memilih wadah yang tepat. Tidak semua jenis wadah plastik atau kaca aman digunakan untuk menyimpan makanan bayi, apalagi ASI yang akan dibekukan dan dicairkan kembali. Memilih wadah yang salah dapat menyebabkan kontaminasi bahan kimia atau pecahnya wadah saat berada di dalam freezer.

1. Botol Kaca dengan Tutup Rapat

Botol kaca merupakan salah satu pilihan terbaik untuk menyimpan ASI. Kaca tidak memiliki pori-pori, sehingga sisa lemak ASI tidak akan menempel kuat pada dinding botol. Selain itu, sel-sel kekebalan tubuh (leukosit) yang terdapat dalam ASI lebih sedikit yang menempel pada dinding kaca dibandingkan pada plastik. Pastikan kamu memilih botol kaca yang memang dirancang khusus untuk ASI, dengan tutup ulir yang rapat untuk mencegah paparan udara dan bakteri. Jangan mengisi botol kaca sampai penuh jika ingin dibekukan, karena cairan ASI akan memuai dan bisa membuat botol pecah.

2. Botol Plastik Keras (BPA-Free)

Jika kamu lebih menyukai wadah plastik karena ringan dan tidak mudah pecah, pilihlah botol plastik keras yang terbuat dari bahan polypropylene (PP) atau polyethersulfone (PES). Pastikan botol tersebut memiliki label BPA-Free (bebas Bisfenol-A). BPA adalah bahan kimia industri yang dapat larut ke dalam makanan atau minuman dan berdampak buruk pada perkembangan sistem saraf serta endokrin bayi. Botol plastik transparan atau agak buram umumnya aman digunakan selama telah terstandarisasi untuk bayi.

3. Kantong Plastik Khusus ASI

Kantong plastik khusus ASI (breast milk storage bags) sangat praktis, steril dari pabrik, dan tidak memakan banyak tempat di dalam freezer karena bisa disusun secara mendatar. Namun, hindari menggunakan kantong plastik bening biasa atau kantong plastik kiloan untuk menyimpan ASI, karena rentan robek, bocor, dan bahan kimianya dapat mencemari ASI. Saat menggunakan kantong khusus ASI, pastikan untuk mengeluarkan udara berlebih dari dalam kantong sebelum menutupnya (di-seal) agar ASI tidak teroksidasi dan menghemat ruang penyimpanan.

Tips Kebersihan Sebelum Memerah dan Menyimpan ASI
  1. Selalu cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun antiseptik selama minimal 20 detik sebelum memerah ASI atau menyentuh wadah penyimpanan.
  2. Pastikan semua bagian pompa ASI (corong, botol, katup) telah dicuci bersih dan disterilisasi sebelum digunakan.
  3. Jangan lupa untuk selalu memberikan label berupa tanggal dan waktu pemerahan pada setiap wadah ASI.
  4. Hindari menyentuh bagian dalam wadah penampung ASI untuk menjaga kesterilannya.

Panduan Waktu dan Suhu Penyimpanan ASI

Durasi penyimpanan ASI sangat bergantung pada suhu lingkungan tempat ASI tersebut diletakkan. Semakin dingin suhunya, semakin lambat pergerakan molekul bakteri, sehingga ASI dapat bertahan lebih lama. Berikut adalah panduan standar yang direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

1. Penyimpanan di Suhu Ruang (Room Temperature)

ASI yang baru saja diperah (ASI segar) dapat bertahan di suhu ruang (sekitar 25 derajat Celcius atau lebih rendah) selama maksimal 4 jam. Jika suhu ruangan lebih panas dari 25 derajat Celcius, sebaiknya ASI segera dipindahkan ke lemari pendingin. Menyimpan terlalu lama di suhu ruang terbuka dapat memicu perkembangbiakan bakteri yang membuat ASI menjadi basi.

2. Penyimpanan dalam Cooler Bag dengan Ice Gel

Bagi ibu pekerja yang sedang berada di kantor atau dalam perjalanan (traveling), ASI yang baru diperah dapat disimpan sementara di dalam tas pendingin (cooler bag) yang kedap udara (terisolasi) dengan tambahan beberapa kantong es (ice gel packs) yang membeku. Dalam kondisi tas yang jarang dibuka-tutup, ASI dapat bertahan dengan aman hingga 24 jam.

3. Penyimpanan di Kulkas Bagian Bawah (Chiller / Refrigerator)

Jika ASI akan digunakan dalam beberapa hari ke depan, simpanlah di bagian bawah kulkas (bukan di bagian pintu). Suhu kulkas yang direkomendasikan adalah 4 derajat Celcius atau lebih rendah. ASI murni segar dapat bertahan di dalam kulkas ini selama maksimal 4 hari (96 jam). Mengapa tidak boleh disimpan di rak pintu kulkas? Karena suhu di area pintu sangat tidak stabil dan sering terpapar udara hangat dari luar setiap kali pintu kulkas dibuka.

4. Penyimpanan di dalam Freezer

Untuk penyimpanan jangka panjang, ASI harus dibekukan. Jika kamu menggunakan kulkas 1 pintu (di mana freezer menyatu dengan kulkas), ASI dapat bertahan hingga 2 minggu. Pada kulkas 2 pintu (freezer terpisah), ASI beku bertahan antara 3 hingga 6 bulan. Sementara itu, jika kamu memiliki freezer khusus yang sangat dingin (suhu -18 derajat Celcius atau lebih rendah) yang jarang dibuka, ASI dapat bertahan optimal selama 6 bulan, dan batas maksimalnya bisa mencapai 12 bulan. Meskipun aman hingga setahun, nutrisi seperti vitamin C dan lemak akan mulai mengalami penurunan kualitas seiring berjalannya waktu.

Cara Mencairkan dan Menghangatkan ASI yang Benar

Menyimpan ASI dengan benar hanyalah setengah dari proses; cara mencairkan (thawing) dan menghangatkan ASI beku (ASIP) juga membutuhkan teknik yang presisi agar nutrisi esensial di dalamnya tidak rusak mendadak akibat perubahan suhu yang ekstrem.

1. Terapkan Sistem First In, First Out (FIFO)

Selalu gunakan ASI yang usianya paling tua terlebih dahulu. Periksa label tanggal pada botol atau kantong ASI. ASI yang diperah lebih dulu harus dikonsumsi lebih dulu untuk mencegah ASI terbuang karena melewati batas kedaluwarsa penyimpanan.

2. Proses Pencairan yang Bertahap

Jangan pernah mengeluarkan ASI beku dari freezer dan langsung diletakkan di suhu ruang yang panas. Cara terbaik untuk mencairkan ASI adalah dengan memindahkannya dari freezer ke kulkas bagian bawah (chiller) pada malam sebelumnya (sekitar 12 jam sebelum digunakan). Jika kamu membutuhkan ASI tersebut segera, letakkan wadah ASI beku di bawah aliran air keran yang sejuk, lalu perlahan-lahan ubah suhunya menjadi air hangat.

3. Jangan Pernah Gunakan Microwave atau Direbus Langsung

Aturan emas dalam menyajikan ASI adalah: jangan pernah merebus botol ASI di atas kompor menyala dan jangan pernah menghangatkannya di dalam microwave. Gelombang mikro pada microwave dapat menghancurkan antibodi dan vitamin di dalam ASI. Selain itu, microwave memanaskan cairan secara tidak merata, menciptakan “titik-titik panas” (hot spots) yang bisa melepuh dan membakar mulut serta tenggorokan bayi.

4. Goyangkan Perlahan, Jangan Dikocok

ASI yang telah disimpan di kulkas secara alami akan terpisah menjadi dua lapisan. Lapisan lemak (hindmilk) yang tebal akan naik ke atas, sementara cairan yang lebih encer (foremilk) berada di bawah. Setelah ASI dihangatkan (menggunakan mangkuk berisi air hangat atau bottle warmer dengan suhu maksimal 40 derajat Celcius), putar atau goyangkan botol secara melingkar dan perlahan (di-swirl) untuk mencampurkan kembali lemaknya. Jangan mengocok botol dengan keras (shaking) karena dapat merusak rantai protein dan sel-sel darah putih di dalamnya.

5. Aturan Sisa ASI

Jika bayi tidak menghabiskan ASI yang sudah dihangatkan dalam satu sesi menyusui, sisa ASI tersebut hanya boleh digunakan dalam waktu maksimal 2 jam. Setelah 2 jam, sisa ASI tersebut harus dibuang karena air liur bayi yang masuk ke dalam botol telah membawa bakteri yang dapat berkembang biak dengan cepat. Selain itu, ASI beku yang sudah mencair sepenuhnya tidak boleh dibekukan kembali ke dalam freezer.

Sebagai tambahan penting, seringkali ibu menyusui mengalami tantangan medis seperti saluran ASI tersumbat (plugged duct) yang memicu payudara bengkak, merah, nyeri kronis, hingga badan meriang. Jika kamu mengalami gejala-gejala yang mengindikasikan infeksi mastitis ini, jangan tunda penanganan medis. Segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja agar mendapatkan diagnosis dan resep obat yang aman untuk ibu menyusui.

Studi Terkait Penyimpanan ASI

The American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan jurnal ilmiah yang mengkaji profil keamanan serta stabilitas nutrisi ASI selama masa penyimpanan. Studi tersebut menjelaskan bahwa komponen antimikroba dalam ASI secara alami mampu menghambat pertumbuhan bakteri ketika disimpan di dalam lemari es pada suhu 4 derajat Celcius selama 72 hingga 96 jam pertama.

Lebih lanjut, penelitian klinis ini menegaskan bahwa meskipun aktivitas bakteriostasis ASI tetap stabil di lemari pendingin, pembekuan ASI secara perlahan di bawah suhu -20 derajat Celcius mengakibatkan degradasi minor pada konsentrasi vitamin C dan beberapa sel leukosit hidup. Oleh karena itu, para ahli menekankan bahwa ASI segar yang langsung diberikan atau disimpan di kulkas bawah (tidak dibekukan) memberikan manfaat kekebalan tubuh yang sedikit lebih unggul dibandingkan ASI yang telah dibekukan. Namun, ASI beku tetap terbukti jauh lebih baik secara komprehensif dibandingkan susu formula botolan.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Proper Storage and Preparation of Breast Milk.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Breast milk storage: Do’s and don’ts.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Manajemen Laktasi dan Penyimpanan ASI Perah.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Breastfeeding.
Academy of Breastfeeding Medicine (ABM). Diakses pada 2024. Clinical Protocol #8: Human Milk Storage Information for Home Use for Full-Term Infants.

FAQ

1. Apakah bau ASI beku yang mencair seperti sabun itu normal?

Ya, sangat normal. Bau atau rasa mirip sabun (soapy smell) pada ASI yang dicairkan disebabkan oleh tingginya kadar enzim lipase dalam ASI yang memecah lemak selama masa penyimpanan. ASI tersebut tidak basi dan sangat aman untuk dikonsumsi bayi, meskipun beberapa bayi mungkin menolaknya karena perbedaan rasa. Jika bayi menolak, kamu bisa melakukan teknik scalding (memanaskan ASI sesaat sebelum tepi panci berbuih, lalu mendinginkannya dengan cepat) sebelum ASI dibekukan untuk menghentikan aktivitas enzim lipase.

2. Bagaimana cara mengetahui jika ASI perah sudah basi atau rusak?

ASI yang sudah basi biasanya memiliki bau tengik atau sangat asam yang menusuk, mirip dengan bau susu sapi yang kedaluwarsa. Jika lapisan lemak dan lapisan air yang terpisah tidak mau menyatu kembali setelah botol digoyangkan perlahan, atau terdapat gumpalan aneh di dalamnya, itu merupakan indikasi kuat bahwa ASI telah rusak dan harus segera dibuang.

3. Bolehkah mencampur ASI yang baru diperah dengan ASI yang sudah dingin?

Kamu boleh mencampurkan ASI hasil perahan baru dengan ASI yang sudah ada di kulkas (hasil perahan di hari yang sama), asalkan suhu keduanya disamakan terlebih dahulu. Dinginkan ASI yang baru diperah di dalam kulkas selama 1-2 jam. Setelah suhunya sama-sama dingin, barulah kamu bisa mencampurkannya ke dalam satu botol yang sama.

4. Berapa lama ASI beku yang dicairkan bertahan di dalam kulkas?

ASI beku yang telah dipindahkan dan dicairkan sepenuhnya di dalam kulkas bawah (chiller) dapat bertahan maksimal selama 24 jam (dihitung sejak es benar-benar mencair seluruhnya, bukan sejak dikeluarkan dari freezer). Jika sudah lewat dari 24 jam dan tidak dikonsumsi, ASI tersebut harus dibuang demi keamanan pencernaan bayi.